Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Akhirnya Bertemu


__ADS_3

"Dia..." Suara Logan yang tercekat.


"Ira..." Panggil Neo lirih lalu menghampiri orang yang dimaksud yang tidak lain adalah Phiranita.


Rihan yang melihatnya terkejut.


"Dia mengenal Tata? Ini aneh!" Batin Rihan yang menatap datar Neo yang secara perlahan berjalan menghampiri Phiranita yang sepertinya tidak sadar jika ada yang memperhatikannya bahkan ingin menghampirinya.


"Akhirnya aku bertemu denganmu setelah sekian lama." Suara Neo sedikit bergetar setelah membawa Phiranita ke dalam pelukannya. Neo dengan erat memeluk Phiranita.


Phiranita yang tiba-tiba ditarik ke dalam pelukan sesorang menjadi syok dan tanpa penundaan, tubuhnya bergetar secara tiba-tiba.


"Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku... hiks... tolong lepaskan aku..." Phiranita berusaha lepas dari pelukan erat Neo. Jangan lupakan tubuhnya yang bergetar.


Rihan yang melihatnya tersadar dan segera menghampiri keduanya dan menarik Phiranita ke sisinya.


"Tenanglah, ada aku disini." Rihan menenangkan Phiranita yang bergetar hebat dengan mengusap-usap pelan bahu gadis itu.


"Ada apa dengannya? Kenapa..." Neo bingung melihat reaksi tubuh Phiranita.


"Kita akan bicara nanti, Kak." Rihan yang masih mengusap pelan punggung Phiranita.


"Han, aku..." Nada suara Phiranita pelan kemudian pingsan dalam pelukan Rihan.


"Saya akan memanggil Dokter Damar, Tuan." Alen baru saja datang dari dapur ikut kaget dengan keadaan di depannya.


"Hm."


"Ini... sebenarnya ada apa? Bisa tolong jelaskan padaku?" Neo benar-benar khawatir melihat Phiranita yang tiba-tiba pingsan. Dia ingin menggendongnya tetapi dihentikan oleh Rihan.


"Diamlah!" Rihan kemudian menggendong Phiranita memasuki lift diikuti oleh yang lainnya.


...


"Jadi apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Neo sambil melihat Dokter Damar yang memeriksa Phiranita.


"Sudah lewat waktu makan siang, Tuan." Suara Alen mengingatkan Rihan.


"Aku akan menjelaskan setelah makan siang," Rihan berbalik ingin menuju lantai satu. Jujur, Rihan juga khawatir dengan kondisi sahabatnya ini. Sayangnya, kondisi tubuhnya juga penting.


"Haish..." Neo hanya bisa menggerutu dan mengikuti Rihan dari belakang. Tidak lupa juga Neo berbalik menatap Phiranita sebentar. Setelah belasan tahun mencari, akhirnya ketemu juga. Dalam hatinya begitu senang.


Setelah makan siang, Rihan, Neo dan Logan segera menuju ruang tamu, sedangkan Alen naik ke lantai atas untuk melihat kondisi Phiranita yang sedang diperiksa oleh Dokter Damar.


"Katakan lebih dulu hubunganmu dengan Tata." Datar Rihan sambil menatap bergantian Neo dan Logan.


"Dia adalah adikku yang terpisah sejak umur lima tahun. Kami sengaja dibesarkan secara terpisah karena mengantisipasi adanya pihak lain yang mengambil Ira dari keluarga kami." Neo menjelaskan dengan nada lirih.


"Aku butuh bukti nyata bukan sekedar kata-kata." Rihan kini menatap tajam Neo. Tidak semudah itu dia percaya.

__ADS_1


"Tapi Ira memang adik Neo, dan itu faktanya." Balas Logan yang tidak terima dengan bantahan Rihan.


"Jika kalian di posisiku, apa kalian secepat itu percaya?" Tanya Rihan sambil menaikkan sebelah alisnya menatap bergantian dua pria di depannya ini.


"Jadi apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya padaku?" Tanya Neo menghela nafasnya.


"Ikut aku!" Rihan kemudian berdiri dan menuju lift yang membawa mereka ke kamar Phiranita.


"Bagaimana keadaan Tata?" Tanya Rihan setelah mereka sampai dan melihat Dokter Damar sedang merapikan peralatan medisnya yang dipakai untuk memeriksa Phiranita tadi.


"Trauma Nona Phi naik 10% dari kemarin, Presdir. Saya semakin khawatir dengan kondisinya. Jika dalam 3 hari kondisi pasien belum kembali normal maka itu akan semakin memperburuknya. Yang paling parah, traumanya akan semakin sulit untuk disembuhkan." Jelas Dokter Damar yang sudah berdiri di depan Rihan sambil menunduk takut.


"Aku akan membawahnya berobat ke tempatku." Suara Neo terdengar tegas.


"Kamu tidak bisa membawanya tanpa izin dariku!" Rihan membalas dengan nada datar.


"Aku kakaknya, jadi aku punya hak membawanya." Balas Neo dengan nada suara tinggi. Phiranita adiknya yang dia cari selama ini. Bagaimana mungkin dia melepaskannya lagi?


"Belum terbukti kamu kakaknya. Jika kamu kakaknya, kemana kamu selama ini? Kemana kamu di saat Tata diculik hingga mengalami semua ini?" Balas Rihan tenang membuat Neo terdiam dan merenungi kesalahannya.


"Aku memang tahu Ira diculik, tapi aku tidak bisa berbuat banyak karena takut dia kenapa-napa. Kamu juga harus mengerti jika di posisiku."


"Ambil darahnya, Dok." Rihan memerintah dengan gerakan kepala.


"Untuk apa?" Tanya Neo heran.


