
Setengah jam kemudian, Rihan yang tadinya tidur menyamping membuka matanya, kemudian mengubah posisi tidurnya menatap langit-langit kamar Zant.
"Oiii..." Seru Rihan pada Zant di sebelahnya.
Hening.
"Kau sudah tidur?" Tanya Rihan tanpa menoleh ke sampingnya.
"Sopanlah sedikit pada calon suamimu," Jawab Zant tanpa membuka matanya. Pria itu tetap pada posisi awalnya yang tidur menyamping ke arah Rihan.
"Calon suami, kepalamu!" Balas Rihan datar lalu menatap sekilas Zant di sampingnya.
"Kamu tidak bisa menentang keputusan ibu negara Jerman, gadis kecil." Zant membuka matanya dan menatap Rihan.
"Ck... katakan padaku, ada acara apa besok, hingga semua kamar disiapkan untuk tamu dari negara lain." Tanya Rihan menoleh menatap Zant yang juga menatapnya.
"Entahlah." Jawab Zant malas.
"Jangan bilang jika ibumu akan mengumumkan hubungan kita," Tebak Rihan menatap tajam Zant.
"Bisa jadi. Mommy memang seperti itu," Jawab Zant dan sedikit mengangguk.
"Sudahlah. Berhenti bercanda!" Rihan kembali menatap langit-langit kamar.
"Sudah menjadi tradisi beberapa negara yang menjalin kerjasama dalam berbagai bidang untuk melakukan pelelangan lima tahun sekali. Hasil pelelangan akan diberikan sebagai bantuan sosial untuk negara-negara terpencil maupun negara yang membutuhkan bantuan dana karena bencana dan lain-lain. Besok adalah waktu pelelangan, dan Jerman yang akan menjadi tuan rumahnya," Zant berbicara dengan menjadikan lengannya sebagai bantal.
"Negara mana saja yang akan datang, dan pihak mana saja yang ikut dalam pelelangan?" Tanya Rihan setelah meletakkan lengan kanannya di atas dahinya.
"Para pengusaha sukses dari masing-masing negara dan pemimpinnya. Cukup banyak negara yang berkontribusi dalam pelelangan ini. Diantaranya, ada Amerika, Prancis, dan Indonesia. Aku pikir kamu hanya ingin tahu 3 negara itu ikut atau tidak." Jawab Zant dan tersenyum tipis.
"Hm."
"Sudah pasti wanita itu akan ikut sebagai asisten pria bodoh itu. Jika aku di posisi wanita itu, aku pasti akan memanfaatkan pelelangan ini dengan baik." Seru Rihan dalam hati lalu menurunkan tangannya.
"Aku yakin kamu pasti tahu sesuatu, Kak." Rihan kini mendorong bantal yang menjadi pembatas mereka ke bawah dan sedikit mendekat pada Zant.
"Yang jelas aku tahu lebih sedikit dari pada kamu, gadis kecil." Zant menyeringai menatap Rihan.
"Aku yakin itu bukan sedikit." Rihan menatap memicing pada Zant.
"Kamu tahu gadis kecil... Aku tidak suka berurusan dengan dunia bisnis apalagi politik. Banyak alasan yang membuatku tidak ingin bergabung dengan dua bidang itu. Sayangnya, ada beberapa alasan juga, sehingga aku harus terjun ke dalamnya.
Aku saat ini hanya diam dan bertingkah seolah-olah menjadi orang bodoh yang tidak tahu apapun dan membiarkan mereka berpikir dan bertindak sesuka hati. Aku ingin tahu sejauh mana mereka menggunakan kepercayaanku.
Untuk sekarang, aku hanya akan bertindak sebagai pengawas. Tapi gadis kecil, aku bisa menjamin keamananmu bersamaku. Jadi, tenang saja!" Zant berbicara dengan tenang lalu berakhir dengan tersenyum tipis pada Rihan yang menatap bingung padanya.
Pletak!
"Jangan memasang wajah tidak tahu, gadis kecil. Aku tahu kamu mengerti maksudku." Sambung Zant setelah menyentil dahi Rihan. Rihan sedikit meringis dan mendengus pada pria itu.
