Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Persiapan Pelelangan


__ADS_3

Maaf untuk keterlambatan upnya teman-teman, aku lagi sibuk nonton anime sama baca komik sampai lupa untuk updet.😁😁😁. maaf, ya.


Mari kita lanjut kisah Rihan.


.


.


.


Zant baru keluar dari kamar mandi dengan setelan mantel mandi yang membungkus tubuhnya. Pria itu keluar sambil menggosok rambutnya yang basah dengan handuk kecil.


"Giliranmu," Ujar Zant sambil menatap Rihan yang datang dari arah balkon kamarnya.


"Hm." Deheman Rihan kemudian masuk ke kamar mandi.


Setelah kepergian Rihan ke kamar mandi, ponsel Zant berbunyi. Pria itu mengambil ponselnya dan menjawab panggilan masuk entah dari siapa. Hanya beberapa menit, panggilan berakhir. Ketika Zant akan meletakkan kembali ponselnya, pria itu baru sadar akan sesuatu. Dia menatap wallpaper ponselnya.


"Siapa lagi kalau bukan mommy," Gumam Zant dan menggeleng. Pria itu hanya tersenyum tipis dan meletakkan kembali ponselnya di meja dan menuju walk in closet tanpa mengubah wallpaper ponselnya.


...


Pukul setengah delapan, Rihan dan Zant baru muncul di ruang keluarga. Keduanya menggunakan pakaian santai. Mommy Lily sudah menyiapkan beberapa pakaian santai untuk Rihan dan itu sesuai dengan fashionnya, karena Zant sudah menjelaskan apa saja yang disukai dan tidak disukai Rihan pada ibu negara Jerman itu.


"Kalian sudah seperti pengantin baru yang bangun terlambat," Goda Mommy Lily dan tersenyum tipis melihat Rihan yang sedikit menunduk pada dua paru baya itu.


"Jangan menggoda mereka, Mom. Biarkan Rei dan Zant duduk dulu," Daddy William berbicara setelah menyesap secangkir kopi yang disiapkan untuknya.


"Duduk di sebelah mommy, Sayang." Mommy Lily menepuk sofa di sebelahnya. Rihan mengangguk sedikit dan beralih duduk di sebelah Mommy Lily. Zant juga ikut duduk di sebelah Rihan.


"Tumben sarapan hari ini terlambat. Biasanya pukul 7," Komentar Zant setelah menatap jam tangannya.


"Gara-gara siapa kita terlambat? Tidak mungkin mommy dan daddy sarapan tanpa kalian. Apalagi ada menantu mommy di sini," Mommy Lily menatap memicing pada Zant.


"Maafkan kami, Mom." Rihan merasa bersalah. Ini pertama kalinya dia bangun terlambat, apalagi di tempat asing.


"Tidak apa-apa, Sayang. Mommy mengerti. Pasti Zant yang mengajakmu begadang semalaman. Anak nakal itu benar-benar menyusahkanmu. Mommy heran, apa yang kamu sukai darinya?"


"Er..." Rihan tidak tahu harus menjawab apa. Dia hanya bisa menggaruk pelipisnya canggung.


"Sudahlah, Mom. Itu memang salahku. Jadi, ada apa meminta kami ke sini, bukan ke ruang makan?" Tanya Zant.


"Oh. Iya. Mommy lupa. Ini ada beberapa berkas yang harus disetujui oleh, Rei."


"Berkas?" Ulang Zant bingung lalu menatap berkas di atas meja depannya.


"Iya. Ini ada surat kepemilikan hotel, apartemen, restaurant, Villa, sertifikat rumah kalian nanti setelah menikah, dan kepemilikan lainnya. Semua ini atas nama Rei sebagai menantu keluarga kita.


Jadi, Rei hanya perlu menandatangi semua berkas ini. Setelah itu, mommy akan menyerahkannya pada pengacara keluarga untuk ditindaklanjuti." Mommy Lily dengan semangat menjelaskan maksudnya.


"Ya, Tuhan...  belum apa-apa..." Keluh Rihan dalam hati tiba-tiba merasa pusing. Dia melirik Zant yang duduk di sebelahnya. Pria itu terlihat sedang menahan tawa.


"Ini serius?" Bisik Rihan pada Zant.


"Itulah ibu mertuamu. Terima saja. Ini belum apa-apa. Meski keluarga presiden, tapi properti keluarga kami sangat banyak." Jawab Zant ikut berbisik.


"Mom... Saya rasa, ini tidak perlu. Lagi pula, hubungan kami masih terlalu dini," Rihan tidak ingin mommy Zant itu kecewa nanti jika tahu yang sebenarnya.


"Apa yang sudah kamu lakukan pada menantu mommy, Zant? Kamu memberinya harapan palsu?" Mommy Lily lalu menatap tajam Zant.


"Bukan begitu, Mom. Hanya saja..." Perkataan Rihan sudah di potong oleh Mommy Lily.

