
"Sahabatmu seorang wanita sedangkan aku seorang pria, Nona." Balas Rihan datar, tapi percayalah, sorot matanya tidak setajam biasanya. Rihan sedang berusaha menguatkan hatinya agar tidak memeluk sahabatnya ini karena rindu.
"Dimana aku harus mencarimu Rihan. Maafkan aku. hiks...hiks...hiks... Maafkan aku." Gumam Phiranita pelan sambil menangis menundukkan kepalanya.
Dia sadar, jika pria di sebelahnya bukan sahabatnya, karena sahabatnya adalah seorang wanita. Tidak mungkin sahabatnya itu berubah menjadi seorang pria.
Rihan yang mendengar gumaman sang sahabat semakin merasa sesak di dadanya. Begitu rindukah sahabatnya ini padanya sampai mencarinya seperti ini? Rihan menghela nafasnya pelan kemudian mengelus kembali kepala sahabatnya, membuat Phiranita mengangkat lagi kepalanya dan menatap Rihan dengan air mata yang semakin mengalir deras.
"Bisakah aku menganggapmu sebagai sahabatku? Aku ingin menebus kesalahanku karena meninggalkannya tanpa kabar. Aku selalu dihantui rasa bersalah juga rindu padanya.
Rihan satu-satunya orang yang menerima semua kekuranganku. Menerima aku yang dibenci oleh semua orang. Hiks...hiksss... Maukah kamu menjadi sahabatku?" Phiranita semakin menangis berharap pria di depannya ini mau mengabulkan permintaannya.
"Hmm." Balas Rihan dengan deheman.
"Aku juga ingin menebus rasa rinduku padamu, Tata. Maafkan Aku. Maaf karena aku, kamu menderita seperti ini. Aku janji akan membalas rasa sakitmu pada mereka." Sambung Rihan dalam hatinya lalu menatap intens sahabatnya yang juga menatapnya.
"Benarkah? Terima kasih sudah mau menjadi sahabatku," Piranita lalu tersenyum lebar kemudian memeluk erat Rihan.
"Hm."
***
"Apa aku akan dipecat? Ya, Tuhan. Tolong hambamu ini," Gumam Dokter Lio di sepanjang jalan kenangan menuju ruangan sang presdir.
Dokter Lio yang beberapa saat lalu sedang merenungi nasib di ruangannya, dikagetkan dengan kedatangan seorang perawat yang mengatakan bahwa dia dipanggil oleh presdir baru mereka.
Mendengar itu, jantung Dokter Lio tiba-tiba berdebar kencang bukan karena jatuh cinta, melainkan karena takut dipecat oleh sang presdir yang dipanggil bocah itu.
Melihat kedatangan sang presdir di pintu masuk saja, sudah membuatnya menyeka keringat dinginnya berkali-kali, apalagi dipanggil untuk menemuinya.
Tubuh Dokter Lio terasa lemas seketika, ketika mendengar perintah pemanggilan padanya. Ingin sekali dia lari dari kenyataan, akan tetapi bagaimana dengan nasib keluarganya di panti asuhan? Dokter Lio hanya bisa menghela nafasnya gugup dan berusaha tenang, kemudian berjalan menuju ruangan presdir.
***
Beralih pada Rihan yang saat ini sedang duduk di kursi kebesarannya, tepatnya ruangan presdir yang hampir semua perabotannya telah diganti oleh Alex menjadi lebih mewah, sekaligus untuk kenyamanan Rihan sendiri.
Setelah membujuk sang sahabat agar beristirahat, Rihan lalu menuju ruangannya karena ada beberapa hal yang harus dia lakukan.
"Maaf, Tuan. Dua orang yang menculik Nona Phiranita sudah kami tangkap. Mereka adalah pembunuh bayaran yang dibayar untuk menculik Nona Phiranita. Kami belum sempat mengintrogasi mereka, karena mereka sudah lebih dulu ditembak mati oleh sniper dalam perjalanan menuju markas, Tuan. Maafkan kecerobaham kami," Lapor Alex dengan rasa bersalahnya, karena untuk pertama kalinya dia gagal dalam menjalankan tugas yang diberikan oleh sang majikan.
"Bagaimana dengan snipernya?" Tanya Rihan dengan tenang.
Rihan tidak merasa marah sama sekali dengan kinerja sang asisten, karena dia tahu pasti bahwa dalang dibalik penculikan sang sahabat bukan orang sembarangan.
Terbukti bahwa pencarian akan penculik itu, membutuhkan beberapa hari untuk meretas sistem mereka. Itu hanya untuk meretas data-data kedua penculik itu, sedangkan dalang dibalik penculikan itu sama sekali sulit untuk diretas.
__ADS_1
"Tim kita yang menuju tempat sniper itu tidak menemukan jejak apapun, Tuan. Semuanya terlihat bersih. Mereka memang hebat membersihkan tempat itu." Jawab Alex dengan tenang.
"Cari lebih dalam dalang penculikan itu. Untuk identitas Phiranita, aku sendiri yang akan bertanya padanya." Ucap Rihan.
"Baik, Tuan. Sebentar lagi Dokter Lio akan sampai." Alex memberitahu dengan pelan.
"Hmm." Balas Rihan lalu menatap meja khusus tamu yang berada beberapa meter di depan meja kerjanya.
Tidak lama kemudian,
*Tok
Tok
Tok*
"Masuk!" Rihan mempersilahkan orang yang mengetuk pintu.
"Selamat siang, Presdir. An... anda memanggil saya?" Dokter Lio menyapa dengan gugup setelah masuk dan berdiri tidak jauh dari Rihan.
