
Drrrrt
Drrttt
Drrttt
Ponsel Rihan di atas nakas bergetar tanda panggilan masuk.
Rihan mengerutkan kening sebelum membuka matanya. Menatap jam digital yang menunjukan pukul 2 pagi, Rihan mengambil ponsel di atas nakas.
Sebelum itu, Rihan melepas dengan pelan tangan Zant yang melingkar di perutnya kemudian bangun dengan hati-hati agar tidak mengusik tidur pria yang tidak lama lagi akan menjadi suaminya ini.
Tertera nama Logan di ponsel Rihan. Pasti ada hal penting sehingga pria itu dengan beraninya menelpon di jam begini. Rihan menggeser ikon hijau untuk menjawab panggilan itu.
"Maaf mengganggu waktumu. Aku terpaksa harus menelponmu karena ini penting."
"Hm."
"Sekali lagi, maafkan aku! Aku menelponmu karena setengah jam lalu, Neo drop dan harus dilarikan ke rumah sakit. Kondisi tubuhnya semakin memburuk.
Menurut dokter, kondisinya akan kembali seperti semula jika penyebabnya ada bersamanya dan membantunya.
Maksudku, karena kesalahan yang dia buat padamu dua tahun lalu, sehingga rasa bersalah itu berubah menjadi penyakit yang mempengaruhi kondisi tubuhnya.
Tidak ada cara lain yang bisa menyembuhkannya. Hanya kamu satu-satunya orang yang bisa menyembuhkannya. Hanya kamu yang bisa membantunya. Dia sangat membutuhkanmu, Ri.
Maafkan aku, tapi bisakah kamu datang ke rumah sakit sekarang? Aku sebagai sahabatnya tidak tegah melihat kondisinya. Aku mohon... bantu Neo. Aku akan melakukan apapun demi sahabatku."
"Sepertinya ada kesalahpahaman di sini. Aku dan Rei adalah orang yang berbeda. Seharusnya anda memahami itu."
"Awalnya aku pikir kamu dan Rei adalah orang yang berbeda. Tapi setelah melihatmu secara langsung kemarin, aku setuju dengan Neo. Kamu dan Rei adalah orang yang sama. Aku mohon... temui Neo sebentar saja. Dia benar-benar membutuhkanmu."
"Maaf."
Hanya satu kata, Rihan lalu memutuskan sambungan telepon.
"Tidak ingin bertemu dengannya karena aku?" Suara Zant membuat Rihan sedikit kaget. Rihan menghela nafas pelan kemudian membelai lembut surai hitam Zant yang baru saja berbaring di pangkuannya.
"Aku hanya tidak ingin ada yang merajuk jika aku keluar dan bertemu pria lain."
"Terima kasih karena sudah memikirkanku, My Queen. Tapi, kali ini aku akan menahan rasa cemburuku dan membiarkanmu bertemu dengannya. Lagipula aku seorang dokter. Kamu juga sama. Dan sebagai dokter, kita harus mengutamakan kesehatan pasien lebih dari apapun."
"Sebagai info, aku belum menjadi dokter." Perkataan Rihan membuat Zant terkekeh pelan dan mengangguk.
"Gelar itu akan menyusul, My Queen. Tapi bagiku, kamu adalah dokter di hatiku. Dokter yang sudah menyembuhkan rasa rinduku setelah sekian lama. Jadi..."
"Dari mana kalimat aneh itu datang?" Potong Rihan dan menggeleng tidak percaya.
"Entahlah." Zant menjawab dengan sedikit malu.
"Sudahlah. Kalau begitu, temani aku ke rumah sakit." Balas Rihan dan ingin turun dari tempat tidur.
"Kompensasi sebelum kita pergi." Zant menepuk pelan bibirnya dengan jari telunjuknya.
__ADS_1
Cup
Kecupan singkat Rihan berikan di bibir Zant.
"Terlalu singkat. Biar aku tunjukkan bagaimana caranya memberikan kompensasi." Zant menyeringai kemudian bangun dari pangkuan Rihan. Selanjutnya pria itu menarik tengkuk Rihan dan ******* bibir merah dan menggoda itu lama.
"Mesum..." Kesal Rihan dan segera turun dari tempat tidur kemudian berlari ke kamar mandi.
Rihan kesal sekaligus malu karena ciuman Zant begitu lama membuatnya hampir kehilangan nafas. Dia juga malu karena belum bisa mengimbangi ciuman itu.
Zant hanya tertawa senang dan ikut turun dari tempat tidur.
