Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Pertunjukan


__ADS_3

Di salah satu ruangan bernuansa putih, seorang pria sedang duduk dengan kedua tangan terpaut satu sama lain menopang dagunya. Di sebelah pria itu berdiri seorang gadis yang memiliki fitur wajah yang sama persis dengannya. Jelas sekali, karena keduanya kembar. Kedua kakak beradik ini tidak lain adalah asisten pribadi Rihan. Alex dan Alen.


"Sangat sulit mengetahui keberadaan penyihir itu. Bagaimana kakak bisa menangkapnya?" Tanya Alen sambil menatap ruangan di depannya yang hanya dibatasi oleh sebuah kaca, dimana orang diluar bisa melihat ke dalam, sedangkan orang di dalam tidak bisa melihat keluar. Ruangan itu mirip ruang introgasi.


"Menurutmu siapa yang bisa menemukannya?" Tanya balik Alex dan menatap ke arah yang sama dengan Alen.


"Anak presiden itu. Atau aku salah?" Tebak Alen.


"Tepat. Kakak selalu penasaran dengan pria itu. Dia sangat misterius. Untuk menemukan seseorang, baginya itu bukan hal yang sulit. Kakak bersyukur dia di pihak kita. Entah apa yang terjadi, jika dia di pihak lawan." Jawab Alex dan melirik Alen sekilas kemudian beralih menatap ruangan di depannya dimana seorang wanita terlihat sedang terlelap di sebuah brankar.


Beberapa hari lalu, Zant menelpon Alex dan mengatakan keberadaan Elle. Zant juga menyuruh Alex mengurus wanita yang diberi julukan penyihir itu.


Alex dengan senang hati menerimanya. Awalnya Alex menolak karena dia ingin majikannya yang mengurus wanita itu sendiri. Akan tetapi, Zant tidak ingin itu terjadi. Zant tidak ingin Elle berkeliaran dengan bebas begitu saja. Jika menunggu gadis kecilnya bangun, bukankah itu akan membuat Elle senang dan mulai merencanakan hal buruk lagi?


Bagi Zant, mengurus wanita seperti Elle itu hal yang mudah. Zant juga tidak ingin gadis kecilnya ketika bangun, harus mengurus Elle lagi. Pria itu sedang merencanakan sesuatu untuk dilakukan setelah gadis kecilnya bangun. Yang jelas, Zant ingin Rihan bersenang-senang setelah bangun.


"Lalu, apa yang akan kita lakukan padanya?" Tanya Alen.


"Banyak hal bisa dilakukan padanya. Intinya, memberinya siksaan dua kali lipat dari apa yang sudah dia lakukan selama ini. Tapi sebelum itu, kita harus menunggu beberapa orang dulu." Jawab Alex tenang.


"Siapa?" Tanya Alen dengan kening berkerut.


"Tunggu saja!"


"Hm."


Beberapa menit kemudian, pintu yang tadinya tertutup, terbuka. Seorang pria yang Alen kenal masuk dengan wajah kebingungan.


"Ada apa memanggilku ke sini? Aku juga sudah membawa pesananmu." Suara pria yang baru masuk itu menghampiri Alex dan Alen. Di belakang pria itu ada asistennya.


"Kenapa Tuan Brand harus ada di sini?" Tanya Alen pada Alex.


"Tentu saja dia harus melihat sahabatnya itu," Jawab Alex dan menunjukkan ruangan di depannya dengan dagunya.


"Hei... dia bukan sahabatku. Aku tidak punya sahabat seperti penyihir itu." Kesal Brand setelah duduk di sofa yang disediakan di sana. Dom hanya berdiri di sebelahnya.


Lima menit setelah Brand datang, pintu kembali terbuka. Kali ini yang datang adalah Logan. Bukan hanya Logan, ada Mentra dan Beatrix juga. Alen hanya menatap mereka tidak mengerti.


