
Selamat membaca!
.
.
.
Setelah makan siang mereka selesai, Alen dibantu oleh para pelayan membersihkan meja tempat mereka makan sebelumnya kemudian pamit kepada sang majikan, lalu kembali pulang ke mansion.
"Bagaimana dengan seleksi kepala rumah sakit, Lex?" Tanya Rihan pada Alex yang saat ini berdiri di samping Rihan. Dokter Lio juga dalam posisi duduk di depan Rihan, yang hanya dibatasi oleh meja tempat mereka makan tadi.
"Hanya sisa dua kandidat, Tuan. Salah satunya Dokter Lio." Jawab Alex dengan tegas pada sang majikan, dan sesekali melirik Dokter Lio yang juga menatapnya.
"Hmm."
"Panggilkan kandidat yang satunya ke mari," Pintah Rihan datar pada Alex.
"Baik, Tuan." Alex kemudian berlalu meninggalkan ruangan sang majikan.
***
"Maaf, Tuan. Dokter Hengky sudah di sini," Ucap Alex pada sang majikan yang sedang duduk bersandar pada sofa di ruang kerjanya dan memejamkan matanya, tanpa mempedulikan Dokter Lio yang sedari tadi menatapnya intens.
"Hmm." Deheman Rihan, kemudian membuka matanya.
"Silahkan duduk, Dok." Alex mempersilahkan Dokter Hengky, atau kandidat kedua calon kepala rumah sakit untuk duduk.
"Selamat siang, Presdir." Sapa Dokter Hengky, kemudian duduk di sofa di sana, tepatnya bersebelahan dengan Dokter Lio, sedangkan Rihan berada di depan mereka.
"Hm."
"Ada yang ingin presdir sampaikan kepada kedua calon kandidat kepala rumah sakit." Alex memecahkan keheningan, setelah melihat wajah bingung Dokter Hengky.
"Saya hanya ingin kalian tahu, jika saya tidak suka dengan orang yang mendapatkan sesuatu dengan cara yang salah. Ingat! saya bukan orang yang bisa kalian bodohi. Sepintar apapun kalian menyembunyikan semua rencana kalian, mudah bagi saya untuk menemukannya. Apapun alasan kalian menduduki posisi ini, saya harap itu bukan sesuatu yang tersembunyi." Rihan menegaskan dengan datar lalu menatap tajam dua dokter muda di depannya ini.
Rihan memang sengaja mengatakan hal ini pada kedua calon kepala rumah sakit di depannya ini, karena kebanyakan dari calon yang mengikuti seleksi, selalu melakukan kecurangan secara diam-diam tanpa diketahui oleh siapapun. Akan tetapi, Rihan bukan orang yang mudah untuk dibodohi dalam hal seperti itu.
Awalnya seleksi kepala rumah sakit ini direncanakan berjalan selama 2 bulan lamanya, akan tetapi karena banyak yang melakukan kecurangan, maka Rihan memberikan kuasa penuh kepada Alex agar menghentikan beberapa dokter yang berlaku curang selama seleksi, sehingga hanya tersisa dua kandidat calon kepala rumah sakit yang sampai saat ini tidak ditemukan adanya kecurangan pada mereka.
__ADS_1
"Baik, Presdir." Jawab kedua calon kepala rumah sakit dengan tegas.
"Ketika satu di antara kalian berhasil menduduki posisi kepala rumah sakit, saya harap yang satunya tidak menyimpan apapun dalam hatinya. Kalian pasti mengerti dengan maksudku." Rihan terus menatap tajam Dokter Lio dan Dokter Hengky bergantian.
"Kami mengerti, Presdir,"
"Kalian boleh kembali."
"Baik, Presdir. Kami pamit,"
"Hmm."
***
*Tok
Tok
Tok*
"Masuk!"
"Hmm."
"Baik, Presdir. Saya mohon pamit," Suster itu kemudian berlalu pergi dari ruangan Rihan.
Tanpa menjelaskan atau menyebutkan dengan detail siapa yang mencarinya, Rihan tentu tahu siapa pasien yang dimaksud. Rihan dengan senang hati menuju tempat sahabat baiknya itu dirawat.
"Aku senang kamu datang, Rihan." Phiranita menyambut Rihan dengan senyum lebarnya, seakan-akan dia tidak pernah mengalami yang namanya trauma.
