
Perayaan akan dimulai pukul 7 malam, sehingga banyak tamu undangan sudah mulai berdatangan sejak pukul 6 sore. Entah alasan apa mereka datang secepat itu. Mungkin mereka sengaja datang lebih awal agar bisa menikmati keindahan mansion bak istana milik seorang Jhack Roland Lesfingtone, tidak ada yang tahu.
Rihan kini sudah siap di kamarnya bersama Alex dan Alen. Ketiganya sedang memantau para tamu undangan melalui kamera pengawas tersembunyi yang terpasang di setiap sudut mansion, mulai dari gerbang hingga ruang utama mansion. Tepatnya tempat perayaan, atau gedung khusus dalam mansion yang cukup luas untuk menampung ribuan orang.
Selain kamera pengawas, ada ruangan lain yang memiliki penjaga yang menjaga cctv yang sudah dipasang daddy Jhack di sudut lain mansion tapi bisa dilihat oleh orang lain.
Rihan hanya menatap datar ekspresi kagum para tamu ketika melihat bagaimana mansion pengusaha sukses ini.
"Bagaimana dengan Mentra?" Tanya Rihan memecah keheningan.
"Dia sudah siap. Hanya menunggu perintah dari anda, Tuan." Jawab Alex yang menatap sekilas Rihan.
"Kita akan keluar setelah Mentra tiba."
"Siap, Tuan.l!" Jawab Alex dan Alen serempak.
Kembali ke ruang utama perayaan, para tamu mulai berdatangan memenuhi ruangan itu. Keluarga Samantha dan Alexander datang bersamaan.
Rossemary, mommy Rihan yang melihat kedatangan keluarga itu menampilkan sorot mata benci. Terlebih saat melihat wajah Ariana. Ingin sekali wanita 40an itu menjambak rambut gadis itu hingga rontok. Rossemary lebih emosi lagi ketika mendengar bahwa Ariana sekarang menyukai Rihan yang menyamar sebagai laki-laki.
Mommy Rihan itu hanya bisa mencibir dalam hati karena bisa-bisa Ariana berpindah hati secepat itu ketika bertemu yang lebih tampan.
"Sudahlah sayang, biarkan anak kita yang mengurusnya. Jangan mengeluarkan tenaga percuma untuk itu." Daddy Jhack berusaha menangkan istrinya ketika melihat wajah putihnya mulai memerah.
Mendengarnya, Rossemary menghela nafas pelan, berusaha tenang kemudian keduanya memasang senyum palsu menyambut kedatangan dua keluarga itu.
"Semoga kalian merasa nyaman berada di perayaan ini." Daddy Jhack berusaha terlihat ramah di hadapan Pither dan Samuel.
"Terima kasih sudah mengundang kami, Tuan Jhack. Kami merasa terhormat." Balas Samuel ketika jabatan tangan mereka terlepas.
"Ya."
Setelah kedua keluarga itu kembali ke tempat mereka, datang Julian Antarik dan Ayu yang disambut baik oleh Jhack dan Rossemary karena mereka memang tidak bermasalah dengan keluarganya.
Neo juga hadir di sana bersama Logan yang mengundang banyak bisikan dan tatapan kagum para tamu di sana, karena jarang sekali pengusaha muda itu datang ke acara-acara seperti ini.
Chi Corporation ketika mendapat undangan untuk menghadiri suatu perayaan, selalu yang datang perwakilan mereka sehingga ketika Neo hadir di sini, maka para tamu undangan sangat heran.
Neo yang ditatap heran tidak peduli sama sekali. Pria itu hanya mengedarkan pandangannya untuk mencari seseorang. Sayangnya orang yang dicari tidak ada sama sekali.
"Mungkin dia sedang sibuk." Batin Neo yang terus berjalan menghampiri pemilik acara.
Baru saja Neo dan Logan akan kembali ke tempat yang disediakan untuk mereka setelah bersalaman, tiba-tiba suasana di sana lebih lebih heboh dari waktu merek masuk tadi. Karena penasaran, Neo mengalihkan pandangannya dan melihat ke arah pintu masuk seperti sepasang kekasih yang berjalan masuk.
Awalnya Neo merasa biasa saja karena memang mengenal salah satunya, tetapi ketika pasangan itu semakin dekat, Neo merasa familiar dengan pasangan satunya lagi.