"Meski belum semua, tapi ada baiknya kita mulai saja." Alex membuka suara.


"Apa yang ingin kamu lakukan padanya?" Tanya Logan penasaran.


"Lihat saja!" Jawab Alex lalu mengalihkan pandangannya pada laptop yang baru saja Alen geser ke depannya.


Alex fokus menatap ke layar laptop, tetapi jari-jarinya bergerak pelan mengoperasikan keyboard. Hanya beberapa detik, Alex kemudian menekan enter.


Klik


"Akh... sialan...! SIAPA YANG MELAKUKAN INI PADAKU?" Teriak wanita di dalam ruang introgasi itu. Wanita itu tidak lain adalah Elle.


"Caramu membangunkannya sungguh ekstrem, Lex." Komentar Brand sambil melipat tangannya di dada.


"Bukankah itu sakit?" Kali ini Logan berkomentar sambil menatap Elle yang sedang berteriak kesakitan karena sengatan listrik di brankar yang dia tempati yang terhubung langsung ke borgol yang mengikat kedua kaki dan tangannya di setiap sisi brankar.


Gedung yang mereka pakai ini adalah bekas sebuah ruko yang memiliki ruang bawah tanah sebagai tempat penyimpanan barang. Dalam ruang bawah tanah itu, ada lagi ruang pendingin minuman dan buah-buahan yang kemudian Alex pakai sebagai ruangan untuk mengurung Elle. Alex juga menyulap ruangan itu, dengan meletakkan brankar listrik dimana Elle sedang berbaring di atasnya.


Selain itu, Alex juga memasang mirror glass atau kaca cermin yang sisi satunya bisa menembus sisi kaca yang lain, sedangkan sisi satunya seperti cermin. Ada juga beberapa hal yang Alex lakukan dalam ruangan itu selama beberapa hari lalu, untuk dipakai hari ini.

__ADS_1


"Sakit itu tidak seberapa dengan apa yang sudah dia lakukan." Balas Alen datar.


Alex terus membiarkan sengatan listrik itu menyengat tubuh Elle hingga pingsan. Setelah pingsan, Alex tidak membiarkan Elle pingsan begitu saja. Alex kembali menatap layar laptop, menekan beberapa keyboard.


Klik


"Siapapun itu, tolong berhenti! aku sudah tidak kuat..." Ringis Elle di dalam sana, karena air dingin meluncur turun seperti rintik hujan dari atap ruangan itu dan membasahinya. Sekitar 10 menit Alex membiarkan air sedingin salju itu membasahi Elle hingga wanita itu sadar.


Melihat Elle yang sudah sadar, Alex segera mematikan fungsi air di atap itu, dan kembali menyalakan aliran listrik di brankar, sehingga Elle kembali berteriak kesakitan karena sengatan listrik. Kali ini lebih sakit dari sebelumnya, karena tubuhnya yang basah.


"Kamu akan membunuhnya dengan cara seperti ini?" Tanya Brand santai. Pria itu bisa melihat jika Elle sudah sangat lemah.


"Ini terlalu mudah! Dia harus merasakan bagaimana sakitnya perbuatannya pada orang lain." Jawab Alex datar.


Alex mematikan aliran listrik, karena jam tangannya yang terhubung dengan jam tangan yang dipasang di pergelangan tangan Elle menunjukkan bahwa detak jantung wanita itu mulai melemah.


"Jadi ini belum berakhir?" Tanya Logan menatap Alex yang sedang sibuk dengan ponselnya.


"Masih banyak yang harus dilakukan padanya. Biarkan dia istirahat sebentar untuk pertunjukan berikutnya," Jawab Alex tenang dan tetap fokus dengan ponselnya.


20 menit kemudian, Alex kembali menatap jam tangannya. Ternyata denyut jantung Elle sudah kembali normal. Alex menyeringai kemudian membangunkan Elle dengan mengaktifkan aliran listrik pada brankar itu.


