Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Menjaga Jarak


__ADS_3

Maaf untuk keterlambatan upnya teman-teman... Wifi di tempatku sedang tidak bagus.


Mari kita lanjut kisah Rihan...


.


.


.


"Anda tidak kembali, Tuan?" Tanya Alex karena mereka sudah cukup lama di laboratorium.


"Satu jam lagi. Kita akan kembali setelah Beatrix sadar." Jawab Rihan setelah menatap jam tangannya yang baru saja dia pakai karena melakukan operasi tadi.


"Baik, Tuan."


"Silahkan diminum, Tuan." Prof Jean datang dan meletakkan beberapa minuman di atas meja.


"Ya."


"Karena anda sudah di sini, saya ingin menyampaikan kabar baik, Tuan." Kepala ilmuwan yang biasa dipanggil Prof. Delton itu teringat sesuatu.


"Hmm."


"Tubuh Gledy sudah siap dipakai, Tuan. Karena kontrol pusat Gledy sudah dipasang di dalamnya, sehingga cukup dengan satu perintah, maka dia akan melakukan semuanya. Anda ingin mengaktifkannya sekarang, Tuan?" Tanya Prof Delton.


Sebelum menjawab, Rihan menatap jam tangannya lagi dan ternyata sudah pukul 21.30.


"Ya."


"Ikuti saya, Tuan!"


Dengan memimpin jalan, Prof. Delton lalu membawa Rihan dan yang lainnya ke sebuah tabung dimana robot yang sudah dipasang pusat kontrol Gledy terbaring.


Sekali tekan pada tombol kecil di area dada sang robot, maka pusat kontrol Gledy itu akhirnya aktif. Iris mata coklat itu akhirnya terbuka, kemudian keluar dari tabung dan menatap sekitar untuk mengenali siapa saja di dalam sana.


Setelah pengambilan data berhasil, Gledy segera menuju Rihan dan mengambil posisi hormat, dimana tangan kanan terkepal dan menempel pada dadanya, sedangkan tangan kiri berada di belakang badannya, sambil membungkuk sedikit kepalanya ke arah Rihan.


"Bawahan siap menerima perintah." Ucap Gledy dengan suara tegasnya.


"Sebelum menerima perintah, sebaiknya pakai dulu bajumu." Ucap Rihan datar, karena Gledy hanya memakai celana pendek.


"Maaf membuat anda tidak nyaman, Tuan." Ucap Gledy lalu menatap Prof. Delton dan Prof. Jean.


"Maafkan kami, Tuan. Beri saya sedikit waktu untuk mengganti pakaiannya." Prof Delton tersadar lalu menggaruk kepalanya malu karena lupa mengganti pakaian Gledy.


"Ya."


Gledy kemudian mengikuti Prof. Delton ke kamar ganti untuk mengganti pakaiannya.


Selang 5 menit kemudian, Prof. Delton keluar bersama Gledy yang sudah rapi dengan setelan serba hitam dari atas ke bawah.


"Lumayan." Komentar Rihan ketika melihat penampilan Gledy.


"Terima kasih, Tuan."


"Jangan lupa untuk memakai masker dan juga topi." Usul Rihan melihat kembali jam tangannya.


"Baik Tuan, saya akan mengambilnya sebentar." Ucap Prof Delton.

__ADS_1


"Pakailah." Prof. Delton memberikan masker dan topi pada Gledy.


"Sudah cukup. Untuk sementara kamu tinggal di sini. Kamu boleh datang padaku jika keadaan darurat, atau aku yang memanggilmu." Ucap Rihan.


"Bawahan mengerti, Tuan." Balas Gledy tegas.


"Maaf mengganggu, Tuan. Beatrix sudah sadar." Lapor Dokter Galant yang sedari tadi menjaga Beatrix di ruang rawat.


"Cukup cepat juga dia sadar. Itu bagus. Segera hubungi Mentra," Rihan memgangguk dan menuju ruang rawat Beatrix.


"Baik, Tuan."


...


Waktu sudah menunjukkan pukul 22.25. Rihan dan Alex akhirnya keluar dari Lab. Keduanya masuk melalui gerbang utama mansion karena jika langsung ke kamar, mereka akan bertemu Neo, dan pria itu akan tahu bahwa ada pintu rahasia di kamar Rihan. Masuk ke mansion, sudah ada Alen yang menunggu di sana.