Phiranita baru saja sadar dari tidurnya, seketika mencari Rihan karena dia takut jika semua yang baru saja dia alami adalah mimpi.
"Jangan pernah memanggilku Rihan. Aku seorang pria dan namaku adalah Rehhand. Terserah kamu ingin memanggilku apa, asal jangan dengan nama Rihan." Ucap Rihan datar pada sang sahabat.
"Aku rindu sifatmu ini, Tata.Terima kasih karena tidak pernah melupakanku. Terima kasih sudah mencariku sampai sejauh ini. Seharusnya aku yang mencarimu. Akan tetapi karena masa laluku, aku hampir melupakanmu. Maafkan aku, Tata. Aku janji akan selalu mempertahankan senyummu." Monolog Rihan dalam hati sedih, akan tetapi tetap memasang wajah datarnya.
"Benar juga, kamu seorang pria. Kalau begitu aku akan memanggilmu Ehan atau Han saja. Bagus 'kan?" Phiranita memasang senyum manisnya dan menatap intens wajah Rihan yang saat ini duduk di sebelah brankarnya dan ikut menatapnya dengan bola mata coklatnya yang tajam.
"Hmm."
__ADS_1
"Ehan... Suapi aku, ya. Aku lapar." Phiranita meminta dengan manjanya sambil memasang puppy eyesnya yang sangat menggemaskan di mata Rihan.
"Hmm." Deheman Rihan, tetapi dalam hatinya sangat senang melihat sahabatnya tersenyum lagi melupakan traumanya sesaat.
Rihan lalu mengambil makanan rumah sakit yang baru saja diantar oleh suster di atas meja samping tempat tidur Phiranita.
Rihan dengan tenang mengambil piring berisi makanan dan menyuapi sang sahabat dengan telaten sampai tidak tersisa apapun, membuat senyum Phiranita semakin lebar.
"Terima kasih sudah mau menjadi sahabatku, dan maaf karena menjadi sahabatku." Phiranita menatap wajah Rihan sedih, membuat Rihan menaikan sebelah alisnya bingung.
"Terima kasih sudah mau menerimaku yang asing ini menjadi sahabatmu dan merepotkanmu. Maaf karena menerimaku yang memiliki trauma ini. Wajar saja banyak yang tidak menyukaiku karena selalu menyusahkan orang lain. Maafkan aku. Hiks...hiks...hiks. Maaf," Tangis Phiranita begitu menyayat hati, membuat Rihan memegang erat piring bekas makan sang sahabat yang belum sempat diletakan kembali di atas meja.
"Berhenti menangis jika masih ingin aku di sini!" Suara Rihan begitu dingin berusaha menahan emosinya. Rihan lalu meletakan piring digenggamannya pada meja di sampingnya.
"Aku akan berhenti menangis, asal kamu mau berjanji padaku." Phiranita menatap penuh harap pada Rihan.
"Hmm."
"Berjanjilah untuk selalu menjadi sahabatku. Berjanjilah untuk tidak meninggalkanku dalam keadaan apapun." Ucap Phiranita kemudian membersihkan sisa air mata di pipinya dan memasang senyum manisnya pada Rihan.
"Hm. Dan berjanjilah juga untuk cepat sembuh," Balas Rihan lalu ikut membersihkan sisa-sisa air mata di wajah sahabat baiknya ini.
"Aku janji." Phiranita ikut memegang tangan Rihan yang masih berada di pipinya lalu tersenyum manis.
Keduanya tidak sadar jika aktivitas yang mereka lakukan mengundang beberapa pasang mata untuk melihat. Pemandangan yang terlihat seperti sepasang kekasih yang melepas rindu atau semacamnya.
"Istirahatlah! Aku akan menjagamu." Rihan lalu melepaskan tangannya di pipi Phiranita kemudian membantu membaringkan sang sahabat, tidak lupa juga, Rihan menyelimutinya.
"Aku menyayangimu, sahabatku." Phiranita lalu memejamkan matanya dan terlelap, karena obat yang diminumnya setelah makan sudah mulai bereaksi.
"Aku juga menyayangimu." Balas Rihan dalam hatinya kemudian mengelus pelan surai kecoklatan milik sang sahabat.
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.
See You.
__ADS_1