
"Kena...pa?" Tanya Ariana dengan lirih.
"Aku tidak ingin kamu mati dengan mudah." Jawab Rihan datar.
Rihan saat ini sedang memangku kepala Ariana.
Beberapa saat lalu, Ariana berbalik sambil mendorong kursi rodanya ingin menyeberang jalan ketika lampu merah. Rihan terus memperhatikan Ariana hingga dia mengerutkan kening dan segera berlari menyusul Ariana setelah melihat sebuah mobil ugal-ugalan terlihat ingin menabrak gadis itu.
Rihan berlari dengan kekuatan penuh menyusul Ariana, tetapi terlambat. Tubuh Ariana sudah terhempas jauh bersamaan dengan kursi rodanya. Padahal sedikit lagi Rihan akan menggapai pegangan kursi roda, mobil itu sudah lebih dulu menabrak Ariana, bersamaan dengan tubuhnya yang ditarik oleh Zant.
Suami posesif Rihan itu tidak ingin terjadi hal buruk pada istrinya. Ketika melihat arah pandang Rihan, Zant juga menyadari mobil ugal-ugalan itu. Zant bisa menebak jalan pikiran istrinya, sehingga dia dengan cepat keluar dan berlari menyusul Rihan. Untungnya, dia tepat waktu. Zant menghela nafas legah.
"Seperti yang kamu katakan, itu upah karena perbuatannya sendiri. Mulai sekarang, jangan mengorbankan dirimu untuk orang lain lagi. Meski itu aku sekalipun. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu. Biarkan aku yang berkorban untukmu. Aku tidak mengizinkanmu berkorban atau terluka demi aku." Zant berbicara dengan lirih sambil memeluk erat tubuh istrinya. Tubuhnya bahkan gemetar karena takut kehilangan orang yang dia cintai.
"Maafkan aku," Rihan ikut membalas pelukan suaminya. Rihan merasa bersalah, karena dia bisa merasakan tubuh gemetaran suaminya ini.
"Jangan ulangi lagi."
"Ya."
"Aku harus melihatnya, Kak. Bantu aku panggil ambulance." Pintah Rihan setelah melepas pelukannya. Zant mengangguk pelan dan menenangkan dirinya sebentar, kemudian menelpon ambulance.
Melihat suaminya yang menghubungi ambulance, Rihan menghampiri Ariana. Rihan kemudian memposisikan kepala Ariana di pangkuannya. Meski kepala Ariana penuh dengan darah, karena terhempas cukup jauh dan terbentur dengan aspal jalan. Begitu juga bagian hidung maupun mulut yang mengeluarkan darah, tetapi Rihan tidak mempedulikan itu.
"Aku..."
Rihan menghembuskan nafas pelan ketika Ariana pingsan di pangkuannya sebelum melanjutkan perkataannya. Ariana jelas pingsan, karena kondisinya sangat parah. Belum lagi fisiknya yang lumpuh, ditambah racun permanen dalam tubuhnya.
"Ambulance hampir sampai." Suara Zant membuat Rihan menoleh. Rihan hanya mengangguk pada suaminya.
Pemilik kendaraan roda dua maupun roda empat yang berhenti di lampu merah segera menghampiri korban kecelakaan. Untuk mobil ugal-ugalan tadi, pengendaranya lumayan parah, karena mobil menabrak tiang listrik setelah membanting setir ke kiri karena menabrak Ariana.
"Jangan merasa bersalah padanya. Ini bukan salahmu." Zant mengatakan itu karena ekspresi istrinya terlihat menyesal karena tidak cepat menolong Ariana.
"Aku tidak apa-apa, Kak." Rihan membalas dengan pelan lalu tersenyum tipis.
Tidak lama kemudian mobil ambulance datang. Ariana segera dievakuasi dari sana. Rihan juga sudah berdiri dibantu oleh Zant. Pria itu kembali memeluk erat istrinya.
Dalam dekapan suaminya, Rihan mengerutkan kening merasa ada yang aneh pada tubuhnya.
