Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Hukuman Untuk Zant


__ADS_3

"Jadi begini, hormon ibu hamil?" Gumam Zant dalam hati lalu tersenyum tipis.


Zant tidak marah karena sikap Rihan padanya. Justru dia senang karena bisa melihat wajah menggemaskan istrinya ini.


"Baik. Aku akan membersihkan diri. Tunggu aku, My Queen. Aku tidak akan lama," Rihan hanya menatap datar Zant yang bergegas pergi membersihkan dirinya, entah di mana.


Setelah suaminya hilang dari pandangannya, Rihan segera mengambil ponselnya dan membuka kamera pengawas untuk mencari tahu siapa kira-kira yang berani menggoda suaminya.


Hampir 20 menit, Rihan akhirnya menemukan apa yang dia cari. Rihan menyeringai karena mengenal gadis tidak tahu diri itu. Tanpa penundaan, Rihan segera menelpon seseorang.


"Bawa seseorang untukku. Secepatnya!"


Hanya kalimat singkat, Rihan segera memutuskan panggilan.


"Ayo bersenang-senang, Baby." Gumam Rihan sambil mengusap lembut perutnya yang masih rata.


...


"Semua sudah siap, Nona." Lapor seorang bawahan Rihan.


"Bagus. Kamu bisa pergi."


"Baik, Nona. Saya pamit."


Rihan dengan tenang masuk ke salah satu ruangan yang sudah tidak terpakai lagi. Bisa dibilang, itu salah satu ruang belajar di Antarik Universitas yang tidak dipakai lagi. Tepatnya di gedung fakultas kedokteran.


"Bangunkan dia!" Perintah seorang Rihan dengan cepat dilakukan oleh bawahannya.


BYURR


"Uhuk...uhuk...uhuk... brengsek!"


"Sudah bangun?"


"Kamu..."


"Kenapa?"


"Kamu masih hidup?"


"Kamu berharap aku mati? Tidak semudah itu, Nona Antarik."


Gadis tidak tahu malu yang menggoda Zant adalah Ayu. Padahal hidup Ayu baik-baik saja sampai detik ini, tetapi karena kebodohannya sendiri, sehingga beraninya menyentuh milik seorang Rihan.


"J****G! Aku tidak menyinggungmu. Kenapa menangkapku? Lepaskan aku!" Ayu begitu marah diperlakukan seperti ini.


"Tidak menyinggungku? Kamu yakin? Ckckckc... dan apa katamu? J****g? Bukankah nama itu cocok untukmu?"


"Apa maksudmu? Aku tidak sepertimu." Ayu lagi-lagi belum sadar diri.


"Benarkah? Kalau begitu, berikan pendapatmu tentang j****g yang satu ini." Rihan menoleh memberi kode pada seorang bawahannya untuk menunjukkan kamera pengawas beberapa saat lalu, dimana Ayu yang menggoda suaminya.


"Ini..."


"Bagaimana?" Tanya Rihan santai. Rihan kini sudah menghampiri Ayu yang terikat di kursi.


"Jika aku menggodanya, apa hubungannya denganmu? Cih..."


"Hubungannya denganku?" Gumam Rihan dan menyeringai pada Ayu.


PLAK


"Dia suamiku!"


"Tidak mungkin." Ayu menggeleng kepala tidak percaya. Meski kedua pipinya sakit, dia tetap berbicara pada Rihan.


"Kenapa tidak? Orang yang kamu goda adalah suamiku."


PLAK


"Berani meminta nomor ponselnya? Benar-benar tidak tahu diri!"


PLAK


"Tangan ini yang dengan tidak tahu dirinya menyentuh suamiku, 'kan?"


KRAKK


"Akhhh... j****g! Kamu mematahkan tanganku." Ringis Ayu setelah tangan kanannya dipatahkan dengan santainya oleh Rihan.


"Maaf. Kalau begitu, aku akan mengembalikannya seperti semula."


KRAKK


"Akhh... ka...mu..."


Bukannya mengembalikan seperti semula, Rihan justru membuatnya semakin parah. Bisa dipastikan, tangan itu akan membutuhkan beberapa tahun untuk kembali seperti semula.


"Siapapun yang berani meletakkan tangannya pada milikku, maka tempatnya bukan lagi dunia ini!"

__ADS_1


"Ti...dak... jangan bunuh aku."


"Baby, bagaimana menurutmu?" Rihan seakanĀ  bertanya pada baby Zanri dengan mengelus lembut perutnya.


"Aku mohon, lepaskan aku!"


