
Yooooo.... Aku kembali!
Mari kita lanjut kisah Rihan.
▪︎
▪︎
▪︎
Kini mobil Rihan terparkir sempurna di depan mansionnya diikuti oleh mobil Alex. Biasanya Alex yang lebih dulu sampai dan menunggu untuk membuka pintu mobil sang majikan, tetapi Rihan tanpa menunggu dibukakan pintu. Rihan keluar dan berjalan dengan agak cepat dari biasanya. Rihan sangat khawatir pada sahabatnya membuatnya tidak tenang.
Sesampainya Rihan di depan kamar Phiranita, tatapan tajam dilayangkan pada Dokter Damar dan kedua perawat di sampingnya yang setia berdiri menunggunya. Tanpa mengatakan apapun, Rihan kemudian masuk ke dalam diikuti oleh Dokter Damar dan yang lainnya. Alen juga baru saja bergabung karena ada beberapa hal yang harus dia lakukan.
"Sampai kapan obat penenangnya habis?" Rihan bertanya dengan nada tidak bersahabat, tetapi pandangannya melembut pada Phiranita yang terlihat tenang dalam tidurnya.
"4 jam lagi, Presdir."
"Aku ingin melihat hasilnya." Pintah Rihan dengan tangannya terulur meminta iPad yang ada di tangan Dokter Damar.
"Ini, Presdir."
Rihan membuka iPad melihat hasil scan kepala Phiranita sekaligus hasil pemeriksaannya.
"Tambahkan lagi penenangnya. Bila perlu hingga besok pagi."
"Saya pikir anda ingin berbicara dengan nona Phi sehingga dosis yang saya berikan tidak terlalu banyak." Balas Dokter Damar takut.
"Biarkan Tata beristirahat dulu. Aku akan menemuinya besok pagi." Rihan berbalik dan pergi dari sana.
"Baik, Presdir."
Belum sampai di depan pintu keluar, Rihan berbalik dan menatap Dokter Damar.
"Tidak ada istirahat hingga besok pagi. Anggap itu hukuman untukmu."
"Ba...baik, Presdir." Jawab Dokter Damar dengan lesuh.
***
Waktu masih menunjukan pukul 2 siang dan Rihan tidak memiliki sesuatu untuk dikerjakan hari ini sehingga dia hanya duduk bersantai di balkon kamarnya ditemani oleh Alex dan Alen yang selalu setia di sampingnya.
Rihan duduk bersantai sambil menatap awan yang hari ini begitu cerah tidak seperti kemarin yang mendung karena hujan lebat mengguyur bumi.
"Tidak ada pekerjaan hari ini jadi kalian bisa bersantai. Duduk dan temani aku minum!" Perintah Rihan adalah apa yang harus dilakukan dua asistennya itu.
"Baik, Nona." Serempak Alex dan Alen kemudian mengambil posisi duduk di dua kursi yang kosong di sana, yang berhadapan langsung dengan sang majikan.
Karena tidak ada pekerjaan lagi hari ini yang mengharuskan Rihan memakai pakaian laki-laki sehingga dia kini hanya memakai pakaian santai dan duduk di teras balkon kamarnya yang juga disediakan meja kecil disertai dengan 4 kursi kosong yang mengelilinginya.
"Kak Alex, Kak Alen... sampaikan kapan aku harus seperti ini?" Rihan membuka suara dengan datar tapi bagi Alex dan Alen yang sudah menemaninya selama ini tahu jelas maksud perkataan itu.
Tanpa kata, kedua mata Alen berkaca-kaca karena terharu dipanggil kakak secara langsung oleh orang yang sangat mereka hormati.
"Nona..."
__ADS_1
"Aku sebenarnya tidak ingin lagi berurusan dengannya. Semakin aku bertemu dengannya, ingatan itu selalu datang dan menggangguku. Kalian tahu kak, aku hanya ingin menjalani hari-hariku seperti dulu lagi, sayangnya ingatan itu tetap ada. Bertemu dan tidak dengannya ingatan itu tetap ada. Apa aku harus membalas perbuatannya baru ingatan itu hilang? aku sendiri tidak yakin jika itu berhasil." Gumam Rihan masih dengan nada yang sama. Sepertinya, membicarakan masa lalu tidak lagi menjadi hal sensitif baginya.
