
"Bulan yang begitu indah. Sayangnya keindahannya tidak bisa dinikmati oleh banyak orang,"
Rihan seketika terkejut dan baru menyadari jika dia tidak sendiri di sana. Ternyata ada orang lain yang juga sedang duduk di sebelahnya, yang hanya dibatasi oleh sebuah tanaman yang tumbuh melewati kepala manusia jika sedang duduk.
Rihan yang mendengar suara itu, tahu jika yang duduk di seberangnya adalah seorang pria. Rihan tidak terlalu mengambil pusing dengan kehadiran pria itu di sana. Rihan hanya sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Banyak alasan untuk mereka datang ke tempat ini. Dan untuk pertama kalinya, ada yang datang di waktu yang berbeda." Pria itu masih saja berbicara sendiri.
Rihan hanya mendengar semua ucapan pria itu dalam diam, meski pikirannya sedang mencerna maksud perkataan pria itu.
"Bulan hanya menunjukan keindahannya di waktu yang tepat. Dan hanya mereka yang beruntung, yang bisa melihatnya saat ini." Pria itu terus berbicara.
"Tidak semua yang melihatnya dianggap beruntung. Hanya mata yang melihat, sedangkan pikiran tidak." Balas Rihan datar. Entah kenapa dia yang tadinya sibuk dengan pikirannya, kini membalas pria itu.
"Sama sepertimu!" Balas pria itu pelan tapi bisa didengar oleh Rihan.
"Setidaknya keindahan bulan memberikan ketenangan pada mereka yang benar-benar menikmatinya." Lanjut pria itu lagi.
Setelah itu, hening. Keduanya kembali sibuk dengannya pikirannya masing-masing. Rihan yang sibuk menenangkan pikirannya akan masa lalunya, sedangkan pria itu, entah apa yang sedang dia pikirkan.
Setelah hampir 30 menit dan merasa tenang, Rihan berdiri dan hendak kembali ke motornya. Baru beberapa langkah, dia berhenti dan menatap ke belakang ingin melihat siapa pria itu. Sayangnya, orang yang dicari tidak ada lagi di sana.
Rihan sendiri tidak mengambil pusing. Dia kembali menuju motornya dan menaikinya, kemudian menghidupkan mesin. Ketika akan memakai helm, Rihan mendapati secarik kertas yang menempel di sana. Rihan mengambilnya dan membacanya.
...'Terima kasih untuk hari ini. Aku harap kita bertemu lagi.'...
"Aku tidak melakukan apapun untuknya, kenapa berterima kasih? Pria yang aneh," Rihan lalu melipat kertas itu menjadi lebih kecil dan memasukannya ke dalam saku hoodienya dan menjalankan motornya pergi meninggalkan sungai itu.
***
Rihan yang baru saja masuk di kamarnya melalui pintu rahasia, dikejutkan dengan ketukan keras pada pintu kamarnya dari luar. Sepertinya kedua asistennya benar-benar khawatir karena tidak biasanya jam 4 pagi pintu kamarnya masih tertutup rapat.
"Nona! Tolong buka pintunya, anda baik-baik saja?" Panggil Alex dari luar. Suara Alex terdengar begitu khawatir.
Rihan lalu menekan salah satu tombol kecil pada jam tangannya dan pintubpun terbuka, menampilkan Alex yang sedang berdiri dengan posisi tangan hendak mengetuk pintu. Sedangkan Alen dengan iPad di tangannya entah apa yang sedang dia lakukan.
__ADS_1
Melihat pintu yang terbuka, Alex dan Alen seketika berjalan dengan cepat menghampiri Rihan yang sedang duduk dengan tenang di kasurnya. Rihan sebelum membuka pintu sudah mengganti pakaiannya dengan baju tidur agar tidak dicurigai oleh kedua asistennya.
"Anda baik-baik saja, Nona? Kenapa tidak membuka pintu? Ada yang sakit? Mana yang sakit? Saya akan memanggil Dokter Galant. Tunggu sebentar Nona!" Tanya Alex secara beruntun.
Tanpa menunggu jawaban sang majikan, Alex kemudian merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya kemudian berjalan keluar kamar. Sepertinya, dia akan menelpon Dokter Galant.
"Ada apa dengannya?" Tanya Rihan tanpa dosa pada Alen yang sedang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Kami sangat mengkhawatir anda, Nona. Hiks...hiks... Kami pikir terjadi sesuatu pada anda. Tidak biasanya nona terlambat membuka pintu. Hiks... Nona..." Alen kini sudah berlutut di samping tempat tidur Rihan dan memegang erat tangan kanan Rihan yang sedang duduk di tempat tidurnya.
