
"Han, tunggu!" Panggil Phiranita sambil berlari menuju Rihan. Rihan hanya meliriknya sekilas dan kembali menatap jalan di depannya.
"Hosh...hosh... Sungguh melelahkan." Ucap Phiranita sambil mengatur nafasnya ketika sudah berdiri didekat Rihan.
"Mau kemana, Han?" Tanya Phiranita memegang sedikit ujung baju Rihan agar tetap di tempatnya.
"Jalan-jalan." Jawab Rihan singkat.
"Benarkah? Hanya jalan-jalan di sekitar mansion, 'kan?" Tanya Phiranita dengan raut wajah berbinar.
"Hmm."
"Tidak bisa! Rei dan aku akan lari pagi. Kenapa kamu tidak ikut saja bersama kami?" Ajak Max yang juga baru saja datang.
Mendengar ajakan Max, raut wajah Phiranita yang semula berbinar kini terlihat sendu dan matanya mulai berkaca-kaca. Max yang melihatnya menjadi bingung. Apa yang salah dengan ajakannya? Begitulah isi hati Max.
Rihan yang paham dengan situasi menghela nafasnya pelan kemudian mengangkat sedikit kepala Phiranita yang menunduk dengan jari telunjuk agar menatap dirinya.
"Akan tiba saatnya kamu bisa beraktivitas seperti biasa. Yang harus kamu lakukan sekarang adalah fokus dengan terapimu agar cepat sembuh." Rihan menenangkan sang sahabat. Rihan kemudian menarik Phiranita ke dalam pelukannya. Saat itu juga air mata Phiranita mengalir.
"Apa sakitnya parah?" Batin Max mengerutkan keningnya menatap Rihan yang menepuk pelan punggung Phiranita.
"Ingin jalan-jalan lagi, atau kembali ke dalam?" Tanya Rihan setelah melepas pelukannya.
"Jalan-jalan." Jawab Phiranita pelan.
"Baiklah."
"Kita tidak jadi lari pagi?" Tanya Max ketika Rihan akan membawa Phiranita jalan-jalan.
"Hmm."
"Ya, sudah."
"Untuk hari ini saja aku membiarkanmu diperhatikan, tidak untuk lain kali." Gumam Max dalam hatinya lalu menatap kepergian Rihan dan Phiranita.
***
"Air mandinya sudah siap, Tuan." Ucap Alen pada Rihan yang sedang sibuk membaca berkas di meja kerjanya, ditemani oleh Alex.
"Di mana pria aneh itu?" Tanya Rihan sambil membubuhkan tanda tangannya pada berkas yang dibaca.
"Masih di kamar tamu, Tuan. Sedari tadi dia menolak pulang."
Hingga sudah jam 5 sore, tapi Max belum juga pulang. Pria itu bersikeras ingin tinggal bersama Rihan di sini. Alex sudah memberinya pengertian, tetapi tidak dihiraukan sama sekali. Max hanya berkata, "Dia yang seorang perempuan bisa tinggal di mansion ini, kenapa aku yang laki-laki tidak bisa? Aku akan meminta orang rumah untuk mengantar pakaianku kemari." Perempuan yang Max maksud adalah Phiranita.
Rihan hanya bisa menahan hati untuk tidak menendang kepala Max agar kadar kewarasannya kembali. Mendengar Max menetap di salah satu kamar tamu, Rihan hanya bisa menghela nafasnya. Rihan sedang berpikir, apa yang akan terjadi dengan dua orang sakit itu jika tinggal dalam satu rumah.
Selain itu juga, Rihan akan menjadi lebih hati-hati lagi karena penyamarannya bisa terbongkar. Banyak hal yang dipikirkan Rihan membuatnya menggeleng kepalanya. Alex dan Alen yang melihat gelengan kepala sang majikan ikut khawatir.
"Anda baik-baik saja, Tuan?" Tanya Alen.
"Saya akan memanggil Dokter Galant." Alex bersiap mengambil ponsel di saku celananya.
"Tidak perlu!" Balas Rihan datar lalu menutup berkas yang dibaca.