"Meski saya tidak merasakan apa yang nona alami di masa lalu, tapi jika ingatan itu tidak bisa dilupakan maka apa yang mereka lakukan benar-benar sudah fatal. Saya juga tahu jika kita membalas mereka sama seperti apa yang mereka lakukan pada kita, itu artinya kita sama dengan mereka. Hanya saja, hati ini akan merasa tenang jika orang lain tidak mengalami hal yang sama dengan kita." Alen mengutarakan pendapat lalu menatap Rihan sedih.
Rihan hanya berdehem dan mengangguk tetapi pandangannya tetap lurus ke arah awan di langit sana yang begitu cerah. Sedangkan Alex, matanya tidak berkedip menatap Rihan. Dalam hati dia sangat ingin menjadi tempat bersandar untuk semua keluh-kesah majikannya.
"Bagaimana denganmu, Kak?" Pandangan Rihan beralih menatap tepat di kedua bola mata Alex membuat asisten Rihan akhirnya bisa berkedip.
"Sebaik apapun seseorang, dia juga akan merasa tersakiti jika diperlakukan tidak adil berulang kali. Ketika dia memilih untuk menghindar dari rasa sakit itu, sakit itu akan selalu membayanginya. Dia tidak ingin membalas mereka, tapi jujur... melihat orang yang menyakitinya bahagia di atas penderitaannya itu mungkin lebih sakit.
Sederhananya adalah... menyadarkan orang yang menyakitinya sedikit tidak apa-apa." Perkataan Alex tanpa sadar mengukir senyum tipis tidak terlihat di bibir Rihan yang kembali menatap awan.
"Seperti yang dikatakan kak Alex, sedikit menyadarkannya tidak masalah, 'kan?"
"Iya, Nona."
"Dimana ponselku?" Tanya Rihan setelah beberapa saat mereka diam di sana.
"Di sini, Nona." Jawab Alen lalu memberikan ponsel Rihan.
"Terima kasih, Kak."
"Sama-sama, Nona." Balas Alen dengan senyum senang karena masih ada kata 'kak' di sana.
Mengambil ponselnya, Rihan lalu mencari nomor Albert dan memanggilnya.
"Iya, Rei?"
"Tata sudah beristirahat jadi kalian tidak usah datang."
Hening sebentar kemudian Albert melanjutkan.
"Apa terjadi sesuatu dengan Ira selama terapi?"
"Alex akan mengirim hasil pemeriksaan Tata padamu."
Setelah itu Rihan langsung menutup panggilannya, membuat Albert di seberang sana penasaran setengah mati.
"Kirim hasil scan Tata pada Albert, Kak." Rihan lalu memberikan ponselnya lagi pada Alen.
"Baik, Nona." Balas Alex lalu mengirim file kesehatan Phiranita pada Albert melalui iPad miliknya.
***
Pukul 5 pagi, Rihan sudah rapi dengan pakaian kasual untuk ke kampus. Sebelum itu, Rihan akan melihat keadaan sahabatnya yang mungkin sebentar lagi atau 1 jam lagi sadar.
Rihan ditemani oleh kedua asistennya menuju kamar Phiranita. Setelah masuk, mereka bisa melihat Dokter Damar dan dua orang perawat sedang duduk sambil menatap Phiranita yang sedang tidur. Dari keadaan mereka terlihat jelas jika mereka tidak tidur semalaman.
Mereka yang melihat kedatangan Rihan segera berdiri dan menyambutnya. Dokter Damar sedikit oleng karena terlalu lama duduk. Maklum saja karena faktor usia.
"Selamat pagi, Presdir."
"Kalian boleh kembali dan beristirahat. Sebelum itu, ikuti Alex dan ambil vitamin untuk kalian. Terima kasih sudah menjaga Tata semalaman." Ucap Rihan setelah berdiri di samping tempat tidur Phiranita.
"Sama-sama presdir, dan terima kasih kembali untuk kebaikan anda. Ini sudah menjadi tugas kami. Kami pamit, Presdir." Dokter Damar mewakili dua perawat di sampingnya yang menunduk.
__ADS_1
"Hm."
Setelah kepergian ketiga orang itu mengikuti Alex, Rihan beralih menatap Alen yang masih ada di sana dan menyuruhnya menunggu di luar karena dia akan menunggu hingga Phiranita sadar dan ingin berbicara dengannya. Alen kemudian pamit dan keluar.
