Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Antarik Hospital


__ADS_3

Selamat membaca!


.


.


.


"Sepertinya Max pingsan, Tuan." Lapor Alex melalui earpice di telinganya.


Sebelum keluar dari gerbang Antarik Universitas, Alex sempat melihat ke belakang untuk memastikan tidak ada yang mengikuti mereka sehingga dia mengetahui Max pingsan.


Rihan yang mendengar laporan Alex mengerutkan keningnya, lalu melihat kebelakang mobilnya melalui kaca spion. Dapat dia lihat kerumunan orang-orang di tempat Max berdiri tadi.


"Ada apa dengan pria itu?" Batin Rihan lalu menginjak rem mobilnya sehingga mobilpun berhenti.


"Kalian lanjut saja ke mansion. Aku akan menyusul!" Ujar Rihan setelah keluar dari mobilnya dan mendapati David, Dian dan Albert juga ikut turun dan menghampirinya.


"Tapi..." Ucap Albert yang terpotong.


"Baiklah, Rei." Ucap David yang memotong ucapan Albert.


David lalu merangkul Albert dan mendorongnya masuk ke dalam mobil diikuti oleh Dian, sedangkan David sendiri masuk ke mobilnya.


Mobil David dan Albert lalu pergi meninggalkan Antarik Universitas, menyisahkan Rihan dan Alex.


"Cari tahu ada apa dengan pria itu." Perintah Rihan pada Alex.


"Baik, Tuan."


***


"Minggir! Jangan berani menyentuhnya." Seorang pria paru baya yang baru saja datang menghentikan orang-orang yang ingin menyentuh Max.


"Dia harus segera dibawa ke rumah sakit." Ucap seorang mahasiswi pada pria paru baya tadi.


"Dia pasien saya, jadi saya tahu mana yang terbaik untuknya." Balas pria itu yang mengaku sebagai Dokter Max.


"Pria itu memang Dokter pribadi Max, Tuan." Jelas Alex tanpa diminta, karena melihat kerutan di dahi sang majikan.


"Sakit apa pria itu?" Tanya Rihan sambil menatap beberapa orang yang sedang mengangkat Max dengan tandu dan membawanya masuk ke dalam mobil.


"Max mengindap penyakit Avoidant personality disorder, Tuan. Saya rasa penyakitnya kambuh karena anda menolaknya." Jawab Alex tenang.


"Aku pernah menolaknya?" Tanya Rihan menatap sekilas Alex di sampingnya. Dia tidak pernah menolak pria itu. Kenapa dia kambuh? Ini aneh menurutnya.


"Anda memang tidak menolaknya, tetapi sepertinya Max merasa anda menolaknya." Jawab Alex.


"Hmm."


"Anda ingin mengikuti rombongan Max, Tuan?" Tanya Alex.


"Ya." Jawab Rihan singkat.


Rihan tidak mungkin mengabaikan Max begitu saja. Dalam hatinya merasa bersalah karena tidak bertemu dengan Max, membuat pria itu akhirnya kambuh. Rihan bukan tipikal orang yang suka mengingkar janji.


Kini dia harus bertemu dengan Max dan meminta maaf. Jika bukan sang sahabat yang membutuhkannya, Rihan tidak akan mungkin membatalkan janji yang sudah dia buat sendiri.


"Baik Tuan, mari saya antar." Alex lalu mempersilahkan sang majikan berjalan terlebih dahulu.


"Pakai mobilmu saja, Lex." Pintah Rihan yang sudah berdiri didekat mobil Alex. Rihan sedang malas menyetir sehingga meminta Alex untuk menjadi sopirnya.

__ADS_1


"Baik Tuan, silahkan masuk." Alex mempersilahkan setelah membuka pintu mobil untuk sang majikan.


***


Mobil Alex kini berhenti tepat di depan pintu masuk bangunan megah bercat putih yang bertuliskan.


ANTARIK HOSPITAL.


"Silahkan, Tuan." Ucap Alex setelah membuka pintu mobil untuk sang majikan.


Rihan dengan tenang turun dari mobil dan berjalan memasuki Antarik Hospital dengan memasang wajah datarnya. Sepanjang perjalanan selalu ada tatapan kagum yang ditujukan padanya. Rihan sendiri tidak mempedulikannya dan terus berjalan diikuti oleh Alex dari belakang.


"Selamat datang di Antarik Hospital." Sambut dua Suster di bagian administrasi yang kebetulan dilewati oleh Rihan dan Alex. Mendengarnya, Alex lalu menghampiri keduanya.


"Maaf Sus, bisa kami bertemu dengan pasien atas nama Maximus Bruneyas?" Tanya Alex datar pada dua suster yang berjaga di sana.


