
Drettt
Drettt
Ponsel Rihan bergetar ketika dia baru saja keluar dari mobil. Mengambilnya di dalam saku celana, Rihan lalu menekan ikon hijau setelah membaca nama si penelpon.
"Halo Rei! bagaimana kabarmu? Aku dengar kamu sakit dari Dev. Maaf! keluargaku tidak sempat hadir di pesta ulang tahun pernikahan paman dan bibimu. Papa tiba-tiba kecelakaan saat pulang kantor." Suara Max di seberang sana terdengar lirih.
Mendengar apa yang dikatakan Max, Rihan baru sadar, ternyata memang dia tidak melihat Max selama pesta kemarin. Rupanya keluarga Bruneyas tidak sempat datang.
"Hmm. Aku baik."
"Syukurlah. Kalau pulang, jangan lupa oleh-olehku," Kini suara Max sudah seperti biasa.
"Hmm."
Panggilan kemudian berakhir.
Rihan dengan tenang masuk ke dalam mansion diikuti oleh Alex dari belakang. Ketika melewati ruang keluarga, semua keluarganya sedang berbincang di sana termasuk Rine juga yang duduk di samping Avhin.
Rihan hanya menatap tajam Rine yang selalu mencuri pandang ke arahnya, sambil terus memasang wajah polosnya. Tidak mengambil pusing, Rihan bergegas menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
30 menit kemudian Rihan sudah rapi dengan pakaian santai dan turun bersama Alen ke ruang keluarga.
"Duduk di sini, Sayang." Mommy Rosse menepuk sofa di sebelahnya. Rihan dengan patuh mendaratkan bokongnya di sana.
"Sudah lebih baik, Sayang?" Tanya Bibi Shintia yang duduk tidak jauh dengan Rihan.
"Ya."
"Baguslah. Jika bahumu masih nyeri, jangan memaksakan diri. Kami tidak mau kamu sakit lagi." Bibi Shintia tersenyum tipis.
"Aku sudah lebih baik, Ma."
"Syukurlah. Benar juga, mama dan papa sedang menanyakan pendapat paman dan bibimu karena kami ingin memberi tanggung jawab pada Rine untuk mengurus restaurant kita di Prancis. Mereka setuju saja, asalkan Rine benar-benar berbakat.
Menurut mama, Rine bisa mengurusnya karena dia anak rajin dan sangat bersemangat ketika membahas tentang restaurant. Bagaimana pendapatmu?" Tanya Bibi Shintia dengan semangat.
"Sejak kapan anak desa begitu bersemangat membahas tentang restaurant?" Tanya Rihan dalam hatinya.
Rihan berpikir begitu karena data yang disampaikan Alen, desa tempat tinggal Rine termasuk desa terpencil dan belum ada restaurant sama sekali. Yang ada hanya kios-kios kecil dan juga tempat makan atau warung kecil.
Belum lagi wajah Rine saat ini tidak lagi terlihat seperti gadis desa yang polos seperti yang Alen katakan waktu itu. Wajahnya terlihat sangat bersemangat ketika membahas restaurant.
Ekspresi yang Rihan tangkap dari wajah Rine adalah gadis itu tidak menampilkan wajah senang karena akan mengurus sebuah restaurant atau wajah bingung karena untuk pertama kalinya akan mengurus sebuah restaurant besar yang sama sekali belum dia pelajari bagaimana manajemennya.
Wajah Rine saat ini lebih kepada ambisius dan seperti orang yang sudah berpengalaman. Rihan kini mulai ragu dengan data yang Alen berikan padanya.
"Bagaimana pendapatmu, Sayang?" Tanya Bibi Shintia membuyarkan pikiran Rihan.
"Terserah mama. Asalkan dia memang tulus mengolahnya tanpa ada niat lain."
"Mama dan Papa percaya pada Rine. Benarkan, Sayang?" Tanya Bibi Shintia pada Rine yang masih memasang wajah senyum.
"Iya, Ma."
__ADS_1
...
Pukul 12 malam, di saat semua sudah tertidur, Rihan sendiri tidak bisa tidur. Dia masih memikirkan tentang Rine. Rihan tidak ingin kakaknya salah memilih pasangan, ataupun hanya untuk dimanfaatkan.
Turun dari tempat tidur, Rihan lalu mengambil jaket yang tergantung dalam lemari kemudian memakainya menutupi piyama tidurnya. Rihan berencana turun ke bawah. Lebih tepatnya dia ingin bersantai di taman depan mansion.
