
Rihan saat ini di dalam mobil dengan tangan kanan menopang kepalanya sambil menatap datar pemandangan di depannya, dimana dua orang pria berpakaian jas terlihat berkelahi dengan 10 orang berpakaian seperti preman. Kekuatan yang tidak sebanding.
Jarak Rihan dengan mereka sekitar 20 meter tetapi mereka tidak menyadarinya karena asik dalam perkelahian itu.
"Saya harap anda tidak melakukan apa yang saya pikirkan, Tuan." Suara Alex terdengar pada chip di belakang telinga Rihan.
"Kita lihat saja nanti," Balas Rihan datar.
"Tuan..."
"Jangan menggangguku, Lex."
"Baik, Tuan."
Sekitar 10 menit perkelahian itu masih berlanjut hingga salah satu dari dua pria berjas itu jatuh sambil memegangi perutnya yang ditendang tadi. Aksi perkelahian itu terjadi di pinggir jalan tol.
Banyak kendaraan berlalu lalang tetapi tidak ada yang mau berhenti untuk membantu dua pria itu. Entahlah. Rihan malas memikirkannya.
"Haruskah aku ikut bergabung?" Gumam Rihan pelan karena dua pria berjas itu saat ini sudah dikepung kesepuluh pria lainnya.
"Saya harap tidak, Tuan."
"Kamu memiliki pendengaran yang bagus, Lex."
"Biarkan mereka mengurus urusan mereka sendiri, Tuan."
"Akan menarik jika aku ikut di dalamnya."
"Tapi..."
"Tetap di tempat kalian. Ini perintah!" Rihan kemudian membuka pintu mobil dan keluar.
"Tuan..." Teriakan Alex hanya diabaikan oleh Rihan.
"Sudah lama aku tidak melakukan ini," Gumam Rihan sambil merenggangkan otot tangannya.
Dengan langkah santai, Rihan menghampiri mereka. Hanya tersisa 7 meter dengan para pria itu, dapat Rihan lihat salah satu dari pria berjas itu tertusuk di bagian pinggang. Rihan hanya menaikan sebelah alis dan tetap menghampiri mereka. Ketika pisau akan menusuk untuk kedua kalinya, Rihan segera angkat suara karena jaraknya sudah dekat dan mereka masih tidak menyadarinya.
"Wah... kapan lagi aku bisa melihat pemandangan seperti ini?"
"Siapa kamu? jangan ikut campur!" Teriak seorang pria berpakaian preman itu.
"Bukan siapa-siapa." Jawab Rihan santai sambil kedua tangan disilangkan di atas perutnya.
"Sebaiknya pergi dari sini, jika ingin selamat." Preman lainnya menyahut dengan kesal.
"Apa yang anda lakukan di sini?" Tanya salah satu pria berjas yang saat ini memegangi pria lainnya yang tertusuk itu.
"Sekedar lewat," Balas Rihan.
"Maka pergi dari sini. Kami tidak butuh bantuanmu!" Pria yang tertusuk itu berbicara sambil menatap tajam Rihan.
"Aku memang tidak ada niat membantu. Kedatanganku hanya untuk bermain," Rihan balas menatap pria itu tak kalah tajam.
"Jadi anda ingin menantang kami?" Tanya seorang preman dengan emosi.
"Ralat. Aku hanya ingin bermain,"
"Anak muda yang sombong. Serang dia!" Marah preman yang memegang pisau itu.
Terjadilah perkelahian sengit antara Rihan dan 10 preman dengan badan penuh otot itu.
Bugh.
Sret!
"Akhhh..."
"Satu." Hitung Rihan setelah seorang preman berhasil dia pukul mundur dan jatuh dengan tendangan di bagian dadanya.
Dengan gerakan memutar untuk menghindar dari tendangan seorang preman, Rihan melakukan tendangan lagi di bagian pipi preman itu hingga darah segar mencurat keluar dari mulut dan akhirnya preman itu jatuh.
"Dua."
Hap!
Dua orang preman kini memegangi kedua tangan Rihan agar tidak bergerak, sedangkan seorang preman di bagian depan siap meninju wajah Rihan. Rihan tetap memasang wajah datar menatap pria di depannya.
__ADS_1
Mengangkat sebelah alisnya, tanpa menunggu pukulan itu, Rihan segera melompat dengan dua preman sebagai tumpuan sehingga kedua kakinya menginjak pria di depannya sebagai bantuan untuk melakukan salto ke belakang.
Karena gerakan mendadak Rihan, pegangan dua preman itu terlepas. Rihan kemudian menendang dua preman itu sekaligus di bagian wajah mereka hingga terjatuh.
"Tiga... empat."
