
3 Hari berlalu.
Keluarga Lesfingtone dan Keluarga Veenick begitu bahagia karena kehadiran tiga anggota baru sekaligus dalam keluarga mereka. Tapi mereka juga sedih, karena kedua orang tua dari ketiga anak itu masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
Rihan yang terbaring lemah karena komplikasi penyakit jantungnya yang tiba-tiba muncul saat proses persalinannya, sehingga kondisinya cukup berbahaya. Untungnya ada Dokter Galant yang dibantu oleh Gledy sebagai pemberi informasi, sehingga Rihan bisa ditangani. Jadinya kondisinya sudah membaik. Hanya menunggu dia sadar.
Sedangkan Zant, suami posesif Rihan itu lumayan parah karena kecelakaan yang dialaminya. Bukan hanya luka luar, tetapi luka dalam yang membuatnya harus dioperasi di bagian kepalanya.
Kondisi Zant sedikit parah karena pria itu tidak langsung mengobati lukanya, tetapi memaksakan diri menemui istrinya. Semua keluarga bersyukur karena Zant selamat dari kecelakaan itu.
Kejadian sebenarnya dari kecelakaan itu, adalah setelah Zant membanting setir mobil ke kiri, pria itu memaksakan kekuatannya untuk menerobos keluar dari mobil, sehingga dia selamat dari kecelakaan maut itu.
Zant karena memaksa melompat keluar, sehingga kepalanya terbentur cukup kuat dengan aspal jalan. Jika Zant tidak memaksa menerobos keluar mobil, sudah pasti Rihan akan menyandang status janda sekarang.
Karena mobil itu dengan cepat menabrak mobil Zant, dan juga bagian cctv yang tidak menangkap bagian Zant yang menerobos keluar dari mobil, sehingga semua orang berpikir Zant masih ada dalam mobil.
Alex yang sampai di lokasi kejadian segera mencari Zant di dalam mobil pria itu. Tapi ternyata tidak ada. Alex lalu mendapati beberapa orang yang membantu Zant berdiri. Alex bersyukur ternyata Zant baik-baik saja. Hanya pengemudi mobil ugal-ugalan itu yang mati di tempatnya.
***
"Bagaimana kondisi Rihan dan Zant?" Tanya Mommy Rosse pada Dokter Galant dengan wajah khawatir.
"Keadaan nona sudah membaik. Nona benar-benar kuat sehingga bisa melawan sakit jantungnya selama proses bersalin. Tidak lama lagi nona akan sadar. Sedangkan Tuan Zant, setelah operasi, keadaannya sudah aman. Dia sudah melewati masa kritis. Kita hanya perlu menunggu Tuan Zant sadar, dan kita akan tahu apakah ada efek samping setelah operasi atau tidak." Dokter Galant menjelaskan dengan serius.
"Syukurlah! Kami serahkan Rihan dan Zant padamu, Lan." Daddy Jhack menepuk pelan bahu Dokter Galant.
"Sudah menjadi tugas saya, Tuan besar."
"Terima kasih."
"Sama-sama, Tuan. Kalau begitu saya pamit."
"Ya."
Setelah kepergian Dokter Galant, para orang tua bergegas menuju ruang khusus dimana ketiga bayi mungil yang baru berusia beberapa hari itu dirawat.
"Betapa lucunya mereka," Mommy Lily tersenyum gemas melihat wajah terlelap ketiga anak kembar Rihan dan Zant.
Para orang tua sedang berdiri sambil menatap ketiga bayi mungil yang terbaring dalam box kaca yang berukuran besar.
Awalnya mereka ditempatkan secara terpisah di box masing-masing, tetapi ketiga bayi itu menangis dengan keras.
Mereka seakan menolak untuk dipisahkan. Akhirnya pihak medis menyiapkan bos besar untuk menempatkan ketiga bayi itu di dalam. Dan mereka seketika diam. Benar-benar kasih sayang yang sudah terjalin sejak dini.
"Iya. Benar-benar menggemaskan. Ketiganya benar-benar mirip dengan kedua orang tua mereka. Cantik dan tampan." Mama Shintia juga ikut memuji. Yang lain mengangguk setuju dengan pendapat Mama Shintia.
"Mereka sudah diberi nama atau belum?" Tanya Papa Jhon setelah menyadarinya.
"Kita hanya perlu menunggu kedua orang tua mereka sadar, baru diberi nama. Tidak mungkin kita memberi nama tanpa orang tua mereka." Daddy Willy membuka suara sambil menatap penuh kasih sayang ketiga cucunya.
"Itu benar! Rihan dan Zant belum sadar. Kita hanya perlu menunggu," Daddy Jhack mengangguk setuju.
***
Ruang rawat Rihan dan Zant begitu berisik. Semua orang sedang berkumpul bersama. Para orang tua sedang berebut untuk menggendong anak-anak Rihan dan Zant. Sedangkan para anak muda hanya tertawa melihat tingkah orang tua dan atasan mereka.
Saking asiknya dengan kegiatan masing-masing, mereka tidak menyadari bahwa Rihan sudah bangun dari tidurnya dan menatap mereka dalam diam.