Sebelum Rihan menjawab Ayu, ponselnya bergetar tanda panggilan masuk.


"My Queen, kamu dimana?"


"Ayo tebak!"


"Jangan buat aku khawatir, ingat jika ada baby Zanri bersamamu."


"Aku tahu! Kami sedang bermain. Jangan mengganggu kesenanganku dan anakku. Aku tutup teleponnya."


Rihan sudah memutuskan sambungan, tanpa menunggu jawaban dari Zant.


Zant di seberang sana hanya bisa menghembuskan nafas pelan dan mulai melacak keberadaan istri dan anaknya. Tidak menunggu waktu lama, dia sudah menemukan keberadaan kedua kesayangannya.


"Kesayanganku ini semakin ganas semenjak hamil." Gumam Zant dan menuju mobilnya untuk keluar dari sana.


Suami posesif Rihan itu ingin membeli sesuatu untuk kedua kesayangannya. Mendengar dua kata, 'sedang bermain', Zant sudah bisa menebak apa yang dimaksud istrinya.


Beralih pada Rihan, yang sedang menatap datar Ayu yang terlihat lemas karena tangannya yang Rihan patahkan tadi.


"Sebelum membunuhmu, alangkah baiknya kita bermain sebentar." Gumam Rihan sambil menatap tajam Ayu.


Ayu sendiri sudah menelan ludahnya takut.


"Lepaskan ikatannya!"


Tali pun terlepas. Ayu seketika ambruk ke bawah, tepat di kaki Rihan.


"Ingin memohon pengampunan? Baiklah. Aku beri satu kesempatan." Gumam Rihan dan menyeringai.


Ayu yang mendengar itu, menggertakkan giginya marah. Gadis itu lalu menatap sekeliling. Rihan dan dua bawahannya hanya menatap datar apa yang akan dilakukan Ayu.


Hingga Rihan menaikkan sebelah alisnya melihat Ayu yang sudah berdiri dan pergi mengambil satu balok di pojok ruangan. Rihan kembali menyeringai melihat Ayu yang sudah berjalan pelan menghampirinya.


SRET


BUGH


BRUKK


"Akhh... sialan..." Maki Ayu setelah terjatuh karena ditendang oleh Rihan.


BUGH


BUGH


"Akhhh..."


BUGH


BUGH


"Akhh... sakit... hen...tikan..."


Salah satu bawahan Rihan tanpa perasaan memukul dengan balok yang sama kedua kaki Ayu hingga gadis itu hanya bisa berteriak sakit.


"Sayang sekali, padahal sudah aku beri kesempatan, tapi kamu mengabaikannya. Ckckck..." Rihan menggeleng kepalanya dan menatap remeh Ayu.


"Iblis..."


"Sudah dua orang memanggilku iblis. Tapi aku menyukainya. Kamu ingin merasakan bagaimana seorang iblis mengurus wanita penggoda sepertimu?" Rihan menyeringai di tempat duduknya sambil menatap remeh Ayu yang terduduk satu meter di depannya.


"Sepertinya kamu sangat menikmati permainannya, My Queen." Suara Zant di ambang pintu mengalihkan perhatian Rihan.


"Kak... tolong aku." Ayu memohon dengan menyedihkan.


"Hei, Kak... ada yang meminta tolong padamu." Sahut Rihan sambil menatap santai Zant.


"Kamu meminta tolong padaku? Maaf sekali, kamu tidak pantas untuk aku tolong. Berurusan dengan istriku, tandanya kamu tidak beruntung." Zant menggeleng kepala dan menghampiri istrinya.


CUP


"Aku membawakan buah kesukaanmu. Mau coba?" Tanya Zant setelah mengecup bibir Rihan.


"Aku tidak berselera. Bawa kembali!"


"Masih marah?" Tanya Zant lembut.


Rihan tidak merespon. Zant hanya tersenyum tipis, kemudian mengangkat dengan santai istrinya, kedalam gendongannya, ala koala. Rihan tidak menolak. Dia hanya mengalungkan tangannya di leher Zant.


"Mau lanjut atau pulang?" Zant bertanya lagi setelah mengecup sayang kedua pipi istrinya yang kini terlihat cemberut.


"Pulang,"

__ADS_1


"Berikan suamimu ini senyum manismu, sebelum kita pulang."


"Tidak."


"Hais... baiklah. Kita pulang. Jangan memasang wajah cemberut lagi. Kasihan baby Zanri, karena melihat wajah cemberut mommynya. Ayo senyum, My Queen."


