
Rihan berbalik dan menatap pada ruangan kaca di belakangnya yang hanya menampilkan dirinya. Ruangan itu khusus bathtub dengan dinding kaca dimana orang di dalam bisa melihat keluar, tetapi orang diluar tidak bisa melihat ke dalam.
Sedikit menyipit matanya, Rihan menuju pintu ruangan itu.
Ceklek
"Bhaaaa...!!"
Rihan tidak terkejut karena sudah dikagetkan oleh Neo karena dia yakin ada orang di dalam sana. Rihan hanya menatap datar Neo yang tersenyum lebar padanya. Pandangan Rihan perlahan-lahan turun mulai dari wajah Neo hingga bagian dada yang berbusa, terus ke bawah dan Rihan segera mengalihkan pandangannya ke arah lain karena pria di depannya ini benar-benar polos tanpa sehelai benangpun di tubuhnya. Untungnya banyak busa sehingga Rihan tidak melihat jelas tampilan di depannya.
Tanpa mengatakan apapun, Rihan berbalik hendak keluar. Sayangnya, pergelangan tangannya dicekal oleh Neo.
Neo setelah lelah menelusuri walk in closet milik Rihan, pria itu memutuskan untuk mandi. Melihat bathtub di dalam sana, Neo berinisiatif untuk berendam.
Keasyikan berendam, hingga pandangan Neo teralihkan pada Rihan yang masuk ke dalam kamar mandi dan menatap pantulan wajahnya di depan cermin wasstafel. Neo tidak ingin mengganggu Rihan dan hanya melihat apa yang Rihan lakukan.
Ketika melihat Rihan menuju ke arahnya, Neo dengan senyum licik keluar dari bathtub dan memberi kejutan pada Rihan. Sayangnya senyum lebarnya menyusut secara perlahan karena Rihan tidak kaget sama sekali.
"Mau kemana?" Tanya Neo menahan tangan Rihan.
"Selesaikan mandimu, Kak. Aku akan menunggu di luar." Jawab Rihan datar.
"Kenapa kamu terlihat berbeda setelah pembicaraan kita tadi siang? Apa aku melakukan kesalahan?" Tanya Neo pelan.
"Tidak ada." Balas Rihan lalu melepas tangan Neo dan keluar dari sana.
Sret
Bruk
Belum sempat Rihan membuka pintu kamar mandi, Neo dengan cepat menariknya dan menekannya ke dinding.
"Melihat sikapmu, aku pasti melakukan kesalahan. Katakan dimana salahku? Kamu tahu, betapa bosannya aku menunggumu begitu lama sedangkan kamu, entah apa yang kamu bicarakan dengan bajingan itu hingga memakan banyak waktu." Ucap Neo marah. Neo bahkan menekan kuat bahu Rihan agar tidak lepas darinya.
"Kak Neo tidak melakukan kesalahan apapun. Ini memang aku yang sebenarnya. Dan aku tidak pernah menyuruhmu menungguku. Kenapa... Kenapa sikapmu seolah-olah seperti seseorang yang cemburu bila miliknya dekat dengan orang lain?"
"Aku juga tidak tahu, kenapa aku tidak suka melihatmu terlalu dekat dengan orang lain, atau terlalu memperhatikan mereka. Aku hanya ingin kamu memperhatikanku, berada didekatku..." Menarik nafasnya sebentar, Neo lalu melanjutkan.
"Aku... aku tidak mungkin menyukaimu, karena aku yakin, aku masih normal." Suara Neo pelan dan menatap tepat di kedua mata Rihan.
"Karena kak Neo masih normal, sebaiknya jaga jarak denganku mulai sekarang." Ucap Rihan datar dan mendorong Neo kuat untuk menjauh darinya agar dia bisa keluar dari sana.
Grep
Setelah Rihan mendorong Neo menjauh, pria itu malah menarik Rihan dan memeluknya dari belakang, dengan kedua tangannya berada di atas dada Rihan.
"Aku tidak bisa! Jangan menjaga jarak denganku, Hm?" Bisik Neo pelan.
Rihan sedari tadi hanya mematung dengan posisi mereka seperti ini. Rihan bahkan tidak mendengar jelas apa yang Neo katakan. Tanpa sadar wajahnya memerah karena posisi mereka, yang tentu saja 'area itu' menempel di belakangnya.
