Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Rumah Sakit


__ADS_3

Hari ini merupakan waktu yang ditentukan oleh kelompok Rihan untuk memulai proyek akhir semester mereka yaitu memantau perkembangan kondisi Phiranita di rumah sakit.


Rihan kini sudah berada di ruangannya bersama Alex yang selalu setia berdiri di depan Rihan.


"Suster itu sudah saya pindahkan ke rumah sakit khusus orang kurang mampu di negara B, Tuan." Lapor Alex pada sang majikan.


Rumah sakit yang dimaksud di negara B adalah rumah sakit milik mantan kepala rumah sakit, atau Pak Bayu yang kini sudah diberikan pada Yayasan Sosial untuk mereka yang kurang mampu.


Rihan meminta Alex untuk mengirim suster yang sudah membayar seorang pria untuk mengganggu Phiranita ke rumah sakit itu di negara B. Rihan bisa saja memecatnya dari tugasnya sebagai perawat dan memblacklist suster itu.


Akan tetapi niatnya diurungkan karena suster itu masih memiliki keluarga yang harus dinafkahi, sehingga Rihan berbaik hati meringankan hukumannya dengan memindahkan tugas suster itu ke negara B. Rihan juga membiayai keberangkatan keluarga suster itu ke negara B.


Sedangkan untuk pria yang mengganggu sahabatnya, Rihan hanya meminta Alex untuk memukulinya hingga babak belur, kemudian membawanya ke rumah sakit untuk dirawat.


Setelah itu, pria itu lalu diberi pekerjaan oleh Alex menjadi buruh pengangkut barang di pasar, dan selalu diawasi oleh anak buahnya. Bukan tanpa alasan Rihan melakukan itu, tetapi dia sedang mengajari pria itu bagaimana caranya mencari pekerjaan yang baik, bukan dengan mengganggu orang lain lalu mendapatkan uang.


Pria itu hanya melakukan semua perintah tanpa membantah sedikitpun. Setidaknya dia bersyukur karena masih bisa bernafas setelah dipukuli oleh orang suruhan Alex. Dengan senang hati pria itu melakukan tugas barunya dengan giat.


Pria itu kini merasa bahagia, karena bisa mendapatkan uang hasil kerja kerasnya sendiri. Pria itu malahan membeli minum pada anak buah Alex yang mengawasinya, membuat mereka hanya tersenyum dan menerima minuman itu.


Alex hanya melaksanakan perintah sang majikan dengan patuh. Tapi dalam hatinya dia sangat mengagumi kebaikan hati sang majikan yang tidak tegah memutuskan pekerjaan suster yang berusaha menyakiti sahabatnya. Alex berpikir, terbuat dari apa hati sang majikannya ini.


Alex juga merasa heran dengan orang-orang yang hidupnya pas-pasan bahkan berkekurangan, tetapi tingkah laku mereka tidak menunjukan kehidupan mereka. Seharusnya mereka bersyukur mendapat pekerjaan yang bisa membantu kelangsungan hidup mereka, dengan giat bekerja agar kedepannya hidup mereka bisa menjadi lebih baik, bukannya menyalahgunakan jabatan mereka untuk menyakiti orang lain karena iri.


Mereka tidak berpikir, bahwa masih banyak orang yang sangat sulit mencari pekerjaan, tetapi mereka selalu berusaha melakukan yang terbaik demi kelangsungan hidup mereka. Alex bersyukur karena dia memiliki pemikiran yang terbuka dan tidak berpikiran sempit seperti mereka.


***


"Bagus." Komentar Rihan setelah membaca berkas di tangannya.


"Bagaimana dengan hukuman Dokter Damar?" Tanya Alex penasaran.


"Biarkan dia bekerja lembur selama satu bulan di UGD." Jawab Rihan tegas.


"Baik Tuan, akan saya laksanakan."


...


"Mereka sudah di bawah, Tuan." Alex memberitahukan kedatangan David, Dian dan Albert, karena Alex melihat kedatangan mereka melalui rekaman CCTV pada iPad di tangannya.


"Hmm."


"Tapi, si rubah itu juga ikut, Tuan." Alex mengerutkan keningnya ketika melihat sosok Ariana yang tidak jauh di belakang David dan lainnya.


"Biarkan saja. Aku ingin tahu, apa yang sedang dia rencanakan." Rihan lalu menutup lembar terakhir dokumen yang dibacanya.


"Baik, Tuan. Saya akan menjemput mereka untuk langsung ke ruangan anda." Alex pamit pada majikannya untuk menjemput David dan yang lainnya.


"Hmm."


...

__ADS_1


"Dev," Panggil Albert yang berjalan sejajar dengan David.


"Hm." Balas David tanpa menatap Albert disampingnya.


"Ck... Kenapa jadi tertular si Rehhand? Hm... Ham. Dasar!" Decak Albert malas.


"Ada apa?" Tanya David menatap Albert yang memasang wajah malas.


"Setahu aku, kamu dan Ariana adalah tunangan, kenapa kalian terlihat asing?" Tanya Albert karena merasa tingkah David dan Ariana seperti orang yang tidak saling mengenal.