"Kalau begitu, kamu harus membantuku besok, calon suami." Rihan menyeringai pada Zant.
Mendengar calon suami dan bibir Rihan, telinga Zant tanpa sadar kembali memerah. Pria itu lalu berbalik dan menatap langit-langit kamarnya.
__ADS_1
"Hmm."
"Telingamu... dia memerah. Kenapa bisa begitu?" Gumam Rihan dan menyentuh pelan daun telinga Zant membuat pria itu menegang dan telinganya semakin memerah.
"Berhenti memainkannya, gadis kecil. Itu geli..." Ucap Zant karena Rihan menoel-noel telinga pria itu.
"Jangan bergerak!" Rihan masih memainkan telinga Zant. Gadis itu bahkan melihat lebih dekat telinga Zant. Karena itu juga, nafas hangat Rihan menerpa daun telinga dan pipi Zant. Pria itu hampir gila karena posisi ini. Gadis kecil ini benar-benar menguji kesabarannya.
"Jangan mengujiku, gadis kecil." Gumam Zant lalu bangun dengan cepat dan beranjak ke kamar mandi.
"Telinganya lucu, tapi ada apa dengannya? Aku merasa tidak mengujinya, Aneh." Gumam Rihan kembali ke posisinya semula.
"Mungkin Mentra yang akan mengurus pelelangan itu sehingga dia tidak memberitahuku. Tapi, kira-kira apa yang akan wanita itu lakukan?" Tanya Rihan dalam hati. Gadis itu sudah bangun dan duduk bersandar pada kepala tempat tidur.
"Aku harus menghubungi daddy dan papa untuk menanyakan keberangkatan mereka besok." Rihan menoleh ke samping berniat mencari ponsel.
"Masalahnya, aku tidak punya ponsel." Sambungnya dan menghela nafas. Dia lupa meminta Zant memberinya ponsel.
Rihan turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Sampai di depan pintu, Rihan mengetuk pintu tiga kali.
"Kamu masih hidup, 'kan, calon suami?" Tanya Rihan setelah bersandar pada tembok sebelah pintu sambil bersidekap dada.
"Ada apa?" Tanya balik Zant yang baru keluar dengan mantel mandi yang membungkus tubuhnya.
"Kamu mandi? Wah... benar-benar aneh!" Gumam Rihan menatap memicing Zant dari atas hingga bawah.
"Ada apa mencariku?" Tanya Zant lalu meninggalkan Rihan di sana.
"Tunggu aku selesai mengganti pakaian." Zant kemudian masuk ke walk in closet.
Beberapa menit kemudian, Zant keluar dengan piyama coklat. Pria itu menuju sofa dan mengambil ponselnya kemudian menghampiri Rihan dan memberikannya pada gadis itu.
"Siapa yang mau kamu hubungi?" Tanya Zant setelah Rihan menerima ponselnya.
"Kekasihku." Jawab Rihan santai sambil mengotak-atik ponsel Zant.
Pletak!
"Sejak kapan kamu punya kekasih? Kamu pikir aku akan percaya seperti pria bodoh itu?" Zant menyentil dahi Rihan lagi.
"Suka sekali menyentil dahiku. Tunggu saja pembalasanku." Rihan berbicara dengan pelan hampir tidak terdengar.
Rihan kemudian menekan nomor ponsel Papa Jhon di Prancis untuk menanyakan rencana pelelangan besok. Dia juga menitip pesan untuk daddynya. Rihan tidak mungkin menelpon Daddy Jhack juga, karena Zant akan curiga.
"Terima kasih. Aku akan tidur." Ucap Rihan datar setelah mengembalikan ponsel Zant.
"Gadis kecil, kamu marah?" Tanya Zant yang mengikuti Rihan naik ke tempat tidur. Zant berpikir Rihan marah padanya karena sentilannya tadi.
"Apa kamu melakukan kesalahan?" Tanya balik Rihan tanpa menatap lawan bicaranya.
"Entahlah." Jawab Zant ragu.
"Ya, sudah. Biarkan aku istirahat." Rihan mendengus kemudian menaikkan selimut hingga ke pinggang.
