Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Rihan dan Neo


__ADS_3

Merasa posisi mereka yang terlihat aneh, Rihan segera bangun dan memasang wajah datar sambil menatap Neo yang juga berusaha bangun.


"Dia seorang pria, kenapa jadi aku yang berdebar? Apa karena terlalu lama sendiri? Tidak mungkin!" Batin Neo menggeleng kepalanya.


"Kamu baik-baik saja, Paman?"


"Ya. Aku baik. Bagaimana denganmu?"


"Aku juga baik."


"Eh... dia..." Kaget Neo, karena ketika mengalihkan pandangan ke arah ketua kelompok itu, hanya ada mayatnya saja yang sedang ditatap oleh teman-teman anggotanya.


Rihan tidak menjawab rasa penasaran Neo karena Rihan yakin Neo pasti akan berpikir sendiri siapa yang melakukannya, mengingat Neo sudah melihat aksinya dan Gledy tadi.


"Katakan pada Brand untuk tidak memancingku." Ucap Rihan pada mereka yang terduduk di tengah jalan itu.


"Kali ini aku beri kalian kesempatan untuk segera pergi dari sini. Satu... dua... ti..."


Belum mencapai hitungan ketiga mereka semua sudah memaksakan diri berlari dengan cepat menuju mobil mereka tanpa mempedulikan mayat kedua teman mereka.


"Bawa mayat teman kalian dan makamkan dengan layak." Rihan menghela nafasnya karena tingkah mereka yang tidak setia kawan.


Setelah mengatakan itu, empat pria keluar dan membopong mayat teman mereka ke dalam mobil dan mereka kemudian pergi dari sana setelah berpamitan dengan membunyikan klakson mobil.


"Dari mana kamu tahu itu suruhan Brand? Bukankah dia memiliki bawahan sendiri, kenapa harus membayar kelompok itu?" Tanya Neo sambil mengibas debu pada pakaiannya.


"Entahlah." Rihan sedang malas menjelaskan sekarang.


"Hm. Masih ingin ke sana?" Tanya Neo menatap Rihan intens. Yang ditatap hanya biasa saja dan membalas tatapan itu dingin.


"Terserah Paman. Jika paman merasa lelah, sebaiknya kita pulang saja. Masih ada lain waktu."


"Aku baik-baik saja. Ayo!" Bagi Neo, ini tidak ada apa-apanya dengan latihannya selama ini. Pergulatan tadi hanya dianggap sebagai olahraga kecil merenggangkan otot.


Rihan hanya membalas dengan anggukan kepala dan beralih masuk ke mobilnya. Keduanya kemudian beriringan dengan Neo sebagai pembawa jalan.


Rihan hanya bersantai mengendarai mobilnya sambil sesekali melihat sekitarnya yang dipenuhi tanaman liar di sisi kiri dan kanan jalan hingga akhirnya mereka tiba di tepi sungai.


...


"Kita sudah seperti sepasang kekasih hahaha..." Canda Neo membuka pembicaraan.


Orang yang melihatnya akan berpikir mereka adalah sepasang kekasih karena untuk bertemu saja harus sampai ke keluar ibukota dan berakhir di tempat yang sunyi.


Neo sebenarnya tidak suka banyak bicara, tapi jika dia tidak membuka suara lebih dulu maka lawan bicaranya yang juga sepertinya cuek dengan keadaan, akan tetap seperti itu.


Rihan sendiri entah apa yang dia pikirkan. Tatapannya lurus ke depan sana. Tidak ada niatan sedikitpun untuk menjawab Neo. Bukan tidak ada niat, tetapiĀ  karena Rihan tidak mendengar apa yang Neo katakan.

__ADS_1


"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Neo sekaligus menyentuh pelan lengan Rihan dengan telunjuknya agar Rihan sadar bahwa dia sedang diajak bicara.


"Entahlah. Setidaknya rasa lelah ini sedikit berkurang." Balas Rihan yang tersadar dari lamunannya kemudian menghirup sedikit udara yang terasa menyegarkan.


"Kamu benar! Ini yang kesekian kalinya aku ke sini tetapi tetap terasa menyenangkan."


"Biasanya sungai ini akan didatangi oleh beberapa orang untuk bermain. Dan pertama kalinya aku bertemu seseorang yang datang di saat subuh. Entah kenapa dia datang di saat itu." Neo teringat dengan orang berbicara dengannya waktu itu.


"Lalu apa yang terjadi dengannya?" Tanya Rihan yang tiba-tiba penasaran.


