
Maafkan aku karena baru up.
Aku sedang sibuk selama 1 minggu ini karena ada Ujian Tengah Semester. Mungkin minggu ini aku juga sibuk dan terlambat up. Karena itu, aku mohon maaf dan juga pengertian pembaca sekalian. 😊😊😊
Mari kita lanjut kisah Rihan.
.
.
.
Bukan hanya hujan deras yang membangunkan Rihan saja, tetapi hujan deras juga membangunkan seorang pria dari tidur nyenyaknya.
Baginya, hujan merupakan kenangan terindah untuknya, karena hujan deras seperti ini adalah awal dia bertemu dengan pujaan hatinya setelah berhari-hari dia memperhatikan gadis yang dia sukai itu.
Pria itu tidak lain adalah David yang terbangun karena hujan deras yang mengguyur bumi. Menatap jam digital di meja sampingnya, David kemudian turun dari tempat tidur dan berjalan menuju balkon kamarnya.
Menatap hujan deras di depannya David, tersenyum tipis mengingat bagaimana senyum manis Rihan di saat menikmati hujan yang jatuh di telapak tangannya.
Masih teringat jelas di ingatan David di saat dia pulang sekolah dan tidak sengaja melihat Rihan di tempat pemberhentian bus. Ingin sekali David menghampiri Rihan tetapi rasa gugup membuatnya harus menatap gadis yang dia sukai hampir satu jam sebelum akhirnya mengumpulkan niat untuk menghampirinya dan mengajaknya pulang mengingat sudah semakin larut untuk ukuran seorang gadis yang belum sampai ke rumah.
Menatap hujan di depannya, ekspresi David yang awalnya tersenyum, kini berubah sendu.
"Kemana lagi aku harus mencari. Biasakah beri aku sedikit petunjuk keberadaanmu?" Gumam David lalu menghela nafas frustasi.
"Rei... andai kamu seorang gadis, aku mungkin akan sedikit berharap itu dirinya, meski hanya untuk sekedar melepas rindu." Sambung David kini menunduk menatap genggaman tangannya yang begitu erat pada pagar balkon kamarnya.
Setelah merasa lebih baik, David kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri dan bersiap melakukan rutinitas paginya sebelum orang lain bangun dari tidur mereka yaitu olahraga pagi.
***
"Neo dan Logan datang ke Indonesia untuk bekerja sama dengan perusahaan Antarik. Itu menurut data yang diperoleh oleh anak buah kita, Bos." Lapor Dom pada Brand lalu meletakkan map coklat berisi informasi sekaligus foto-foto aktivitas Neo dan Logan.
"Ya, sudah. Pantau terus mereka. Bagaimana dengan pembangunan Resort yang kita ajuhkan pada perusahaan cabang RA.Group?" Tanya Brand mengambil map coklat di depannya dan membacanya.
"Belum ada kabar dari mereka, Bos."
"Baiklah. Kamu bisa pergi."
__ADS_1
"Baik, Bos. Saya pamit."
"Aku sudah lama mengenalmu, dan aku yakin kedatanganmu bukan karena kerja sama. Mari kita lihat seberapa jauh kamu berjuang mendapatkannya kembali. Aku juga ingin kamu merasakan bagaimana jadi aku dulu." Gumam Brand dalam hatinya setelah kepergian Dom.
"Aku berubah karena keegoisanmu sendiri, Neo." Ucap Brand sambil menatap foto Neo yang baru keluar dari mobil.
***
Pukul 7 pagi adalah rutinitas sarapan pagi di mansion seorang yang dipanggil Tuan Muda Rehhand.
Mereka duduk di tempat masing-masing dengan pemilik mansion mengambil tempat di bagian kepala, diikuti oleh Alex dan Max di sebelah kanan sedangkan Alen dan Phiranita di sebelah kiri.
Kelima manusia itu makan dengan tenang seperti biasa. Akan tetapi, ada yang aneh dengan tingkah Max karena setiap suapan ke dalam mulutnya, dia akan menatap Phiranita di depannya membuat gadis itu akhirnya tersadar dan menatap malas pada Max.
"Apa lihat-lihat?" Tidak tahan dengan tatapan Max padanya, Phiranita akhirnya buka suara. Biasanya Rihan tidak suka ada keributan di meja makan, tapi kali ini dia membiarkannya saja.
Max hanya membalas dengan senyum tipis kemudian melanjutkan makannya. Bukannya berhenti setelah diketahui, Max semakin berulah. Tadinya dia akan melihat sekilas saat makanan akan masuk ke dalam mulutnya, kini Max menatap Phiranita selama dia mengunya makanan dalam mulut.
"Bisakah kamu berhenti menatapku?" Pintah Phiranita dengan kesal dan dibalas delikan bahu oleh Max.