Preman yang tadi di depan Rihan, saat ini memegangi dadanya yang menjadi tempat pijakan Rihan tadi untuk melakukan salto. Preman itu semakin emosi dan kembali menyerang Rihan.
Ketika sedikit lagi kepalan tangan kanannya akan mengenai wajah Rihan, gadis itu memiringkan kepala ke kiri untuk menghindar. Rihan kemudian membalas dengan meninju bagian wajah preman itu tepat di bagian hidung sehingga darah segar berhasil keluar.
Bukan hanya meninju, Rihan dengan gerakan cepat sedikit melompat dan menendang dada pria itu lagi hingga terjatuh.
"Lima."
"Sial! dia sangat kuat." Pria kelima yang baru saja jatuh kesakitan mengeluh.
Melihat kelima temannya sudah jatuh, lima lainnya dengan mandiri segera maju sekaligus melawan Rihan.
Rihan masih dengan wajah datar, dan sedikit mengatur nafasnya, kembali menatap kelima preman yang akan melakukan serangan padanya.
Bugh
Sret
Krak
Bugh
Bugh
"Akhhh..."
"Akhhh..."
Tidak ingin membuang waktu, Rihan dengan gerakan cepat memukul, menendang titik-titik vital mereka, bahkan mematakan kaki atau tangan kelima preman itu. Akhirnya kesepuluh preman itu terkapar tak berdaya di pinggiran jalan.
Setelah itu, Rihan sedikit membenarkan kemejanya dan berbalik ingin kembali ke mobilnya tanpa menatap dua pria berjas yang sedari tadi menatap takjub setiap gerakan Rihan.
Pria yang terluka di bagian pinggangnya itu, bahkan tidak menghiraukan lukanya, dia malah asik menghitung waktu Rihan memberi pukulan pada para preman itu. Sedangkan pria berjas lainnya sibuk menekan darah yang keluar di pinggangnya.
Sejak para preman itu menyerang Rihan, pria berjas yang terluka tidak cukup parah sudah mengajak pria lainnya untuk kembali, tetapi ditolak dengan alasan ingin melihat bagaimana Rihan beraksi.
"Sebentar. Tuan muda Rei..." Panggil si Bos.
Rihan berhenti dan berbalik menatap keduanya dengan datar.
"Meski aku tidak meminta bantuanmu, tapi terima kasih." Sang Bos berbicara dengan tulus.
"Sejak awal aku tidak berniat membantu. Hanya ingin bermain. Lagipula aku tidak ingin kamu mati secepat ini di tangan mereka karena aku ingin kamu mati di tanganku sendiri, Tuan Brand."
Ya, dua pria berjas itu adalah Brand dan Dom yang baru pulang kerja tetapi dihadang oleh para preman itu. Setelah Rihan mengatakan itu, dia berbalik dan kembali ke mobil. Bertepatan dengan itu, Brand akhirnya jatuh.
"Bos. Anda baik-baik saja?" Tanya Dom panik.
"Ayo kita pulang!" Suara Brand tercekat karena menahan sakit.
"Sial... kenapa sakitnya baru terasa?" Gumam Brand dalam hati.
"Saya akan memanggil taxi, Bos. Tunggu sebentar."
"Ya."
Dom memang harus memanggil taxi karena mobil mereka, kedua bannya pecah akibat serangan para preman itu.
Sudah satu 5 menit Dom menunggu, tidak ada taxi sama sekali. Tumpanganpun tidak ada. Bukan tidak ada, tetapi tidak ada kendaraan yang mau berhenti untuk menolong mereka.
Rihan sedari tadi belum kembali. Dia hanya menatap usaha Dom sambil mengunyah permen karet di dalam mobilnya. Rihan yakin, sebentar lagi Dom akan meminta bantuannya karena Alex sudah memberitahu para pengendara yang akan memasuki area jalan tol untuk tidak membantu Brand dan Dom. Entah alasan apa yang Alex pakai, Rihan tidak peduli.
Rihan menyeringai karena melihat kedatangan Dom.
Tok
Tok
Tok
"Ada apa?" Tanya Rihan datar, padahal dia sudah tahu maksud kedatangan Dom.
__ADS_1
"Sebelumnya saya minta maaf, Tuan. Bisakah saya meminta bantuan anda?"
"Bukankah sejak awal kalian tidak ingin dibantu? Aku juga tidak ingin,"
"Untuk itu, saya minta maaf. Kali ini saya ingin meminta bantuan anda. Bisakah anda mengantar Bos saya ke rumah sakit? Luka di bagian pinggangnya cukup parah. Jika anda tidak ingin mengemudi, biar saya saja."
"Apa keuntungan yang aku dapat?"
"Apapun yang anda inginkan akan saya berikan. Maksud saya, Bos akan berikan."
"Terdengar menarik. Oke!"
