Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Cemburunya Zant (Extra Part)


__ADS_3

New York, Amerika Serikat. Mansion, Jhack Lesfingtone.


Rihan terkekeh melihat wajah cemberut suaminya yang sedang menggendong Rhiana, si bungsu yang sudah terlelap.


Suami posesif Rihan itu sedang menahan cemburunya, karena melihat dua putranya yang begitu lahap menyusu pada mommy mereka.


Sudah dua bulan sejak keduanya keluar dari rumah sakit. Sejak kepulangan mereka, Dalfa dan Dalfi tidak membiarkan daddy mereka terlalu menempel pada Rihan.


Keduanya akan menangis keras melihat Zant yang ingin memanjakan dirinya pada istri tercintanya. Dalfi yang biasanya tenang, akan menangis jika jauh dari sang mommy.


Dalfa dan Dalfi menolak untuk tidur terpisah dengan mommy mereka. Meski dalam box dan sekamar dengan Rihan, tapi kedua bayi berusia dua bulan itu akan menangis keras. Mereka akan tidur jika satu ranjang dengan mommy mereka.


Sepertinya Dalfa dan Dalfi ingin bersaing merebut perhatian mommy mereka dengan sang daddy. Rhiana sendiri justru lebih senang menempel pada sang daddy.


"Mereka masih bayi, dan butuh asi. Berhenti cemburu pada anak sendiri," Rihan membuka suara karena tatapan tajam Zant tidak lepas dari Dalfa dan Dalfi yang menyusu pada Rihan. Kedua putra mereka masing-masing di sisi kanan dan kiri Rihan sambil menyusu dengan lahap.


"Kali ini daddy mengalah untuk kalian. Tunggu sampai kalian sudah tidak membutuhkan asi. Jangan harap kalian punya kesempatan memonopoli istriku." Zant berbicara dengan kesal. Rihan hanya menggeleng dan tersenyum tipis.


Hampir setengah jam Dalfa dan Dalfi menyusu, kedua bayi mungil itu akhirnya terlelap. Zant lalu membantu Rihan membaringkan Dalfi setelah dia membaringkan Rhiana.


"Karena dua iblis kecil itu sudah terkelap, waktunya memanjakan suamimu ini. Kamu tahu, aku begitu kasihan, My Queen." Zant berbicara dengan nada menyedihkan. Pria itu kini sudah membaringkan kepalanya di pangkuan istri tercintanya.


"Alasan!" Gumam Rihan, tetapi tidak menolak memanjakan suami posesifnya ini.


"Dua iblis kecil itu sungguh keterlaluan padaku. Hanya anak bungsuku saja, yang menyayangiku sepenuh hati." Zant mulai mencari simpati istrinya.


Rihan hanya tersenyum tipis. Dia tahu suaminya itu hanya butuh perhatiannya, karena sudah dua bulan, dan suaminya ini tidak memanjakan diri padanya. Mereka hanya mengurus ketiga anak mereka dan jarang memiliki waktu berdua seperti ini. Belum lagi, Dalfa dan Dalfi begitu menempel padanya membuat Zant tidak punya kesempatan.


Rihan dan Zant memang ingin mengurus ketiga anak mereka sendiri. Mereka tidak ingin ada babysitter. Mereka ingin menjadi satu-satunya orang tua yang melihat pertama kali pertumbuhan dan perkembangan ketiga anak mereka.


Para orang tua dan para anak muda tetap diberi izin bermain dengan triplet. Zant justru lebih senang jika kedua putranya yang ia beri julukan iblis kecil itu bermain lebih lama bersama kakek dan nenek maupun paman dan bibi mereka, agar Zant punya lebih banyak waktu dengan istrinya.


Sayangnya, kedua iblis kecil julukan Zant itu, sepertinya tahu rencana daddy mereka, sehingga dua bayi mungil itu akan menangis jika ditinggalkan oleh mommy mereka, meski hanya 10 menit. Keduanya akan bermain lebih lama dengan yang lain jika ada mommy mereka yang mengawasi. Benar-benar membuat Zant menggila.


"Terima kasih sudah melahirkan dua iblis dan satu malaikat untukku. Aku mencintaimu, My Queen."


"Dua iblis dan satu malaikat? Kejam sekali penamaanmu, My King. Kalau begitu, di antara kita, siapa yang iblis dan siapa malaikat?" Rihan bertanya setelah menyentil dahi suaminya ini.


"Tentu saja, istriku seorang malaikat." Zant menjawab dengan cepat. Tetapi kemudian, pria itu tersadar. Rihan sendiri sudah tersenyum.