"Selesaikan mandimu, Kak. Biarkan aku pergi!" Ucap Rihan setelah tersadar dan ingin secepatnya keluar dari sana.
"Bagaimana kalau mandi bersama? Bathtub milikmu cukup untuk berdua," Tawar Neo dengan masih dengan posisi yang sama.
"Jangan membuatku marah, Kak. Lagipula aku masih normal. Kak Neo juga begitukan, maka biarkan aku pergi." Ucap Rihan, dan setelah itu dengan gerakan secepat kilat Rihan melepas pelukan Neo dan mendorong pria itu ke belakang kemudian membuka pintu dan berlari keluar. Tidak lupa juga Rihan menguncinya dari luar takut Neo membukanya.
__ADS_1
"Bisa-bisanya kamu menguncinya dari luar?" Teriak Neo sambil mengedor pintu dengan Rihan yang berada di luar dengan bersandar pada pintu sambil menetralkan jantung serta wajahnya.
"Untung saja aku belum sempat membuka pakaianku tadi. Bisa ketahuan penyamaranku. Semakin aku dekat dengannya, semakin cepat penyamaranku terbongkar" Batin Rihan memegangi kedua pipinya yang memerah.
Rihan kemudian beranjak pergi dari sana setelah tidak lagi mendengar teriakan Neo.
...
"Jelaskan padaku, kenapa semua ini ada di sini?" Tanya Neo menatap serius Rihan yang baru keluar dari kamar mandi sambil mengusap rambutnya yang basah.
Rihan menatap pada Neo yang duduk santai di sofa kamarnya dengan tatapan serius ke arah meja di depannya dimana beberapa berkas kontrak kerja sama beberapa perusahaan termasuk kontrak kerja sama pembangunan resort dengan R.A Group yang belum sempat Rihan simpan.
"Bisa-bisanya aku lupa menyimpannya," Rutuk Rihan dalam hati sebelum meletakkan handuk di tempat handuk bekas pakai dan berjalan menuju Neo.
"Aku tidak ingin basa-basi. Apa yang kak Neo pikirkan itulah kebenarannya," Jawab Rihan setelah duduk di sofa yang berhadapan dengan Neo.
"Perlahan-lahan semuanya akan terbongkar karena pria ini," Batin Rihan menatap ekspresi Neo.
"Kamu benar-benar tidak terduga, Rei. Pantas saja proposal pembangunan resort itu kamu terima. Kamu benar-benar sesuatu. Jika tidak melihat ini, entah sampai kapan aku tahu siapa pemilik R.A. Group. Kamu memang hebat." Puji Neo sambil menggeleng kepala tidak percaya.
"Aku harap kak Neo merahasiakan ini dari siapapun," Rihan lalu mengambil berkas-berkas itu dan menyimpannya dalam brangkas.
"Kenapa kamu menyembunyikan identitasmu? Bukankah semua orang ingin orang lain melihat betapa kayanya mereka?" Tanya Neo melihat apa yang Rihan lakukan.
"Itu mereka, bukan aku. Untuk apa menunjukan semua yang aku miliki jika nantinya mereka yang berada di sisiku hanya memanfaatkanku?" Jawab Rihan dan kembali duduk di sofa setelah menyimpan berkas-berkas itu.
"Sama sepertimu, yang hanya dimanfaatkan." Sambung Rihan dalam hati.
"Benar juga. Tapi bersyukur aku tidak bertemu orang munafik seperti itu." Balas Neo setelah membenarkan perkataan Rihan dengan anggukan.
"Maksudmu?"
"Lupakan. Aku akan tidur." Rihan menaikkan bahu tidak peduli lalu berdiri dan menuju tempat tidur.
"Apa maksudnya? Apa Rei tahu seseorang yang seperti itu di sekitarku?" Tanya Neo dalam hati sambil menatap Rihan yang sedang membenarkan selimutnya.
Setelah tersadar, Neo menuju tempat tidur dan berbaring di samping Rihan kemudian melingkarkan tangannya di perut Rihan.
"Good night, Rei." Gumam Neo pelan lalu terlelap menyusul Rihan.