Sesampainya Rihan di taman, dia segera mengambil posisi duduk di bangku taman yang juga ada meja di depannya. Menghirup sedikit udara di sana lalu menghembuskan dengan pelan, Rihan menegadah menatap bulan dan menerawang jauh ke depan.
Hingga Rihan tiba-tiba mengerutkan kening ketika instingnya merasakan kehadiran seseorang. Rihan mengalihkan pandangan ke belakangnya dan melihat seorang yang berjalan mengendap-endap keluar mansion.
Rihan hanya menatap datar orang itu yang sepertinya tidak menyadari kehadirannya di sana. Orang itu tidak menyadari kehadiran Rihan dan terlihat mengambil ponsel di saku piyamanya kemudian mulai menelpon.
"Mereka tidak tahu apapun."
............
"Ya. Kamu tenang saja, serahkan semuanya padaku."
............
"Mereka sudah mempercayaiku. Bahkan restaurant mereka ingin dikelolah olehku."
............
"Aku akan menghubungimu lagi."
"Bye."
Panggilanberakhir.
Rine yang melihat kemunculan Rihan, sangat terkejut. Dia mulai ketakutan.
"Apa dia mendengar pembicaraanku?" Batin Rine khawatir.
"Hai, Rei. Dari mana? Kenapa belum tidur?" Tanya Rine basa-basi.
Rihan seketika berhenti dan menatap datar Rine.
"Kamu juga, kenapa belum tidur?" Tanya balik Rihan datar.
"Aku tidak bisa tidur, makanya sedang mencari angin di luar. Hehehe..." Alibi Rine lalu terkekeh pelan.
Rihan tidak lagi membalas dan segera berlalu pergi. Rine yang melihatnya menjadi kesal karena Rihan selalu saja mengabaikannya.
"Kenapa kamu selalu mengabaikanku?" Tanya Rine ketika berhasil menyamai langkanya dengan Rihan.
"Apa karena aku gadis desa jadi kamu tidak suka aku dekat dengan kakakmu?" Tanya Rine lagi ketika Rihan tidak juga menjawabnya. Rine kini memasang wajah polos menyedihkan.
"Apa kamu cemburu melihat kakakmu mempunyai kekasih sedangkan kamu tidak? Apa kamu menyukaiku?" Rine masih saja berbicara dengan berpura-pura memasang wajah polos. Perkataan Rine berhasil menghentikan langkah kaki Rihan.
"Jadi kamu menyukaiku? Tenang saja, aku bisa berbagi kasih sayang padamu dan pada Avhin," Rine masih berbicara ketika Rihan berhenti dan menatap datar dirinya. Dia berpikir perkataannya benar bahwa Rihan menyukainya.
Rihan yang sedari tadi bersabar dengan kelakuan Rine, mulai risih. Rihan kemudian melepas tangan Rine yang menyentuh pergelangan tangannya dan mendorong gadis itu ke tembok mansion. Kebetulan keduanya sudah sampai didekat pintu masuk.
"Dari mana pemikiran itu datang?" Tanya Rihan datar tepat di depan wajah Rine.
__ADS_1
Wajah keduanya hanya beberapa senti. Posisi Rine kini dikurung oleh kedua tangan Rihan. Rine yang diperlakukan seperti itu bukannya takut, wajahnya malah memerah dan gugup.
"Karena kamu terlihat tidak menyukai kedekatanku dengan Avhin. Kamu selalu saja menatap dingin padaku. Hanya ada dua kemungkinan. Kamu suka padaku atau kamu benci padaku. Dan aku yakin kamu suka padaku." Jawab Rine gugup. Rine belum pernah bertemu orang yang menolak pesonanya, sehingga dia sangat yakin Rihsn juga suka padanya.
"Percaya diri sekali dia! Sejak kapan aku menyukainya?" Batin Rihan yang masih menatap datar wajah Rine yang semakin merona.
"Standarku tidak serendah dirimu! Kak Avhin mungkin buta ketika melihatmu." Rihan amenjawab dengan datar dan bergegas kembali ke kamarnya. Jangan lupakan tatapan meremehkan diberikan pada Rine.
Rine yang ditinggalkan syok. Ini pertama kalinya dia ditolak. Belum lagi perkataan Rihan yang merendahkannya.
"Huh... Aku baru saja ditolak?" Gumam Rine syok. Setahunya pria dingin sangat menyukai gadis polos, sehingga dia bertingkah polos tadi. Nyatanya tidak mempan.