__ADS_1
"Tapi..." Perkataan Zant terpotong karena Rihan sudah membelakanginya.
"Selamat tidur, gadis kecil." Zant ikut menaikan selimut hingga ke pinggangnya juga, lalu memejamkan matanya.
***
Pukul 5 pagi, pintu kamar Zant terbuka pelan. Seorang wanita paru baya dengan langkah hati-hati masuk ke dalam. Wanita paru baya yang tidak lain adalah ibu negara Jerman itu, segera menghampiri tempat tidur dan berdiri setengah meter dengan tempat tidur kemudian menatap dua sejoli yang tidur terlelap.
"Sayangnya aku lupa membawa ponsel," Gumam Mommy Lily dan tersenyum tipis melihat pemandangan di depannya, dimana Rihan yang tertidur dalam pelukan Zant.
Mommy Lily menatap sekeliling hingga tersenyum senang ketika melihat ponsel Zant di atas nakas. Mommy Lily mengambilnya kemudian membukanya dan mencari ikon kamera. Wanita paru baya itu lalu mengambil gambar dua sejoli yang terlihat seperti suami istri itu.
Bukan hanya mengambil gambar, Mommy Lily juga mengirim hasil fotonya ke ponselnya sendiri, kemudian mengubah foto itu menjadi wallpaper di ponsel Zant. Setelah selesai, Mommy Lily meletakkan kembali ponsel ke tempat semula kemudian dengan langkah pelan keluar dari sana.
Setelah kepergian ibu negara Jerman itu, Zant membuka matanya. Pria itu sejak kedatangan sang mommy, dia sudah terjaga tetapi membiarkan saja apa yang dilakukan mommynya.
Zant kemudian menyadari posisi tidur mereka sekarang. Pria itu berkedip beberapa kali dan ingin melepas pelukannya, tetapi kembali diurungkan setelah melihat wajah tenang Rihan yang terlelap.
Deg
Deg
Deg
Jantung Zant berdebar kencang. Ini pertama kalinya dia merasa seperti ini. Zant lalu mengangkat tangan kirinya dan mengusap pelan alis Rihan, membuat dahi gadis itu berkerut merasa terganggu. Melihat itu, Zant menghentikan gerakan tangannya dan tetap menatap wajah Rihan.
"Benar-benar gadis kecil yang berbahaya. Semoga aku tidak salah dengan keputusanku ini," Gumam Zant pelan lalu kembali mendekap erat Rihan.
"Posisi ini ternyata sangat nyaman," Ujar Zant dalam hati lalu kembali memejamkan matanya.
***
Pukul 7 pagi, ketukan di kamar Zant membuat tidur dua sejoli itu terganggu. Keduanya sama-sama membuka mata dan saling menatap beberapa saat.
"Sepertinya calon suami sangat nyaman dengan posisi ini," Sindir Rihan karena Zant masih memeluk pinggangnya.
"Ekhem... maaf." Ujar Zant pelan lalu melepas pelukannya.
Rihan tidak membalas. Gadis itu lalu bangun dan duduk sebentar untuk mengumpulkan nyawa. Rihan menoleh menatap jam di atas nakas, ternyata sudah pukul 7 lebih 5 menit.
"Bisa-bisanya aku tidur senyenyak ini dengan orang asing." Gumam Rihan dalam hati tidak percaya.
"Pak presiden dan ibu sedang menunggu di ruang keluarga." Suara seorang pelayan wanita di luar kamar membuat Rihan mengalihkan pandangannya ke arah pintu.
"Kami akan bersiap," Balas Zant setelah bangun dan turun dari tempat tidur.
"Kapan acara pelelangannya? Kak Zant punya daftar perwakilan yang datang?" Tanya Rihan setelah sedikit menguap.
"Pukul 7 malam. Untuk daftar, aku akan meminta pada calon ibu mertuamu." Zant menjawab sebelum masuk ke kamar mandi.
"Apa dia serius dengan hubungan ini?" Gumam Rihan lalu mengernyit.
Rihan kemudian turun dari tempat tidur dan menuju balkon kamar menikmati udara pagi kediaman presiden Jerman.
__ADS_1