Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Sepertinya Halusinasi


__ADS_3

"Hei, Bos... sudah aku bilang, jangan mempersulit hidup." Logan membuka suara saat masuk ke kamar Neo dan melihat wajah kusut Neo. Logan bisa menebak jika itu wajah kurang tidur.


"Apa yang kamu bawa pagi-pagi begini?" Tanya Neo tanpa niat membalas Logan. Neo masih dalam posisi duduk di atas ranjang.


"Tidak ada. Hanya ingin melihat kondisimu masih hidup atau tidak," Jawab Logan santai lalu duduk di salah satu sofa dalam kamar Neo.


"Kamu mengganggu tidurku, Gan." Neo kembali berbaring dan menyelimutinya.


"Kamu jelas-jelas tidak bisa tidur, jangan dipaksa. Sebaiknya bangun dan kita cari Ira. Kasihan Tuan besar."


"Maksudmu?" Heran Neo. Pria itu bangun dan menatap serius pada Logan.


"Kamu tahu maksudku."


"Baiklah. Aku akan bersiap," Neo kemudian turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi.


Setelah Neo bersiap, dia dan Logan kemudian membahas laporan yang belum sempat dia baca kemarin. Mereka hanya membahas ulang apa yang sudah Rihan temukan. Mereka juga kesulitan dalam melacak kendaraan yang digunakan penculik Phiranita waktu itu.


...


Kembali pada Rihan di rumah sakit. Setelah membantu sahabatnya sarapan, Rihan lalu menanyakan apa yang terjadi malam itu. Phiranita lalu bercerita kejadian malam itu.


"Setelah makan malam, papi dan mami sudah tidur lebih dulu karena pengaruh obat yang diberikan. Aku dan kak Neo masih bercerita. Lebih tepatnya, aku yang menceritakan masa kecilku bersama paman dan bibi.


Tidak lama, seorang suster masuk ke dalam dan membawa minuman untuk kami. Katanya layanan VVIP. Setelah itu, dia kembali. Aku terus bercerita hingga tanpa sadar kak Neo lebih dulu tertidur. Aku juga yang tidak ada yang menemani sehingga memaksakan untuk tidur.


Mungkin sekitar setengah jam, aku merasa ada yang masuk ke dalam dan melihat kondisi papi dan mami. Aku yang berpikir mungkin dokter yang memeriksa papi dan mami hanya melihatnya samar-samar.


Awalnya dia menyuntikkan sesuatu pada infus mami. Setelah itu papi. Baru saja dia akan menyentuh infus papi, mami mulai kejang-kejang membuat aku panik dan menghampirinya tanpa berniat membangunkan kak Neo.


Ketika dia akan menyuntikkan entah apa itu pada papi, aku mengambil pisau buah di depanku dan berniat menyerangnya, tetapi ternyata dia menyadari kehadiranku. Dia lalu menahan pisau dengan telapak tanganya sehingga tangannya berdarah cukup banyak. Aku yang masih syok karena dia menahan pisau dengan tangan polosnya melepas pisau itu begitu saja.


Dia lalu membuang pisau itu ke sembarangan tempat. Pria itu kemudian menahan kedua tanganku ke belakang dengan tangannya yang terluka, sedangkan tangan satunya menutup mulutku membuatku tidak bisa berbuat apa-apa.


Di saat dia menahanku, suster sebelumnya yang mengantar minuman masuk ke dalam membuatku senang berpikir itu bantuan. Sayangnya suster itu hanya menatap kami santai. Suster itu lalu membantu menutup mulutku dengan sebuah lakban sedangkan tanganku diikat ke belakang.

__ADS_1


Setelah itu dia mengambil dua gelas yang dia bawa tadi lalu pergi. Tidak lupa juga pisau tadi, diambil juga. Untungnya aku dengan cepat menendang jarum suntik yang belum sempat dipakai ke bawah ranjang papi dan pria itu tidak menyadarinya.


Setelah suster itu pergi, pria yang berpakaian dokter itu mendudukkanku di samping kak Neo. Aku sudah berusaha membangunkan kak Neo dengan berusaha menyentuhnya, ternyata dia tidak bangun sama sekali.


Pria itu lalu menekan sesuatu dibawa kaki meja sehingga sebuah lubang di bagian lantai terbuka. Aku juga kaget ternyata ada ruang rahasia di kamar itu.