"Hmm."
"Silahkan duduk, Dok." Alex mempersilahkan Dokter Lio untuk duduk di tempat khusus tamu yang ada di ruangan sang majikan setelah melihat tatapan Rihan padanya.
"Kenapa anda begitu gugup, Dok?" Tanya Rihan dengan suara yang begitu mengintimidasi, membuat Dokter Lio semakin meremas erat jas dokternya karena gugup dan takut.
"Ti... tidak Presdir. Saya ha..hanya kelelahan," Jawab Dokter Lio berusaha tenang.
"Jika begitu, anda boleh resign dari pekerjaan anda, Dok." Ucap Rihan datar.
"Jangan pecat saya, Presdir. Saya janji akan memperbaiki semua kesalahan saya, dan akan giat bekerja lagi. Jangan pecat saya, Presdir. Jika anda memecat saya, bagaimana dengan keluarga saya?" Dokter Lio spontan berdiri dari duduknya. Dia kini merasa lemas seketika mendengar perkataan sang presdir. Apa yang dia takutkan kini terbukti sudah.
"Siapa yang ingin memecat anda, Dok?" Tanya Rihan yang kini merasa aneh dengan perkataan spontan dokter di depannya ini.
Rihan hanya ingin dokter muda ini untuk berhenti dan beristirahat beberapa hari jika benar-benar merasa lelah karena bekerja. Dia tidak akan memecat sembarangan orang, apalagi orang itu sangat profesional dalam menjalankan tugasnya.
"Mak... maksud anda?" Tanya balik Dokter Lio yang pikirannya tiba-tiba linglung seketika.
"Apa saya memecat anda, Dok?" Tanya Rihan, lalu menatap tajam wajah Dokter Lio.
"Anda sendiri yang menyuruh saya resign, Presdir." Jelas Dokter Lio yang kini tidak ada kegugupan yang diperlihatkan lagi.
"Saya hanya ingin anda berhenti beberapa hari, jika anda merasa lelah karena bekerja, bukan memecat anda." Rihan lalu melihat sang asisten yang mengepalkan tangan di depan bibirnya seperti orang yang akan mengeluarkan batuknya. Rihan yakin sang asisten pasti sedang berusaha menahan tawanya karena melihat tingkah Dokter Lio.
Dokter Lio yang melihat pandangan Rihan teralihkan pada asistennya membuatnya penasaran, dan ikut melihat Alex yang berdiri tidak jauh darinya.
__ADS_1
"Kamu menertawakanku, bocah tengik?" Tanya Dokter Lio pada Alex sambil memasang wajah kesal.
"Ekhem... Siapa juga yang menertawakan anda?" Elak Alex datar setelah berdehem menghentikan tawanya.
"Jadi ini sifat aslimu, Dok?" Tanya Rihan, karena Dokter Lio tidak lagi terlihat gugup, malahan kini terlihat lebih cerah, padahal waktu lalu wajahnya terlihat sangat suram.
"Iya. Maksud saya... tidak, Presdir." Jawab Dokter Lio keceplosan, lalu tersadar dan memperlihatkan sisi tenangnya.
"Hmm."
Setelah berdehem, terjadilah keheningan dalam ruangan itu. Entah apa yang dipikirkan oleh tiga orang itu. Rihan kemudian angkat bicara.
"Anda pernah mengatakan bahwa akan mentraktir kami makan 'kan, Dok." Rihan mengingat pertemuan mereka waktu itu.
"Iya, Presdir. Tapi masalahnya..." Perkataan Dokter Lio terputus karena malu untuk menyampaikan kalimat selanjutnya.
"Masalahnya?" Ulang Rihan mengangkat sebelah alisnya.
"Masalahnya, saya belum gajian, Presdir. Maafkan saya," Balas Dokter Lio benar-benar malu. Dalam hati mengeluh karena ini pertengahan bulan.
Bagaimana bisa presdirnya ini lupa?
Gajinya memang lumayan, tapi semuanya harus dibagi untuk kebutuhan anak-anak panti. Belum lagi, anak panti bukan hanya belasan orang, tapi puluhan orang. Dia benar-benar harus menghemat.
Panti asuhan tempatnya dibesarkan itu jarang ada donatur yang menyumbang ke sana, sehingga keadaan anak-anak di sana sangat menderita. Dokter Lio sebagai satu-satunya anak panti yang paling tua, harus membantu. Untungnya dia menjadi dokter dengan gaji yang lumayan, sehingga keadaan di panti asuhan sedikit membaik.
"Jika begitu, hari ini saya yang traktir."Rihan menggelengkan kepalanya merasa lucu dengan dokter muda ini.
"Maafkan saya, Presdir. Lain kali saya yang akan traktir," Dokter Lio semakin malu. Dia mungkin harus lembur agar mendapat bonus untuk mentraktir makan presdirnya ini.
"Hmm." Deheman Rihan kemudian menatap sang asisten yang tubuhnya terlihat bergetar menahan tawanya.
"Maafkan saya, Tuan. Saya akan segera menyiapkannya." Alex yang tersadar dari dunianya setelah ditatap oleh sang majikan.
Alex lalu kembali ke mode datar dan segera keluar dari ruangan itu dan menyiapkan makan siang untuk mereka.
Tidak lama kemudian, Alex masuk ke dalam ruangan bersama Alen dan beberapa pelayan yang membawa banyak kotak makanan dan menyiapkannya di atas meja yang ada di sana.
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.
See You.
__ADS_1