"Saya akan membantu anda membersihkan diri, Tuan." Ucap Alen setelah membungkuk hormat pada Rihan.


"Tidak usah. Istirahatlah! Aku akan melakukannya sendiri di ruang kerjaku. Sampai ketemu besok." Rihan menolak dan menuju lift.


"Baik, Tuan."


Melewati kamarnya dengan pelan agar tidak mengundang perhatian, Rihan segera masuk ke ruang kerjanya dan membersihkan diri. Di ruang kerja Rihan juga disediakan lemari kecil berisi beberapa pakaian formal maupun santai sehingga Rihan tidak perlu lagi ke kamarnya dan bertemu Neo. Rihan hanya tidak ingin bertemu pria itu karena nantinya telinganya sakit mendengar omelan Neo yang tiada henti.


Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian, Rihan menuju meja kerjanya dan menyelesaikan berkas sisa tadi sore. Rihan juga berencana tidur di sofa ruang kerjanya.


Sibuk membaca dan menandatangi berkas di tangannya, hingga fokus Rihan teralihkan karena merasakan kehadiran orang lain di sana. Sebelum melihat siapa yang masuk ke sana, wangi khas orang itu sudah tercium sehingga Rihan tahu siapa dia.


"Aku menunggunya setengah mati di kamar, dan dia malah asik bekerja. Sangat tidak berperasaan. Ck..." Cibir Neo lalu meletakkan cangkir kopi di meja sofa dan menghampiri Rihan yang tidak menatapnya sama sekali.


"Hei... Kamu mendengarku?" Tanya Neo setelah memukul pelan meja Rihan.


"Lihat aku!" Kesal Neo lalu menarik cepat pena dan kertas yang Rihan pegang dan menaruhnya jauh dari Rihan.


"Hmm."


"Kamu jelas tahu, aku tidak bisa tidur tanpa memelukmu. Kamu sengaja menghindariku?" Tanya Neo serius.


"Ya." Jawab Rihan santai dan melepas kedua tangan Neo di bahunya.


"Kenapa? Katakan jika aku melakukan kesalahan," Tanya Neo pelan.


"Entahlah. Hanya saja, kak Neo harus terbiasa mulai sekarang."


"Tidak. Aku tidak mau! Aku lebih suka seperti ini," Neo menggeleng tidak setuju.


"Tidak lama lagi kekasihmu akan datang, Kak. Jadi, mulai sekarang jaga jaraklah denganku." Balas Rihan dan mengambil pena lain di laci mejanya dan memeriksa berkas lain.


"Ada atau tidaknya Elle di sini, jangan pernah menjaga jarak dariku. Aku mencintai Elle, tapi aku juga menyayangimu. Aku tidak ingin kamu jauh dariku. Kamu akan tetap menemani tidurku meski Elle ada di sampingku,"


Rihan berhenti menulis dan menatap Neo dengan tatapan tajamnya.


"Elle bisa menemani tidurmu, Kak. Dia kekasihmu."


"Aku dan Elle sudah menjalin hubungan cukup lama, tetapi kami hanya berpegangan tangan. Tidak lebih dari itu. Aku akan selalu menjaganya hingga kita menikah nanti. Meski Brand sudah tidur dengannya, tapi aku akan tetap menerimanya."


Tanpa sadar Rihan menggenggam kuat pena di tangannya. Tatapannya semakin dingin pada Neo.


"Jika kamu begitu mencintainya, kenapa sikapmu padaku seolah-olah menyukaiku?" Tanya Rihan datar tanpa embel-embel kakak.

__ADS_1


"Itu..." Neo tidak tahu harus berkata apa.


"Aku ingin jawaban jujur!"


"Sejak dulu, aku sangat ingin punya adik laki-laki. Sayangnya Ira lahir sebagai perempuan. Aku tidak ingin mami mengandung lagi karena mami akan sangat lelah mengurus kami bertiga. Jadi, aku melarang mami mengandung lagi. Di saat melihatmu, aku menyukaimu dan ingin kamu menjadi adikku. Maka dari itu, aku tidak setuju jika kamu menikah dengan Ira."


"Adik, ya. Aku mengerti! Mulai sekarang aku akan menempatkan diriku sebagai seorang adik." Ucap Rihan datar dan kembali membaca berkas di depannya.


"Rei... Kamu..."