Pria itu kemudian membawaku secara paksa melewati ruang rahasia itu menuju mobil di belakang rumah sakit. Dia lalu menyuntikkan sesuatu pada leherku sehingga aku pingsan. Setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya hingga sadar hari ini."


"Berarti minuman itu sumber obat tidurnya. Suster itu juga pasti yang menebar obat bius ke ruangan tempatku berada. Sedangkan darah di kaki meja pasti darah pria itu. Pintar sekali mereka membersihkan jejak." Monolog Rihan dalam hati.


"Apa kamu meminum minuman itu?" Tanya Rihan memastikan.


"Aku tidak suka jadi tidak meminumnya. Hanya kak Neo yang meminumnya,"


"Hmm. Karena semua sudah jelas, sebaiknya kamu istirahat. Jika sudah lebih baik, kita akan pulang."


"Baik."


Rihan membenarkan selimut Phiranita kemudian duduk di samping ranjang menjaga gadis itu hingga tertidur.


***


Malamnya, Phiranita yang sudah diperbolehkan pulang oleh dokter sangat senang. Gadis itu begitu antusias untuk cepat pulang dan bertemu keluarganya. Rihan hanya bisa menahan diri untuk tidak mengatakan kematian sang mami karena itu bukan haknya. Lagipula itu bukan kenyataan yang sebenarnya.


"Han..." Panggil Phiranita yang duduk di samping Rihan dalam taxi. Alex sendiri di samping sopir. Mereka sedang dalam perjalanan pulang ke mansion utama keluarga Chi.


"Hmm."


"Kamu sudah memberitahu kak Neo kedatanganku?"


"Tidak. Aku ingin membuat kejutan,"


"Baguslah."


"Aku juga penasaran, seperti apa wajahnya ketika melihatku yang ternyata belum pulang ke Indonesia." Sambung Rihan dalam hati. Ada senyum tipis terukir di bibirnya.

__ADS_1


Tidak menunggu waktu lama, taxi kini sudah sampai di gerbang mansion. Ketiganya lalu turun, dan segera masuk setelah dibukakan pintu gerbang oleh penjaga. Phiranita saat ini berpegangan pada lengan Rihan. Alex sendiri mengekor di belakang.


Memasuki mansion dan menuju ruang tamu, ternyata Neo, Tuan Evan dan Logan ada di sana. Ketiganya terlihat fokus membahas sesuatu hingga tidak menyadari kedatangan ketiga manusia lainnya.


"Kak..." Panggil Phiranita membuat keheningan terjadi di ruangan itu. Ketiga pria yang duduk di sofa saat ini mengalihkan fokusnya pada ketiga manusia yang berdiri tidak jauh dari mereka.


"Sepertinya aku berhalusinasi," Batin Neo yang belum percaya dengan apa yang dia lihat.


"Aku memang merindukan bocah itu, dan juga adikku, tetapi kenapa asisten bocah itu juga ikut dalam halusinasiku?" Sambung Neo dalam hati dan menggeleng tidak percaya.


"Apa aku meminum bekas minumanmu tadi?" Tanya Logan pada Neo.


"Mana aku tahu, memangnya kenapa?"


"Bisa-bisanya aku berhalusinasi melihat orang-orang yang sangat ingin kamu temui. Ini benar-benar aneh," Logan juga ikut-ikutan tidak percaya.


"Kamu juga melihat apa yang aku lihat?" Tanya Neo dan Logan mengangguk.


"Ada apa dengan kalian berdua?" Tanya Tuan Evan yang kebingungan.


"Apa papi melihat ketiga manusia yang berdiri di sana?" Tanya Neo lalu menunjuk ke arah yang dimaksud.


"Ya."


"Fiks, kita harus ke psikiater besok." Sahut Logan cepat.


"Aku setuju." Balas Neo.


"Apa penculikanku berdampak buruk, ya. Mereka sepertinya terlihat sakit, Han." Bisik Phiranita pelan. Rihan sendiri hanya menggeleng kepala.


"Sebaiknya kita kesana agar menyadarkan mereka," Suara Alex membuat dua gadis di depannya mengangguk setuju. Ketiganya lalu menuju tempat ketiga pria yang juga menatap mereka aneh.


"Mereka kesini, Gan."


"Aku harus menelpon dokter keluarga sekarang."

__ADS_1


__ADS_2