"So... sudah jelas siapa iblis di sini, 'kan? Keduanya sama sepertimu, yang ingin selalu dekat denganku!" Rihan berbicara kemudian terkekeh.


"Hais... Mereka benar-benar anakku. Sudahlah. Jangan bahas dua iblis itu. Berikan aku ciuman. Bibir suamimu ini sudah puasa selama dua bulan lebih. Itu benar-benar menyakitkan, My Queen. Dua iblis kecil itu bahkan tidak membiarkan aku mencium istriku sendiri."


"Suamiku yang malang," Rihan mengejek Zant dan terkekeh.


Rihan kemudian menunduk ingin memberi ciuman untuk Zant. Baru beberapa senti bibir keduanya akan menempel, tangisan bergantian Dalfi dan Dalfa membuat ciuman mereka batal.


"Sudah kuduga." Gumam Zant menghembuskan nafasnya. Rihan lagi-lagi terkekeh lucu.


***

__ADS_1


Rihan sedang bersantai di ruang tamu sambil menikmati segelas susu sehat buatan Mommy Rosse. Zant sedang ke toilet. Dalfa ada dalam gendongan Daddy Jhack. Dalfi dalam gendongan Alen. Rhiana sendiri dalam gendongan Mommy Rosse.


Hanya ada mereka di mansion. Orang tua Zant sudah kembali ke Jerman karena tugas Daddy Willy sebagai seorang kepala negara. Mommy Lily sendiri, harus selalu di samping suaminya untuk mendampingi.


Keduanya berjanji akan menjenguk triplet, cucu mereka setiap dua kali dalam sebulan. Mama Shintia dan Papa Jhon juga sudah kembali ke Prancis. Hanya Kak Avhin yang masih tinggal.


Hoek... hoek... hoek... hoek...


Tangisan Dalfa dan Dalfi terdengar ketika Zant muncul di ruang keluarga.


"Lihat! Dua iblis ini kembali berulah. Merasakan kehadiranku, mereka mulai menangis. Benar-benar tidak ingin aku dekat dengan istriku."


Semua orang hanya tersenyum, karena sudah biasa bagi mereka mendengar omelan Zant yang cemburu pada Dalfa dan Dalfi.


"Mengertilah mereka, Zant. Mereka masih bayi dan sangat membutuhkan mommy mereka. Lagipula, sifat keduanya ini, bukankah menurun darimu?" Daddy Jhack seakan mengejek Zant membuat semua orang tertawa. Dalfa dan Dalfi bahkan ikut tertawa, padahal mereka menangis tadi.


"Baiklah, Dad." Zant menjawab dengan lesuh. Tapi tatapan tajamnya diarakan pada dua iblis kecilnya.


PLETAK


"Jangan menatap kedua putraku seperti itu lagi."


"Hais... kamu sudah tidak menyayangiku lagi, My Queen. Aku sakit hati," Zant merajuk, membuat yang lain hanya bisa geleng kepala karena tingkah kekanakan Zant.


"Sudah. Jangan merajuk lagi. Sini aku beri pelukan," Rihan tersenyum tipis dan merentangkan tangannya. Zant dengan cepat tersenyum lebar dan memeluk istri tercintanya.


"Jangan terlalu lama, nanti mereka menangis lagi."


"Ini belum satu menit, My Queen." Zant tidak rela melepaskan pelukan hangat ini.


Hoek... hoek... hoek...


Rihan lalu mengambil alih Dalfa. Dalfi sendiri sudah dalam gendongan Zant. Semua orang kini menahan tawa karena Zant dan Dalfi, si wajah datar yang saling menatap tajam. Keduanya seakan menunjukan kekuatan masing-masing hanya dengan bertatapan.


"Apa lihat-lihat? Sudah waktunya tidur!" Zant membuka suara sekaligus menghentikan perang tatapan dengan anak keduanya.


Bukannya mendengar perkataan sang daddy, Dalfi semakin menajamkan matanya menatap sang daddy. Tangan bayi mungil itu sudah terulur di depan wajah Zant.


"Ada apa dengan tangan kecil ini?" Tanya Zant penasaran, tapi kemudian menyambut tangan mungil itu dengan menjulurkan jari telunjuknya untuk di genggam oleh Dalfi.


Zant hanya mengikuti kemana tarikan Dalfi. Ternyata jari telunjuk Zant diarahkan ke dalam mulut mungil itu.


"Mulai berani menggigit, heh? tunggu sampai gigimu tumbuh! Cepatlah besar, dan kita bisa bersaing dengan adil. Dan juga, agar daddy punya waktu dengan mommy kalian." Zant seakan menantang anak keduanya ini.


