Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Sial...


__ADS_3

Rihan kini berpakaian formal seperti biasa ketika akan keluar mengikuti acara resmi atau meeting bersama rekan kerjanya. Rihan mengenakan blazer coklat tanpa dikancing, lengan yang digulung sebatas sikut, dengan dalaman kaos putih polos. Tidak lupa juga celana kain senada dengan blazernya.


Seperti biasa, penampilan Rihan selalu memukau siapa saja yang melihatnya. Karena penampilan Rihan, Alen selalu berdoa dalam hati untuk menyadarkan dirinya bahwa majikannya adalah seorang gadis.


"Terima kasih, Len."


"Sama-sama, Tuan."


"Jangan lupa untuk menjaga Tata sampai aku pulang," Ujar Rihan lalu berjalan menuju pintu keluar.


"Baik, Tuan."


Rihan keluar kamar dan mendapati Alex yang juga sudah rapi dengan setelan jas formalnya.


"Max dimana?" Tanya Rihan ketika mereka bertiga memasuki lift.


"Max sedang ke rumah orang tuanya, Tuan." Alex menjawab setelah menekan tombol lift menuju lantai satu.


"Bagaimana respon orang tua Max tentang keberadaannya di sini?"


"Mereka sangat senang karena Max sudah mulai mendekatkan diri dengan orang lain. Mereka justru menyarankan Max untuk tinggal lebih lama di sini, Tuan." Jawab Alex tenang.


"Tadi pagi, orang tua Max mengirimkan banyak hadiah ke sini, tapi hadiahnya belum saya buka, Tuan." Sambung Alen ketika teringat dengan kedatangan salah satu mobil truk besar yang datang membuat keributan karena tidak diijinkan masuk ke dalam mansion.


Alen yang mendengar keributan itu, lalu menghampiri mereka dengan niat ingin mengetahui akar masalahnya, dan ternyata sang sopir mengatakan bahwa semua box di dalam truk adalah hadiah dari Nyonya Bruneyas untuk Tuan Muda Rehhand.


Alen hanya bisa menghela nafas dan mengizinkan truk itu masuk setelah discan oleh alat yang sudah dibuat oleh para ilmuwan Rihan. Semua paket yang akan masuk ke dalam mansion harus melalui tahap scan keamanan, karena Rihan tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi.


"Hm."


"Silahkan, Tuan!" Alex mempersilahkan sang majikan masuk ke dalam mobil.


"Hati-hati di jalan, Tuan. Hati-hati bawa mobilnya, Kak." Peringatan Alen pada sang kakak yang sudah mengambil posisi duduk di kursi kemudi mobil dengan sang majikan di bagian belakang.


"Hm."


"Ya."


Mobil lalu melajukan dengan kecepatan rata-rata menuju tempat yang sudah dijanjikan.


"Dimana tempat pertemuannya?" Tanya Rihan dengan pandangan tertuju pada aktivitas pedagang kaki lima di pinggir trotoar jalan.


"Di restaurant Spanyol, Tuan."


"Hmm."

__ADS_1


"Bagaimana dengan kinerja kepala rumah sakit?" Tanya Rihan lagi. Entah kenapa hari ini Rihan sangat ingin banyak bicara.


"Kinerja Dokter Lio sangat baik, Tuan. Beliau bahkan mengusulkan beberapa ide baru untuk kenyamanan para pasien yang rawat inap. Ada juga beberapa aturan baru yang Dokter Lio buat untuk menjaga agar para dokter maupun perawat tetap bekerja dengan baik."


"Bagus. Bagaimana dengan lawan Dokter Lio?" Rihan kembali bertanya lalu melirik sekilas Alex lewat kaca spion.


"Dokter Hengky kembali melakukan tugasnya seperti biasa yaitu bertugas di UGD." Jawab Alex tenang.


"Nanti atur jadwal pertemuanku dengan kepala rumah sakit beserta wakil-wakilnya."


"Baik, Tuan."


...


"Silahkan duduk, Tuan Muda." Ayu mempersilahkan Rihan untuk duduk di kursi kosong yang berhadapan dengannya. Mereka kini berada di ruang VIP restaurant mewah bergaya Spanyol.


"Silahkan dinikmati hidangannya, Tuan Muda." Ucap Ayu tersenyum manis. Penampilan Ayu sangat menggoda. Dia tidak ingin memyia-nyiakan kesempatan bagus ini.


"Tuan muda sudah makan malam. Silahkan mulai saja pertemuannya." Nada suara Alex penuh penekanan pada Ayu yang selalu memasang senyum 100 watt pada sang majikan.


"Kalau begitu, bagaimana kalau kita minum-minum saja?" Tawar Ayu. Ayu tidak menyerah. Baginya, ini baru permulaan.


"Tuan muda tidak bisa minum, Nona. Silahkan anda saja yang minum, kami tidak keberatan." Alex dengan datar menjawab Ayu. Jangan lupakan tatapan menjijikan dilayangkan pada Ayu.


"Baiklah. Pelayan! Tolong pindahkan semua ini." Ucap Ayu pada seorang pelayan.


"Aku harap ini berhasil." Batin Ayu berharap.


"Saya akan te... saya pamit Tuan Muda." Alex keluar dengan terpaksa setelah melihat isyarat mata sang majikan.


"Itu bagus. Ini yang aku suka," Ayu dalam hatinya sangat senang.


"Saya tidak suka basa-basi. Katakan saja tujuanmu." Rihan berbicara dengan datar setelah Alex menutup pintu, lalu menatap tajam Ayu.


