
"Di saat pesta, anda mengatakan bahwa para penyusup itu adalah musuh Tuan Neo. Tetapi ada hubungan apa dia yang membuka pintu pagar dengan Tuan Neo? Belum lagi mereka mengincar J2R Lesfingtone kemarin. Saya bingung, Tuan." Tanya Alen menggaruk kepalanya yang mendadak gatal.
"Bagaimana menurutmu, Lex?" Tanya Rihan mengalihkan pandangannya menatap Alex yang sepertinya sedang berpikir.
"Ini aneh! Tapi apa yang dikatakan Alen benar. Jika mereka adalah musuh Tuan Neo, kenapa mereka mengincar J2R Lesfingtone? Dan juga, Rine yang membuka pintu pagar sudah cukup lama berada dalam keluarga Lesfingtone. Apa yang sebenarnya mereka rencanakan?" Alex masih dalam mode berpikir.
"Apa ini hanya rencana pengalihan?" Ucap Alen tiba-tiba.
"Maksudmu, mereka sengaja menargetkan J2R Lesfingtone sebagai pengalihan untuk menyerang Tuan Neo?" Sahut Alex membuat Alen mengangguk setuju.
"Lalu bagaimana dengan Rine yang sudah beberapa bulan ini menjadi kekasih Tuan Avhin?" Tanya Alex bingung.
"Jika aku menghubungkan Rine dengan para penyusup itu..."
"Menangkap dua ikan dengan satu umpan." Suara Rihan memotong perkataan Alen.
"Jadi ini bukan pengalihan tetapi memang itu tujuan mereka?"
"Awalnya aku juga berpikir ini hanya pengalihan karena orang-orang itu berasal dari lawan perusahaan kak Neo. Tetapi setelah dipikir-pikir, mereka sudah cukup lama bersaing dengan Chi Corporation tetapi selalu kalah, sehingga mereka mencari target baru tetapi tidak pernah melupakan target pertqmanya," Jelas Rihan sambil menatap bergantian Alex dan Alen.
"Dan target kedua mereka adalah J2R Lesfingtone," Sambung Alen dan dibalas dengan anggukan pelan oleh Rihan.
"Setelah mendapat J2R Lesfingtone, maka perusahaan mereka sudah bisa bersaing dengan Chi Corporation." Alex ikut menambahkan.
"Hm." Balas Rihan.
"Sungguh sangat berambisi." Alen kesal mendengarnya.
"Lalu apa yang akan anda lakukan dengan gadis itu?" Tanya Alex. Gadis yang Alex maksud adalah Rine.
"Biarkan saja! Sementara pantau gerak-geriknya,"
"Baik, Tuan."
***
Pukul 4 sore, Rihan sedang duduk di taman depan mansion ditemani oleh Alex dan Alen. Ketiganya sedang bersantai sambil menikmati cemilan sore. Hingga ponsel Rihan di atas meja bergetar. Melihat nama si penelpon yang adalah Neo, Rihan segera mengangkatnya.
"Hmm."
"Bagaimana keadaanmu? Logan baru saja mengatakan bahwa kemarin kamu menolong seorang pelukis dari serangan penembak jitu. Kamu baik-baik saja,'kan?"
"....."
"Jangan salah paham! Logan mengetahuinya dari siaran berita." Tambah Neo ketika Rihan tidak menjawabnya. Neo tidak ingin Rihan berpikir bahwa dia menyuruh anak buahnya mengawasi Rihan.
"Hmm."
"Syukurlah kamu baik-baik saja."
"Hmm."
"Tidak ada kata lain? Kamu sedang apa?" Suara Neo terdengar kesal karena Rihan hanya membalasnya dengan deheman.
"Duduk."
"Dengan siapa?"
"Alex dan Alen."
__ADS_1
"Ira menanyakan kabarmu. Bisakah kamu menjenguknya?"
"Ya."
Terdengar helaan nafas di seberang sana. Sepertinya Neo sedang menahan diri karena tingkat dingin Rihan padanya. Padahal Neo sudah berusaha mencari topik pembicaraan dengan berbohong tentang Phiranita yang menanyakan kabar Rihan sekaligus ingin Rihan menjenguknya. Nyatanya hanya dibalas singkat oleh Rihan.