"Biarkan dia tinggal di sini. Jangan lupa untuk mengawasi gerak-geriknya." Sambung Rihan lalu berdiri dan menuju kamarnya untuk membersihkan diri menuju alamat yang diberikan oleh Dom.
"Baik, Tuan."
***
__ADS_1
"Mau kemana, Han?" Tanya Phiranita di ruang tamu ketika melihat kedatangan Rihan dengan pakaian rapi.
"Ada urusan, ya." Sambung Max dari lantai atas dengan suara yang agak keras.
"Hmm."
"Boleh aku ikut?" Max memohon pada Rihan.
"Tidak."
"Boleh?" Tanya Max karena tidak mendengar dengan jelas suara Rihan.
"Tuan muda menjawab tidak, Tuan." Alex menjawab dengan suara tegasnya sambil menatap tajam Max dari lantai atas.
"Ya, sudah. Aku akan beristirahat kalau begitu." Max lalu kembali ke kamarnya.
"Hati-jati di jalan, Han. Kak Alex... Jangan lupa oleh-oleh buat aku, ya." Teriak Phiranita karena Rihan sudah agak jauh dengannya.
Rihan hanya menggeleng kepalanya pelan merasa lucu dengan tingkah sahabatnya ini yang tidak pernah berubah sejak mereka duduk di bangku Sekolah Dasar.
"Kita tidak membawa pengawal bayangan lebih, Tuan? Saya hanya khawatir mereka berbuat nekat." Tanya Alex lalu membuka pintu mobil untuk sang majikan.
"Cukup yang ada saja." Balas Rihan melirik sekilas Alex kemudian masuk ke dalam mobil.
"Baik, Tuan." Jawab Alex lalu menutup pintu belakang mobil kemudian berjalan cepat untuk masuk ke dalam mobil bagian depan, karena dia yang akan mengemudi.
"Hari ini juga, perwakilan dari Miara Group akan bertemu membahas lebih lanjut proposal yang mereka ajuhkan, Tuan." Alex memberitahu ketika mobil sudah dijalankan.
"Hmm."
"Direktur Bimo mengajukan untuk bertemu langsung dengan CEO Miara Group." Alex berbicara lalu melirik sekilas sang majikan.
"Maksud anda?" Tanya Alex bingung.
Rihan hanya memejamkan matanya tanpa ada niat menjawab Alex. Rihan tahu Alex mengerti maksud perkataannya.
***
"Mereka sudah tiba, Tuan." Lapor Dom pada sang tuan yang sedang duduk sambil menghisap rokok di tangannya.
"Biarkan mereka masuk dan layani dengan baik." Balas sang tuan kemudian membuang asap rokok lewat mulutnya.
"Baik, Tuan." Dom lalu beranjak pergi dari sana.
"Mari kita lihat sehebat apa dirimu, Tuan Muda." Batin si tuan itu sambil menikmati rokok yang dihisapnya.
Rihan dan Alex saat ini sedang diantar oleh seorang gadis cantik dan seksi menuju ruangan yang sudah dijanjikan untuk pertemuan mereka.
"Silahkan masuk, Tuan! Tuan Dom sebentar lagi akan datang." Si pelayan mempersilahkan dengan centilnya sambil mengedipkan sebelah matanya.
Rihan yang melihatnya hanya menatap datar. Rihan beralih melirik pada Alex yang juga menatap datar pelayan itu. Sang pelayan sendiri acuh dengan tatapan datar keduanya. Dia malah menunjukan tatapan laparnya.
"Anda bukan selera kami, Nona." Ucap Alex datar.
Jangan lupa dengan tampang jijik yang ditampilkan ketika melihat pelayan itu. Alex lalu menutup pintu dengan kencang dari dalam menyisahkan pelayan seksi yang melongo di luar ruangan.
"Kita lihat, sejauh mana kalian pria tampan bertahan dengan pesonaku di atas ranjang." Gumam pelayan itu kemudian berjalan ayu ke ruangan lain untuk memanggil Dom dan sang Tuan.
"Ada apa dengan ekspresimu, Lex?" Tanya Rihan, karena setelah mereka duduk, Alex masih memasang wajah jijik.
"Saya ingin sekali membunuh gadis itu, Tuan." Jawab Alex lalu perlahan-lahan mulai berekspresi seperti biasa.
