Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Rencana Membuka Seleksi Mencari Kekasih


__ADS_3

"Selamat ulang tahun anak mami."


"Mami... bagaimana bisa? Bukankah mami sudah..." Suara Phiranita tertahan sambil menatap layar monitor dengan mata berkaca-kaca.


"Ceritanya panjang, Sayang. Semua ini berkat Tuan Muda Rehhand."


Neo, Tuan Evan dan Phiranita segera berbalik menatap Rihan yang berdiri santai di belakang mereka.


"Kita akan bicara nanti," Balas Rihan datar lalu menatap ke arah lain.


Ketiganya kembali menatap layar monitor di depan mereka dan melanjutkan pembicaraan mereka. Layar monitor itu terhubung dengan panggilan video sehingga mereka bisa berbicara dengan leluasa.


Beralih pada Elle, wanita itu kini masih syok di samping Albert yang tadi menahannya agar tidak jatuh.


"Aku sangat yakin wanita tua itu sudah mati. Bagaimana mungkin dia hidup kembali? Ini tidak mungkin." Gumam Elle dalam hati dan menggeleng tidak percaya.


"Bagaimana pendapatmu tentang ini?" Bisik seseorang di telinga Elle membuat wanita itu menoleh ke sampingnya dan kembali jatuh terduduk. Albert tidak sempat membantunya. Pria itu hanya menatap tidak mengerti, si pelaku yang membuat Elle terjatuh. Siapa lagi kalau bukan Rihan.


Neo tidak memusingkan keberadaan Elle, karena sedang sibuk berbicara dengan sang mami. Sedangkan para tamu, hanya menatap dengan bermacam ekspresi.


David dan Dian hanya duduk dengan tenang di tempat mereka. Keduanya tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Sedangkan di meja Alex, ada Logan yang gelisah di tempatnya. Pria itu ingin maju membantu Elle, tetapi ditahan oleh Brand dan Dom.


Mulut Logan sengaja disumpal dengan sebuah roti berukuran besar agar pria itu tidak memanggil Neo. Meski Brand sebenarnya tidak tahu rencana ini, tetapi melihat situasi, dia akhirnya mengerti dan ikut membantu. Pria itu juga kaget ternyata Tante Dara masih hidup.


Neo yang sibuk melakukan panggilan video dengan ibunya tidak menyadari situasi di belakang. Di sampingnya yang hanya berjarak 3 meter bahkan dia tidak tahu. Bagaimana Neo bisa tahu, jika Alex dan Alen sudah berdiri dan menutup pandangannya terhadap Elle yang saat ini masih terduduk lemas dengan Rihan yang menatapnya dengan kedua tangan terlipat di dada.


"Reaksi tubuh seseorang tidak bisa berbohong. Kita ketemu lagi mantan, Kakak Ipar." Rihan berbisik di telinga ketika berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Elle.


"Kau..."


"Bajingan ini! bagaimana bisa dia... aku harus tenang. Aku sudah sejauh ini, tidak boleh gagal." Batin Elle mengepalkan kedua tangannya.


"Apa maksudmu? Siapa mantan kakak iparmu?" Tanya Elle berusaha tenang meski saat ini wajahnya terlihat sedikit pucat.


"Aku salah, ya?" Tanya Rihan santai.


"Aku tidak kenal siapa mantan kakak iparmu." Balas Elle lalu menatap ke arah lain.


"Hm... kalau begitu, ada apa dengan reaksi tubuhmu setelah melihat wajah nyonya Dara?" Tanya Rihan sambil mengetuk jari telunjuknya di dagu.


"Eum... itu karena... karena... karena wanita itu mirip bibiku yang sudah meninggal, jadi aku hanya syok." Elak Elle setelah memikirkan alasan di kepalanya.


"Jadi, begitu. Setahuku, reaksimu barusan bukan  menunjukan wanita itu mirip bibimu. Sebaliknya, reaksimu tadi menunjukan bahwa kamu seperti melihat mayat hidup. Apa aku salah?"


"Itu..."


"Ada denganmu Elle? Kenapa duduk di situ?" Tanya Neo yang menghampiri Rihan dan Elle. Sepertinya pria itu menyadari tidak ada Elle di sampingnya. Padahal panggilan video dengan sang mami masih berlangsung.


"Sayang... aku..."

