
"Cari siapa, Dev?" Tanya Albert ketika David menengok ke sana kemari seperti mencari sesuatu.
"Apa Rei sudah pulang?"
"Sepertinya, iya. Cepat sekali mereka. Astaga! aku juga lupa mengantar Dian. Ini sudah lewat jam kerjanya. Dia sudah sampai atau belum, ya." Albert merasa bersalah dan ikut melihat kiri dan kanan.
"Telepon saja!"
"Oh, oke." Balas Albert mengangguk kemudian mengambil ponselnya berniat menelpon Dian.
"Lihatlah orang-orang ini, menyebar berita yang aneh-aneh. Apa Dian baik-baik saja?" Gumam Albert pelan ketika mendapati notifikasi group fakultas mereka yang berisi berita tentang Rihan yang mengantar Dian ke tempat kerja.
"Kenapa?" Tanya David menoleh pada Albert yang serius membaca berita terbaru di ponselnya.
"Lihatlah ini, aku khawatir Dian akan dimusuhi oleh para fans Rei." Albert memberikan ponselnya pada David.
"Rei tidak akan membiarkan itu terjadi, kamu tenang saja."
Albert hanya mengangguk kepalanya dan ikut membenarkan ucapan David. Keduanya kemudian menuju parkiran untuk mengambil mobil dan pulang.
"Sepupu? Itu pasti tidak mungkin. Lebih tidak mungkin lagi jika Rihan berubah menjadi seorang pria. Apa yang sudah aku pikirkan, astaga..." Gumam David pada dirinya sendiri ketika mengendarai mobilnya dalam perjalanan.
"Identitasnya membuatku semakin penasaran." Sambung David dalam hati.
***
"Keamanan di mansion Jhack semakin diperketat. Aku rasa mereka sudah mengetahui keberadaan anak buah kita." Lapor Logan pada Neo di saat keduanya sedang duduk bersantai di ruang tamu apartemen yang mereka sewa.
"Itu artinya bocah itu sudah mempersiapkan semuanya dengan baik. Aku hanya ingin kamu mempersiapkan diri jangan sampai ada serangan balasan." Balas Neo datar.
"Aku tahu! Dan juga, sampai saat ini aku penasaran dimana keberadaan anak gadis Jhack, umur berapa dia sekarang. Apa seumuran dengan kita atau seumuran dengan sepupunya?"
"Kenapa kamu berpikir dia seumuran dengan kita?" Tanya Neo heran.
"Orang tuamu dan orang tuaku terlihat hampir seumuran dengan Jhack dan istrinya, jadi aku hanya berasumsi seperti itu." Logan lalu terkekeh pelan.
"Pemikiran macam apa itu."
"Terserah aku."
__ADS_1
"Bagaimana dengan Brand?" Tanya Neo setelah meneguk segelas wine yang disediakan di apartemennya.
"Apa aku sudah pernah mengatakan bahwa Brand sudah beberapa kali mencoba membobol sistem untuk masuk ke mansion Rehhand?" Tanya Logan.
"Belum. Ceritakan lengkapnya,"
"Menurut para ahli... Maksudku orang kepercayaan kita, Brand sudah dua kali mengutus anak buahnya untuk membobol sistem pertahanan mansion tuan muda itu, tetapi selalu gagal. Kedua kali Brand mencoba tapi hasilnya tetap sama, hingga Rehhand sendiri yang mengundangnya masuk ke sana. Aku jadi penasaran, kenapa Brand sangat berambisi untuk masuk ke sana. Apa dia mencari sesuatu?" Kerutan di dahi Logan terlihat jelas karena sedang berpikir.
"Apa dia berhasil masuk?"
"Ya. Setelah diundang tentunya. Untuk apa yang terjadi di dalam mansion, orang kita tidak bisa mengakses sampai ke sana. Aku akui Tuan Muda Rehhand itu benar-benar hebat dalam sistem pertahanan." Logan dengan nada kagum di sana dan hanya dibalas anggukan oleh Neo.
"Cari tahu ada masalah apa diantara keduanya."
"Oke."
"Apa ada hubungannya dengan dia?" Sambung Logan membuat Neo menatapnya serius.
"Tidak mungkin, Gan. Jangan membuat asumsi yang aneh."
"Yayaya... padahal aku hanya menebak. Kalau begitu, aku ingin beristirahat lebih dulu. Selamat malam!" Logan pamit untuk tidur meninggalkan Neo yang hanya menatap datar gelas angguran di meja depannya.