"Entahlah." Jawab David cuek, lalu mempercepat jalannya.


"Dia cantik. Kenapa kamu tidak suka padanya?" Tanya Albert ikut mengejar David didepannya.


"Itu dulu." Jawab David.


"Jadi sekarang, sudah tidak lagi?" Tanya Albert semakin penasaran.


"Kenapa? Oh... Aku tahu, pasti kamu sudah menyukai gadis lain 'kan? Ayo jawab!" Tebak Albert asal, membuat David tiba-tiba menghentikan langkahnya.


"Ya... Kamu benar." David menjawab lirih kemudian menghela nafasnya pelan. David lalu melanjutkan langkahnya lagi.


"Jadi, tebakan asalku benar? Aku penasaran siapa gadis itu. Pasti lebih cantik dari Ariana. Iya 'kan? Ada dimana dia? Aku ingin berkenalan dengannya. Ayo Dev, beritahu aku dimana gadis itu?" Albert semakin antusias dan dengan semangat merangkul bahu David.


"Aku akan memberitahumu nanti. Diamlah!"David menatap jengah tingkah Albert yang antuasias.


"Aku tunggu. Tapi sebelum itu, aku penasaran seperti apa rupa gadis itu!" Tanya Albert yang masih penasaran.


Mereka lalu mengikuti Alex dari belakang menuju ruangan Rihan.


Tok.


Tok


Tok


"Masuk!"


"Silahkan masuk. Tuan sudah menunggu didalam," Alex mempersilahkan David dan yang lainnya masuk setelah dia membuka pintu.


"Silahkan duduk." Alex kembali mempersilahkan mereka duduk.


"Terima kasih, Tuan." Balas Albert lalu duduk di sofa yang ada di sana diikuti oleh yang lainnya.


"Ada urusan apa anda ikut kemari, Nona Samantha?" Tanya Rihan datar pada Ariana yang baru saja duduk dan menatap interior ruangan Rihan.


"Anu... Aku... aku hanya mengikuti tunanganku. Aku takutnya dia melirik gadis lain di sini," Jawab Ariana cepat.


"Rubah ini tidak punya cermin di rumah?" Gumam Alex dalam hatinya lalu menatap jijik Ariana.


"Dia pikir aku sama sepertinya?" Monolog David dalam hatinya, lalu menatap Ariana malas.

__ADS_1


"Sepertinya, Nona Samantha sangat menyayangi tunangannya," Rihan membalas sambil menatap David yang juga menatapnya.


Deg deg deg


Jantung David lagi-lagi berdetak kencang karena tatapan mata Rihan padanya.


"Tatapan matanya terlihat dingin, tetapi kenapa rasanya tidak asing?" Gumam David dalam hatinya sambil terus menatap Rihan.


"Ya. Saya sangat mencintainya." Balas Ariana pelan.


"Hmm. Kamu memiliki pasangan yang setia, Dev." Komentar Rihan datar. Dalam hati Rihan terkekeh karena kebohongan Ariana.


"Sepertinya, begitu." Jawab David terpaksa.


"Setia dari hongkong." Sambung David dalam hatinya.


***


"Maaf Presdir, pasien sudah siap untuk dilihat perkembangannya." Dokter Damar baru saja datang dan memberitahukan kesiapan Phiranita untuk dilihat perkembangannya.


"Hmm." Deheman Rihan kemudian berdiri dan berjalan menuju ruang rawat Phiranita, diikuti oleh yang lainnya.


"Aku sudah sehat, Han. Aku ingin jalan sendiri ke sana." Ujar Phiranita pada Rihan karena melihat seorang suster masuk membawa kursi roda yang pernah dia pakai.


"Pasien sudah bisa berjalan, Presdir. Anda tidak perlu khawatir." Jelas Dokter Damar dan tersenyum tipis. Presdirnya ini benar-benar sangat menyayangi pasiennya ini.


"Dia 'kan trauma. Yang sakit kejiwaannya bukan kakinya, kenapa harus pakai kursi roda?" Bisik Albert pada David di sebelahnya.


"Itu tandanya dia menyayangi gadis itu," Balas David ikut berbisik.


"Menurutmu, itu kekasihnya?" Tanya Albert masih berbisik.


"Entahlah. Dilihat dari perlakuannya, sepertinya iya." Jawab David seadanya.


"Aku juga ingin punya kekasih seperti itu." Gumam Albert pada David.


"Kamu seorang pria. Tugasmu menjaga bukan dijaga. Atau kamu mau menjadi gay?" Jawab David lalu menyentil dahi Albert. David tidak habis pikir dengan pemikiran temannya ini.


"Hei... Kenapa kamu menyentuh dahiku?" Suara Albert cukup keras, membuat semua perhatian mengarah pada dirinya dan David.


"Diamlah. Kita diperhatikan." David sadar karena diperhatikan. Dia cukup malu.


"Hehehe... Maafkan kami berdua. Kami sedang bercanda tadi." Albert cengengesan dan meminta maaf.


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku.


Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.


See You.

__ADS_1


__ADS_2