"Aku akan membuatmu mengembalikan kata-kata itu. Lihat saja bocah!" Batin Rine bergegas kembali ke kamarnya dengan perasaan kesal.
***
Pagi hari semua orang kini duduk di meja makan untuk sarapan bersama. Alen dan Alex juga termasuk. Semua orang menikmati sarapan pagi mereka dengan tenang karena sudah menjadi peraturan keluarga untuk tidak berbicara saat makan.
Selama makan, Rine selalu mencuri pandang ke arah Rihan yang duduk tepat di depannya tanpa menyadari bahwa sang kekasih yang duduk di sebelah tahu jika dia menatap Rihan.
Rihan sendiri membiarkannya saja. Lagipula, akan ada saatnya dia membalas Rine. Sekarang dia akan memantau gerak-gerik gadis itu. Rihan ingin tahu tujuan dan alasan dia melakukan semua ini.
Setelah makan, semua orang melakukan tugas masing-masing. Para orang tua duduk di taman depan mansion sambil bercerita. Avhin dan Rine sudah keluar beberapa menit lalu untuk jalan-jalan. Sedangkan Rihan ditemani oleh kedua asistennya menuju kamar untuk membahas sesuatu.
"Jadi bagaimana dengan penelitiannya?" Tanya Rihan ketika sudah berada di kamarnya.
"Peluru beracun itu buatan dari organisasi bawah tanah yang diperjual belikan secara ilegal dengan harga yang fantastik. Untuk memesan barangnya harus melewati beberapa pemeriksaan yang ketat. Menurut data yang diperoleh, peluru itu dibuat beberapa bulan lalu dan baru saja dijual dua minggu setelah diproduksi untuk beberapa organisasi maupun beberapa pengusaha.
Transaksinya juga bersifat pribadi dan sangat dijaga ketat. Organisasi bawah tanah itu meski tidak memiliki izin berdiri, tetapi pemerintah sendiri tidak bisa menyingkirkan mereka karena banyak hal aneh yang mereka ciptakan yang selalu digunakan untuk mengancam pemerintah. Akhirnya pemerintah hanya bisa menutup mata dengan keberadaan organisasi itu." Jelas Alex yang menatap iPad di tangannya.
"Meresahkan! Biarkan saja. Lagipula, kita tidak memiliki urusan dengan mereka." Balas Rihan datar.
"Baik, Tuan."
"Tuan, saya merasa ada yang aneh dengan kekasih kak Avhin." Alen selalu memikirkan ini.
"Kamu menyadarinya?" Tanya Rihan lalu mulai membuka laptopnya.
"Saya sudah memperhatikannya selama ini, dan dia selalu mencuri pandang ke arah anda." Alen kini memasang wajah serius.
"Lihatlah!" Rihan menunjukan rekaman cctv kejadian semalam pada Alex dan Alen.
"Jadi dia menyukai anda? Berarti wajah polosnya itu hanyalah topeng semata. Saya akan menyelidiki ulang latar belakangnya." Suara Alen terdengar geram.
"Beraninya dia memanfaatkan kak Avhin." Sambung Alen kesal.
"Aku juga punya kejutan untuk kalian. Lihat!" Rihan memutar kembali rekaman lain pada kedua asistennya itu.
"Pantas saja! Saya heran, dari mana penyusup itu datang, sedangkan kita sudah menutup semua akses agar tidak ada orang yang mencurigakan masuk dan merusak pesta. Ternyata orang di dalam yang membuka akses itu." Komentar Alen sambil terus menatap rekaman di layar laptop Rihan.
Di rekaman terlihat seseorang yang berjalan dengan tenang keluar dari pintu dapur mansion menuju pagar mansion yang tingginya 5 meter itu dan membuka pintu pagar sehingga terlihat beberapa orang mencurigakan masuk.
"Kita sibuk dengan jalur depan dan melupakan jalur belakang. Maafkan kami, Tuan." Alen menyesal karena gagal melakukan tugas mereka.
"Hmm."
__ADS_1
"Di saat pesta, anda mengatakan bahwa para penyusup itu adalah musuh Tuan Neo. Tetapi ada hubungan apa dia yang membuka pintu pagar dengan Tuan Neo? Belum lagi mereka mengincar J2R Lesfingtone kemarin. Saya bingung, Tuan." Tanya Alen menggaruk kepalanya yang mendadak gatal.