Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Makan Siang Bersama Ayu


__ADS_3

Rihan kini duduk bersandar di kursi kebesarannya di ruang khusus presdir sambil memejamkan matanya berpikir apa yang harus dia lakukan pada Ayu.


Menghela nafasnya sebentar, Rihan mengambil ponselnya dan mulai menekan nomor ponsel Ayu yang baru saja dikirim oleh Alex. Belum memasuki dering kedua, panggilan sudah dijawab.


"Halo, Tuan Muda?" Sambut Ayu di seberang sana yang terdengar begitu bersemangat.


"Kamu ada waktu hari ini?" Balas Rihan Datar.


"Aku selalu mempunyai waktu jika berhubungan dengan anda, Tuan Muda." Kini suara ayu terdengar menjijikan di telinga Rihan.


"Temani aku makan siang di restaurant xx." Nada suara Rihan tetap sama.


"Benarkah? Baiklah, aku akan segera ke sana." Ayu begitu senang karena ini pertama kalinya Rihan mengajaknya makan siang.


Dalam pikirannya Rihan menyukainya. Sayangnya apa yang Ayu pikirkan tidak sesuai dengan apa yang Rihan pikirkan.


Tanpa menunggu lagi, Rihan kemudian memutuskan sambungan telepon dan menekan jam tangannya sekedar mengaktifkan Gledy karena dia akan membajak nomor telepon seseorang secara acak untuk mengirimkan pesan pada Ariana.


Rihan ingin melihat bagaimana reaksi Ariana ketika melihat secara langsung dia dan Ayu makan siang bersama di restaurant berbintang di Jakarta.


Setidaknya sedikit membalas perbuatan Ayu pada Dian melalui Ariana, karena belum saatnya Rihan turun secara langsung untuk membalas kedua gadis itu. Lagipula, Ayu belum memiliki masalah serius dengannya sehingga dia akan membiarkan Ariana yang berurusan dengan Ayu.


Setelah mengirim pesan singkat pada Ariana untuk datang ke restaurant tempatnya dan Ayu makan bersama, tidak lupa juga Rihan mengatur waktu pesan itu akan dikirim. Rihan kemudian mematikan kembali Gledy bertepatan dengan panggilan masuk di ponselnya yang ternyata berasal dari Albert.


"Halo, Rei."


"Ada apa?"


"Apa yang terjadi dengan Dian?" Tanya Albert terdengar khawatir.


"Datang ke ruanganku sekarang!"


"Baiklah. Aku dan Dev akan segera ke sana."


Panggilan pun berakhir. Rihan memutuskan untuk membuka kembali rekaman cctc kemarin di ponselnya untuk nanti ditunjukan pada Albert dan David. Setelah itu Rihan berdiri dan menuju jendela ruangannya hanya sekedar menatap lalu lintas kota Jakarta.


Tidak lama kemudian David dan Albert muncul tanpa mengetuk pintu. Rihan yang mengetahuinya hanya bersikap biasa saja dan terus menatap keluar jendela hingga kedua temannya itu duduk di sofa ruangannya.


"Apa yang sebenarnya terjadi pada Dian, Rei? Pantas saja ketika datang ke kampus aku merasa ada yang kurang, ternyata aku tidak menjemput Dian seperti biasa. Aku tidak menjemputnya karena berpikir dia akan datang sendiri mengingat aku tidak mengantarnya pulang kemarin." Albert berbicara dengan nada bersalah.


Rihan hanya bersikap datar lalu berbalik dan mengambil ponselnya kemudian memberikannya pada Albert hasil rekaman kemarin. Rihan kemudian mengambil posisi duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan David dan Albert.


"Gila! terbuat dari apa isi kepala anak ini. Bisa-bisanya dia melakukan hal ini," Albert hanya bisa memberi komentar dengan nada kesal.

__ADS_1


"Hanya karena cemburu, dia rela menyiksa orang lain. Belum memiliki hubungan apapun dengan Rei saja dia sudah seperti orang gila. Apa jadinya nanti jika itu benar terjadi? Aku ngeri dengan tindakannya sendiri." Albert terus berkomentar selama rekaman diputar.


"Tindakan ini tidak bisa dibiarkan. Apa sebaiknya kita lapor ke polisi?" Tanya Albert setelah rekaman selesai diputar.


"Ingatlah siapa yang mau kamu lapor," Peringatan David membuat Albert akhirnya tersadar dimana posisinya. Meskipun dia termasuk dalam jajaran orang kaya, tapi kekayaan keluarganya tidak sebesar kekayaan milik keluarga Antarik.


"Terkadang hukum di Indonesia ini tumpul ke atas tajam ke bawah." Albert hanya bisa menggeleng kepala dengan apa yang dia katakan.


Suasana di dalam ruangan itu kembali hening setelah pembahasan tentang apa yang harus mereka lakukan untuk Ayu, hingga ketukan pintu Rihan mengalihkan perhatian mereka bertiga.


"Masuk." Albert memberi ijin setelah ketukan tiga kali didengar. Dia bertingkah seperti pemilik ruangan. David hanya menggeleng tidak berdaya.


"Selamat siang, Presdir. Saya dokter yang menangani nona Dian." Sapa seorang dokter pria setelah masuk dan berdiri 1 meter didekat sofa yang Rihan dan kedua temannya duduk.


Rihan hanya mengangguk kepala pertanda dia ingin mendengar keadaan Dian.