__ADS_1


"Apa ini terlalu sedikit?" Tanya Mommy Lily menatap Rihan serius.


"Aku tidak tahu harus berkata apa." Ujar Rihan dalam hati.


"Ini sangat banyak, Mom. Hanya saja..."


"Kalau begitu, berikan tanda tanganmu di sini. Mommy tidak mau tahu! jika kamu tidak mau tanda tangan, mommy akan memukul Zant sampai masuk rumah sakit." Ancam Mommy Lily di akhir kalimatnya membuat Zant menatap sang mommy dengan syok.


"Bagus juga kalau kamu masuk rumah sakit, Kak." Bisik Rihan pada Zant.


"Jangan coba-coba! Ingat jika aku harus membantumu, gadis kecil." Balas Zant ikut berbisik.


"Ayo, Dad. Kita ke ruang makan. Tanda tangani semua itu dulu, baru kalian bisa makan." Mommy Lily kemudian menarik sang suami menuju ruang makan untuk sarapan.


"Siapapun yang menjadi menantu keluarga ini pasti akan bahagia memiliki mertua seperti Mommy Lily." Gumam Rihan pelan sambil menatap punggung dua paru baya yang semakin menjauh.


"Dan menantu itu adalah kamu." Jawab Zant sebelum bersandar pada sofa.


"Jangan bercanda, Kak. Secepatnya kita harus memberitahu yang sebenarnya pada mommy dan daddy. Aku tidak ingin membuat mereka kecewa," Rihan menghela nafas kemudian menghembuskannya pelan.


"Kita akan memberitahu kebenarannya bahwa kamu adalah gadis kecil yang cantik. Mereka pasti akan sangat bahagia," Balas Zant sambil memejamkan matanya.


"Bukan itu maksudku. Jangan menguji kesabaranku, Kak." Rihan menatap kesal pada Zant.


"Aku serius, gadis kecil. Ini sudah menjadi keputusanku. Jadi, mari kita belajar untuk saling mencintai satu sama lain." Zant membuka matanya dan menatap Rihan serius.


"Sudah cukup bercandanya. Apa yang harus kita lakukan dengan berkas-berkas ini?" Tanya Rihan mengalihkan pandangannya ke atas meja.


"Aku tidak bercanda, gadis kecil. Bagimu, mungkin ini terlalu cepat untuk kita. Tapi aku yakin bahwa kamulah yang tepat untukku. Pertama kalinya dalam hidupku, aku seyakin ini pada keputusanku." Ujar Zant dalam hati dan tersenyum tipis pada Rihan.


Zant tidak ingin memaksa Rihan sekarang. Dia mengalihkan pandangan ke arah meja di depannya dimana berkas-berkas yang harus Rihan tanda tangani berada.


"Tidak mungkin aku menandatangi semua ini, sedangkan aku bukan menantu mereka. Bukan kekasihmu, Kak." Rihan memijit pelipisnya pusing.


"Karena itu, mari buat semua itu menjadi kenyataan. Jadilah kekasihku, dan menantu mereka. Hm?" Nada suara Zant sangat serius.


"Ini bukan waktunya bercanda, Kak." Rihan kembali kesal pada Zant.


"Jika kamu anggap bercanda, ya sudah. Tidak masalah. Tapi, untuk sekarang tanda tangan saja semua berkas itu. Kalau kamu ingin melihatku masuk rumah sakit tidak usah tanda tangan. Mungkin kamu tidak membutuhkan bantuanku lagi." Ujar Zant pelan lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain, berpura-pura marah pada Rihan.


"Jika aku mengatakan kebenarannya, pasti Mommy Lily akan sedih. Kenapa aku tidak tegah padanya? Hais..." Gumam Rihan dalam hati lalu mengambil pena di atas meja.


"Aku akan menandatangi ini. Berhenti bersikap seperti anak kecil," Cibir Rihan lalu membubuhkan tanda tangannya pada berkas-berkas itu satu persatu.


Zant hanya melirik Rihan lalu tersenyum tipis.


"Karena kamu sudah menyetujui semua itu, maka mulai sekarang kita resmi menjadi kekasih sungguhan. Ayo kita sarapan, Nyonya Veenick." Zant lalu menggenggam tangan Rihan, dan membawanya ke ruang makan.


"Aku belum setuju. Jangan asal bicara!" Kesal Rihan di sela perjalanan mereka menuju ruang makan.


"Aku akan membuatmu setuju. Tenang saja, Nyonya Veenick." Zant mengeratkan genggamannya pada tangan Rihan.


"Sepertinya aku masuk jebakan." Kesal Rihan dalam hati.


***


Pukul 5 sore, Mommy Lily sibuk memerintah para pelayan untuk membantu Rihan dan Zant untuk bersiap. Ibu negara Jerman itu bahkan mendatangkan desainer terkenal untuk mengurus fashion Rihan dan Zant. Tidak lupa juga make up artist wanitq paru baya itu datangkan hanya untuk dua orang itu.


