
Hari ini Rihan akan pulang ke Prancis. Rencananya mereka akan berangkat pukul 10 pagi. Semua orang sudah mengepak barangnya masing-masing.
Sebelum berangkat, Rihan teringat akan Phiranita sahabatnya. Rihan akhirnya memutuskan untuk menghubungi sahabatnya itu, sekedar pamit sebelum pulang. Mengambil ponselnya, Rihan lalu menghubungi Phiranita.
Tut..
Panggilan terhubung.
"Halo, Han! Aku rindu..." Suara Phiranita terdengar sangat bersemangat.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Aku baik. Kamu tidak mau mengunjungiku lagi?"
"Jika ada waktu. Hari ini aku akan pulang ke Prancis. Setelah itu kembali ke Indonesia. Aku hanya ingin pamit padamu."
"Hah? pulang hari ini? Cepat sekali, padahal kita baru bertemu satu kali," Suara Phiranita terdengar sedih.
"Ya. Kita akan bertemu lagi jika kamu sudah sembuh. Aku tutup teleponnya. Sampai jumpa lagi,"
"Iya, Han. Sampai jumpa lagi."
Panggilan pun berakhir.
Di apartemen Neo, Phiranita kini menatap sedih ponselnya setelah panggilan dengan Rihan berakhir. Neo yang kebetulan belum berangkat ke perusahaan sempat melirik sang adik.
"Ada apa denganmu, Sayang?" Tanya Neo menghampiri Phiranita.
"Ehan akan pulang ke Prancis hari ini, Kak." Jawab Phiranita lalu memasang wajah cemberut.
"Rei pulang hari ini?" Ulang Neo dan dibalas anggukan oleh Phiranita.
"Kenapa dia tidak menghubungiku untuk pamit?" Batin Neo sedikit kesal.
"Kak Neo kenapa?" Tanya Phiranita yang melihat ekspresi Neo yang berubah.
"Tidak ada. Kakak berangkat ke kantor, ya. Jika kamu sudah sembuh, kita akan mengunjungi Rei." Balas Neo mengelus kepala Phiranita.
"Baik Kak. Hati-hati di jalan,"
"Ya."
Neo setelah masuk ke mobil, entah kenapa moodnya buruk pagi ini. Sedikit menghela nafasnya Neo lalu mengambil ponselnya, menekan kontak seseorang lalu mendekatkan ke telinganya.
"Hari ini kamu pulang?" Tanya Neo setelah panggilan dijawab.
"Hmm."
"Kenapa tidak pamit padaku?" Tanya Neo kesal.
"Untuk apa?"
Hening...
Neo tiba-tiba tidak tahu harus berkata apa. Benar juga. Kenapa juga dia kesal karena Rihan tidak pamit padanya?
"Eum... kamu pamit pada Ira tetapi tidak padaku. Bukankah itu artinya kamu tegah padaku?" Suara Neo pelan. Rihan di seberang sana mengerutkan kening.
"Jadi untuk apa kak Neo menelponku?"
"Tidak ada. Hanya ingin mengatakan bahwa sampai ketemu nanti."
"Hmm."
Hening...
Biasanya jika tidak ada yang tidak perlu dibicarakan, Rihan akan menutup panggilan terlebih dahulu. Nyatanya ini tidak. Neo juga sedang menunggu Rihan memutuskan panggilan terlebih dahulu.
"Kak?"
"Ya."
"Bisa berikan laporan hasil penyelidikan kak Logan padaku?"
"Aku pikir dia ingin mengatakan sesuatu yang penting padaku. Tenyata cuma ini..." Batin Neo sedikit kecewa.
"Ya. Aku akan mengirimkannya padamu."
"Hmm."
Panggilan berakhir. Tentu saja Rihan yang menutupnya lebih dulu.
__ADS_1
"Kenapa tingkahku jadi aneh setelah bertemu dengan bocah itu?" Gumam Neo dalam hati setelah itu menyalakan mesin mobil dan pergi dari sana.
***
"Dimana Beatrix?" Tanya Rihan pada Alen yang sedang membantu merapikan rambutnya.
"Beatrix ada di apartemennya. Dia akan ikut kita ke Prancis, Nona?" Tanya Alen.
