Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Penyusup


__ADS_3

Suasana kini hening karena mereka takut dengan ancaman itu. Rihan sendiri tetap tenang di tempatnya.


"Alex, kamu jaga paman dan bibi. Alen, jaga kak Avhin. Daddy dan mommy aku yang jaga." Ujar Rihan pelan yang hanya bisa didengar oleh mereka bertiga.


"Lalu siapa yang akan menjaga anda? Saya akan tetap menjaga anda di sini, Tuan." Alex tidak ingin jauh dari Rihan.


"Aku bisa menjaga diri sendiri. Pergilah ke tempat kalian masing-masing."


"Tidak, Tuan! apapun yang terjadi, anda tetap harus bersama saya." Tegas Alex.


"Kamu boleh menjagaku dari jauh. Ini perintah!" Nada suara Rihan penuh penekanan karena tidak ingin Alex terus membantahnya.


"Baik, Tuan." Alex menjawab pasrah kemudian berdiri diikuti oleh Alen. Keduanya lalu pergi tanpa ada yang tahu.


Mentra dan kekasihnya juga sudah bergerak ke tempat masing-masing. Karena mereka adalah orang-orang terlatih, sehingga melarikan diri bukan hal yang sulit bagi mereka.


Baru saja kepergian mereka, tiba-tiba seorang mendekat pada Rihan yang diketahui adalah musuh. Rihan mengetahuinya karena lensa matanya bekerja dalam kegelapan untuk mengenali identitas lengkap serta mendeteksi benda berbahaya apa saja yang orang itu bawa.


Rihan akui, mereka begitu hebat karena berjalan saja, tidak akan ada yang tahu. Langkah kaki mereka tidak terdengar sama sekali. Belum lagi mereka bisa melihat dalam kegelapan. Sepertinya mereka juga ahli dalam teknologi.


Pria itu lalu mendekat ke arah Rihan dan sudah berdiri di belakangnya. Telinga tajam Rihan juga bisa mendengar gerakan pria itu yang menodongkan pistol padanya.


Dengan sikap tenang, Rihan kemudian berbalik, memiringkan kepalanya dan dengan cepat mengambil pistol dan membekap mulut pria itu agar suaranya tidak terdengar. Gerakan yang begitu cepat membuat pria itu kebingungan dalam kegelapan. Setelah itu, Rihan mengeluarkan pisau lipat kecil dibalik jasnya.


Sret


Bruk


"SUDAH KUKATAKAN UNTUK JANGAN BERGERAK!" Teriak suara di depan sana karena mendengar suara jatuh. Dia tidak sadar bahwa suara itu berasal dari anak buahnya yang jatuh karena Rihan menyayat lehernya.


"NYALAKAN LAMPUNYA!" Teriak suara itu lagi hingga lampu kemudian menyala.


Dapat Rihan lihat ekspresi takut para tamu. Ada yang menangis tetapi suaranya tidak keluar, karena takut dengan ancaman pria dengan jas hitam di depan sana. Ada juga yang berjongkok. Termasuk Ayu dan Julian Antarik, Ariana bersama keluarganya, dan juga David dengan keluarganya.


Selain para tamu, daddy dan mommy Rihan sekarang sedang ditodong pistol oleh dua orang pria berjas hitam lengkap. Paman, bibi dan kakaknya Avhin juga ditodong. Ada juga Neo dan Logan yang duduk di tempat mereka. Rine tidak mengikuti pestanya karena ketika dia sudah lengkap dengan gaunnya, gadis itu tiba-tiba pusing sehingga harus beristirahat.


Rihan hanya menatap datar pria di depan sana yang tangan kanannya memegang pistol, sedangkan tangan kirinya memegang mikrofon.


"Anda memang tidak sederhana, Tuan Muda." Ucap pria di depan sana yang sepertinya pemimpin kelompok pria berjas itu. Dia mungkin menyadari satu anak buahnya yang jatuh dengan darah mengalir dari lehernya.


"Aku ingin tahu, alasanmu mengacaukan pesta ini." Nada suara Rihan begiru datar. Rihan dengan tenang berjalan menuju pemimpin kelompok itu.


"Pertanyaan yang bagus. Bos kami menginginkan J2R Lesfingtone menjadi miliknya!"


"Jika dia menginginkannya, maka dia harus bekerja, bukannya mengambil dengan cara seperti ini. Benar-benar licik." Rihan kini sudah berada lima meter di depan pemimpin kelompok itu.