***
Mobil Zant berhenti tepat di rumah sakit tempat Neo dirawat. Zant kemudian turun lebih dulu dan membuka pintu mobil untuk Rihan. Keduanya lalu masuk ke dalam.
Karena waktu menunjukan dini hari, sehingga tidak ada aktivitas di rumah sakit. Hanya ada tim medis yang berjaga. Rihan dan Zant kemudian menuju ruang rawat Neo. Di luar ruang VVIP kamar Neo, ada Logan yang terlihat gelisah sambil mondar mandir. Entah apa yang pria itu pikirkan.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Zant setelah dia dan Rihan menghampiri Logan.
"Aku pikir kamu tidak akan datang. Terima kasih banyak sudah datang," Logan sangat senang ketika melihat kehadiran Rihan di sana.
"Maaf! Neo benar-benar membutuhkan kehadiran Rihan. Saya harap anda mengizinkan dia bertemu dengan Neo. Saya mohon... Saya tidak tegah melihat kondisi sahabat saya seperti itu," Lanjut Logan setelah melihat wajah datar Zant karena Logan tidak sadar sudah menyentuh tangan Rihan.
"Masuklah! Aku akan menunggumu di sini," Zant tersenyum lembut pada Rihan. Pria itu mengabaikan Logan.
"Kenapa tidak ikut masuk?" Tanya Rihan heran.
"Aku tidak ingin kehilangan kendali dan melanggar sumpah dokterku."
Jika ada yang bertanya kemana keluarga Neo, maka jawabannya, mereka ada di Swiss. Neo tidak ingin keluarganya tahu kondisi tubuhnya sehingga dia meminta Logan merahasiakan kondisinya.
Kembali pada Rihan, gadis itu dengan langkah tenang masuk ke dalam ruang rawat Neo. Tatapan tajamnya semula kini berubah menjadi iba melihat wajah tirus dan pucat pria yang terbaring di ranjang rumah sakit. Jelas sekali kondisi pria itu sangat tidak baik.
"Aku di sini," Rihan membuka suara setelah duduk di kursi samping ranjang Neo.
Tes
Rihan mengerutkan kening melihat cairan bening mengalir dari mata Neo, padahal pria itu sedang memejamkan matanya.
"Sepertinya aku bermimpi lagi. Tapi, setidaknya mimpi kali ini terlihat nyata." Suara Neo terdengar lirih. Pria itu sudah membuka mata dan menatap sedih Rihan yang hanya memasang wajah datar padanya.
"Maafkan aku. Aku... aku menyesal. Aku mohon, maafkan aku. Aku benar-benar menyesal melakukan semua itu padamu. Tolong maafkan aku Rei... Please... katakan sesuatu padaku," Lanjut Neo pelan.
Tangan kanan Neo kini terulur menyentuh pipinya kanan Rihan. Rihan hanya membiarkannya saja.
"Jika ini nyata, dia pasti tidak akan membiarkan aku menyentuhnya seperti ini. Tapi aku senang. Setidaknya mimpi ini sedikit mengobati rinduku padanya," Neo berbicara sambil terus menangis menatap wajah datar Rihan.
"Apa yang akan kamu lakukan jika aku tidak memaafkanmu?" Tanya Rihan datar. Gadis itu menyentuh tangan Neo di pipinya dan menjauhkannya dari sana.
"Aku akan terus meminta maaf sampai kamu memaafkanku. Jika tidak, maka percuma aku hidup di dunia ini." Jawab Neo pelan. Pria itu beralih menggenggam erat tangan Rihan tidak ingin tangan itu terlepas.
"Aku tahu kesalahanku tidak pantas untuk dimaafkan. Tapi... aku tetap ingin kamu memaafkanku. Setelah itu, aku mungkin akan pergi dengan tenang. Aku tidak menginginkan apapun. Aku hanya ingin diakhir hidupku, aku bisa melihat senyummu sekali saja." Neo memalingkan wajahnya tidak ingin Rihan melihat wajah menyedihkannya.
__ADS_1
"Aku akan tersenyum untukmu, tapi berjanjilah untuk bertahan. Aku akan memaafkanmu dengan syarat, teruslah hidup. Carilah kebahagiaanmu sendiri. Hiduplah untuk dirimu sendiri."
"Terima kasih sudah hadir di mimpiku. Ini mimpi terbaik sepanjang hidupku. Aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu. Aku mencintaimu. Maafkan aku. Aku bisa beristirahat sekarang. Sekali lagi terima kasih, Rei."
...
"Anak mommy benar-benar cantik."