"Terima kasih banyak, Tuan." Setelah itu, Dom bergegas menghampiri Brand yang terlihat mulai pucat.
Rihan hanya menyeringai karena memang ini yang dia mau. Ini yang dia pikirkan sebelum membantu Brand tadi.
Rihan menyalakan mobil dan menghampiri Dom yang terlihat sedikit kesulitan memapah Brand.
"Biarkan saya yang menyetir, Tuan." Tawar Dom setelah mendudukkan Brand di kursi penumpang bagian belakang.
"Tidak perlu. Urus saja bosmu itu."
Dom hanya mengangguk dan mengambil posisi di sebelah Brand sambil terus menekan bagian pinggang bosnya itu.
Di sepanjang jalan, Brand tidak berhenti meringis sakit. Wajahnya mulai pucat akibat kekurangan banyak darah, membuat Dom semakin khawatir.
"Bertahanlah, Bos. Sebentar lagi kita sampai,"
"Anjing di rumahku tertawa melihatmu meringis sakit hanya karena luka sekecil itu," Cibir Rihan sambil menggeleng kepalanya.
"Kau... akhhh..." Brand ingin membalas, sayangnya lukanya semakin sakit jika dia banyak bergerak meski hanya untuk berbicara.
Rihan yang melihat itu menghela nafas sebentar, kemudian menghentikan mobilnya membuat Dom menatapnya heran.
"Kita ganti posisi. Kamu yang menyetir." Rihan melepas seat belt dan keluar dari mobil.
"Apa maksudmu? Kamu ingin mencari kesempatan untuk membunuhku di saat Dom sedang menyetir?" Brand berujar paksa karena kesakitan.
"Saran yang bagus," Rihan segera menarik Dom dengan kasar keluar dari mobil.
"Lakukan apa yang aku perintahkan!" Suara Rihan penuh penekanan membuat nyali Dom menciut dan dengan patuh menuju kursi pengemudi.
"Hei... akhhh..." Ringis Brand karena Rihan menekan lukanya cukup kuat.
"Diam!!" Rihan sedikit menunduk dan mengambil sebuah kotak di bawah kursinya yang ternyata adalah kotak P3K.
"Tunggu apa? Jalankan mobilnya!" Perkataan Rihan membuat Dom tersadar dari memandangi Rihan dan Brand di belakang.
"Baik!"
Rihan kemudian tanpa permisi menggunting kemeja putih Brand di bagian lukanya. Jas Brand sendiri sudah Dom lepas sebelumnya sehingga pria itu hanya mengenakan kemeja putih.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Brand panik.
"MEMBUNUHMU!"
"Apa?"
"Hanya luka sekecil ini, kamu sudah sekarat. Benar-benar lemah."
"Terus saja membullyku, kamu tidak tahu bagaimana rasanya ditusuk," Brand membalas sambil terus meringis.
"Ini bukan apa-apa bagiku. Diamlah! Aku akan mengobati lukamu,"
Karena mobil itu adalah mobil yang cukup besar dengan pencahayaan juga sangat mendukung, sehingga Rihan dengan leluasa bisa mengobati luka Brand. Rihan hanya perlu mengatur kursi Brand agar pria itu sedikit berbaring untuk diobati.
Selama Rihan mengobati Brand, pria itu terus menatap wajah Rihan.
"Benar kata orang, kamu sangat cantik. Pantas dijuluki pria cantik," Gumam Brand pelan tapi masih bisa didengar oleh Rihan. Rihan sendiri tidak peduli dan terus mengobati Brand.
"Kamu bisa saja membunuhku. Kenapa justru mengobatiku? Hubungan kita juga sangat buruk," Brand masih memandang Rihan yang saat ini membalut pinggangnya.
"Untuk apa membunuh orang yang sedang sekarat? Lagipula kematian terlalu muda untukmu, setelah apa yang kamu lakukan. Ada saatnya aku akan mengembalikan semua itu padamu. Kamu hanya perlu menunggu." Rihan kemudian menggunting sisa perban yang tidak terpakai setelah membalut luka Brand.
"Akan ada saatnya juga kamu tahu yang sebenarnya. Untuk sekarang, tetaplah seperti ini. Eum... terima kasih sudah mengobatiku. Aku akan membalasmu nanti," Brand tersenyum tulus membuat Rihan menatapnya sambil mengerutkan kening karena memikirkan perkataan Brand barusan.
"Apa maksudmu dengan akan ada saatnya aku tahu?" Tanya Rihan sambil merapikan peralatan yang dia pakai tadi.
__ADS_1
"Kamu akan tahu jika sudah waktunya," Lagi-lagi perkataan dan senyum tulus Brand membuat Rihan mulai meragukan sesuatu.