"Kak, aku..."
"My Queen... hei..." Zant panik karena Rihan pingsan di pelukannya. Berusaha tenang, Zant menggendong istrinya menuju mobil dan pergi ke rumah sakit dengan cepat.
***
Zant mondar-mandir di luar ruangan, menunggu dokter yang memeriksa istrinya. Pria itu tidak ingin membuat orang lain khawatir, sehingga dia tidak menghubungi siapapun.
"Ya, Tuhan... semoga istriku baik-baik saja. Jangan biarkan dia kesakitan. Jika boleh, biarkan aku saja yang merasakan sakitnya. Aku mohon..." Zant berdoa dalam hati. Tanpa sadar, air mata pria itu menetes. Padahal istrinya hanya pingsan, tetapi suami posesif Rihan itu begitu panik. Bermacam pikiran buruk tiba-tiba muncul di kepalanya.
"Permisi, anda siapanya pasien?" Suara seseorang yang baru keluar, membuat Zant dengan cepat menghampirinya.
"Saya suaminya, Dok. Bagaimana keadaan istri saya?" Zant sangat panik karena wajah dokter di depannya ini terlihat serius. Zant semakin memikirkan hal-hal aneh di kepalanya.
Melihat wajah panik pria di depannya, yang merupakan suami pasiennya, dokter muda berjenis kelamin pria itu tersenyum tipis dan menepuk pelan bahu Zant.
__ADS_1
"Tenang Tuan! Istri anda baik-baik saja,"
"Syukurlah. Terima kasih, Dok." Sahut Zant cepat dan tersenyum tipis.
"Hanya saja..."
"Hanya apa, Dok?" Zant segera memotong perkataan sang dokter karena panik.
"Hanya saja, anda harus menjaga pasien dengan baik."
"Maksud anda apa, Dok? Apa yang terjadi pada istri saya?"
"Anda harus menjaganya dengan baik karena istri anda sedang mengandung. Usianya baru 5 minggu. Untuk lebih jelasnya, sebaiknya bawa istri anda ke dokter kandungan."
"Anda serius, Dok?"
"Ya."
"Terima kasih, Dok. Saya bisa melihatnya sekarang?" Zant tersenyum sangat lebar mendengar berita baik ini. Setiap pagi dia selalu mengecup perut istrinya sambil terus bergumam agar cepat ada penghuninya. Dan akhirnya benar-benar terjadi. Pria itu sangat senang.
"Silahkan, Tuan. Kalau begitu, saya juga permisi."
"Baik, Dok. Sekali lagi terima kasih, Dokter."
"Sama-sama, Tuan." Dokter itu kemudian pergi dari sana.
Zant masih dengan senyum lebar, segera masuk ke ruangan tempat istrinya berada.
"Terima kasih Tuhan... terima kasih sudah menghadirkan malaikat kecil untuk kami." Zant bergumam setelah mengecup kening istrinya, kemudian beralih mengecup berulang kali perut istrinya yang sudah terdapat calon bayi mereka.
CUP
CUP
CUP
Zant kembali mengecup kening, hidung dan terakhir bibir istrinya yang terlihat tenang dalam tidurnya. Zant kemudian menarik kursi untuk duduk dekat sang istri dan menggenggam tangan mungil itu.
Senyumnya tidak luntur sama sekali. Zant terus menatap wajah tenang istrinya sambil sesekali mengecup jari jemari ramping itu. Karena Zant terus menciumi berulang kali punggung tangan Rihan, juga perutnya, sehingga si pemilik akhirnya terbangun.
"My King?"
"Maaf. Sepertinya aku membuatmu bangun,"
"Tidak apa-apa, Kak. Aku juga baik-baik saja."
"Terima kasih banyak My Queen. Terima kasih. I love you."
CUP
"Love you too. Tapi, terima kasih untuk apa?" Rihan bertanya karena bingung.