"Ada cara mudah, kenapa harus bersusah paya?" Pemimpin kelompok itu menjawab dan terkekeh.


"Tidak perlu basa-basi. Berikan semua surat-surat kepemilikan J2R Lesfingtone padaku sekarang, atau nyawa mereka melayang." Lanjut pemimpin kelompok itu lalu menatap Rihan tajam.


"Kamu bisa mengambilnya sendiri di kamar paman dan bibi." Jawab Rihan santai kemudian menarik satu kursi yang tidak jauh dari tempatnya berdiri dan duduk dengan tenang di sana.


"Kamu sepertinya tidak takut dengan ancamanku. Tembak tuan muda pertama itu!" Perintah pemimpin kelompok itu.


Keluarga Lesfingtone tidak terlihat takut sama sekali. Ekspresi mereka hanya biasa saja, karena mereka percaya pada Rihan.


Setelah perintah pemimpin kelompok itu, semua pandangan teralihkan pada Avhin yang sedang ditodong pistol di bagian belakang kepalanya.


"Tembak dia!"


Bruk


"Kau..." Suara pemimpin kelompok itu tercekat lalu menatap tajam Rihan karena sebelum anak buahnya menarik pelatuk untuk menembak Avhin, dia lebih dulu jatuh oleh sniper Rihan yang bersembunyi.

__ADS_1


"Hanya itu persiapanmu? Lemah!" Rihan menatap remeh pemimpin kelompok itu. Kedua tangannya terlipat di dada.


"Tembak semua keluarganya!" Perintah pemimpin kelompok itu lagi dengan geram.


Bruk


Bruk


Bruk


Bruk


Bruk


Bruk


Bruk


Ketujuh pria berjas yang menodong pistol pada keluarga Rihan jatuh secara berurutan dan mati seketika. Termasuk dua orang yang menodong Neo dan Logan.


Tidak terdengar suara tembakan karena semua senjata yang dipakai sniper Rihan semuanya senjata khusus. Melihat semua anak buahnya mati, pemimpin kelompok itu tiba-tiba berubah pucat.


"Lain kali, datanglah dengan rencana yang matang." Rihan kini berdiri dan menghampiri pemimpin kelompok itu. Jarak keduanya hanya satu meter.


"Maju sedikit saja, kamu aku tembak!" Ancam pria itu dengan takut.


"Silahkan!" Balas Rihan dengan kedua tangan sedikit diangkat tanda menyerah.


Dalam keadaan takut dan marah, pemimpin kelompok itu lalu menarik pelatuk.


Dor


Bugh


Hup


Sret


Kini posisi mereka berbalik. Rihan sekarang menodong pemimpin kelompok itu dengan pistol tepat di dahinya.


"Jika kamu menyayangi nyawamu, maka katakan siapa bosmu." Nada suara Rihan penuh penekanan.


"Sampai matipun, aku tidak akan memberitahunya."


"Baiklah. Bawa dia!" Perintah Rihan dengan datar.


Dua orang pria dengan pakaian hitam yang menutupi seluruh tubuh mereka kecuali bagian mata. Pakaian mereka mirip orang-orang militer, tetapi warnanya hitam. Keduanya muncul sambil membawa senjata sniper yang menggantung di belakang tubuh masing-masing.


Semua yang melihatnya terkagum-kagum dengan aksi Rihan. Rihan sendiri hanya menampilkan wajah datar tidak peduli.


"Jika kejadian malam ini bocor pada media, nyawanya sama seperti para penyusup itu." Rihan mengancam para tamu yang ada. Mereka hanya membalas dengan anggukan.


Rihan kemudian berjalan menuju tempat duduk Neo dan Logan. Dapat Rihan lihat tatapan Neo begitu lekat padanya. Sayangnya Rihan tidak peduli.


"Bisakah kamu tidak membawa musuhmu sampai ke sini? Kamu mengacaukan pestanya. Ck..." Cibir Rihan lalu mengambil posisi duduk di kursi kosong depan Neo.


"Kenapa kamu berpikir seperti itu?" Tanya Neo heran. Dia sendiri tidak yakin itu lawan bisnisnya atau bukan.


"Kamu bisa membawa pemimpin kelompok itu dan mengintrogasinya." Rihan menjawab sambil memainkan mulut gelas yang ada di atas meja.


