Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Rencana Julian Antarik


__ADS_3

Maafkan Aku yang jarang up.


Sibuk banget soalnya. Banyak tugas Kampus yang harus dikerjakan. Belum lagi dalam masa-masa Ujian Tengah Semester. Maklum ya. 😂😂😂😂.


Mari kita lanjut cerita Rihan.


*****


Rihan hanya duduk tanpa menyapa para pengusaha yang sedang bertukar sapa membicarakan kekayaan mereka. Maklumlah, dia tidak suka banyak bicara.


Tidak lama kemudian...


"Permisi, Tuan Muda. Boleh saya duduk di sini?" Tanya seorang gadis bergaun hitam panjang tanpa lengan dengan belahan dada yang memperlihatkan bagaimana proporsional tubuhnya.


Gadis itu datang menghampiri tempat duduk Rihan dengan memasang senyum manisnya.


Rihan hanya memandang datar gadis itu, tanpa ingin mengatakan apapun. Alex yang melihatnya, segera angkat suara dan mempersilahkan gadis itu untuk duduk.


"Silahkan duduk, Nona Samantha."


Ya, gadis bergaun hitam itu tidak lain adalah Ariana. Si rubah Betina julukan Rihan. Entah alasan apa Ariana ada di sana. Kebetulan satu kursi di sana tidak ada penghuninya, sehingga Ariana dengan senang hati mengambil kesempatan untuk duduk di sana, sekaligus memulai rencana pendekatannya. Jangan lupa juga, dia sempat memberi kode pada papanya bahwa dia akan segera beraksi.


***


Beralih pada seorang gadis yang saat ini sedang membawa nampan yang berisi minuman dan cemilan. Gadis itu berjalan dengan sangat hati-hati karena membawa nampan menuju salah satu meja yang sudah hampir penuh dengan berbagai jenis minuman dan cemilan.


Sedangkan beberapa meja di sebelah meja yang dia datangi juga hampir terisi penuh dengan makanan juga minuman yang terkesan sangat mewah dan mahal tentunya.


Gadis itu adalah Dian. Dia yang sedang melakukan tugasnya sebagai pengantar makanan di perayaan ulang tahun Antarik Company.


Dian begitu kagum akan dekorasi dalam gedung bertingkat milik Antarik Company ini. Dian hanya bisa mengaguminya dalam hati. Dian berharap semoga kelak dia bisa sukses dan membahagiakan neneknya.


Karena satu keyakinannya yaitu, semua kerja kerasnya tidak akan sia-sia. Meski hanya menjadi dokter muda nantinya, tetapi sudah menjadi cita-citanya dari dulu.


Sesampainya Dian di meja yang akan diletakkan minuman dan cemilan yang dia bawa, terdengar bisik-bisik dari dua orang gadis yang juga berpakaian sama dengannya yaitu pakaian pelayan dan sedang membicarakan seseorang.


Awalnya Dian tidak terlalu memusingkan hal itu. Akan tetapi ketika mendengar satu nama yang disebut di sana, jantung Dian tiba-tiba berdetak lebih kencang dari biasanya.


Nama itu adalah nama yang selalu membuat jantungnya selalu terganggu. Dengan rasa penasaran dan jantung yang berdegub kencang, Dian memasang telinganya dan mendengar secara saksama bisikan kedua gadis itu.


"Hey, Nana. Kamu tahu, Tuan Muda Rehhand sangat tampan jika dilihat secara langsung. Aku sangat mengaguminya." Seorang gadis berpakaian pelayan yang bernama Nia berbicara pada temannya.


"Tuan Muda Rehhand? Dimana tempat duduknya?" Tanya gadis pelayan satunya yang bernama Nana.


"Ya. Di meja nomor tiga. Coba kamu lihat, sangat tampan, 'kan? Andai saja dia menjadi pacarku, pasti aku menjadi satu-satunya wanita paling bahagia di dunia ini." Nia berbicara sambil membayangkan masa depannya bersama Tuan Muda Rehhand pujaannya.


"Jangan berpikir terlalu tinggi. Masing-masing kita sudah disiapkan jodohnya oleh Yang Maha Kuasa. Jadi, terimalah nasibmu teman," Nasihat Nana pada Nia lalu menepuk pelan bahu sahabatnya itu.


"Memangnya kamu tidak mengagumi Tuan Muda Rehhand?" Tanya Nia pada Nana sambil terus memandang ke arah tempat duduk Rihan.


"Jika mengagumi sih, iya. Tuan Muda Rehhand merupakan fans beratku. Tapi aku sadar, aku hanya bisa mengaguminya dari jauh tanpa bisa menggapainya. Sungguh miris, 'kan?" Nana mengeluh, kemudian berakhir dengan memasang wajah sendu.


"Aku pikir kamu tidak mengagumi Tuan Muda Rehhand, karena kamu menasihatiku tadi. Ternyata kita sama. Sama-sama menyedihkan," Balas Nia dan tersenyum sedih.