"Bagaimana kalau kita duduk di sofa sana, Tuan Muda?" Ayu berusaha menutup ketakutannya dengan membuat suaranya terdengar menggoda.


"Kita lihat sejauh mana rencana wanita ini." Batin Rihan lalu berdiri dan duduk di sofa yang tidak jauh dari tempat mereka duduk.


"Begini terlihat lebih baik." Ayu menaikkan satu kakinya memangku kaki lainnya sehingga rok pendeknya semakin tersingkap memperlihatkan paha putih mulusnya itu.


"Ingin menggodaku?" Gumam Rihan dalam hatinya sambil menatap gerak-gerik Ayu.


"Antarik Hospital ingin menawarkan kerja sama dengan rumah sakit Setia dalam hal pertukaran dokter dan juga alat-alat medis setiap sebulan sekali. Untuk lebih jelasnya semuanya ada di dalam sini, Tuan Muda." Ayu dengan suara menggoda kemudian menggeser sedikit proposal kerja sama di atas meja ke arah Rihan.


Julian Antarik tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini untuk bekerja sama dengan rumah sakit milik Rihan. Karena mata-mata yang dia kirim memberi kabar bahwa rumah sakit Setia memasok banyak alat canggih dan juga mendatangkan dokter-dokter ahli dari luar negeri untuk bekerja di sana, sehingga rumah sakit yang dulunya dinyatakan hampir bangkrut karena saham yang semakin menurun kini mulai naik melebihi masa berjayanya dulu.

__ADS_1


Julian Antarik sebenarnya iri akan kinerja Rihan dalam mengatasi masalah penurunan saham rumah sakit, hingga banyak orang mulai pindah dan berobat di sana. Naiknya saham rumah sakit Setia, membuat Julian mulai was-was karena takutnya Antarik Hospital akan menduduki posisi kedua di Indonesia beberapa bulan ke depan mengingat setiap harinya saham rumah sakit Setia semakin meroket naik.


Untuk mempertahankan posisi mereka, Julian harus bekerja sama dengan Rihan untuk keuntungan kedepannya. Dengan memanfaatkan anaknya Ayu, Julian yakin rencananya pasti berhasil.


"Keuntungan apa yang akan saya dapatkan?" Rihan bertanya dengan datar lalu menatap tajam Ayu sambil melipat kedua tangannya di atas perutnya.


Meski Rihan tahu jelas keuntungan maupun kerugian yang akan dia dapatkan ketika menerima kerja sama ini, akan tetapi Rihan ingin tahu sendiri dari mulut Ayu. Dan juga Rihan sangat senang dengan orang yang bermain aman seperti Julian Antarik.


"Semua keuntungan ada di dalam sini, Tuan Muda. Dan juga..." Ayu berdiri dan berpindah tempat dengan duduk di pangkuan Rihan.


"Anda juga bisa mendapat keuntungan pribadi dari saya." Sambung Ayu membelai lembut wajah Rihan yang berjarak hanya beberapa senti darinya.


Rihan sendiri hanya tenang dalam posisinya. Jangan lupakan tatapan tajamnya yang sudah menjadi ciri khasnya.


"Bagaimana menurut anda, Tuan Muda?" Ayu dengan suara menggoda mulai menggeser sedikit posisi duduknya. Ayu berpikir, dengan memancing sang tuan muda dengan menggeser sedikit bokongnya, Rihan akan tergoda. Sayangnya, dia tidak tahu jika yang ada di depannya adalah seorang gadis.


Rihan yang tadinya melipat tangannya, kini mengalihkan satu tangannya dan memeluk sensual pinggal Ayu dan satu tangan dia letakkan di atas paha Ayu yang duduk menyamping di pangkuannya.


Ayu yang merasakan gerakan Rihan sangat senang. Dia yakin si Tuan Muda Rehhand ini mulai tergoda dengannya. Dengan senyum senang, Ayu lalu memejamkan matanya menikmati posisi mereka. Apalagi Ayu mulai merasakan nafas Rihan yang menyapu wajahnya. Ayu berpikir Rihan akan menciumnya.


Rihan yang melihat Ayu memejamkan mata hanya tersenyum sinis. Rihan lalu mendekat ke telinga Ayu dan mulai berbisik.


"Keuntungan seperti apa yang anda maksud, Nona Antarik?" Tanya Rihan dengan suara lembut. Akan tetapi dalam hatinya jijik dengan tindakannya sendiri.


Rihan sebenarnya sangat ingin melempar Ayu sekarang juga dari pangkuannya, api dia tidak ingin secepat itu. Rihan kini mulai berpikir untuk menggunakan Ayu dalam membalaskan dendamnya pelan-pelan pada Ariana.


"Anda bisa menjadikan saya kekasih anda, Tuan Muda. Bagaimana?" Tawar Ayu pelan lalu membuka matanya dan bersitatap langsung dengan mata coklat tajam milik Rihan.


"Akan dipertimbangkan jika saya benar-benar yakin dengan keputusan menjadikan anda sebagai kekasih saya." Rihan lalu menggeser pelan Ayu di pangkuannya untuk duduk di sisinya. Rihan kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Ayu yang tiba-tiba memerah karena berpikir akan dicium.


"Sedikit lagi..." Ucap Ayu dalam hatinya senang sambil memejamkan matanya menunggu dicium.


*Tok


Tok


Tok*.


"Sial..."


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku.


Jangan lupa untuk memberikan saran dan kritik yang membangun untuk cerita ini.

__ADS_1


Jangan lupa juga untuk meninggalkan jejakmu, ya.


See You.


__ADS_2