Mereka yang menyaksikan interaksi Zant dengan Dalfi, hanya menahan senyum.


Tidak lama kemudian, perhatian mereka teralihkan karena kedatangan Alex dan Telly.


"Pengantin baru, sudah pulang bulan madunya?" Daddy Jhack menggoda Alex dan Telly.


Alex dan Telly memang baru menikah sebulan lalu. Keduanya berangkat ke korea untuk bulan madu katanya. Alex akhirnya memutuskan untuk menikahi Telly. Entah karena dia sudah mencintai Telly atau belum, tidak ada yang tahu isi hati Alex. Hanya Tuhan dan Author yang tahu. Kwkwkwk...

__ADS_1


"Sampai kapan wajah datarmu berubah, Kak?" Tanya Rihan dan menggeleng.


Alex menatap dan tersenyum lembut pada Rihan. Senyum dan tatapan yang membuat Rihan menyadari sesuatu. Rihan lalu menatap ekspresi Telly. Rihan seketika menunduk. Hanya beberapa detik, Rihan lalu beralih menatap Zant yang juga menatapnya. Dari tatapan suaminya, Rihan akhinya sadar, suami posesifnya itu tahu dan mengerti semuanya.


"Bagaimana hari-hari bulan madunya, Kakak ipar?" Tanya Rihan pada Telly dan tersenyum tipis.


"Kak Alex sangat baik padaku. Kak Alex adalah suami yang baik dan perhatian. Kami menikmati bulan madu dengan baik," Rihan hanya mengangguk mengiyakan.


"Bantu aku menggendong keponakanmu, sebentar Kakak ipar, aku ingin berbicara dengan Kak Alex sebentar. Ada urusan perusahaan yang harus aku tanyakan padanya." Telly tersenyum dan mengambil alih Dalfa.


Rihan sebelum beranjak pergi, dia menatap sebentar suaminya meminta izin. Zant mengangguk setuju.


...


"Kak..." Panggil Rihan ketika dia dan Alex sudah berada di taman belakang mansion.


"Ada apa? Bukannya masalah perusahaan ditangani oleh Alen dan yang lainnya?"


"Aku ingin mendengar alasan, kenapa kak Alex menikahi Telly. Aku ingin jawaban jujur!"


Deg


Jantung Alex berdebar kencang. Dia tidak ingin adik angkatnya ini tahu perasaannya. Jika orang lain tahu, Alex tidak masalah. Alex hanya tidak ingin Rihan tahu. Nyatanya, mau disembunyikan sampai kapanpun, akhirnya akan ketahuan juga.


Alex menunduk tidak berani menatap Rihan.


"Lihat aku, dan jawab pertanyaanku!"


"Maaf!" Hanya satu kata, dan Rihan memahami itu. Rihan menghembuskan nafas pelan.


"Apa yang kak Alex lakukan sekarang, hanya akan menyakiti Telly dan kak Alex sendiri. Kak Alex seharusnya tahu itu!"


"Hanya ini satu-satunya cara yang bisa aku lakukan untuk melupakan perasaan ini. Maafkan aku!" Alex berbicara dengan lirih. Pria itu masih saja menunduk.


"Dari tatapan Telly padamu, aku tahu dia jelas menyukaimu, Kak. Jika dia tahu kak Alex hanya menjadikan dia alasan untuk melupakanku, percayalah, siapapun di posisi Telly akan merasa sakit. Dia berpura-pura kuat dan bahkan berpura-pura tidak tahu apapun, itu bahkan lebih sakit, Kak."


"Maaf!" Hanya kata maaf yang bisa Alex katakan sekarang.


"Aku akan menelpon pengacara untuk mengurus perpisahanmu dan Telly. Lebih baik akhiri sampai di sini, daripada gadis sebaik dia semakin terluka." Rihan lalu beranjak pergi dari sana.


"Beri kakak satu kesempatan. Kakak akan belajar menyukainya. Kakak janji!" Alex menahan tangan Rihan agar tidak pergi.


Rihan menyeringai tanpa Alex sadari. Rihan kemudian berbalik dan menatap datar Alex.


"Baik! Jika kakak iparku tidak bahagia, orang pertama yang aku salahkan adalah kak Alex."


"Terima kasih, Ri."


"Sama-sama, Kak. Baik-baiklah bersama kakak ipar. Ayo kita masuk!"


***

__ADS_1


Janjinya up setelah tanggal 22, nyatanya aku keasikan bersantai, sampai lupa. maafkan aku, ya teman-teman.


Salam ✌


__ADS_2