"Di sini, sudah ada penghuninya. Aku sangat senang. Terima kasih. Aku tidak akan berhenti mengucapkan terima kasih."
"Penghuni?" Rihan mengerutkan kening karena belum mengerti dengan maksud suaminya.
__ADS_1
"Iya. Sudah ada penghuninya."
"Serius?" Rihan hampir tidak percaya, tetapi tersenyum lebar setelah sadar penghuni yang dimaksud.
"Iya, My Queen. Mulai sekarang, jangan bergerak berlebihan. Jangan lupa jika sudah ada malaikat kita di sini." Rihan hanya mengangguk pelan.
"Mau melihat malaikat kita?" Tanya Zant sambil membelai lembut pucuk kepala istrinya.
"Biarkan jadi kejutan untuk kita. Aku ingin melihatnya setelah dia lahir. Kak Zant tidak keberatan, 'kan?"
"Aku ikut kamu saja, My Queen. Meski aku penasaran jenis kelaminnya, tetapi setelah dipikir-pikir, pasti seru. Aku tidak sabar menunggu kelahiran baby Zanri," Zant kemudian memposisikan telinganya di perut Rihan.
"Baby Zanri?" Rihan tersenyum tipis karena tingkah suaminya.
"Karena kita belum tahu jenis kelaminnya, jadi kuberi nama Zanri saja. Singkatan nama Zant dan Rihan. Bagaimana menurutmu?" Zant tersenyum tipis sambil mengelus pelan perut rata istrinya.
"Baby Zanri, nama yang menarik. Aku suka."
"Baguslah."
"Bagaimana keadaan Ariana?" Rihan bertanya karena teringat gadis itu.
"Aku tidak tahu. Sepertinya dia juga dibawa ke sini,"
"Ini... RS Setia?"
"Ya."
"Aku ingin tahu keadaannya, Kak. Ayo! kita lihat dia." Rihan kemudian bergegas bangun.
"Tidak sekarang. Istirahat dulu. Vitamin yang diberikan dokter juga belum habis. Aku tidak ingin kamu banyak bergerak." Tegas Zant sambil membantu Rihan berbaring kembali. Setelah itu, Zant menekan tombol di samping ranjang, sehingga ranjang otomatis sedikit terangkat bagian kepalanya, agar istrinya nyaman.
"Baiklah. Kalau begitu, bantu aku melihatnya."
"Dia sudah berlaku buruk padamu dan bahkan tidak ingin meminta maaf, tapi kamu malah peduli padanya. Benar-benar sifatmu. Ini yang membuatku semakin mencintaimu."
"Jadi, bantu aku melihatnya, ya." Rihan memasang wajah memelas membuat suami posesifnya tidak tega.
"Baiklah. Tapi, ingat! Jangan bergerak selama aku tidak ada. Aku akan melihatnya sebentar."
"Terima kasih," Rihan tersenyum senang.
"Kali ini aku ingin sedikit perubahan."
"Perubahan?"
"Ya. Jika dulu tidak perlu ada terima kasih diantara kita, maka sekarang berbeda. Aku ingin terima kasihmu diganti dengan ciuman di bibir. Tidak ada penolakan!" Zant berbicara dengan tegas kemudian menyeringai. Rihan hanya mendengus dan menatap datar suaminya ini.
"Cium di sini, setelah itu aku akan pergi. Ayo, My Queen." Zant tersenyum senang dan segera mendekatkan wajahnya pada Rihan.
CUP
"Aku ingin ciuman bukan kecupan." Zant mengatakan itu, karena Rihan hanya mengecup bibirnya. Akhirnya, Zant menahan tengkuk istrinya dan kembali berciuman. Rihan memasang wajah datar setelah ciuman mereka terlepas.
PLETAK
__ADS_1
"Terima kasih yang tidak ikhlas. Aku pergi, ya." Ucap Zant setelah menyentil dahi mulus istrinya dan terkekeh. Rihan memalingkan wajahnya yang memerah. Dia tidak ingin Zant melihatnya.