"Baiklah. Sampai ketemu nanti."
Tanpa membalas perkataan Neo, Rihan sudah mematikan sambungan telepon terlebih dahulu.
...
Di kediaman Neo, pria itu sedang menatap ponselnya dengan datar. Logan yang duduk di depannya terlihat menahan tawanya.
"Tertawalah sesuka hatimu." Neo melirik Logan kesal.
"Hahahaha... Astaga, perutku. Padahal Ira tidak menanyakan kabar bocah itu sama sekali. Kamu ini ada-ada saja. Sepertinya kamu merindukan bocah itu. Kenapa tidak bertamu ke sana saja?" Ledek Logan yang berusaha menetralkan tawanya yang meledak tadi.
"Sepertinya kamu harus lembur." Ancam Neo menatap tajam Logan.
"Oh... tidak bisa. Semua berkas sudah kita periksa hingga ludes tidak ada sisa. Jadi, aku tidak takut dengan ancaman lemburmu, Bos." Logan menaik turunkan alisnya sambil menatap mengejek pada Neo.
"Huh... aku lelah. Biarkan aku beristirahat." Ucap Neo kesal lalu berlalu ke kamarnya.
"Ini sudah sore, masa mau tidur?" Logan bertanya pada Neo yang sudah hampir sampai di kamarnya.
"Terserah."
"Akhirnya aku terbebas dari ancaman nomor satunya itu." Gumam Logan sambil mengelus dadanya dan tersenyum senang.
Kembali pada Rihan, dia kembali menyesap tehnya dengan tenang setelah panggilannya dengan Neo berakhir.
"Hmm."
"Sepertinya David mulai melakukan pencarian lagi pada anda. Melihat gerak-geriknya di pesta waktu itu, dia sepertinya sangat ingin menghampiri kekasih Mentra yang saat itu menyamar sebagai anda. Sayangnya, Mentra tidak membiarkan siapapun mendekati kekasihnya."
"Biarkan saja."
"Baik, Tuan."
"Lalu bagaimana rencana anda selanjutnya untuk membalas rubah betina itu?" Tanya Alen.
"Setelah kita kembali ke Indonesia. Jangan lupa untuk memberitahu Beatrix agar ikut bersama kita." Rihan menoleh melirik sekilas pada mobil Avhin yang memasuki pekarangan mansion.
"Baik, Tuan. Kak Mentra pasti kesepian karena kekasihnya ikut." Alen terkekeh pelan mengingat bagaimana posesifnya Mentra pada Beatrix.
"Dia bisa ikut jika memiliki waktu luang." Balas Rihan dan ditanggapi anggukan oleh Alex dan Alen.
"Sedang membicarakan apa?" Tanya Avhin yang baru datang bersama Rine.
"Hanya pekerjaan, Kak." Jawab Alen tersenyum manis pada kakak angkatnya itu.
"Apa kami mengganggu?" Tanya Avhin lagi yang masih berdiri dan mengusap pelan kepala Alen yang sedang duduk.
"Tidak. Kami sudah selesai." Jawab Rihan tanpa mengalihkan pandangannya dari bunga-bunga di depannya.
"Baguslah, jadi kita bisa duduk di sini. Ayo, sayang!" Ajak Avhin pada Rine.
Keduanya lalu duduk di bangku panjang di samping Rihan.
__ADS_1
"Hai, Kakak ipar." Panggil Alen pada Rine dan memasang senyum tipis.
"Hai, juga adik ipar." Balas Rine dan juga tersenyum. Jangan lupakan wajah polosnya itu.
"Bagaimana kalau besok kita jalan-jalan sebelum kembali ke Prancis? Alen ingin lebih dekat dengan kak Rine." Ucap Alen.
Rencana pertama mereka adalah lebih dekat dengan Rine untuk mengorek informasi darinya.
"Boleh juga. Bagaimana kalau kita jalan bersama? Rei dan Alex juga ikut. Bagaimaan menurutmu, Rei?" Tanya Avhin senang. Kapan lagi dia bisa jalan dengan adik kesayangannya ini.