Rihan juga tidak berniat menyapa mereka. Dia hanya ingin melihat kebahagiaan keluarganya. Senyum tipis terukir di bibirnya melihat betapa senang keluarganya.
Rihan tiba-tiba mengerutkan kening ketika menyadari keberadaan suaminya yang berbaring di ranjang sebelahnya. Rihan berusaha bangun ingin menghampiri ranjang suaminya.
"NONA! Anda sudah sadar." Teriak Beatrix yang merupakan orang pertama yang melihat Rihan.
Semua orang lalu menoleh menatap Rihan yang kaget dan kembali duduk di ranjangnya, padahal kedua kakinya sudah menyentuh lantai.
"Sayang, akhirnya kamu bangun juga."
Mereka begitu senang melihat Rihan yang sudah sadar.
"Saya akan memeriksa nona dulu." Dokter Galant dengan cepat menghampiri Rihan.
__ADS_1
Rihan hanya menghela nafas dan membiarkan Dokter Galant membantunya berbaring.
"Bagaimana keadaan, Rihan?" Mommy Rosse bertanya dengan semangat.
"Nona baik-baik saja, Nyonya." Dokter Galant menjawab dengan senyum tipis.
"Syukurlah!"
Semua yang mendengarnya, bernafas legah. Kini mereka tinggal menunggu Zant yang yang masih terlelap.
"Butuh sesuatu?" Tanya Alex yang berdiri di sebelah ranjang Rihan. Sebelumnya, Alex sudah membantu Rihan duduk dengan bersandar pada kepala tempat tidur.
"Air."
Alen yang berada dekat pantry mini segera menuangkan segelas air dan membawanya untuk Rihan.
"Terima kasih, Kak."
"Sama-sama."
"Berapa hari aku pingsan?"
"3 hari, Nona." Rihan hanya mengangguk pelan.
"Bagaimana keadaan suamiku?" Rihan menatap sayu brankar Zant di sebelahnya.
"Tuan Zant baik-baik saja. Kita hanya perlu menunggunya sadar, setelah itu kita akan tahu apakah ada efek samping setelah operasi." Rihan kembali mengangguk pelan pada Dokter Galant.
"Sayang, lihatlah! Dia benar-benar menggemaskan." Mommy Lily menghampiri Rihan dengan membawa anak bungsu Rihan dan Zant.
Rihan tersenyum lembut pada si bungsu yang kini sudah dalam gendongannya. Satu kecupan lembut Rihan berikan di dahi sang anak yang sudah terlelap.
Rihan menggendong si bungsu selama beberapa menit, kemudian memberikannya pada Mommy Lily untuk dibaringkan dalam box.
Kali ini Rihan menggendong anak pertamanya yang sedari tadi tidak berhenti tersenyum. Meski tidak melihat siapa yang menggendongnya, tapi bayi mungil itu sepertinya sudah tahu bahwa yang menggendongnya adalah sang ibu.
"Mereka bertiga benar-benar cerdas, Sayang." Mama Sintia membuka suara mengalihkan perhatian Rihan.
"Iya, Sayang. Sudah tiga hari berlalu, tapi mereka tidak pernah menangis sedikitpun. Mereka hanya menangis jika dipisahkan. Sepertinya mereka tahu jika kedua orang tuanya sedang sakit. Kasih sayang ketiganya benar-benar terlihat jelas." Rihan tersenyum senang mendengarnya.
"Diantara ketiganya, dia yang paling pendiam. Sampai saat ini, dia bahkan tidak menunjukan senyumnya sedikitpun. Ketika besar nanti, Daddy bisa pastikan, dia akan menjadi pribadi yang dingin." Kali ini Daddy Jhack yang berkomentar sambil menatap cucu keduanya yang tetap tenang di gendongannya.
Rihan hanya bisa tersenyum merespon perkataan keluarganya tentang ketiga anaknya.
"Sudah memikirkan nama untuk mereka?" Tanya Daddy Willy.
"Tunggu daddy mereka sadar, Dad."
"Baiklah."
"Jangan lupa, jika aku harus ikut andil dalam memberi nama pada anak baptisku." Suara Neo yang baru masuk.
Karena semua orang sudah memaafkan Neo, sehingga pria itu tidak sungkan lagi ketika berada di tengah-tengah keluarga ini.
Tidak semua orang memaafkan Neo. Ada satu orang yang sejak awal sudah memutuskan untuk tidak memaafkan Neo meski semua orang memaafkannya. Siapa lagi kalau bukan Alex.
Alex tetap saja merasa apa yang dialami Neo tidak seberapa dengan sakit yang dialami adik kesayangannya. Bayangkan, dia harus koma selama 2 tahun. Itu bukan waktu yang sedikit. Dan sesuai janjinya, Alex tidak akan memaafkan Neo.
Sampai saat ini pun, Alex selalu memberi wajah datar pada Neo. Meski Neo sudah berusaha membuat Alex tersenyum, tapi itu sia-sia. Alex tidak mau merespons Neo sedikitpun.