"Hanya berbicara seperlunya, karena posisi kami yang duduk berjauhan tanpa tahu siapa yang diajak bicara. Setidaknya kedatangannya saat itu membuatku merasa lebih baik."


"Apa dia melakukan sesuatu untukmu, Paman?" Tanya Rihan kini sadar siapa yang dimaksud Neo. Siapa lagi kalau bukan dia sendiri.


"Aku risih dengan sebutan itu. Bisakah kamu memanggilku dengan sebutan lain selain paman? Aku merasa tua." Protes Neo menatap Rihan kesal.


"Sejak tadi aku memanggilmu paman, kau tidak protes. Kenapa sekarang berubah? Memangnya umur paman berapa?"


"Lama-lama aku juga risih. Umurku 24 tahun. Kamu sendiri pasti masih belasan tahun 'kan?"


"Aku 18 tahun. Aku pikir paman 27 atau 28 tahun, mengingat paman sebesar ini." Rihan menatap Neo dari atas ke bawah, padahal Neo ada dalam posisi duduk.


"Wah... jadi wajahku setua itu?" Tanya Neo tidak percaya.


"Aku bercanda! Aku akan memanggil makak kalau begitu." Putus Rihan lalu mengangguk.


"Sekarang jawab pertanyaanku tadi."


"Dia tidak melakukan apapun untukku. Hanya saja kehadirannya saat itu membuatku merasa lebih baik. Aku ingin berterima kasih padanya tetapi tidak sempat karena ada keadaan mendesak."


"Begitu, ya. Apa kakak mengenalnya?"


"Tidak. Wajahnya pun tidak aku ketahui."


"Bagaimana dengan suaranya?"


"Suaranya..." Perkataan Neo tertahan. Pria itu beralih menatap menyelidik pada Rihan.


"Yang pasti bukan aku. Ini pertama kalinya aku ke sini." Entah kenapa Rihan tidak mau Neo tahu itu adalah dia.


"Benar juga! Beberapa orang memiliki suara yang sama." Balas Neo kembali menatap sungai di depannya. Rihan hanya membalas dengan anggukan.


"Aku penasaran akan sesuatu," Tanya Neo mengalihkan pandangannya ke arah Rihan. Rihan menaikkan sebelah alisnya tanda bertanya.


"Kenapa kamu menolak kerja sama yang aku ajuhkan untuk RS Setia?"


"Jika kakak di posisiku, apa kakak akan menerimanya?" Tanya balik Rihan.

__ADS_1


"Benar juga. Setidaknya berikan alasan logis kenapa kamu menolaknya?"


"Tidak ada alasan apapun."


"Baiklah, aku mengerti."


Setelah itu keduanya kembali diam menatap ke arah depan.


"Apa sebaiknya didekat sini dibangun sesuatu, rumah singgah misalnya?" Pancing Rihan karena baru ingat jika Logan pagi tadi mengirimkan proposal pembangunan resort pada direktur cabang R.A Group.


"Perusahaanku berencana membangun resort di sini." Jawab Neo jujur.


"Resort? Pemikiran yang bagus. Kapan itu akan dibangun? "


"Tergantung."


"Tergantung? " Ulang Rihan.


"Ya. Tergantung apa proposal yang kami ajuhkan untuk R.A Group diterima atau tidak."


"Kenapa harus menunggu persetujuan mereka? Bukankah kakak bisa membangun sendiri resort itu tanpa bantuan dana dari manapun?"


"Aku paham itu! Sayangnya, tanah ini sampai sekarang tidak tahu milik siapa."


"Benar juga. Tanah ini terdaftar sebagai milik R.A Group." Batin Rihan mengangguk.


"Yang aku tahu, tanah ini dibawah naungan R.A Group, sehingga kita harus mengajukan proposal pada mereka."


"Hmm. Memangnya kenapa kakak sangat ingin membangun resort di sini?"


"Hanya ingin orang yang menikmati keindahan sungai ini bisa menikmatinya lebih lama tanpa harus bolak-balik setiap hari ke sini."


"Rencana yang bagus. Berusahalah kak, aku yakin proposal itu akan diterima."


"Aku tahu."


"Sudah sore, sebaiknya kita pulang. Ada yang harus aku lakukan." Rihan berdiri bersiap pergi.


"Benar juga. Ayo! aku juga berharap hubungan kita lebih baik kedepannya." Balas Neo ikut berdiri.


"Lihat saja nanti." Batin Rihan tetapi mengangguk mengiyakan ucapan Neo.


Keduanya kemudian kembali ke rumah masing-masing karena waktu sudah menunjukan pukul 5 sore.


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku. Sampai ketemu di chapter selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2