"Kenapa wajahnya mirip seseorang?" Bisik Logan pada Neo.
"Apa dia punya kembaran?" Balas Logan ikut berbisik.
Jika Neo dan Logan berasumsi seperti itu, maka berbeda dengan David dan Ariana.
David tiba-tiba berdebar, sedangkan Ariana mengepalkan kedua tangannya menahan marah.
Ya, salah satu tamu yang baru saja masuk itu adalah Rihan dan seorang pria yang cukup muda yang tidak lain adalah Mentra Puantya, atau direktur utama R.A Group.
"Gadis itu... pantas saja aku tidak bisa menemukannya. Ternyata dia kekasih Direktur R.A Group." Alvin, kakak Ariana berbicara dalam hati.
"Akhirnya aku menemukanmu," Gumam David dalam hatinya dan menatap penuh kerinduan pada Rihan yang sedang berjalan santai menuju pemilik acara.
Jhack dan Rossemary yang melihat kedatangan keduanya tiba-tiba mengerutkan kening.
__ADS_1
"Kenapa kamu sudah membuka penyamaranmu, Sayang?" Bisik Rossemary, mommy Rihan pada gadis yang diketahui sang anak.
"Mommy akan mengetahuinya sebentar lagi." Balas Rihan ikut berbisik.
"Daddy akan tahu sebentar lagi." Ulang Rihan pada sang daddy yang menatapnya penuh tanya.
"Maks..." Belum selesai dengan kata-katanya, pandangan mereka teralihkan dengan tiga orang yang baru turun dari tangga yang tidak lain adalah Alex, Alen dan Rihan.
"Ini..." Mommy Rihan tidak tahu harus berkata apa. Dia tiba-tiba merasa pusing karena melihat dua wajah yang benar-benar mirip tetapi dalam versi pria dan wanita.
[Ada apa ini? Kenapa waajh mereka sama?]
[Kenapa mereka memiliki wajah yang mirip?]
[Apa mereka kembar?]
[Bukannya Jhon Lesfingtone hanya memiliki dua anak? Siapa gadis itu?]
[Apa gadis itu kembaran Tuan Muda Rehhand yang dibuang? Aku penasaran.]
Begitulah bisik-bisik para tamu ketika melihat dua wajah yang sangat mirip, hampir tidak ada perbedaan sama sekali.
"Bagaimana menurutmu?" Bisik Neo santai pada Logan.
"Ini aneh. Berarti gadis itu adalah sahabat baik Ira." Balas Logan yang masih menatap Rihan versi gadis.
"Sepertinya begitu. Ira pasti senang melihatnya." Neo mengangguk dan menyesap minuman di sana.
"Harap tenang semuanya, saya akan menjelaskan semua ini di konferensi pers besok. Biarkan perayaan ulang tahun pernikahan kakak saya dimulai." Suara tegas Jhon melalui mikrofon membuat suasana menjadi hening dan semua pandangan teralihkan padanya.
Meski Jhon sendiri tidak tahu apa yang sudah direncanakan oleh ponakan kesayangannya, tetapi dia hanya mengikutinya saja. Mungkin setelah ini, Rihan akan menjelaskan pada mereka.
Meski perayaan berjalan dengan baik, tetapi Ariana tidak bisa tenang karena tiba-tiba merasa takut. Bagaimana tidak takut, jika gadis yang dia bully tiba-tiba muncul bersama orang yang memiliki kekuasaan untuk menghancurkan keluarganya.
"Kamu kenapa, Sayang?" Tanya Amenda, ibu Ariana yang melihat wajah pucat sang anak.
"Angel tidak apa-apa, Ma. Sepertinya Angel harus ke toilet."
"Baiklah. Hati-hati, Sayang."
"Iya, Ma."
Ariana kemudian berdiri dan menuju toilet.
Flasback on.
"Bagaimana dengan Mentra?" Tanya Rihan.
"Dia sudah siap. Hanya menunggu perintah dari anda, Tuan." Jawab Alex yang menatap sekilas Rihan.
"Bagaimana dengan kekasihnya?" Tanya Rihan tanpa mengalihkan pandangannya dari proyektor besar di kamarnya yang menayangkan semua sudut yang ditangkap oleh kamera pengawas.
"Beatrix siap menyamar menjadi anda, Tuan."
"Bagus! Kita akan keluar setelah Mentra tiba."
"Siap, Tuan."