Zant hanya terkekeh, sedangkan Rihan berulang kali menghela nafas dan menghembuskannya berusaha bersabar. Rihan tidak menyangka seorang ibu Negara Jerman yang dikenal publik sangat tegas dan jarang tersenyum di depan publik, ternyata memiliki sisi yang baru dia ketahui ini.


Ibu negara Jerman itu juga memesan setelan blazer dengan model yang sama tetapi warna yang berbeda untuk Rihan dan Zant. Belum lagi make up artist untuk keduanya.

__ADS_1


Malam ini Mommy Lily berencana mengumumkan menantu mereka pada publik sebelum acara pelelangan, sehingga semua ini dipersiapkan dengan sangat baik. Sayangnya, rencana ibu negara Jerman itu diketahui oleh Rihan, sehingga point perkenalan menantu presiden Jerman terpaksa dihapus dalam daftar acara malam ini.


"Mommy tidak tahu alasan kalian tidak ingin mengumumkan hubungan kalian pada publik, tapi biarkan penampilan anak dan menantu mommy menjadi pusat perhatian malam ini.


Mommy akan menunggu kalian siap mengumumkan hubungan kalian. Padahal niat awal mommy ingin membuat kejutan untuk kalian, tapi semua sia-sia." Mommy Lily mendesah kecewa dengan wajah sedikit ditekuk.


"Maaf, Mom. Untuk sementara biarkan keluarga inti yang tahu hubunganku dan Rei. Aku tidak ingin ada orang yang iri dan melakukan hal buruk pada kita." Zant menenangkan sang mommy.


"Baiklah."


...


Pukul setengah tujuh, banyak tamu sudah berdatangan memasuki ruangan yang disiapkan untuk pelelangan nanti. Rihan dan Zant sudah siap dengan setelan blazer masing-masing. Keduanya terlihat sangat tampan malam ini.


Mommy Lily yang sangat senang melihat keserasian dua pasangan itu, meminta photographer untuk mengambil gambar Rihan dan Zant. Mommy Lily berencana memajang foto itu di ruang keluarga nanti.


Melihat betapa antusiasnya Mommy Lily, Rihan tidak tegah membuat wanita paru baya itu kecewa. Rihan hanya bisa tersenyum tipis dan berharap semoga kedepannya, dia mungkin benar-benar menjadi bagian dari keluarga ini. Entahlah. Semuanya hanyalah harapan. Rihan hanya tidak ingin salah memilih pasangan hidupnya.


"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Zant menghampiri Rihan yang berdiri di balkon kamarnya dengan sebotol air mineral di tangannya.


"Entahlah." Gumam Rihan santai.


"Jika kamu memikirkan calon ibu mertuamu..."


"Jangan bahas itu sekarang, Kak." Potong Rihan cepat.


"Baiklah."


"Semua tamu dalam daftar itu, benar-benar akan hadir?" Tanya Rihan setelah mengingat nama-nama perusahaan yang ikut andil dalam pelelangan malam ini.


"Hmm." Balas Zant lalu mengambil botol mineral di tangan Rihan dan meneguknya hingga habis.


"Kenapa mengambil milikku? Masih banyak di dalam," Sungut Rihan.


"Apa salahnya? Lagipula, ini milik calon istri sendiri." Jawab Zant santai. Rihan hanya membalas dengan tatapan tajam pada Zant.


"Kamu sudah memikirkan rencana untuk malam ini?" Tanya Zant setelah hening beberapa saat.


"Aku hanya akan menunggu pergerakannya. Entah apa yang dia rencanakan malam ini," Balas Rihan datar.


"Gadis kecil..." Panggil Zant pelan.


"Hm."


"Mungkin ini terlalu cepat. Tapi, aku ingin kamu tahu satu hal, gadis kecil. Aku menyayangimu. Apapun yang terjadi nanti kedepannya, percayalah padaku. Hm?" Zant berbicara dengan serius.


"Aku tahu. Kak Zant orang yang ke-sekian yang aku percaya, jadi tenang saja." Balas Rihan datar.


"Aku pikir akan menjadi orang pertama yang kamu percaya." Zant pura-pura memasang wajah kecewa.


"Kak Zant bukan orang pertama yang aku temui. Sudah banyak orang di sisiku yang membantuku dalam masa terpurukku hingga sekarang. Bagaimana mungkin aku tidak percaya pada mereka?" Balas Rihan pelan. Zant hanya mengangguk membenarkan.


"Bagus jika kamu dikelilingi oleh orang seperti itu. Aku juga berharap sama sepertimu," Gumam Zant dan menatap langit.


"Semua itu hanya butuh waktu." Balas Rihan datar dan menatap jam tangannya.


"Maaf, Tuan. Sudah waktunya," Seorang pelayan datang dan memberitahu.


"Kami akan turun." Balas Zant dan mengangguk.


"Ayo, Nyonya Veenick." Zant terkekeh setelah melihat tatapan tajam Rihan.

__ADS_1


__ADS_2