Keduanya hanya bisa memasang wajah sedih kemudian menghela nafas lalu kembali melakukan tugas mereka. Sedangkan Dian, dia juga membenarkan perkataan kedua gadis tadi dalam hatinya. Dian mengalihkan pandangannya ke arah meja Rihan kemudian menghela nafasnya pelan.


"Pupus sudah harapanku," Gumam Dian dalam hatinya sambil terus memandang Rihan yang saat ini sedang menatap tajam sosok gadis yang mengambil tempat duduk di kursi yang berhadapan dengannya.

__ADS_1


Tanpa mengalihkan pandangannya dari Rihan, Dian mengeryitkan dahinya merasa familiar dengan sosok gadis yang saat ini berdiri bersama seorang pria di belakang Rihan.


"Dimana aku pernah melihat wajah gadis itu?" Gumam Dian dalam hatinya.


Dian terus memasang penglihatannya dengan baik agar mengenali sosok gadis di belakang Rihan.


Saking penasarannya, Dian lalu bertanya pada seorang pelayan yang baru saja datang dan meletakkan minuman dan cemilan di sana. Tepatnya di samping Dian.


"Permisi, Nona. Boleh aku bertanya?" Tanya Dian pelan.


"Panggil saja Ima. Sepertinya kita seumuran. Apa yang ingin kamu tanyakan?" Ima menatap Dian lalu tersenyum.


"Aku hanya ingin tahu, apa kamu mengenal gadis yang berdiri di belakang Tuan Muda Rehhand?" Tanya Dian pada Ima lalu kembali menatap ke arah tempat duduk Rihan.


"Gadis itu, ya. Aku tidak tahu namanya, tapi aku tahu kalau dia adalah asisten pribadi Tuan Muda Rehhand bersama saudara kembarnya yang ada di sebelahnya." Jawab Ima lalu ikut melihat ke arah yang dilihat Dian, setelah meletakkan minuman dan cemilan pada meja di depannya.


"Asisten pribadi? Hmm..." Dian berusaha mengingat di mana dia melihat gadis yang menjadi asisten pribadi pujaan hatinya itu.


"ASTAGA! ya ampun..." Dian tiba-tiba syok ketika berhasil mengingat wajah gadis itu. Dian menutup mulutnya karena merasa malu dengan tingkahnya yang sudah mengganggu para tamu yang berdiri tidak jauh darinya.


"Ada apa?" Tanya Ima penasaran dengan respons yang ditunjukan Dian.


"Bukan apa-apa. Terima kasih, Ima. Aku pergi dulu." Dian bergegas pergi terburu-buru meninggalkan Ima seorang diri di sana.


Ima hanya mengedikkan bahunya acuh lalu ikut pergi dari sana karena pekerjaannya belum selesai.


"Diakan gadis yang memberiku makanan mewah itu, dan katanya dari majikannya. Astaga, jantungku. Berhenti berdebar kencang." Dian memegang dada tempat jantungnya berada yang saat ini berdetak sangat kencang.


Dian saat ini sedang berada di toilet khusus pelayan dan menenangkan hatinya juga jantungnya karena baru mengetahui siapa majikan yang berbaik hati memberinya makanan mewah saat itu.


"Kenapa anda melakukan itu, Tuan Muda? Perlakuanmu membuatku tidak akan bisa menghapus perasaan ini," Dian masih memegangi dadanya tidak berdaya.


***


Rihan beserta kedua asisten pribadinya yang sudah mengetahui niat terselubung seorang Ariana hanya membiarkannya. Apalagi Rihan, dia ingin melihat apa yang akan dilakukan rubah betina ini.


"Maaf, Tuan Muda. Bisakah saya mengenal anda lebih dekat?" Ujar Ariana to the point.


Ariana sangat yakin jika dia tidak akan ditolak. Apalagi ketika mendengar bahwa Tuan Muda Rehhand ini adalah presdir baru rumah sakit Setia, papanya semakin menyetujui rencana Ariana untuk mendekati si pria cantik ini.


"Mengenal lebih dekat? Bukannya anda akan segera menikah dengan anak kedua Samuel Alexander?" Alex dengan sarkas membalas Ariana.


Alex membuka suara karena dia tahu bahwa majikannya tidak akan menjawab ataupun membalas semua perkataan rubah betina ini.


"Bajingan ini selalu saja menghalangiku untuk berdekatan dengan tuan muda. Tunggu saja pembalasanku." Kesal Ariana dalam hatinya sambil memandang tajam Alex yang saat ini duduk di sebelahnya.


"Mak... maksudnya, saya ingin berteman dengan Tuan Muda Rehhand," Balas Ariana terbata-bata.


Ariana terpaksa menutupi maksud dan tujuannya mendekati seorang Rehhand dengan membuat alasan lain.


"Berteman? Tidak ada maksud terselubung, 'kan?" Tanya Alex semakin memojokkan Ariana. Melihat kegelisaan rubah betina ini, Alex semakin senang memojokkannya.


Sedangkan Ariana hanya mengepalkan kedua tangannya di bawah meja. Ingin sekali dia menyingkirkan asisten pribadi pujaan hatinya ini.