Inilah rencana Rihan. Jauh-jauh hari sebelum perayaan, dia tiba-tiba memikirkan ide membuat topeng kulit mirip wajahnya agar tidak ada yang curiga bahwa Rihan dan Rehhand adalah satu orang. Rihan hanya tidak ingin otak cerdas Neo menyadari penyamarannya sehingga dia memikirkan ide ini.
Flasback off.
__ADS_1
Melihat Ariana yang sepertinya ingin pergi ke suatu tempat, Rihan segera memberi kode pada Beatrix, kekasih Mentra yang saat ini memakai topeng kulit wajah Rihan untuk mengikuti Ariana.
Bertanya pada para pelayan, Ariana akhirnya tahu di mana letak toilet. Dia dengan tenang menuju ke sana.
"Bagaimana ini? apa yang harus aku lakukan jika j*****g itu membalas dendam?" Gumam Ariana setelah mencuci wajahnya dan menatap pantulannya pada cermin. Jangan lupakan kuku jari tangannya yang digigit karena takut dan cemas.
"Menerimanya dengan lapang dada." Sebuah suara lembut memyahut, membuat Ariana menoleh ke belakang dan kaget akan kehadiran Rihan palsu di sana.
"Kamu..."
"Ya, ini aku. Gadis yang kamu bully tiga tahun lalu. Masih ingat?"
"Sepertinya kamu salah orang. Aku tidak mengenalmu sama sekali." Bantah Ariana kemudian dengan cepat keluar dari sana melewati Rihan palsu atau Beatrix itu.
Bruk!
"Kamu baik-baik saja? Sini aku bantu." Rihan palsu dengan wajah polos dan gerakan ingin membantu Ariana.
"J****g sialan!" Teriak Ariana dengan emosi karena ketika akan melewati Beatrix, gaun panjangnya bagian belakang diinjak sehingga dia akhirnya jatuh telungkup dengan kepala menyembul keluar dari pintu toilet.
"Wow! santai, aku tidak melakukan apapun padamu, kenapa kamu sudah emosi? Gadis yang aneh." Beatrix kini berjongkok di depan kepala Ariana setelah melewati Ariana begitu saja.
"KAU..."
"Aku akan meminta bantuan, tunggu sebentar, ya." Santai Beatrix dan segera berdiri kemudian pergi dari sana meninggalkan Ariana yang mengeluarkan sumpah serapah memaki Beatrix.
"Arrrrrrghhhh... AKU AKAN MEMBALASMU!" Teriak Ariana sambil memukul-mukul lantai karena emosi. Sedangkan Beatrix yang belum terlalu jauh hanya melambaikan tangannya membuat Ariana semakin geram.
***
Perayaan terus berlanjut hingga di pertengahan acara, lampu tiba-tiba padam membuat para tamu berteriak heboh.
Rihan hanya bersikap tenang di tempat duduknya.
"Hubungkan dengan penjaga cctv daddy." Perintah Rihan lalu menekan jam tangannya agar mengaktifkan lensa matanya untuk melihat lebih jelas siapa saja yang mencurigakan.
"Mereka tidak bisa dihubungi, Tuan." Jawab Alex pelan.
"Sepertinya aku harus memasang sistem Gledy juga di mansion Daddy." Keluh Rihan dalam hati menyesal. Jika saja dia memasang sistem yang sama dengan masionnya, maka mudah saja memberi perintah tanpa harus bergerak.
"Semua sniper sudah siap, Tuan." Lapor Alen membuat Rihan sedikit tenang.
Di sisi lain Neo dan Logan.
"Menurutmu, ini musuh mereka atau musuhmu?" Tanya Logan pada Neo. Keduanya tidak panik sama sekali.
"Entahlah. Kita lihat saja, bagaimana rencana bocah itu."
"Oke. Aku setuju."
Di saat semua orang sibuk kesana kemari mencari penerangan, tiba-tiba sebuah suara membuat suasana menjadi hening.
"DIAM DI TEMPAT MASING-MASING! JIKA ADA YANG BERGERAK SEDIKIT SAJA, PERCAYALAH, KEPALANYA AKAN BERPINDAH DARI TUBUHNYA!"
***
Jangan lupa untuk memberikan dukungan untuk cerita ini, ya.
Terima kasih.
Sampai ketemu di chapter selanjutnya.
__ADS_1