__ADS_1


"Hei... ada apa denganmu? Bangun Elle! Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Neo panik lalu memangku Elle yang pingsan. Pria itu kini menatap penuh tanya pada Rihan.


"Tanyakan sendiri saat dia bangun," Rihan berbicara dengan datar lalu berdiri. Dia sedikit melirik Elle lalu menggeleng.


"Pria itu benar-benar bodoh. Dia bahkan tidak tahu wanita itu benaran pingsan atau hanya pura-pura. Aku heran... perusahaan miliknya yang sebesar itu, sebenarnya otak siapa dibalik itu semua." Gumam Rihan dan menggeleng.


"Lanjutkan saja acaranya, Al. Aku akan beristirahat." Rihan lalu beranjak pergi dari sana.


Rihan sedikit melirik ke arah Logan yang masih ditahan oleh Brand dan Dom di tempat duduknya. Pria itu bahkan menatap Rihan dengan tatapan melotot.


"Selesaikan sisanya, Lex. Aku lelah!"


"Siap, Tuan!"


Rihan tanpa pamit pada yang lain, sudah masuk ke dalam mansion. Neo, pria itu sudah membawa Elle ke rumah sakit. Tuan Evan dan Phiranita juga sudah mengakhiri panggilan video dengan nyonya Dara karena suara Neo yang panik karena Elle yang pingsan.


Acara tidak lagi dilanjutkan karena pingsannya Elle. Logan juga akhirnya dilepas sehingga pria itu ikut membantu Neo.


...


Tengah malam, Neo baru masuk ke kamar Rihan dengan langkah pelan. Pria itu terlihat lelah karena menjaga Elle yang pura-pura pingsan. Kata dokter, Elle hanya syok dan akhirnya pingsan. Padahal sebenarnya gadis itu hampir serangan jantung. Dokter yang merupakan bawahan Rihan itu hanya melakukan tugas yang sudah diperintahkan padanya.


Neo melirik jam di atas nakas, ternyata sudah pukul 2 pagi. Pria itu kemudian membersihkan diri dan ikut berbaring di samping Rihan. Neo yang berbaring di belakang Rihan, segera menyusupkan tangan kirinya pelan-pelan ke bagian leher Rihan berniat menjadikan lengannya sebagai bantal. Setelah itu, tangan kanannya melingkar di perut Rihan.


"Kenapa aku merasa jadi orang bodoh yang tidak tahu apapun? Semuanya kamu lakukan sendiri tanpa ada yang tahu. Kamu yang selalu membantu keluargaku. Dan aku, aku hanya bisa merepotkanmu. Maafkan aku, Rei. Maaf dan terima kasih sudah merawat mami. Aku menyayangimu, Rei." Gumam Neo di belakang tengkuk Rihan.


Rihan tiba-tiba membuka matanya karena deru nafas Neo di tengkuknya. Rihan menyentuh dadanya, ingin merasakan debaran jantungnya apakah masih sama seperti dulu, yang akan berdebar kencang jika dalam keadaan seperti ini. Nyatanya, debarannya tidak sekencang dulu. Itu berarti apa yang dia rasakan saat-saat lalu perlahan-lahan mulai menghilang. Rihan bersyukur untuk itu.


***


"Di ruang kerjaku saja, Paman." Rihan mempersilahkan Tuan Evan ikut bersamanya ke ruang kerjanya.


"Maaf karena tidak memberitahu rencana ini pada paman. Aku memang sengaja menyembunyikan bibi hingga sembuh total. Aku hanya tidak ingin orang-orang itu kembali melakukan hal buruk pada Bibi Dara. Semoga paman tidak marah," Rihan membuka setelah beberapa menit mereka duduk di sofa ruang kerjanya.


"Untuk apa paman harus marah, jika semua itu demi kebaikan bersama. Justru paman sangat berterima kasih padamu. Kamu benar-benar pahlawan bagi keluarga paman. Tetapi paman masih penasaran kenapa istri paman masih hidup, sedangkan kata pihak rumah sakit sudah meninggal." Tanya Tuan Evan mengerutkan kening.


"Untuk masalah itu, nanti Alex akan menjelaskan detailnya pada paman."


"Baiklah. Kalau begitu, di mana istri paman sekarang? Paman ingin bertemu,"


"Bibi Dara ada bersama keluargaku di Prancis. Tapi untuk sementara, paman dan yang lainnya tidak boleh berkunjung ke sana. Aku yakin paman mengerti maksudku,"


"Baik. Semuanya paman percayakan padamu. Sekali lagi terima kasih banyak, Rei."