Rihan duduk di tepi tempat tidur Phiranita sambil menatap wajah teduh sahabatnya itu.
"Maaf karena harus melakukan ini padamu. Aku hanya ingin kamu cepat sembuh dan beraktivitas seperti biasa layaknya orang lain. Apa yang kamu alami ini semuanya salahku. Aku selalu berharap yang terbaik untukmu, Tata. Ingatlah, jika ada aku yang akan selalu berdiri paling depan untukmu." Gumam Rihan sambil mengelus pelan tangan Phiranita yang digenggamnya.
Sambil menunggu Phiranita sadar, Rihan tidak berbicara lagi dan hanya menatap sahabat masa kecilnya itu yang terlihat tertidur lelap. Tidak lama kemudian Rihan merasakan pergerakan kecil jari tangan Phiranita yang dia genggam. Melihat sekilas kedua tangan yang bertaut itu, Rihan lalu beralih menatap kedua mata Phiranita yang terlihat terbuka secara perlahan-lahan.
Setelah mata itu terbuka dan sepertinya berusaha menyesuaikan suasana tempatnya berada.
"Tolong jangan sentuh aku... Aku mohon! jangan sentuh aku!" Histeris Phiranita ketika terbangun dan duduk tanpa menyadari keberadaan Rihan.
Phiranita kembali berteriak histeris sambil menutup kedua telinga dengan posisi duduk meringkuk di atas tempat tidurnya. Menghela nafasnya sebentar, Rihan mendekati Phiranita yang masih syok.
"Hei... Ini aku Rei, tenanglah! Tidak akan ada yang menyakitimu selama ada aku di sini." Tenang Rihan dan berusaha menurunkan tangan Phiranita yang menutup telinganya.
Phiranita yang mendengar suara Rihan segera mengangkat kepalanya dan menatap Rihan dengan mata berkaca-kaca kemudian segera memeluk erat Rihan.
"Max ingin menyakitiku, Han. Jangan tinggalkan aku lagi bersamanya, aku takut!" Keluh Phiranita sambil menangis di pelukan Rihan.
"Aku tahu, maafkan aku. Tapi Tata..."
"Tolong jangan tinggalkan aku lagi, Han."
"Lihat aku!" Rihan melepas pelukan keduanya kemudian memegang kedua bahu Phiranita yang berada beberapa senti di depannya.
"Selamanya aku tidak akan ada bersamamu. Jadi..."
"Maksudnya apa, Han? Jangan tinggalkan aku!"
"Dengarkan aku, Tata. Jika aku tidak ada bersamamu, kamu harus bisa melindungi dirimu sendiri. Di saat kamu dalam kesulitan dan tidak ada seorangpun yang bisa membantumu, maka hanya dirimu sendiri yang bisa diandalkan. Hanya kamu yang bisa menjaga dirimu sendiri.
Jangan biarkan sakitmu, kelemahanmu, traumamu menyakiti dirimu sendiri. Kamu harus berjuang melawan itu semua. Kamu ingin sembuh, 'kan? Kamu ingin jalan-jalan bersamaku, 'kan?" Phiranita hanya membalas dengan anggukan sehingga Rihan kembali melanjutkan.
"Jika kamu ingin sembuh dan jalan-jalan bersamaku, maka kamu harus bisa melawan traumamu. Lawan dia! Lawan mereka yang berusaha menyakitimu. Anggap itu adalah terapi untuk kesembuhanmu. Jika kamu berhasil, jika kamu sembuh, aku janji akan mengabulkan semua permintaanmu. Jadi, maukah kamu melawan traumamu?" Rihan berbicara dengan serius sambil menatap dalam mata Phiranita.
"Ak...aku ingin sembuh. Aku ingin kita jalan-jalan bersamamu. Aku akan melawan mereka yang menyakitiku. Aku ingin melawan traumaku, Han. Aku ingin sembuh!" Tekad Phiranita lalu tersenyum.
"Aku pegang janjimu! Selain menuruti permintaanmu nanti, aku juga sudah menyiapkan hadiah untukmu. Jadi kamu harus sembuh, oke?"
"Iya, Han." Balas Phiranita lalu mengangguk.
"Ya, sudah. Kalau begitu aku akan meminta kak Alen membantumu bersiap dan kita sarapan bersama."
"Mm.."
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.
See You.
__ADS_1