Mendengar nama baby Zanri, Rihan dengan patuh memasang senyum manisnya, membuat Zant tidak tahan untuk mengecup bibir candunya itu.


CUP


"Benar-benar cantik. Ayo pulang!"


"Aku serahkan dia pada kalian berdua." Perintah Rihan dengan datar.


"Baik, Nona. Selamat tinggal."


"Nikmati waktumu dengan mereka, wanita penggoda, Bye-bye."


Setelah mengatakan itu, Rihan semakin mengeratkan pelukannya dan memposisikan kepalanya di cekuk leher suaminya. Rihan tidak menyadari bahwa nafasnya yang menerpa leher suaminya membuat pria itu harus menguatkan dirinya sepanjang jalan.


Entah apa yang akan dilakukan dua bawahan Rihan pada Ayu, Rihan sendiri tidak peduli lagi. Moodnya untuk bermain dengan Ayu sudah berubah sejak kedatangan suaminya.


...


"Aku minta maaf, karena membiarkan dia menyentuhku. Aku janji tidak akan membiarkan wanita seperti itu menyentuhku lagi." Zant membuka suara karena istrinya sudah cemberut lagi. Benar-benar hormon ibu hamil.


"Humph..." Rihan hanya mendengus dan menatap keluar jendela mobil.


"My Queen, maafkan aku, hum?"


Tidak ada respon. Zant juga tidak menyerah.


"Kamu ingin aku melakukan apa supaya kamu tidak marah lagi?"


Mendengar itu, Rihan yang menatap keluar jendela tiba-tiba menyeringai tanpa Zant sadari.


"Serius?" Senyum tipis terukir di bibir Rihan.


"Aku ingin menarik kata-kataku tadi." Sesal Zant dalam hati. Melihat senyum dan mata berbinar itu, Zant bisa merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi padanya.


"Aku serius, My Queen. Kamu ingin aku melakukan apa?"


"Nanti, setelah aku memikirkannya."


"Baiklah. Asalkan suamimu ini sanggup."


***


"Aku menyerah, My Queen."


"Aku tidak mengizinkanmu!"


30 menit yang lalu, Rihan menyiksa Zant dengan memakan dua piring mangga muda yang begitu asam, membuat wajah pria itu sudah tidak berbentuk lagi. Gigi Zant rasanya mau rontok semua, saking nyilunya mengunyah mangga muda yang sudah dipotong dadu sebanyak dua piring besar.


Bukan hanya mangga muda, masih ada dua gelas besar jus buah mengkudu, dan jus buah pare yang sudah Rihan siapkan untuk suami tercintanya. Zant benar-benar disiksa habis-habisan oleh istrinya.


"Minum dulu jusnya, My King." Rihan menyodorkan gelas besar jus buah mengkudu pada Zant dengan senyum lebar.


"Ini... baunya..."


Sebelum meminumnya, Zant menutup terlebih dahulu hidungnya, karena bau mengkudu benar-benar menyengat. Zant menghabiskannya dalam sekali teguk.


Awalnya, Zant ingin meminum sedikit, tetapi tatapan melotot sang istri, membuatnya meneguk hingga habis isi gelas besar itu.


"Aku ingin ke toilet sebentar, My Queen. Sepertinya aku akan muntah."


Zant segera berlari ke kamar mandi karena sudah tidak tahan dengan jus yang dia minum.


"Nona benar-benar menyiksa Tuan Zant." Komentar Alen sambil menutup hidungnya karena bau mengkudu masih tercium.


"Senang sekali melihatnya menderita." Balas Rihan dan terkekeh senang.


Hanya beberapa menit, Zant sudah kembali ke ruang tamu dengan wajah mengenaskan. Rihan justru senang melihat ekspresi sang suami.


"Jus parenya, My King." Rihan kembali menyodorkan gelas besar jus pare pada Zant.


"Baby, kenapa jahat sekali pada daddymu?" Gumam Zant pada perut Rihan sebelum mengambil gelas di tangan istrinya.


"Benar-benar mengerikan. Huek..."


"Kamu tidak diizinkan ke kamar mandi."


"Astaga, My Queen."


"Nona, ini pesanan anda." Seorang pelayan datang dengan tiga gelas minuman berwarna hijau. Zant sudah meneguk ludahnya takut melihat tiga gelas itu.


"Taru di situ, Bi."


"Ayo, My King... ini jus terakhir."

__ADS_1


"Sepertinya, aku akan mati hari ini." Gumam Zant dan tersenyum sedih menatap istrinya yang terlihat sangat senang karena melihatnya menderita.


__ADS_2