"Kondisi nona Dian tidak terlalu parah. Hanya memar di bagian kepala dan bagian tubuh belakangnya. Keadaan awalnya sangat lemah karena kurangnya asupan makanan sejak kemarin. Saya sudah berikan suntikan vitamin dan juga pereda sakit untuk memar agar ketika pasien sadar nanti tidak terlalu merasakan sakit." Jelas Dokter itu dengan tenang dan terdengar helaan nafas legah dari Albert.


"Kamu bisa kembali."


"Baik presdir, saya permisi."


Setelah kepergian dokter itu, Albert kemudian menatap Rihan dan tersenyum canggung.


"Rei..." Panggil Albert ragu-ragu.


"Kamu sudah makan siang?" Tanya Albert menggaruk kepalanya malu. Sedangkan David, dia hanya bisa menepuk pelan dahinya karena tingkah aneh sahabatnya ini.


"Aku akan makan siang di luar."


"Tumben... Kami ikut, ya."


"Aku ingin bertemu seseorang." Singkat Rihan membuat Albert mengerti bahwa dia tidak bisa diganggu.


"Baiklah. Aku dan Dev akan makan di sekitar sini." Albert hanya bisa menghela nafas kecewa. Sudah lama dia tidak merasakan masakan dari koki Rihan.


David dan Albert kemudian pergi dari sana menyisakan Rihan yang sudah duduk di kursi kebesarannya sambil mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuknya.


***


Di tempat lain, lebih tepatnya ruang kelas Ariana. Gadis itu sedang asik-asiknya bercengkrama dengan teman-temannya memamerkan alat-alat makeupnya yang baru kemarin dia beli. Tawa renyanya terhenti karena mendengar notifikasi masuk di ponselnya.


Masih dengan sedikit senyum, Ariana membuka ponselnya dan membaca pesan masuk dari nomor tidak kenal.

__ADS_1


...'Sedikit kejutan untukmu. Jika penasaran, datanglah ke restaurant xx.'...


Ariana hanya mengerutkan kening membaca pesan itu. Karena mengira itu hanyalah pesan tidak penting, Ariana meletakkan kembali ponselnya dan melanjutkan kegiatannya.


20 menit berlalu, notifikasi kembali masuk ke ponselnya. Ariana membuka ponselnya dan mendapati sebuah foto dikirim padanya. Membukanya, Ariana menjadi kesal tiba-tiba karena foto itu berisi Rihan dan Ayu sedang berada di sebuah restaurant berbintang.


Meletakkan kembali ponselnya secara kasar, Ariana kemudian berdiri dan pergi meninggalkan kelasnya menyisahkan wajah bingung teman-temannya.


...


Pukul 11.58 Rihan kini memarkirkan mobilnya di depan restaurant yang sudah dijanjikan untuk makan siang bersama Ayu. Mematikan mesin mobil, Rihan kemudian masuk dan menuju meja yang sudah dipesan atas namanya. Di sana sudah ada Ayu yang tersenyum senang melihat kedatangannya.


Sebelum itu, Rihan sudah meminta pada Alen untuk mendatangkan makanan dari mansion untuk makan siangnya sehingga koki di restaurant itu hanya menyajikan makanan yang dibawa oleh Alen.


Pihak restaurant hanya mengikutinya dan tidak berani membantah karena selain takut, mereka juga dibayar mahal untuk itu.


"Hai, Tuan Muda!" Sapa Ayu setelah Rihan mengambil posisi duduk di depannya.


Penampilan Ayu begitu cantik dengan balutan pakaian formal karena dia sebelumnya sedang berada di Antarik Hospital, sehingga Ayu hanya perlu merapikan penampilannya juga menambah sedikit makeup untuk mempercantik wajahnya. Ayu tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.


"Hm."


Terbiasa dengan suara datar itu, Ayu hanya memasang senyum manis setiap saat. Padahal dalam hati dia begitu kesal dengan sikap Rihan padanya. Ayu kini membandingkan dirinya, Phiranita dan Dian. Setahunya dia lebih dari segalanya dari pada Dian dan Phiranita, tetapi kenapa sikap Rihan berbeda padanya dan kedua gadis itu. Belum lagi ada Phiranita yang selalu bermanja pada Rihan. Memikirkannya, Ayu menjadi kesal dan meremas kuat roknya di bawah meja.


Ayu baru sadar, ternyata dia belum memberi sedikit peringatan pada Phiranita. Setidaknya Phiranita harus dia buat sama seperti Dian. Ayu mengangguk senang setelah memikirkan apa yang harus dia lakukan pada Phiranita.


Karena semua sudah diatur, sehingga Rihan tidak lagi memanggil pelayan untuk membawa makanan. Mereka dengan sendirinya membawa makanan-makanan lezat itu saat melihat kedatangan Rihan di sana. Setelah makanan ditata rapi, dua pelayan itu kembali ke tempatnya.


"Selamat makan." Ucap Rihan datar kemudian mulai menikmati makan siangnya.


"Selamat makan, Tuan Muda."


Keduanya kemudian menikmati makan siang mereka dengan tenang. Disela-sela makan mereka, Rihan dengan sengaja mengambil tisu dan dan membersihkan sudut bibir Ayu yang sama sekali tidak ada apa-apa di sana. Maklum saja karena Ayu sangat menjaga imagenya di depan Rihan.


Ayu yang yang diperlakukan seperti itu menjadi senang bukan main. Ayu lalu meletakkan sendok dan garpu kemudian menatap Rihan dan tersenyum manis.


Baru saja Ayu akan mengatakan sesuatu pada Rihan,


BYURRR...


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya, ya.


See You.


__ADS_2