"BRENGSEK! KELUAR KAMU SIALAN... KAMU BELUM TAHU SIAPA AKU. LEPASKAN AKU!" Teriak Elle seperti orang kesetanan setelah bangun karena sengatan listrik di seluruh tubuhnya. Alex hanya memberi sedikit sengatan untuk membangunkannya.


"Aku juga tidak ingin tahu orang seperti apa kamu." Balas Alex santai lalu kembali menekan keyboard laptop menekan pengaturan kaca di depan mereka.


Klik


Srek


Yang tadinya kaca cermin, kini berubah menjadi kaca biasa, sehingga kedua sisi menjadi tembus pandang. Alex juga sengaja melepas borgol rantai yang mengikat kaki dan tangan Elle sehingga wanita itu bebas.


Meski terhalang oleh kaca di depan mereka, tetapi suara orang di dalam ruangan pendingin itu dan orang diluar dapat didengar dengan sangat jelas.


Logan hanya menatap datar Elle di dalam sana. Bagi Logan, apa yang wanita itu lakukan selama ini sangatlah fatal. Asisten Neo itu masih penasaran alasan dibalik tindakan Elle selama ini. Meski Logan tahu itu sakit, tetapi memikirkan apa yang sudah dilakukan wanita itu, Logan segera menepis rasa ibanya. Wanita itu sangat pantas menerima semua siksaan itu.


"Itu pantas untukmu!" Balas Logan datar.


"Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan, tolong lepaskan aku, Gan. Jangan percaya apapun yang mereka katakan. Mereka menjebakku. Aku tidak melakukan apapun. Tolong bebaskan aku dari sini." Elle berteriak sambil mengedor kuat kaca di depannya.


"Di mana pesananku?" Tanya Alex menatap Brand sekilas.


"Diluar! Panggil mereka masuk, Dom." Perintah Brand. Dom mengangguk dan segera bergegas keluar.


"Untuk apa para pria ini?" Tanya Logan bingung.


"Untuk bermain tentu saja," Jawab Alex datar.


"Jangan bilang..." Ucap Logan syok sudah menebak apa yang akan Alex lakukan.


"Aku hanya ingin dia merasakan apa yang sudah dia lakukan selama ini." Balas Alex tenang.


"Berarti, kamu ingin dia merasakan rasanya disengat listrik, dan juga, kamu ingin dia merasakan bagaimana digilir oleh beberapa pria sekaligus. Kalau begitu, selanjutnya memberinya racun, cambukan, tamparan, sayatan. Sepertinya ada yang kurang. Tapi apa?" Sahut Mentra sambil menatap jarinya yang barusan menghitung apa saja yang sudah Elle lakukan selama ini.


"Terakhir, bonus untuknya." Sambung Beatrix.


"Aku setuju! Kamu memang hebat, Sayang." Mentra lalu memeluk posesif pinggang sang kekasih.

__ADS_1


"Kalian gila? Bagaimana mungkin kalian melakukan itu padaku?" Teriak Elle tidak terima dengan perkataan Mentra.


"Kenapa tidak?" Balas sebuah suara yang baru masuk mengalihkan perhatian semua orang.


"Ly...an? Kenapa kamu juga ada di sini?" Tanya Elle kaget tidak percaya.


"Tentu saja untuk menonton pertunjukan." Jawab Lyan yang kita kenal dengan nama Zant.


"Ck... siapa pria ini?" Tanya Brand dalam hati, karena ini pertama kalinya dia bertemu dengan Zant.


Zant dengan langkah tenang segera duduk di sofa tunggal. Ada seorang pria muda mengekorinya dan berdiri di samping Zant setelah pria itu duduk.


"Sebenarnya, apa yang pria ini rencanakan?" Tanya Alex dalam hati menatap menyelidik pada Zant.


Alex masih mengingat jelas perkataan Zant beberapa hari lalu di panggilan telepon, bahwa pria itu akan ikut dalam pertunjukan nanti.