***
"Tidak ada tanda-tanda keberadaannya di sana, Bos. apa mungkin gadis itu sudah dipulangkan oleh Tuan Muda Rehhand?" Ujar Dom pada Brand yang sedang duduk dengan kedua kaki diletakkan di atas meja kerjanya sambil mulutnya mengeluarkan asap rokok yang mengepul ke atas.
"Apa sebaiknya kita mengadudombakan Tuan Neo dengan Tuan Muda Rehhand, Bos?" Usul Dom ketika beberapa menit tidak ada pembicaraan.
"Usulan yang bagus. Kita hanya akan menjadi penonton dan keluar sebagai pemenang tanpa mendaftar. Akan aku pikirkan." Balas Brand tersenyum misterius membayangkan keseruan perlawanan Neo dan Rihan.
"Baik, Bos."
"Apapun caranya, aku ingin tahu keberadaan pionku. Aku tidak ingin Neo menang dariku."
"Jangan lupa untuk laporkan aktivitas Neo dan Logan padaku. Aku ingin tahu alasan mereka datang ke Indonesia." Sambung Brand lalu mematikan rokoknya.
"Siap, Bos."
***
__ADS_1
Setelah mengajak Phiranita jalan-jalan di sekitar mansion hingga udara di luar sudah semakin dingin, Rihan mengajak sahabatnya itu untuk masuk. Rihan lalu meminta Alen membantu Phiranita membersihkan diri dan mereka makan malam bersama kemudian beristirahat seperti biasa.
Mengetahui sahabatnya itu sudah tidur, Rihan bersama kedua asistennya menuju kamarnya dan sekedar berbincang-bincang karena dia sendiri belum mengantuk.
"Besok adalah terapi Nona Phi. Anda sudah memutuskan siapa yang ikut serta?" Tanya Alex sambil menatap Rihan yang berdiri membelakanginya karena menatap keluar mansion lewat balkon kamarnya.
"Menurutmu siapa yang cocok?" Tanya balik Rihan tanpa berbalik menatap Alex.
"Saya menyarankan Max untuk itu, Nona." Jawab Alex yakin.
"Kenapa bukan kamu saja?" Rihan berbicara kemudian berbalik menatap kedua saudara kembar di depannya yang juga menatapnya.
"Saya setuju dengan kak Alex, Nona." Alen juga buka suara mendukung sang Kkakak. Dalam hati Alen tahu alasan kakaknya tidak ingin ikut dalam terapi itu.
"Why?" Tanya Rihan melipat kedua tangannya di atas perut.
"Tidak ada alasan apapun, Nona. Hanya saja Max terlihat lebih cocok karena Nona Phi sedikit kesal dengannya. Saya juga merasa keduanya cocok bersama." Jawab Alen melirik sekilas ekspresi Alex di sampingnya.
"Bagaimana denganmu, Lex?" Pandangan Rihan beralih ke arah Alex yang tiba-tiba menunduk.
"Saya sependapat dengan Alen, Nona. Saya sedikit risih berdekatan dengan seorang perempuan." Jawab Alex terbayang di pikirannya tentang bagaimana tubuhnya disentuh dimana-mana oleh gadis yang dibayar Brand untuk dia dan Rihan.
"Kamu sudah melihat apa saja yang dilakukan gadis itu melalui cctv. Tidak terjadi apapun waktu itu. Buang pikiran burukmu itu, Lex. Jangan terlalu sering memikirkannya karena akan menjadi kelemahanmu. Aku juga minta maaf karena semua itu adalah rencanaku." Rihan menatap Alex dengan sorot mata bersalahnya.
"Maaf Nona, tapi itu bukan salah anda. Saya hanya sedikit risih dengan gadis seperti itu."
"Tata bukan gadis seperti itu, Lex."
"Saya paham, Nona. Hanya saja..."
"Kita akan mengikut sertakan Max dalam terapi ini." Putus Rihan membuat senyum tipis Alex terlihat.
"Saya tidak ingin gadis lain menyentuh tubuh ini ataupun saya menyentuh tubuh gadis lain selain dia yang benar-benar saya harapkan." Batin Alex lalu menatap Rihan dengan pandangan tidak biasa.
***
Jika ada kritik dan saran dan para pembaca sekalian, jangan sungkan untuk menulisnya di kolom komentar. Terima kasih.
See You.
__ADS_1