__ADS_1
"Itu hanya godaan kecil, Lex. Yang lain mungkin akan menyusul." Balas Rihan santai setelah mengambil ponsel di saku celananya.
"Godaan kecil?" Ulang Alex.
"Hmm."
Tok
Tok
Tok
Rihan dan Alex saling melirik kemudian menatap pintu penasaran, seperti apa kira-kira rupa orang yang menculik sang sahabat.
Krieeet.
"Silahkan masuk, Tuan."
Rihan mengalihkan pandangannya dan menatap datar dua orang pria yang baru saja masuk. Menurut penilaian Rihan, keduanya cukup tampan.
Tanpa dipersilahkan, kedua pria itu mengambil posisi duduk di depan Rihan dan Alex. Pria yang Rihan duga sebagai asisten karena mempersilahkan sang tuan masuk duduk di depannya, sedangkan seorang pria lagi duduk di depan Alex.
"Maaf atas keterlambatan kami, Tuan Muda Rehhand." Ucap pria yang duduk di depan Rihan.
"Hmm."
"Sebelum kita memulai pertemuan pertama ini, izinkan saya menjamu tamu terhormat kita." Pria di depan Rihan berbicara, lalu menjentikan jarinya satu kali memberi kode pada mereka dibalik pintu.
Mendengar kode dari dalam, masuklah empat gadis cantik berpakaian kurang bahan termasuk gadis pertama yang mengantar Rihan dan Alex. Keempatnya masuk sambil membawa nampan berisi banyak makanan mewah dan meletakkannya di atas meja dengan sangat ayu. Mereka sedang berusaha menggoda keempat pria tampan yang ada dalam ruangan itu.
Tidak tahan dengan godaan itu, pria yang duduk di depan Rihan mulai mengusap lembut bokong gadis yang sedang meletakkan makanan di sampingnya, membuat gadis itu mulai mengeluarkan suara aneh menurut Rihan.
Setelah makanan berhasil ditata di atas meja, pria di depan Rihan dengan cepat menarik gadis di sampingnya hingga terduduk di pangkuannya. Pria itu mulai mengendus pelan leher jenjang gadis seksi itu.
Tidak lupa juga pria itu memberi kode untuk dua gadis di samping Rihan dan Alex untuk melancarkan aksinya. Sedangkan gadis di samping pria yang duduk di depan Alex, sedari tadi sudah mengambil bagian di pangkuan pria di sampingnya.
Kedua gadis yang diberi kode mulai mendekati Rihan dan Alex. Gadis pertama yang mengantar Rihan dan Alex kini mulai membelai lembut bahu Rihan. Dia juga mulai menempelkan dadanya di lengan Rihan.
Rihan sendiri tidak mengambil pusing dan sibuk menatap datar kelakuan dua pria di depannya ini. Sedangkan Alex, sebelum gadis penggoda itu menyentuhnya, dia sudah mengeluarkan pistol dibalik jassnya dan meletakkannya di atas meja sehingga gadis itu tidak berani mendekat.
"Nikmati saja pertemuan pertama kita, Tuan." Ucap pria di depan Rihan sambil tangannya bergerak kemana-mana menyentuh hampir seluruh tubuh gadis di pangkuannya.
"Saya ingin tahu alasan anda mengirim orang ke mansionku." Tanya Rihan menatap tajam gadis di sampingnya yang ingin menyentuh dadanya.
"Saya akan menjawabnya jika anda dan asisten anda menikmati makan malam sekaligus dessert yang kami sajikan ini." Pria di depan Rihan tersenyum tipis, sedangkan pria di depan Alex hanya diam dan sibuk dengan gadis di pangkuannya.
"Kenapa bukan tuanmu yang menjawab?" Tanya Rihan lalu menatap tajam pria di depan Alex.
"Ah... Nikmati dulu makanannya, Tuan Muda." Jawab pria di depan Alex.
"Tuan saya bukan orang yang suka basa-basi." Balas Alex ikut menatap tajam pria di depannya.
"Dan tuan saya suka berbasa-basi." Balas pria di depan Rihan dan terkekeh.
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.
See You.
__ADS_1