Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Max


__ADS_3

Alex segera turun dan menuju mobil sang majikan kemudian membuka pintu mobil, sehingga Rihan keluar dari mobilnya. Rihan lalu berjalan dengan tenang menuju ke fakuktas kedokteran dan membiarkan mobilnya diparkir oleh bawahannya.


Rihan sendiri tidak mempedulikan siapa pengemudi ferrari merah tadi. Baginya cukup menghiburnya saja, tidak perlu untuk tahu lebih jauh siapa pemiknya.


"Tunggu..."


Mendengar suara yang tertuju padanya, Rihan menghentikan langkah kakinya menunggu kedatangan orang yang memanggilnya. Rihan hanya menatap datar seorang pria yang baru saja berdiri di depannya.


"Aku Maximus Bruneyas. Kamu bisa memanggilku Max." Ucap pria yang berdiri di depan Rihan sambil menyodorkan tangan kanannya. Jangan lupakan lesung pipinya yang menawan ketika dia tersenyum.


"Hubungannya denganku apa?" Tanya Rihan datar sambil menatap tajam pria dengan nama panggilan Max ini.


"Anu... Aku kagum dengan cara balapanmu. Sejauh ini belum ada yang bisa seimbang denganku dalam balapan. Jadi..." Max menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia gugup ketika ditatap seperti itu oleh Rihan.


Max berbicara dengan canggung karena Rihan tidak menunjukan ekspresi apapun. Hanya ada wajah datarnya saja.


"Jadi?" Rihan tanpa membalas tangan Max di depannya.


"Kamu mau tidak, menjadi temanku? Untuk pertama kalinya aku ingin mempunyai seorang teman." Suara Max pelan. Kini wajahnya sudah berubah sendu.


Maximus Bruneyas marupakan mahasiswa semester empat jurusan bisnis yang selalu menutup diri dari orang lain. Dia tidak bisa bersosialisasi dengan orang lain karena mengidap Avoidant personality disorder.


Avoidant personality disorder adalah gangguan kepribadian dimana penderitanya menghindari interaksi sosial karena merasa dirinya lebih rendah dari orang lain. Ia juga memiliki ketakutan yang besar terhadap penolakan orang lain. Gangguan kepribadian ini bukan hanya terjadi sementara saja di satu fase kehidupan, tetapi cenderung menetap.


Pengidap gangguan ini cenderung khawatir mengecewakan orang lain dan takut terhadap kritik yang ditujukan pada dirinya, sehingga ia cenderung menghindari berbagai aktivitas. Dalam hubungan sosial, mereka lebih memilih untuk menyendiri atau merasa kesepian dibandingkan mencoba menjalin hubungan dengan orang lain.


Max entah kenapa ingin berteman dengan Rihan karena merasa dia tidak akan ditolak kali ini. Max sangat menyukai balapan karena merupakan hobbynya. Max menjadi tertarik dengan Rihan karena ketenangan yang Rihan tunjukan saat balapan. Dan untuk pertama kalinya ada yang bisa menyeimbangi Max dalam balapan.


Setelah melihat respons datar Rihan padanya, jantung Max barpacu lebih cepat. Dis sedang berdoa semoga dirinya tidak ditolak. Max merasa, jika dia ditolak lagi, penyakitnya mungkin semakin parah.


Rihan yang melihat wajah sendu Max hanya menatap heran. Akan tetapi, Rihan berusaha menatap tepat di kedua bola mata Max, dan terlihat sebuah kesedihan yang mendalam dan juga sebuah harapan yang dinantinya, membuat Rihan tidak tegah untuk menolak.


"Temui aku di kantin setelah kelasku selesai!" Rihan membalas datar kemudian berlalu pergi dari sana menuju kelasnya, meninggalkan Max yang tiba-tiba menjadi linglung hingga ia kembali sadar setelah Rihan sudah tidak terlihat lagi di lorong menuju kelasnya.


"Kantin? Oke kita akan bertemu di kantin, Teman." Max tersenyum lebar kemudian pergi dari sana menuju fakultasnya.


***


"Selamat siang, Rei." Sapa Albert ketika melihat Rihan yang memasuki kelas yang sama dengannya.

__ADS_1


"Hmm."


"Hari ini jadwal terapi Nita, 'kan?" Tanya Albert dengan antusias.


"Ya."


"Irit sekali suaranya, Bang." Gumam Albert pelan agar tidak terdengar oleh Rihan.


"Selamat siang Rei, Al..." Sapa Dian yang juga baru sampai dan mengambil posisi duduk di samping Albert, sedangkan Rihan di belakang keduanya.