"Tidak! Biarkan dia bersama Mentra. Katakan padanya untuk langsung ke Indonesia jika kita sudah kembali ke sana."
"Siap, Nona."
"Aku baru saja mengirimkan hasil penyelidikan kak Logan mengenai orang yang berusaha meracuniku ke Emailmu. Jangan lupa untuk menyelidikinya lagi." Ucap Rihan sambil menatap Alen lewat pantulan cermin di depannya.
"Baik, Nona."
"Kita mungkin di Prancis tidak lama. Jadi, manfaatkan waktu singkat itu untuk menyingkirkan Rine secepatnya."
"Siap Nona."
"Hmm."
...
Rihan dan yang lainnya kini sudah sampai di Prancis. Masing-masing segera membersihkan diri karena sebentar lagi waktunya makan malam.
Rihan setelah selesai mandi dan berganti pakaian dibantu oleh Alen, kini hanya berdiri di balkon kamarnya menatap pohon-pohon rindang yang tumbuh di halaman mansion. Rihan akan turun untuk makan jika Alen sudah memanggilnya.
Hingga Rihan mengalihkan pandangannya ke sebelah kanan, tepatnya balkon kamar sebelah. Di sana ada Rine yang sedang duduk santai sambil memakai lulur di seluruh tubuhnya. Dengan hanya menggunakan tank top dan celana pendek sebatas paha. Sungguh penampilan yang membuat Rihan jijik.
"Dia selalu saja menguji kesabaranku," Batin Rihan yang menatap datar Rine.
"Kamu hanya seorang pria yang pastinya akan terpancing dengan umpan sebagus ini. Berpura-pura menolakku, huh?" Ucap Rine dalam hati lalu tersenyum licik karena ini memang rencananya untuk menggoda Rihan.
"Hai adik ipar, sedang apa di sana? Maaf, kakak tidak tahu jika kamu ada di sana." Rine berpura-pura menutup tubuhnya dengan mantel mandi yang ada di sampingnya.
"Sebagai seorang gadis, bukankah sangat tidak sopan berpakaian seperti itu?" Ucap Rihan datar.
"Aku berpikir hanya ada aku sendiri dan tidak ada yang melihatku, jadi..."
Rihan hanya menatap Rine datar lalu segera berbalik dan masuk ke kamarnya.
"Kamu tidak akan bisa lepas dariku begitu saja," Ucap Rine lalu meminum segelas anggur yang disediakan di sana.
...
"Kak..."
"Ada apa? Kamu butuh sesuatu?" Tanya Avhin setelah berbalik dan menatap Rihan.
"Aku ingin bicara dengan kak Avhin. Hanya berdua." Ucap Rihan ketika melihat gelagat Rine yang ingin ikut juga.
"Tunggu sebentar, Sayang... Aku bicara dulu dengan Rei." Avhin melepas pelan tangan Rine yang memegang lengannya.
"Jangan lama-lama."
"Iya."
"Ayo! Kita bicara dimana?" Tanya Avhin setelah menggandeng bahu Rihan.
"Di kamarku saja."
"Oke."
Sampai di kamar, Rihan segera mengaktifkan mode kedap suara agar pembicaraan mereka tidak didengar oleh orang lain. Terutama Rine.
"Jadi apa yang ingin kamu katakan?" Tanya Avhin setelah duduk di salah satu sofa dalam kamar Rihan.
"Kak Avhin menyukai Rine?" Tanya Rihan to the point.
"Ya. Di kekasih kakak, jelas kakak menyukainya. Memangnya kenapa?"
"Kakak yakin dengan perasaan lakak?"
"Iya. Sebenarnya ada apa?" Tanya Avhin bingung. Tidak biasanya Rihan seperti ini.
"Aku ingin mendengar pendapat kakak tentang kekasih kakak itu."
"Dia gadis yang baik hati. Gadis yang sangat polos yang pernah kakak kenal. Orangnya lucu, sangat suka menolong orang yang kesusahan. Dia selalu berpakaian sederhana padahal kakak sudah membelinya banyak pakaian bagus dan mahal. Kenapa kamu menanyakannya?"