"Sudah cukup! Masih banyak berkas yang harus aku periksa. Kak Neo ke sini karena banyak pekerjaankan?" Rihan berbicara tanpa menatap Neo.


"Rei..." Panggil Neo pelan. Sayangnya Rihan tidak peduli.


"Baik. Aku akan melanjutkan pekerjaanku." Gumam Neo lalu menepuk pelan bahu Rihan sebelum berbalik ke sofa beberapa meter di depannya.


Rihan hanya menatap punggung Neo sekilas lalu melanjutkan pekerjaannya setelah menghela nafas sebentar.


***


Setelah pembicaraan malam itu, Rihan mulai menjaga jarak dengan Neo. Rihan hanya tidak ingin apa yang dia rasakan semakin mengganggunya, karena masih ada yang harus dia lakukan sehingga lebih baik menjaga jarak dengan Neo.


Neo yang merasakan sikap Rihan padanya merasa ada yang aneh di hatinya. Neo begitu yakin hanya menganggap Rihan sebagai adiknya, tetapi ketika Rihan menjaga jarak dengannya, dia merasa ada yang hilang.


Meski keduanya tidur bersama, tetapi Neo tidak punya kesempatan untuk berbicara dengan Rihan. Ketika pria itu akan bicara, Rihan selalu beralasan bahwa dia lelah sehingga ingin cepat tidur.


Waktu keduanya bertemu hanya di saat tidur bersama, karena Rihan akan selalu menghindari Neo dengan pergi ke RS Setia meski tidak ada pekerjaan di sana. Rihan juga rutin ke kampus membuat jarak keduanya semakin jauh. Lebih tepatnya Rihan yang selalu menghindar.


Neo selalu mencari kesempatan bahkan di saat makan bersama, tetapi Rihan sudah membuat peraturan untuk tidak berbicara saat makan sehingga tidak ada kesempatan bagi Neo untuk bicara.


Beberapa hari ini Neo tidak tidur dengan baik. Waktu tidurnya mungkin satu atau dua jam, karena sisa waktunya selalu dipakai untuk menatap wajah tenang Rihan saat tidur.


Seperti malam ini, sudah pukul 3 pagi, tetapi Neo masih terjaga dan menatap wajah tenang Rihan yang berbaring menghadap ke arahnya.


"Kenapa rasanya ada yang hilang di saat kamu menjauh dariku? Aku bingung dengan diriku sendiri. Entah apa yang aku rasakan saat ini. Aku hanya ingin kamu selalu didekatku," Gumam Neo sambil terus menatap Rihan yang tertidur di depannya. Jarak keduanya hanya beberapa senti.


"Bisakah kamu tidak menghindariku?" Gumam Neo lagi. Pria itu menghela nafas pelan kemudian mendekat pada Rihan.


Cup


Satu kecupan Neo berikan di kening Rihan. Pria itu kemudian tersenyum tipis dan menempatkan lengannya sebagai bantal kepala Rihan, kemudian menarik Rihan ke dalam pelukannya.


"Mimpi indah, Rei." Ucap Neo pelan lalu memposisikan dagunya di kepala Rihan dan memejamkan matanya.


...


Rihan yang tadinya masih terlelap terusik karena merasakan panas di tubuhnya. Rihan membuka matanya pelan dan mendapati dirinya ada dalam pelukan Neo.


"Kenapa suhu tubuhnya begitu panas?" Gumam Rihan karena menyadari dimana panas itu berasal.


"Kak... Kamu demam. Biarkan aku mengambil kompres untukmu," Rihan berusaha melepas pelukan erat Neo.


"Kak?" panggil Rihan tetapi tidak direspon oleh Neo.


"Jangan menghindariku, Rei." Gumam Neo dalam tidurnya.


"Aku harus melakukannya, Kak. Maaf!" Ujar Rihan dalam hati sambil terus berusaha melepas tangan Neo yang memeluknya. Bukan hanya satu tangan, tetapi kedua tangan Neo memeluk Rihan dari depan.


"Kak... sebentar saja. Hm?" Ucap Rihan lembut.

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, perlahan-lahan pelukan Neo melonggar sehingga Rihan bisa melepas pelukannya. Rihan kemudian turun dan menuju lemari pendingin dan mengambil beberapa balok es batu ukuran kecil dan memasukan dalam baskom yang sudah diisi dengan air. Setelah itu, Rihan membawa baskom bersama sebuah handuk untuk mengompres Neo.


__ADS_2