"Sedang apa, Al?" Tanya Dian penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Albert. Pria itu terlihat sangat serius.


"Sebentar, ini hampir selesai." Jawab Albert sambil tangannya fokus bergerak melakukan sesuatu.


"Selesai..." Albert kemudian menyerahkan sebuah buku pada Dian. Wajahnya cukup puas memberikan hasil kerjanya pada Dian.


"Ini... Wah! Kamu memang hebat, Al." Puji Dian sambil menatap kagum buku di tangannya yang berisi gambar sebuah taman yang digambar menggunakan pensil oleh Albert.


"Aku seperti pernah melihat gambar ini, tapi dimana?" Dian terus berpikir dimana dia pernah melihat gambar ini. Sketsa ini terlihat tidak asing di matanya.


"Taman di depan mansion Rei." Jawab Albert tenang lalu tersenyum.


"Iya benar. Ini taman di depan mansion Rei. Kamu memang hebat, Al. Hanya sekali lihat, kamu bisa mengingatnya dan menggambarnya dengan baik. Gambarnya terlihat asli." Dian masih dengan sorot mata kagum menatap gambar di tangannya.


"David dimana?" Tanya Dian setelah sadar tidak ada David di sana.


"Mungkin sebentar lagi. Tunggu saja!" Jawab Albert sambil menatap jam di tangannya.


"Ya, sudah."


"Selamat siang teman-teman, maaf aku terlambat! Ada kecelakaan tadi." David baru saja datang dan berdiri di depan meja Albert dan Dian. Nafasnya sedikit tersengal.


"Kamu kecelakaan? Kamu tidak apa-apa?" Tanya Albert khawatir sambil menatap dari atas sampai bawah tubuh David.


"Maksudnya bukan aku yang mengalami kecelakaan, tapi orang lain." Jawab David menatap ke belakang Dian dan Albert.


"Orang lain yang mengalaminya kenapa jadi kamu terlambat, Dev?" Heran Albert.


"Maaf Dev, kamu gantikan aku duduk di sana, ya." Dian membuka suara, karena melihat pandangan David tertuju ke belakang mereka. Dian harus menjaga jarak dengan Rihan demi kebaikannya sendiri.

__ADS_1


Dian berpikir bahwa David menatap kursi kosong di samping Rihan, padahal sebenarnya David sedang menatap kagum Rihan yang sedang sibuk dengan ponselnya.


"Ah, ya.Tidak apa-apa! Aku tidak masalah duduk dimana saja." David tersadar lalu tersenyum tipis pada Dian.


"Justru aku senang bisa duduk di sebelahnya." Batin David senang.


"Maaf, Rei. Boleh aku duduk di sini?" Izin David sebelum duduk di kursi kosong sebelah Rihan.


"Hmm."


Setelah David mengambil posisi duduk di sebelah Rihan, tidak lama kemudian, dosen mata kuliah hari ini memasuki kelas. Pelajaran pun berlangsung hingga selesai.


***


"Dokter Damar sudah ada di mansion, Tuan." Alex melapor pada Rihan setelah kelas sang majikan berakhir.


"Anda ingin langsung pulang, atau bertemu dulu dengan tuan Max?" Tanya Alex karena waktu Rihan akan terbuang jika bertemu dengan Max, dan Phiranita akan mengamuk jika Rihan tidak menemaninya untuk terapi.


"Aku lupa sudah membuat janji dengan pria itu, kamu atur ulang pertemuanku dengan Max, karena kita harus segera pulang." Jawab Rihan berdiri dan pergi dari sana.


"Baik Tuan." Balas Alex lalu mengikuti sang majikan.


***


"Hey... Kita ada janji bertemu!" Panggil Max sambil berlari ke arah Rihan yang ingin memasuki mobilnya.


"Saya akan berbicara dengannya, Tuan." Rihan hanya berdehem kemudian masuk ke dalam mobilnya.


"Maaf Tuan, majikan saya sedang sibuk. Anda bisa bertemu dengannya besok." Alex memberitahu kemudian memasuki mobilnya diikuti oleh David dan lainnya yang juga masuk ke mobil mereka masing-masing dan pergi dari sana. Alex bahkan tidak menunggu jawaban Max karena dia harus buru-buru pulang.


"Apa aku ditolak lagi?" Gumam Max sambil memegangi kepala yang terasa sakit.


Max kini terduduk sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. Sepertinya penyakitnya semakin parah.


"Tolong... Tolong... Ada orang pingsan!!!"


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.


See You.


__ADS_2