Suara Mommy Rosse membangunkan Rihan dari lamunannya tentang kejadian kemarin. Rihan tersenyum tipis ke arah cermin di depannya, menatap pantulan wajahnya dan sang mommy yang berdiri di belakangnya.
Rihan baru saja selesai di make over untuk pernikahannya dua jam lagi. Meski pernikahannya sederhana, tetapi penampilannya tidaklah sederhana. Mulai dari pakaian hingga perhiasan semuanya berkualitas baik dan limited edition.
Rihan tidak menolak semua yang sudah disiapkan calon suaminya. Lagipula kecantikannya hanya untuk calon suaminya jadi tidak masalah dengan penampilannya yang mewah. Ini juga pernikahan sekali seumur hidup, jadi keduanya ingin momen ini menjadi momen bahagia untuk mereka sendiri.
Hanya keluarga dan kerabat dekat kedua bela pihak yang diundang ke acara pernikahan mereka yang diselenggarakan di salah satu Gereja yang tidak terlalu jauh dari mansion Jhack Lesfingtone.
"Kamu gugup, Sayang?" Tanya Mommy Rosse dengan senyum tipis.
"Sedikit, Mom."
"Mommy mengerti. Waktu mommy dan daddymu menikah, mommy juga begitu. Mommy sangat gugup waktu itu. Tapi bersyukur, semua berjalan lancar. Tenang ya, Sayang."
"Iya, Mom."
***
Dengan gaun pengantin brokat berwarna emas, yang menjuntai ke bawah sepanjang 3 meter di bagian belakang. Berlengan panjang, dengan bagian lehernya tertutup tetapi memperlihatkan punggungnya. Setiap sisi ujung gaun pengantin terdapat bunga mawar emas di sana. Gaun pengantin yang benar-benar indah.
Rambut panjang Rihan sebatas pinggang di tata sedemikian rupa, ditambah mahkota emas di kepalanya semakin menambah kecantikan gadis itu. Dengan senyum manisnya, sambil di gandeng sang daddy, keduanya berjalan menuju altar dimana Zant sudah menunggu dengan seorang Pendeta.
Melihat kedatangan Rihan, cairan bening itu lolos dari pelupuk mata Zant. Pria itu terharu karena akhirnya dia bisa memiliki gadis kecilnya. Zant terharu karena akhirnya bisa menikahi Rihan. Satu-satunya gadis yang dia inginkan menjadi pendamping hidupnya. Menjadi takdirnya hingga maut memisahkan mereka.
Mengusap air matanya, Zant memasang senyum terbaiknya menanti kedatangan Rihan. Jantung Zant semakin berdebar kencang ketika tangan halus milik Rihan berhasil dia raih.
"Satu harapanku. Jagalah anak gadisku sebagaimana kamu menjaga dirimu sendiri. Aku tidak ingin dia menangis karena kamu melukainya. Aku hanya ingin mendengar dia menangis karena bahagia. Aku ingin dia terus tersenyum, karena sudah waktunya dia bahagia. Sudah waktunya dia mendapat kebahagiaannya sendiri.
Sekali saja kamu melukainya, maka aku akan mengambilnya kembali. Aku masih sanggup membuatnya bahagia. Selain aku, masih ada banyak orang yang bisa membuatnya bahagia. Aku serahkan putriku padamu. Buatlah dia bahagia, Boy." Daddy Jhack berbicara dengan tegas dan berakhir dengan meneteskan air matanya. Demi kebahagiaan anak kesayangannya, dia rela melepaskannya.
"Aku akan menjaga Rihan dengan nyawaku sendiri, Dad. Menjaganya seumur hidupku. Menjadikannya ratu di hatiku. Menjadikannya pendamping hidupku hingga maut memisahkan kita. Itu janji seumur hidupku padamu, Dad. Terima kasih sudah mengizinkan aku menjadi pendamping hidupnya. Terima kasih, Dad."
"Aku memegang janjimu, Boy."
Rihan hanya tersenyum menatap Zant dan sang daddy. Setelah itu, Rihan dan Zant menghampiri Pendeta. Daddy Jhack sudah kembali ke tempat duduknya.
Janji pernikahan dimulai.
"Aku... Zhicalyan Zant Veenick menerimamu, Rihhane Senora Lesfingtone menjadi istriku untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus."
"Aku... Rihhane Senora Lesfingtone menerimamu Zhicalyan Zant Veenick menjadi suamiku untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus."
Rihan dan Zant kemudian bertukar cincin. Selanjutnya Pendeta memberkati keduanya menjadi suami dan istri.
***
__ADS_1
Komen kalian ditunggu.
Hadiah pernikahannya juga, jangan lupa!