Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Tebakan Albert


__ADS_3

Setelah kelas berakhir, Rihan segera bersiap untuk pulang. Rihan dengan tenang berjalan menuju tempat parkir untuk mengambil mobilnya. Rihan lalu memasuki mobil dan pergi dari sana. Ketika mobil keluar dari tempat parkir dan baru berjarak 2 meter, mata Rihan tidak sengaja melihat siluet seorang gadis sedang sibuk membenarkan sepedanya beberapa meter di pintu keluar parkiran. Rihan kemudian menghentikan mobilnya di samping gadis itu.


Gadis yang sedang sibuk dengan sepeda bututnya itu dibuat kaget karena suara klakson mobil Rihan. Sambil memegang dadanya karena kaget, gadis yang tidak lain adalah Dian itu segera berbalik dan tersenyum canggung pada Rihan yang membuka kaca mobil dan melihatnya.


Dian biasanya pulang bersama Albert, tetapi karena Albert masih pergi entah kemana, sehingga Dian harus pulang sendiri mengingat dia memiliki pekerjaan paruh waktu. Kebetulan sepedanya ada di tempat parkir, karena Albert selalu mengantar jemputnya.


Sebenarnya sepeda Dian baik-baik saja, tapi setelah ditinggal beberapa hari di kampus, kondisi sepedanya seperti habis dirusak oleh orang. Benar-benar mengenaskan!


"Naik!" Ujar Rihan datar.


"Aku tidak apa-apa, Rei. Aku bisa pulang sendiri. Sepedaku sebentar lagi sudah jadi." Balas Dian tersenyum canggung.


"Waktumu hanya 15 menit untuk sampai ke tempat kerja." Beritahu Rihan membuat Dian dengan cepat melihat jam di pergelangan tangannya dengan syok.


Dengan keadaan malu bercampur gugup, Dian terpaksa naik ke mobil Rihan. Dian tidak punya pilihan lain selain menumpang pada Rihan. Dia sudah pernah terlambat dan diberi peringatan. Jika terlambat lagi, maka dia akan dipecat sehingga Dian sangat takut hal itu terjadi. Bagaimana nasibnya dan sang nenek jika dia dipecat?


"Maaf sudah merepotkanmu, Rei." Dian dengan nada bersalah membuka suara setelah memasang sealbat. Rihan tidak menanggapi. Rihan menginjak pedal gas dan mobil melaju meninggalkan Antarik Universitas diikuti oleh Alex dari belakang.


Setelah mengantar Dian ke tempat kerjanya, Rihan kembali memacu mobil menuju mansionnya tanpa sadar bahwa tindakannya mengantar Dian membuat gadis itu menjadi bahan gunjingan para netizen di sosial media akibat fotonya yang terlihat keluar dari mobil seorang Tuan Muda Rehhand.


Dian yang masuk ke dalam restaurant tempatnya bekerja mendapat banyak tatapan tidak suka dari pelanggan dan beberapa pegawai restaurant wanita di sana. Dian hanya bisa memasang wajah tebal dan menulikan telinga untuk mendengar sindiran pedas gadis-gadis di sana.


***


Baru saja Rihan keluar dari mobil dengan Alex yang membuka pintu untuknya, dia sudah disodorkan iPad oleh Alex yang menayangkan sebuah artikel dan beberapa hasil jepretan wajahnya yang terlihat dari jendela mobil yang terbuka dan Dian yang keluar dari mobil kemudian tersenyum padanya.


"Hentikan beritanya yang menyebar dan bungkam saksi yang melihatnya. Jangan lupa untuk mengawasi Dian jika terjadi sesuatu padanya di tempat kerja. Jika dia tidak nyaman lagi di sana, pindahkan saja ke tempat lain." Rihan mengembalikan iPad pada Alex kemudian melangkah memasuki mansion.


"Baik, Tuan."


"Dimana Tata?" Tanya Rihan ketika memasuki mansion dan melihat Alen yang berdiri bersama para pelayan menyambutnya.


"Nona Phi ada di taman, Tuan. Dia sangat senang ketika tahu tuan akan mengajaknya jalan-jalan." Balas Alen lalu tersenyum tipis.

__ADS_1


"Bantu aku mengganti pakaian, Len."


"Baik Tuan."


...


Rihan saat ini mengenakan kaos putih lengan pendek dipadukan dengan celana cargo hitam panjang beralaskan sendal jepit. Penampilan sederhananya malah membuat siapapun yang melihatnya akan terpesona.