"Untuk dibuang. Ambil Dok!"


"Baik, Tuan."


"Ambil juga milik Tata." Rihan kembali memberi perintah setelah Dokter Damar selesai mengambil darah Neo.


"Baik, Tuan."


Mendengarnya, tanpa menjelaskan apapun, Neo jelas tahu maksud pengambilan darah keduanya.


"Hasilnya belum tentu membuktikan kalian adalah kakak-beradik. Aku juga membutuhkan hasil DNA orang tuamu. Sampai hasilnya cocok, di saat itulah aku akan menjelaskan apa saja yang sudah Tata lewati."


"Tidak bisakah kamu percaya padaku?" Frustasi Neo karena baginya semua itu memakan waktu.


"Tidak!"


"Baiklah. Besok DNA ayahku ada di meja kerjamu." Putus Neo yang pasrah.


"Hmm. Sekarang kalian boleh kembali." Rihan mengusir secara halus.


Neo tidak bisa membantah apapun, dan segera berbalik dan pulang diikuti oleh Logan. Dia hanya bisa bersabar dan menunggu waktunya saja.


***

__ADS_1


Pagi ini setelah sarapan, Rihan yang tidak memiliki berkas untuk diperiksa hanya duduk santai di sofa ruang tamu ditemani oleh Alen. Phiranita sendiri sengaja diberi obat penenang agar tetap beristirahat.


Rihan sudah berencana, jika malam ini kondisi Phiranita belum kembali normal, maka dia akan menyuntikkan cairan penghilang ingatan pada Phiranita agar sahabatnya itu melupakan traumanya dan memulai semuanya dari awal.


Tetapi setelah dipikir-pikir, Rihan baru sadar ternyata dia harus menunggu DNA milik ayah Neo untuk dicocokkan dengan Neo dan Phiranita. Jika terbukti Neo adalah kakak kandung sahabatnya, maka Rihan terpaksa harus melepaskan Phiranita. Memikirkannya, dia menjadi sedih. Akan tetapi itu juga merupakan keinginan Phiranita untuk tahu siapa orang tuanya.


"Rei..." Panggil Max yang menyadarkan Rihan dari lamunannya.


"Hmm."


"Bisakah kamu membantuku?"


"Apa?"


"Aku baru saja bermain game. Tapi lawanku kali ini sangat hebat. Berulang kali aku gagal melawannya. Bisakah kamu membantuku melawannya?" Max berbicara dengan ekspresi memohon. Entah kenapa Max tiba-tiba meminta bantuan pada Rihan, padahal belum tentu Rihan bisa bermain.


"Keuntungan apa yang aku dapat?" Rihan menyahut dengan datar mengabaikan ekspresi menyedihkan Max.


"Tidak ada. Anggap saja kamu bersedekah untukku."


"Tidak."


"Ayolah Rei, Lihatlah! betapa sombongnya orang ini. Ingin sekali aku mencekiknya jika bertemu." Bujuk Max sambil menunjukan layar ponselnya yang memperlihatkan lawan Max yang sedang memukul dengan brutal Max hingga KO.


"Itu teknik, bukan sombong. Kamu saja yang terlalu lemah." Cibir Rihan pada Max yang memasang wajah cemberut.


"Aku sudah cukup kuat untuk sampai ke level menengah. Ayolah Rei... Lihatlah kelakuannya. Dengan sombongnya dia bergoyang di depanku setelah berhasil membuatku mati. Belum lagi kata-katanya yang menyindir." Max masih saja menunjukan ponselnya, berharap Rihan membantunya.


"Diammu tanda setuju." Sambung Max kemudian mengetik pesan menantang pada lawannya itu untuk bermain dengan jagoan Rihan.


"Kenapa kamu tidak ingin aku bermain dengan jagoanmu?" Tanya Rihan heran.


Seharusnya Max tetap menggunakan jagoannya untuk Rihan pakai melawan musuhnya. Akan tetapi Max malah menantang musuhnya itu untuk melawan jagoan Rihan sendiri.


"Itu namanya curang karena kamu bermain menggunakan jagoanku." Rihan hanya membalas dengan tatapan datar, tapi membenarkan perkataan Max dalam hati.


Rihan awalnya tidak ingin bermain. Tapi dia menjadi tertarik untuk bermain karena dia sadar, ternyata game ini diluncurkan oleh perusahaan milik Brand. Akan lebih menarik lagi jika Rihan memancing Brand melalui game ini.


Apalagi game ini cukup terkenal di kalangan anak muda dan sempat menjadi bahan perbincangan di media sosial selama beberapa tahun terakhir karena juara dalam game ini tidak terkalahkan. Rihan sendiri penasaran bagaimana cara bermain juara bertahan game ini.


Rihan kemudian mengambil ponselnya dan membuka aplikasi game itu dan login dengan nama The Devil. Baru saja masuk, sudah ada notifikasi dari username Hero yang merupakan lawan Max tadi. Menyetujuinya, permainan kemudian dimulai, dan tentu saja pemenangnya adalah Rihan.


"Rasakan itu! Senang sekali melihat si sombong itu kalah. Hahaha..." Heboh Max membuat Rihan hanya menggeleng kepala akan tingkah Max.


Rihan melanjutkan permainan hingga dia sudah masuk pada level terakhir dalam game. Itu berarti lawannya semakin kuat. Max yang di samping Rihan dengan wajah berbinar menatap tanpa berkedip cara Rihan menaklukkan musuh-musuhnya.


***


Jika ada kritik dan saran yang membangun dari pembaca sekalian, jangan lupa untuk menulisnya di kolom komentar. Jangan lupa juga untuk mendukung cerita ini.

__ADS_1


Terima kasih, dan sampai ketemu di chapter selanjutnya.


__ADS_2