***
"Bangun, Kak." Panggil Rihan sambil menggoyang sedikit lengan Neo yang masih terlelap padahal sudah pukul 6 pagi.
Rihan sendiri sudah siap setengah jam lalu dengan batuan Alen. Rencananya Rihan akan sparing hari ini. Rihan hanya ingin melampiaskan kekesalannya entah pada siapa. Rihan akan mengajak Neo dan Brand. Rihan tidak mau Alex maupun Alen ikut karena akan melukai mereka. Cukup Neo dan Brand saja.
"Hmm... 5 menit lagi, Rei." Serak Neo dan menarik selimut menutupi dirinya hingga kepala.
"Tidak masalah! Masih ada orang lain yang bisa aku ajak," Gumam Rihan pelan lalu berdiri dan pergi dari sana.
"Apa kak Brand sudah bangun? Aku ingin mengajaknya sparing." Tanya Rihan pada Alen sambil terus berjalan menuju pintu keluar.
"Sudah, Tuan. Kebetulan Tuan Brand sepertinya akan jogging." Jawab Alen.
"Itu bagus. Ayo pergi!"
__ADS_1
"Baik, Tuan."
Setelah kepergian Rihan, Neo menurunkan selimutnya dan mengerjap.
"Apa aku salah dengar? Rei akan sparing dengan Brand? Tidak bisa! Sudah lama aku menantikan ini. Mari bersiap secepatnya." Gumam Neo dan dengan tergesah-gesah turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi.
...
Bugh
Bugh
Bugh
Bugh
"Hanya itu kemampuanmu, Kak?" Tanya Rihan setelah sudah hampir 5 pukulan berhasil mengenai Brand. Dua pukulan masing-masing di pipi kiri dan kanannya. Sisanya pukulan di dada dan tendangan di perut.
"Kamu tahu kemampuanku hanya sebatas ini. Terbukti, aku kalah melawan para preman itu. Belum lagi luka di perutku baru sembuh beberapa hari lalu. Sepertinya kamu masih kesal padaku," Jawab Brand dan menangkis pukulan Rihan yang akan mendarat di pipinya lagi.
"Karena itu, kamu harus banyak berlatih, Kak."
Sret
Bugh
Setelah Brand menghindari pukulan di bagian pipi kirinya, Rihan dengan cepat melayangkan pukulan ke pipi kanan dan tepat mengenai sasaran.
"Aku sarankan untuk sparing saja dengan Neo. Kemampuan kalian sepertinya sebanding. Sudah cukup! Wajah tampanku akan jelek nanti," Brand menyerah kemudian terduduk dan mulai melepas ikatan kain di tangannya dengan nafas tersengal.
"Padahal baru lima menit. Hanya itu kemampuanmu, Kak?" Cibir Rihan lalu mengambil sebotol air mineral di tangan Alen dan memberikannya pada Brand.
"Aku janji, lain kali akan mengimbangimu meski sedikit. Untuk sekarang cukup. Aku merasa luka tusukan ini akan terbuka lagi," Ucap Brand setelah mengambil minuman di tangan Rihan.
"Ya, sudah. Tidak masalah. Jika kak Brand merasa sakit, pria di sana akan membantumu." Rihan menunjuk dengan dagunya seorang pria kira-kira berumur 40an yang sedang berdiri 10 meter dari mereka.
"Apa yang bisa dia bantu?" Tanya Brand mengerutkan kening setelah melihat wajah datar pria yang Rihan maksud itu.
"Mengantarmu ke tempat peristirahatan terakhir," Jawab Rihan datar dan menuju sebuah samsak tinju yang cukup besar dan memulai gerakan memukul di sana.
"Benar-benar jahat," Gumam Brand pelan sambil menggeleng.
Keasikan meninju samsak di depannya, hingga Rihan tidak menyadari kedatangan Neo di belakangnya. Yang lain hanya diam menatap apa yang akan Neo lakukan.
Bugh
Bugh
Bugh
Bugh
"Pukulan yang kuat, meski tubuhmu sekecil ini,"
***
__ADS_1
Yang berharap penyamaran Rihan terbongkar, belum saatnya teman². Mari sedikit menunggu. 😊