"Sama-sama, Paman."


...


"Terima kasih banyak, Rei. Aku sudah mendengar cerita dari papi. Bisa aku melihat catatan medis mami?" Tanya Neo diakhir kalimatnya.

__ADS_1


Pria itu baru datang di ruang kerja Rihan setelah mangkal cukup lama di kamar Elle karena wanita itu baru pulang dari rumah sakit tadi pagi. Elle yang awalnya berpura-pura pingsan, justru diberi obat tidur oleh bawahan Rihan, sehingga wanita itu tertidur hingga pagi.


"Berikan padanya, Lex."


Neo mengambil kertas di tangan Alex dan membaca detail catatan medis sang mami. Tangannya mengepal kuat menahan marah.


"Mereka sangat susah dilacak. Aku sudah berusaha tetapi hasilnya nihil. Bisakah kamu membantuku, Rei?" Pintah Neo setelah meletakkan kertas itu di atas meja.


"Aku sibuk. Besok ada perjalanan bisnis. Baik-baiklah di sini. Semoga aku kembali, kak Neo masih hidup." Rihan menjawab setelah menyesap secangkir susu dingin yang Alen siapkan untuknya.


"Tidak bisakah aku ikut?"


"Kak Neo seorang bos perusahaan. Tugasnya tidak sedikit. Kenapa harus ikut denganku? Lagipula Elle masih sakit. Tidak baik meninggalkan kekasihmu sendirian." Rihan berbicara dengan santai.


"Hufttt... baiklah. Cepat pulang, ya. Jika kamu lama, aku akan ikut."


"Aku hanya satu minggu di sana."


"Itu sangat lama. Setahuku, tiga hari cukup." Neo menggeleng tidak setuju.


"3 hari memang cukup. Tapi hari sisanya harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk menyenangkan diri. Setahuku, gadis-gadis di sana cantik-cantik." Balas Rihan santai lalu melirik Alex yang terlihat menahan tawa.


"Jangan mengujiku, Rei." Neo tiba-tiba kesal saat Rihan membahas gadis-gadis cantik.


"Huh? Apa salahnya menyenangkan diri sendiri? Apa aku salah, Lex?" Tanya Rihan menoleh menatap Alex yang sedang menutup mulutnya dengan punggung tangannya.


"Ekhem...Sama sekali tidak, Tuan. Memang sudah saatnya anda mencari pasangan hidup. Apalagi Tuan dan nyonya Besar sudah mendesak anda untuk itu," Jawab Alex setelah menenangkan diri untuk tidak tertawa.


"Benar juga! Papa dan mama selalu mengomeliku karena belum membawa mereka kekasih. Sepertinya aku harus membuka seleksi untuk itu," Rihan mengangguk seakan membenarkan perkataannya sendiri.


Brakk


"Apa-apan ini? aku tidak setuju!" Kesal Neo setelah menggebrak meja di depannya. Rihan hanya mendengus menatap Neo.


"Kalau begitu kamu harus membuka seleksi juga untuk kaum pria, karena aku akan ikut." Sebuah suara mengalihkan pandangan Rihan.


"Aku lupa jika masih ada pria tengil satu ini," Decak Rihan dalam hati lalu menatap Brand yang bersandar pada pintu ruang kerjanya sambil bersidekap dada.


"Kali ini aku setuju denganmu!" Neo mengangguk setuju pada Brand.


"Hei... kamu gila? Jangan lupa jika kamu punya cinta mati di kamar sebelah. Mau jadi playboy?" Brand Kesal mendengar perkataan Neo dan menggeleng tidak percaya pada pria itu.


"Itu urusanku. Jika kamu membuka seleksi itu, jangan lupa katakan padaku." Nada suara Neo penuh penekanan.


"Benar-benar pria bodoh," Gumam Brand lalu menghampiri Rihan dan duduk di sampingnya.


"Apa maksudmu?" Neo menatap tajam Brand.


"Aku rasa tidak mengatakan sesuatu sebelumnya," Balas Brand dan mengangkat bahunya tidak peduli. Neo hanya membalas dengan decakan.

__ADS_1


***


Untuk pembalasan Elle, dipending dulu, ya. Rihan masih masih memberi banyak waktu padanya.😁


__ADS_2