Rihan dengan gaya cool berjalan menuju Phiranita yang sibuk dengan bunga-bunga di taman mini belakang mansion Rihan.


"Kamu datang, Han." Sambut Phiranita melihat kedatangan Rihan dengan senyum lebar.


"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Rihan berdiri dengan memasukan satu tangan di saku celananya di samping Phiranita yang sedang duduk dan menengadah ke arahnya.


"Aku baik, Han. Aku sudah tidak sabar untuk segera berjalan-jalan keluar." Phiranita memetik setangkai bunga di depannya. Gadis itu begitu senang saat ini.


"Semua ada waktunya. Kamu hanya perlu bersabar dan berusaha untuk sembuh, maka keinginanmu akan terwujud." Balas Rihan tenang.


***


"Apa jangan-jangan dia adalah sepupu Rei? Maksudku pewaris satu-satunya Jhack Roland Lesfingtone yang dicari media selama ini. Lihatlah! bagaimana wajahnya begitu mirip dengan pengusaha nomor dua asal Amerika itu." Albert dengan mata melotot menatap David yang sedang menatap aneh foto di tangannya.


"Itu tidak mungkin, Al." Bantah David menggeleng kepalanya tidak percaya.


"Kenapa kamu berpikir begitu?" Tanya Albert bingung.


"Jika orang tua Rihan memiliki kekuasaan sebesar itu, mereka tidak akan mungkin membiarkan anak gadis mereka dibully oleh Ariana sampai masuk rumah sakit. Kamu tahu kenapa kasus pembullyan terhadap Rihan tidak diusut? Itu karena Ariana memiliki pelindung di sekolah itu. Keluarga Samantha adalah investor terbesar di sekolah saat itu.


Orang tua mana yang membiarkan anaknya diperlakukan seperti itu? Jelas tidak ada. Bisa jadi mereka memiliki kesamaan tapi terlahir dari orang tua yang berbeda."


"Benar juga. Aku pernah mendengar jika kita memiliki setidaknya satu kembaran di luar sana. Tapi wajahnya benar-benar mirip dengan mereka, Dev."


"Lagi pula kamu tahu umur berapa anak Jhack Lesfingtone, sekarang?" Tanya David lalu mengambil foto di tangan Albert dan memasukkannya kembali ke dalam dompetnya.

__ADS_1


"Hehehe... aku tidak tahu." Albert menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Tadinya aku begitu senang karena bisa bertemu dengan dia, sayangnya..." David menghela nafas setelah beberapa saat keheningan diantara mereka.


"Kamu harus berusaha lagi, Dev. Jika kalian berjodoh, percayalah kalian pasti akan dipertemukan. Aku akan selalu mendukungmu, Dev." Albert memberi semangat kemudian menepuk pelan bahu David.


"Terima kasih, Al. Tapi jujur, ketika pertama kali aku melihat Rei, jantungku berdegup kencang tanpa tahu alasannya. Kini aku mengerti, jika jantungku begitu karena wajahnya sangat mirip dengan orang yang aku cari." Albert hanya menanggapi dengan anggukan kepalanya.


"Kemana lagi aku harus mencarinya, Al? Apa aku harus berhenti? Sampai sejauh ini, apa aku harus menyerah?" Tanya David dengan lirih.


"Sekedar saran dariku, Dev." Perkataan Albert membuat David menatapnya serius.


"Jika kamu begitu merindukannya, anggap saja Rei sebagai dia. Perlakukan Rei sebagaimana apa yang ingin kamu lakukan padanya. Katakan pada Rei, apa yang ingin kamu katakan pada Rihan."


"Orang-orang akan melihatku aneh, Al. Kamu jangan membuatku terlihat menjijikan." David menatap malas pada Albert. Jelas dia tidak akan melakukan saran Albert. Meski sebenarnya dia sempat memikirkan hal yang sama.


"Aku hanya memberi saran. Kamu kau dan tidaknya, itu terserah." Albert mengangkat bahunya acuh.


"Saran yang tidak bisa diterima." David berbalik dan pergi dari sana.


"Mau kemana, Dev?" Tanya Albert yang berlari kecil menyusul David.


"Pulang."


"Kamu tidak ada kelas lagi?"


"Tidak."


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku.


Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.

__ADS_1


See You.


__ADS_2