"Aku belum setuju kamu menjadi ayah baptis anakku!"
Semua yang ada di sana terkejut mendengar suara itu. Meski terdengar lemah, tapi mereka senang, karena ayah tiga anak kembar itu akhirnya sadar.
"Jangan bergerak dulu, Kak." Dokter Galant menghentikan Zant yang berusaha bangun.
"Baiklah." Zant menghembuskan nafas lelah karena dia sudah tidak sabar menghampiri istri dan anaknya.
"Apa yang kakak rasakan sekarang?" Tanya Dokter Galant setelah memeriksa Zant.
"Tidak ada. Hanya sedikit lemas saja."
__ADS_1
"Syukurlah! Itu berarti tidak ada efek samping setelah operasi."
Semua orang bersyukur mendengar kabar baik ini.
"Jadi, aku sudah bisa turun, 'kan."
"Sebenarnya belum, tapi sudahlah." Dokter Galant tahu apa yang pasien merangkap majikannya ini inginkan.
"Terima kasih." Zant tersenyum tipis karena diberi izin.
Alex lalu membantu Zant turun dan memapahnya menghampiri Rihan yang sedari tadi hanya menatap suaminya.
"Terima kasih, karena masih bersamaku. Terima kasih, karena sudah memberiku tiga malaikat lucu ini. Terima kasih untuk pengorbananmu. Terima kasih, My Queen. Aku mencintaimu." Zant berbicara dengan lembut pada istrinya. Tidak lupa juga, ciuman lama di kening istrinya yang sudah memberinya 3 anak kembar sekaligus.
"Mereka mulai lagi," Avhin selalu menjadi orang yang berkomentar melihat kemesraan pasangan dengan tiga anak kembar ini.
"Iri, Kak? Mau aku carikan kakak ipar?" Canda Alen dan terkekeh. Semua orang tertawa membuat Avhin menjadi kesal.
"Aku juga mencintaimu, My King."
"Karena Lyan sudah bangun, sekarang waktunya memberi nama untuk tiga bayi mungil ini." Perkataan Daddy Willy membuat semua orang mengangguk setuju.
"Ingat apa yang aku katakan sebelumnya. Aku ingin ada nama pemberianku disematkan dalam nama si bungsu." Neo masih berusaha menjadi ayah baptis si bungsu.
"Ck... Karena mengingat bantuanmu selama persalinan, aku akan memberi kesempatan itu." Zant menatap sinis Neo.
"Jadi, siapa nama mereka?"
"Dalfa Aurellio Veenick, untuk anak pertama kami, sedangkan Dalfi Aaqil Veenick untuk anak kedua kami. Dalfa dan Dalfi, berarti anak laki-laki yang kuat, berani dan bijaksana. Aurellio berarti berwibawa dan berbahaya. Sedangkan Aaqil berarti diberkati dengan kecerdasan."
"Nama yang indah. Bagaimana dengan si bungsu?" Tanya Mama Shintia.
"Berikan satu nama!" Zant menoleh menatap Neo.
"Lavanya." Neo dengan tegas menjawab. Zant mengangguk.
"Kalau begitu, nama si bungsu, Rhiana Lavanya Veenick. Yang berarti Ratu hebat yang penuh dengan keindahan dan kasih karunia."
"Cantik sekali namanya." Mommy Lily memuji dengan senyum tipis.
"Bisakah nama Chixeon disematkan di belakang nama Vanya?" Neo memasang wajah memohon pada Zant.
"Tidak!" Zant dengan tegas menolak.
"Sayang sekali," Gumam Neo pelan.
"Bagaimana menurutmu, My Queen?"
"Aku suka."
"Terima kasih, My Queen."
"Semoga ketiganya menjadi anak-anak yang menjadi kebanggaan kita semua. Menjadi anak-anak yang sesuai dengan arti nama masing-masing." Daddy Jhack bergumam dan diangguki semua orang.
TAMAT.
***
Akhirnya tamat juga cerita Rihan.
Saking malasnya up, dan alur cerita yang panjang, aku baru sadar, ternyata banyak sekali babnya. Maklumlah, seorang pemula yang membuat cerita.
Aku berterima kasih sebanyak-banyak untuk semua pembaca sekalian yang sudah memberi kritik, saran, hadiah dan vote. Terima kasih, ya. Akhirnya cerita ini tamat juga.
Aku juga minta maaf karena baru up. Soalnya aku sedang dalam masa UAS. Mulai minggu ini sampai minggu depan. Aku akan up extra partnya setelah masa UAS selesai. Jurusanku libur tanggal 22 soalnya. Benar-benar meresahkan, ya.😁
Aku juga berencana buat cerita baru tentang anak-anak Rihan dan Zant. Dengan tokoh utamanya Rhiana, si bungsu. Rhiana nanti tidak kalah hebatnya sama mommynya, Loh.
Komen jika kalian setuju, atau mau aku buat cerita kayak gimana, silahkan komen aja.
Aku akan up setelah UAS.
__ADS_1
Tunggu ya.