"Hmm."
"Baiklah. Kita akan jalan-jalan besok pagi agar memiliki banyak waktu."
"Sebaiknya sore saja Tuan, karena tuan muda kedua sedang ada jadwal besok pagi hingga siang." Ucap Alex mengingat Rihan yang akan bertemu Phiranita besok.
"Oke. Atur saja waktunya. Aku mau membersihkan diri. Ikut bersamaku ke dalam atau mau di sini?" Tanya Avhin pada Rine. Kakak sepupu Rihan baru pulang kantor dan ingin membersihkan diri.
"Kamu duluan sayang, aku masih ingin di sini." Jawab Rine dan tersenyum tipis.
"Baiklah." Avhin lalu beranjak pergi, setelah mencium pipi Rine dan dibalas dengan senang hati oleh Rine.
"Tidak menyukaiku, huh? reaksimu berbeda dengan mulutmu." Decak Rine dalam hati ketika melihat tatapan datar Rihan padanya.
Rine berpikir Rihan cemburu karena dia membalas ciuman Avhin. Padahal sebenarnya Rihan menatap tidak suka dengan tingkah sang kakak karena sepertinya sudah sangat menyayangi Rine. Akan sedikit sulit memberikan pengertian nantinya.
"Aku sudah tidak sabar membuka topengnya," Batin Alen kesal dengan wajah sok polos Rine.
Setelah kepergian Avhin, hanya ada pembicaraan ringan di antara mereka. Kebanyakan Rine yang bertanya tentang Rihan dan dijawab oleh Alen membuat Rine semakin bertekad untuk menaklukkan Rihan.
Alen juga akan memberikan pertanyaan seputar kehidupan pribadi Rine yang dijawab sesuai dengan data yang Alen peroleh dari desa tempat tinggal Rine.
***
Keesokan harinya setelah sarapan pagi, Rihan berencana berkunjung ke R.A Group. Sudah lama dia tidak berkunjung ke sana. Dia hanya ingin melihat bagaimana kinerja bawahannya selama dia tidak ada di sana. Setelah itu barulah dia akan menjenguk sahabatnya.
Rihan ditemani oleh Alex saja, karena Alen sedang mengurus sesuatu sebelum mereka kembali ke Prancis.
"Mau kemana, Sayang?" Tanya Mommy Rose melihat penampilan Rihan yang sepertinya akan keluar jalan-jalan.
"Menjenguk sahabat Rei, Mom." Jawab Rihan lembut.
"Mom?" Heran Mommy Rose. Padahal sesuai rencana, Rihan akan memanggilnya bibi. Kenapa tiba-tiba panggilannya berubah?
"Terdengar lebih bagus dari pada bibi." Jawab Rihan tetap dengan nada yang sama.
Tidak ada salahnya memanggil dengan sebutan itu. Lagipula kebanyakan orang juga memanggil bibi mereka dengan sebutan mama kedua setelah mama kandung. Apalagi ini orang tua kandungnya sendiri, masa dia harus memanggil bibi terus menerus? Rihan juga rindu dengan sapaan mommy. Belum lagi sang mommy akan selalu memasang wajah sedih jika Rihan memanggilnya bibi sedangkan mama untuk bibi kandungnya.
"Ya. Itu panggilan yang bagus, Sayang. Mommy senang mendengarnya." Balas Mommy Rose dengan senyum lebar. Ingin sekali dia menangis tetapi banyak pasang mata yang melihatnya. Akan terlihat aneh nantinya.
"Tidak masalahkan aku memanggil mommy?" Tanya Rihan menoleh menatap paman dan bibinya.
"Tidak sayang. Justru dengan panggilan mommy, akan terlihat lebih dekat." Jawab Bibi Shintia dan tersenyum. Wanita berusia 40an itu juga menyadari ekspresi mommy Rose selama ini.
"Aku akan jalan-jalan. Bye." Pamit Rihan dan berlalu pergi dari sana diikuti oleh Alex.
"Hati-hati, Sayang."
***
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca ceritaku.