Sayangnya, dia belum menemukan cara apapun.


"Saya hanya ingin berteman dengan tuan muda, tanpa ada maksud apapun." Ariana menjawab setelah menenangkan dirinya dan kembali memasang senyum manisnya.

__ADS_1


"Bagaimana, ap..." Perkataan Ariana terpotong oleh sebuah suara yang baru saja datang dan berdiri tepat di belakang Rihan.


"Maaf mengganggu waktunya, Tuan Muda." Suara Julian Antarik ketika dia mendekati meja Rihan. Tepatnya di belakang Rihan.


Demi menghormati pemilik acara saat ini, Rihan dengan terpaksa berdiri dan menyambut uluran tangan seorang Julian Antarik.


Begitu pula dengan Alex dan Alen. Keduanya seketika berdiri dan mengambil tempat di belakang sang majikan karena harus ada kursi kosong untuk Julian Antarik.


"Silahkan duduk, Tuan Julian." Alex mempersilahkan Julian Antarik untuk duduk di kursi yang tadi sempat dia duduki.


"Terima kasih. Padahal saya tuan rumah di sini," Balas Julian Antarik sekedar basa-basi lalu duduk di kursi yang disiapkan Alex untuknya.


"Ternyata ada nona Samantha juga. Selamat datang di acara kami. Semoga anda dan keluarga merasa nyaman berada di sini." Ucap Julian pada Ariana ketika melihat keberadaan anak kedua Samuel Samantha di sana.


"Terima kasih, Tuan Julian. Kami sekeluarga merasa sangat dihormati karena bisa diundang ke perayaan ini." Balas Ariana dengan sopan. Jangan lupakan senyum manisnya yang senantiasa menghiasi bibir merah meronanya.


"Panggil saja paman. Kamu sepertinya seumuran dengan anak saya." Julian Antarik ikut tersenyum menatap Ariana.


"Kalau gitu Ariana tidak akan sungkan, Paman." Ariana tertawa malu-malu. Maklumlah, dia harus memperlihatkan sisi feminimnya pada Rihan.


"Maaf sebelumnya, kenapa kamu ada di tempat Tuan Muda Rehhand?" Tanya Julian Antarik penasaran akan keberadaan anak kedua Samuel Samantha ini.


"Saya berteman dengan Tuan Muda Rehhand, Paman. Kami juga satu universitas," Ariana menjawab dengan pelan.


Ariana menjawab dengan takut-takut karena belum diizinkan oleh Rihan untuk berteman dengannya.


"Wah... Benarkah, Tuan Muda?" Tanya Julian Antarik tidak yakin dengan penuturan Ariana.


Menurut orang kepercayaan Julian, yang selama ini mengawasi gerak-gerik Rihan, katanya Tuan Muda Rehhand tidak memiliki teman di kampus maupun di luar Kampus.


Mendengar itu, Ariana hanya bisa menautkan kedua jari-jari tangannya harap-harap cemas dengan jawaban yang akan disampaikan oleh seorang Rihan. Jika jawabannya tidak sesuai maka dirinya yang akan malu.


"Kami memang berteman," Jawab Rihan dengan suara datar dan dingin khasnya.


Rihan akan mengikuti permainan rubah betina ini. Sedangkan Ariana yang mendengarnya merasa di atas angin dan bangga karena bisa berteman dengan 'si pria cantik' yang terkenal ini.


"Nona Samantha begitu hebat, bisa menaklukkan Tuan Muda Rehhand. Setahu saya, Tuan Muda tidak memiliki teman." Pancing Julian Antarik dan tersenyum remeh pada Ariana.


"Kami baru saja berteman, Paman." Jawab Ariana masih dengan senyummya. Sedangkan Rihan hanya memandang tajam Ariana. Rihan akan membiarkan Ariana bersikap sesuka hatinya.


"Beruntung sekali dirimu, Nona." Ucap Julian. Ketika akan melanjutkan kata-katanya, sudah dipotong oleh Rihan.


"Ada yang ingin anda sampaikan, Tuan Julian?"


Rihan hanya menunggu apa yang akan disampaikan pengusaha satu ini. Meski Rihan sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan oleh Julian, tetapi dia hanya membiarkan saja. Rihan ingin sekali melihat bagaimana reaksi seorang Ariana jika mendengar apa yang akan disampaikan oleh Julian Antarik.


"Benar sekali! Ada yang ingin saya sampaikan, Tuan Muda. Kita hanya perlu menunggu seseorang untuk ini," Julian lalu memandang sekitar kemudian menganggukkan kepalanya, entah apa yang akan dia lakukan.


"Ada apa Ayah memanggilku?" Tanya seseorang yang baru saja datang menghampiri tempat duduk Rihan.


"Duduklah di sini. Ada yang akan Ayah sampaikan, Sayang." Julian Antarik mempersilahkan anaknya untuk duduk di kursi kosong yang ada di sana.


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku.


Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.

__ADS_1


See You.


__ADS_2