"Sudah sejauh mana perasaan kak Avhin padanya?"
__ADS_1
"Sejauh Prancis dengan New York." Canda Avhin lalu terkekeh. Jarang-jarang dia bisa bercanda dengan adik kesayangannya ini.
"Aku serius, Kak."
"Jika disuruh menikah sekarang dengannya sekarang, maka kakak siap."
"Sudah sejauh itu, ya." Batin Rihan lalu menghela nafasnya pelan. Jika sudah sampai sejauh itu, pasti susah meminta Avhin melepas Rine. Dia harus melakukan sesuatu.
"Kakak yakin dengan perasaan kakak?" Rihan kembali bertanya.
"Ya."
"Bukan karena dia menolong kakak, 'kan?"
"Kamu tahu, kakak bukan orang seperti itu."
"Aku tahu. Tapi misalnya, kekasih kak Avhin hanya berpura-pura menyukai kakak. Sifatnya yang selama ini kakak lihat tidak seperti itu. Apa yang akan kakak lakukan?"
"Maksudmu? Kakak tidak mengerti,"
"Jawab saja pertanyaanku, Kak."
"Kakak akan dengan terpaksa melepaskannya. Biarkan dia bahagia dengan orang yang dia cintai," Rihan hanya membalas dengan anggukan.
"Tapi kakak yakin, Rine bukan gadis seperti itu." Avhin menambahkan dengan yakin.
"Hmm. Aku hanya ingin tahu perasaan kak Avhin seperti apa."
"Karena kamu sudah tahu, maka kakak akan kembali."
"Ya."
Keluarnya Avhin dari kamar Rihan, pria itu sudah ditunggu oleh Rine di depan pintu kamarnya.
"Apa yang kamu bicarakan dengan adik ipar?" Tanya Rine penasaran.
"Hanya masalah pekerjaan," Jawab Avhin lalu membuka pintu kamarnya.
"Bukan membicarakan aku?" Rine mulai menebak.
"Tidak, Sayang. Hanya pekerjaan."
"Baiklah."
"Mau masuk ke dalam?" Tawar Avhin lembut.
"Tidak, Sayang. Aku lelah, ingin segera tidur." Tolak Rine dengan senyum manisnya.
"Oke. Selamat tidur, Sayang... Mimpi indah!" Ucap Avhin mengecup sayang kening Rine.
"Ya. Kamu juga." Balas Rine lalu tersenyum kemudian berbalik dan menuju kamarnya.
***
"Nona, ada yang ingin saya sampaikan." Alen baru masuk ke kamar Rihan dengan sedikit heboh.
"Katakan."
"Ternyata identitas yang kita dapatkan tentang gadis itu adalah palsu, Nona."
"Lalu?"
"Setelah diselidiki ulang, identitas milik Rine sebenarnya milik orang lain yang sudah meninggal. Dia juga bukan berasal dari desa itu. Dia hanyalah pendatang baru beberapa tahun lalu di sana.
Dan juga, orang-orang yang kita tanyai tentang Rine waktu itu adalah orang-orang yang ternyata dibayar oleh seseorang untuk berbohong tentang kelakuan gadis itu selama ini.
Menurut kakek yang saya tanyai, hidup Rine di sana hanya biasa saja. Dia memang hidup sendiri tetapi tidak terlalu dekat dengan warga di sana. Setiap bulan gadis itu akan mendapat kiriman paket entah apa isinya. Kata kakek itu, ada sebanyak 5 box besar selalu datang setiap bulan dengan truk yang membawanya,"
"Siapa gadis itu sebenarnya? Dia juga sama seperti Neo yang tidak bisa aku lihat identitasnya. Dengan siapa dia bekerja?" Tanya Rihan dalam hati lalu menghela nafasnya pelan.
"Ya, sudah. Terima kasih sudah bekerja keras. Bagaimana dengan tugas yang aku berikan sebelum kembali ke Prancis?"
"Belum ada hasil apapun, Nona. Maafkan kami, Nona. Kami akan berusaha."
"Hmm. Kamu boleh kembali."
"Baik, Nona. Saya pamit,"
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku. Jangan lupa untuk selalu mendukung cerita ini, ya.
__ADS_1
See You.