"Apa maksudmu?" Tanya Elle tidak mengerti.


"Lanjutkan pertunjukannya." Zant melirik Alex sekilas.


"Total mereka ada 10 orang. Apakah masih kurang?" Tanya Brand santai sambil menatap 10 orang pria di depannya.


"Itu cukup." Balas Alex tenang.


Elle di dalam sana mulai pucat ketika melihat wajah sangar dan penuh nafsu 10 pria yang menatapnya. Kesepuluh pria itu masuk lewat pintu samping dan menghampiri Elle.


"Beraninya kalian orang rendahan ingin menyentuhku? Menjijikan! Menjauh dariku!" Marah Elle yang berusaha menyembunyikan rasa takutnya.


"Orang rendahan ini akan memuaskanmu, Nona. hahahah..." Balas seorang pria kemudian kesembilan pria lainnya tertawa bersama.


"Sepertinya nona sudah lupa dengan kami."


"Apa maksudmu? Aku tidak mengenal kalian. Berhenti di sana. Jangan mendekat... Lyan! tolong aku. Bagaimana bisa kamu membiarkan mereka menyentuhku? Kamu tahu, sejak dulu aku mencintaimu. Kenapa melakukan ini padaku?"


Semua orang dalam ruangan itu syok dan beralih menatap penuh tanya pada Zant. Mereka penasaran apa hubungan Zant dan Elle.


"Dan kamu tahu, sejak dulu hanya satu nama dalam hatiku." Balas Zant santai. Pria itu mengabaikan tatapan semua orang padanya.


"Gadis kecilmu sudah mati sejak dulu. Bagaimana mungkin kamu masih menunggunya? Hanya ada aku di sini. Aku yang cocok bersanding denganmu. Aku tulus mencintaimu Zant. Keluarkan aku dari sini, dan kita akan menikah. Eum... Akh... jangan menyentuhku, sialan..." Elle berbicara dan diakhiri dengan teriakan marah karena seorang pria berusaha menariknya menjauh dari kaca kemudian pria lainnya mulai melucuti pakaian Elle satu persatu dan menyetubuhinya secara bergilir.


"Gadis kecil?" Ulang Alex dalam hati dan mengerutkan kening.


Alen dan Beatrix segera memalingkan kepala ke arah lain karena tidak ingin melihat pemandangan di depannya mereka. Keduanya merasa ngeri melihat bagaimana brutalnya 10 pria itu memperkosa Elle.


Elle hanya berteriak kesakitan sekaligus menikmati semua perlakuan para pria itu padanya.


"Bagaimana tidak trauma, kelakuan mereka sebrutal itu." Gumam Brand mengingat trauma Phiranita karena kejadian yang sama.


Satu jam lebih sepuluh pria itu menggilir Elle hingga wanita itu pingsan. Bukannya berhenti, mereka terus melanjutkan hingga Elle kembali bangun. Setelah setengah jam, dia pingsan lagi.


"Sudah cukup! Kalian boleh kembali." Ucap Alex datar. Sepuluh pria itu segera berpakaian dan keluar dari sana meninggalkan Elle yang pingsan dengan tubuh polos tanpa pakaian di lantai.


"Bunuh para pria itu. Setelah itu, beri kompensasi pada keluarga mereka jika mereka ada." Perintah Alex pada seorang pengawal yang baru saja masuk untuk menerima perintah.


"Kenapa membunuh mereka?" Tanya Logan penasaran.


"Mereka adalah orang yang sama yang membuat Ira trauma." Jawab Brand dan bersandar sambil melipat tangannya di dada.

__ADS_1


"Kalau begitu, jangan bunuh mereka. Biarkan mereka aku yang urus. Sudah lama aku mencari mereka," Kesal Logan sambil mengepalkan tangannya.


"Lakukan seperti yang dia katakan." Ujar Alex pada pengaw tadi.


__ADS_2