"Han..." Rengek Phiranita dengan wajah memelas.
"Berhenti mengganggunya, Max." Datar Rihan setelah meletakkan sendok bekas makannya dan mengelap sudut bibirnya karena sudah selesai makan.
"Dasar anak setan." Cibir Phiranita pada Max lalu berlari kecil untuk bisa menggandeng lengan Rihan.
"Kamu anak Dajjal!" Balas Max santai ikut berjalan menuju ruang tamu.
"Hish..." Hentakan kaki Phiranita karena kesal.
"Kamu harus terbiasa dengannya," Rihan mengelus pelan surai hitam Phiranita.
"Aku membencinya, Han."
Rihan tidak membalas lagi hingga mereka tiba di ruang tamu dan duduk di sana.
Max yang selalu mengganggu Phiranita membuat gadis itu selalu menempel dan merengek pada Rihan.
"Tuan, Dokter Lio baru saja menelpon dan memberitahukan bahwa akan diadakan rapat dewan di RS Setia sehingga kehadiran anda sangat dibutuhkan." Lapor Alex yang baru muncul entah dari mana.
__ADS_1
"Kapan waktunya?" Tanya Rihan tapi pandangannya tertuju pada Phiranita yang sedang beradu tatapan dengan Max.
"Setengah jam lagi, Tuan."
"Apa dia juga ikut, Han?" Tanya Phiranita menunjuk Max yang duduk di depannya.
"Aku akan menemanimu belajar di sini." Balas cepat Max lalu memasang senyum menyebalkan menurut Phiranita.
"APA? Aku tidak setuju! Kamu tahu aku, Han." Rengek Phiranita sambil mengguncang pelan lengan Rihan.
"Dia tidak akan mengganggumu, percayalah!"
Rihan harus membiarkan Max tinggal bersama Phiranita demi terapinya nanti. Rihan juga akan pulang terlambat, sehingga terapi hanya dilakukan bersama Dokter Damar dan lainnya sedangkan Rihan dan Alex akan memantau dari jauh lewat kamera pengawas yang terpasang.
Tidak menunggu lama, Rihan dan Alex segera berangkat ke rumah sakit mengingat waktu hanya 30 menit. Mereka mengantisipasi jangan sampai terjadi kemacetan selama perjalanan.
***
Di salah satu1 kamar mewah bernuansa pink dengan semua perabotannya hampir berwarna pink. Sudah dipastikan pemiliknya sangat menyukai warna pink.
Seorang gadis duduk sambil menatap pantulan wajahnya di cermin di depannya. Gadis itu begitu memuja kecantikannya sehingga siapapun yang memiliki kecantikan lebih darinya harus disingkirkan.
Dengan senyum menawan dia menatap pantulan wajahnya sambil terus menilai dalam hati bagian wajah manakah yang harus diperhatikan atau bagian mana yang harus dirawat agar dia selalu tampil cantik.
Menatap pantulan wajahnya, gadis itu tiba-tiba berubah kesal mengingat berita yang dia baca kemarin saat sedang jalan-jalan dengan kedua temannya. Bagaimana tidak kesal jika pria yang sedang diincar mengantar pulang seorang gadis yang menurutnya sangat jauh di bawah standar kecantikannya.
Beberapa minggu lalu gadis itu dibuat kesal dengan berita pria yang dia incar yang tidak lain adalah Tuan Muda Rehhand, membeli kue untuk orang special di hari valentine. Membaca kata special, gadis yang tidak lain adalah Ariana Angel Samantha itu, tahu jelas orang special yang dimaksud. Kini dia harus dibuat kesal lagi oleh Dian, gadis yang dia beri julukan gembel.
"Gembel ini beraninya diantar oleh tuan muda. Lihat saja nanti, kamu akan aku singkirkan seperti aku menyingkirkan Rihan di masa lalu." Gumam Ariana lalu menggenggam erat maskara yang belum sempat dia letakkan kembali ke tempatnya.
Bukan hanya Ariana yang kesal pada Dian, anak gadis seorang Julian Antarik yaitu Hayudia Maudy Antarik juga kesal pada Dian akibat berita yang sama.
"Ternyata sikap dinginmu hanya topeng, Tuan Muda. Kamu sama saja seperti buaya darat lainnya yang sukanya dengan gadis-gadis muda dan cantik. Mari kita lihat seberapa jauh kamu bisa bertahan dengan godaanku nanti. Andai bajingan itu tidak mengganggu, mungkin kamu sudah menjadi milikku." Gumam Ayu ketika mengingat bagaimana rencananya untuk menggoda Rihan hampir berhasil tetapi digagalkan oleh Alex.
"Mari pikirkan cara untuk menyingkirkan gadis miskin itu."
***
Terima kasih sudah membaca cerita ku.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.
See You.