"Baiklah. Aku berhutang lagi padamu." Balas Neo lalu tersenyum tipis.


"Sepertinya hutangmu akan bertambah." Rihan kini menatap tajam Neo.

__ADS_1


"Maks..."


Sret


Bruk


Prang.


Hening.


Semua orang awalnya syok dengan gerakan Rihan yang tiba-tiba membalik dengan mudah meja di depannya sehingga terbalik ke samping dan apa yang di atasnya jatuh berhamburan.


Semua orang kini menjadi tenang sekaligus menatap dengan bermacam ekspresi adegan di hadapan mereka. Di antara semua ekspresi, yang paling menonjol adalah Logan, karena jarak adegan itu hanya 3 meter dengannya.


"Adegan ini lagi," Batin Logan menggeleng.


Adegan yang dimaksud adalah adegan yang sama waktu di indonesia, dimana Rihan yang menindih Neo.


Rihan mengatakan bahwa Neo akan berhutang lagi padanya karena Rihan melihat sebuah titik merah tepat di area jantung Neo. Sepertinya masih ada penyusup yang bersembunyi. Rihan kemudian membalik meja dan menerjang Neo agar terhindar dari peluru itu. Akibatnya keduanya jatuh dengan Rihan di atas Neo.


Deg


Deg


Deg


Entah jantung siapa yang berdebar paling dominan, karena masing-masing bisa mendengar debaran jantungnya sendiri dan juga orang di depannya.


"Hutangmu bertambah, Kak." Rihan membuka suara dengan datar sqmbil menatap Neo yang juga menatapnya. Rihan saat ini menopang tubuhnya agar tidak lagi menindih Neo.


"Aku rasa ini tidak termasuk hutang karena aku juga menyadarinya." Balas Neo yang menatap lekat Rihan. Jarak wajah keduanya hanya beberapa senti sehingga nafas masing-masing terasa oleh keduanya.


"Baiklah. Lepaskan tanganmu dari pinggangku. Aku tidak ingin besok dunia dihebohkan dengan berita Neo si pengusaha muda yang sukses dan digilai banyak wanita ternyata seorang gay." Rihan lalu melirik area pinggangnya yang dipeluk erat oleh salah satu tangan kekar Neo.


"Aku tidak masalah dengan berita itu. Lihatlah, betapa ringannya tubuh ini, dengan pinggang yang ramping. Belum lagi wajahmu yang cantik melebihi seorang gadis." Komentar Neo lalu tersenyum.


Bukannya melepas tangannya pada pinggang ramping Rihan yang dimaksud, Neo justru mengeratkan pelukannya dan tangan satunya yang bebas malah menopang kepalanya sendiri sambil menatap wajah Rihan yang entah sejak kapan mulai memerah.


Rihan entah kenapa wajahnya tiba-tiba memerah tanpa alasan. Mungkin karena godaan Neo, atau pelukan erat Neo, Rihan sendiri tidak tahu.


"Anak itu, dari mana dia belajar menggoda orang?" Syok Logan dalam hati lalu menutup wajahnya karena malu.


"Ternyata ini sifat aslimu. Berbeda dengan rumor yang beredar." Rihan dengan wajah sudah kembali seperti semula menatap rumit pada Neo.


Sret!


"Aku sendiri tidak tahu kenapa aku tiba-tiba berubah ketika bersamamu." Neo sudah merubah posisi keduanya dengan dia yang menindih Rihan.


Rihan yang posisi keduanya berubah mengerutkan kening dan wajahnya mulai berubah pucat.


"Ada apa denganmu? Kamu tidak jatuh cinta padaku, 'kan?" Neo heran ketika melihat wajah pucat Rihan. Neo menduga Rihan takut padanya.


"Huh? Jangan gila! Peluru itu beracun." Rihan menjawab dengan pelan karena menahan sakit.


Bagaimana tidak sakit, jika posisi mereka seperti ini membuat peluru yang menembus bahu kanannya bagian belakang terasa sakit. Rihan berpikir itu peluru biasa. Ternyata itu beracun dan baru bereaksi sekarang.


"Kau... kenapa aku tidak menyadarinya?"


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku.


Jangan lupa untuk meninggalkan jejakmu, ya.

__ADS_1


Sampai ketemu di chapter selanjutnya.


__ADS_2