Kedua kakak beradik yang biasanya tenang, kini terlihat sangat khawatir. Bagaimana tidak khawatir, jika biasanya sebelum jam 4 pagi, mereka sudah berada di depan pintu kamar sang majikan menunggu hingga pukul 4 tepat, pintu kamar akan terbuka.
Tetapi hari ini, sudah hampir 10 menit mereka menunggu, belum ada tanda-tanda pintu akan dibuka.
Dengan tenang, Alex mengetuk pintu kamar sang majikan berharap pintu kembali terbuka. Sayangnya tidak. Akhirnya Alex mengetuk pintu lebih keras lagi tetapi hasilnya tetap sama.
Alex lalu menyuruh sang adik untuk berusaha membobol pintu menggunakan iPadnya, sayangnya sistem pertahanan pintu benar-benar tidak bisa ditembus, membuat keduanya sangat panik. Mereka berpikir terjadi sesuatu dengan sang majikan.
Di saat Alex ingin mengetuk lagi pintu, pintu kemudian terbuka.
"Aku hanya kelelahan karena menjaga Phiranita di rumah sakit. Semua baik-baik saja," Alibi Rihan tidak ingin dua orang kepercayaannya itu khawatir.
Meski wajahnya datar, tetapi hatinya menghangat merasakan perhatian kedua asisten pribadinya ini. Rihan sudah menganggap si kembar sebagai saudaranya sendiri.
"Kelelahan? Kalau begitu nona istirahat lagi. Maaf sudah mengganggu waktu tidur anda, Nona. Mungkin sebentar lagi Dokter Galant akan datang untuk memeriksa kondisi anda." Alen kini sudah berubah panik.
"Kak... Cepat kemari!" Teriak Alen karena sang kakak masih di luar kamar.
"Ada apa? Apa nona sakit? Sebentar lagi Dokter Galant akan sampai. Istirahatlah, Nona!" Alex menyahut tidak kalah paniknya.
"Nona kelelahan karena menjaga Phiranita di rumah sakit, Kak." Jelas Alen pada sang kakak.
"Hanya butuh istirahat, kenapa kalian begitu panik?" Tanya Rihan lalu menatap kedua asistennya itu bergantian.
"Kami sangat mengkhawatirkan anda, Nona. Kami takut terjadi sesuatu pada nona. Sebaiknya nona istirahat sambil menunggu Dokter Galant." Alen lalu berdiri dan berusaha membaringkan sang majikan yang sepertinya enggan untuk berbaring.
__ADS_1
"Ya... ya... aku akan berbaring." Rihan dengan pasrah membaringkan tubuhnya kemudian diselimuti oleh Alen.
"Nona akan drop lagi jika memaksakan diri menjaga Phiranita. Saya akan memarahi gadis itu jika dia mengamuk lagi. Kesehatan nona lebih penting," Omel Alen pada Rihan yang hanya menatapnya datar.
"Phiranita sahabat saya, Len. Siapa lagi yang akan menjaganya jika bukan saya?" Balas Rihan kembali formal.
Baginya kesehatan sang sahabat lebih penting dari dirinya sendiri. Rihan merasa bersalah, karena dia sahabatnya itu mengalami trauma.
"Saya tahu, Nona. Tapi..."
"Sudahlah! Aku tidak apa-apa. Kalian tidak usah khawatir." Rihan kemudian memejamkan matanya karena tidak ingin diomeli lagi oleh Alen.
Alen dari luar memang terlihat sangat dingin. Tapi jika sudah berhubungan dengan sang majikan, maka dia akan cerewet melebihi si nyonya besar atau Mommy Rihan.
"Dokter Galant sudah sampai. Saya akan menjemputnya di bawah, Nona." Alex lalu pamit menjemput dokter pribadi Rihan.
"Hmm."
***
"Nona baik-baik saja. Tidak ada masalah dengan tubuhnya. Malahan saya takjub karena tubuh nona sangat sehat ketika saya periksa." Dokter Galant dengan senyum tipis menjelaskan kondisi Rihan setelah dia selesai memeriksa.
"Sepertinya serum itu berhasil." Gumam Rihan dalam hatinya sambil menganggukkan kepalanya senang.
"Syukurlah kalau begitu, Dok." Ucap Alen lalu tiba-tiba tersenyum, membuat Dokter Galant seketika memegang dadanya yang berdebar kencang karena melihat senyum manis yang baru pertama kalinya dia lihat itu.
"Sa...sama-sama." Balas Dokter Galant ikut tersenyum gugup.
"Mari saya antar keluar, Dok." Suara Alex sangat dingin, karena melihat tatapan terpesona Dokter Galant pada adiknya.
"Ayo... Saya pamit nona," Pamit Dokter Galant lalu mengikuti Alex dari belakang.
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.
See You.