"Pasien masih dalam masa kritis sehingga tidak bisa ditemui sekarang. Mungkin beberapa menit lagi, Tuan." Jawab salah satu suster dengan ramah.


"Bisa tunjukan dimana kamarnya?" Tanya Alex lagi.


"Kamar VVIP No 5, Tuan. Mari saya antar!" Ucap Suster yang satunya lagi sambil mempersilahkan Rihan dan Alex untuk mengikutinya.


"Ya." Balas Alex datar.


"Silahkan, Tuan." Ucap Alex pada sang majikan.


"Hmm."


...


"Maaf tuan muda, boleh saya tahu ada urusan apa anda di sini?" Tanya seorang Dokter paru baya yang baru saja keluar dari ruang rawat Max.


"Tuan muda ingin menjenguk Tuan Max." Jawab Alex mewakili sang majikan.


"Menjenguk tidak harus seorang teman." Balas Alex. Rihan sendiri diam sambil menatap datar Dokter Adi.


"Benar. Hanya saja, pasien mengindap Avoidant personality disorder, dan..."


"Saya tahu." Rihan dengan datar memotong perkataan Dokter Adi. Jangan lupakan sorot mata tajamnya yang mengintimidasi.


"Tapi..." Nada suara Dokter Adi terdengar gugup.


"Saya tahu batasan seorang penjenguk," Sambung Rihan penuh penekanan, membuat Dokter Adi bungkam.


"Kalau begitu silahkan masuk, Tuan Muda." Dokter Adi pasrah.


Rihan dengan tenang masuk ke dalam ruang rawat Max diikuti oleh Alex dan Dokter Adi. Dapat Rihan lihat Max tertidur dengan lelap seperti tidak mengalami apapun.


"Sejak kapan?" Tanya Rihan datar sambil menatap Max.


"Maksud anda?" Tanya balik Dokter Adi bingung.


"Sejak kapan Tuan Max mengindap Avoidant personality disorder." Sambung Alex karena tahu sang majikan tidak akan mengulang pertanyaannya.


"Sejak usianya 5 tahun. Saya sendiri tidak tahu pasti penyebabnya, karena sejak dia dibawa kepada saya, dia sudah seperti ini. Orang tuanya juga tidak tahu kenapa bisa seperti ini. Max sendiri menjadi lebih pendiam dan menjaga jarak dari orang lain setelah dia pulang dari sekolah. Karena merasa khawatir, mereka lalu membawanya pada saya. Akhirnya saya mengdiagnosis Max mengindap Avoidant personality disorder." Jelas Dokter Adi sambil menerawang masa lalu dimana dia merawat Max dulu.


"Sampai kapan dia akan bangun?" Tanya Rihan tanpa menatap Dokter Adi.


"Mungkin sebentar lagi. Boleh saya bertanya, Tuan Muda?" Ujar Dokter Adi takut-takut.


"Hmm."

__ADS_1


"Menurut beberapa mahasiswa, Max pingsan setelah berbicara dengan anda." Dokter Adi semakin gugup takut menyinggung Rihan.


"Saya tidak berbicara dengannya." Balas Rihan datar.


"Sebelumnya saya minta maaf, Dok. Saya rasa tuan Max pingsan karena merasa ditolak oleh tuan muda." Jelas Alex tenang.


"Maksudnya?" Tanya Dokter Adi belum mengerti.


Dengan tenang Alex menceritakan kejadian yang telah terjadi hingga Max pingsan. Sedangkan Dokter Adi hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Jadi hanya kesalahpahaman. Tidak apa-apa kalau begitu. Tapi saya harap, tuan muda mau menjadi teman Max. Ini semua demi kesembuhan Max juga." Ucap Dokter Adi sambil terus menganggukkan kepalanya.


"Nona memang selalu menjadi penolong untuk orang lain." Batin Alex kagum dengan sang majikan.


"Sepertinya dia akan segera sadar." Rihan memecah keheningan, karena melihat gerakan jari Max.


"Bagaimana perasaanmu, Max?" Tanya Dokter Adi setelah Max membuka matanya.


"Aku baik, Dok. Hanya sedikit pusing." Jawab Max pelan. Pria itu belum sadar jika ada Rihan dan Alex di sana.


"Tuan Muda Rehhand ingin bertemu denganmu." Dokter Adi memberitahu.


Max sedikit mengerutkan keningnya kemudian menoleh ke arah Rihan dan Alex. Senyum sayu ditampikan Max ketika melihat tatapan datar Rihan padanya.


"Kamu menolakku, kenapa mau menjengukku?" Tanya Max sambil menatap sedih Rihan.


"Kamu mendengar aku menolakmu?" Tanya balik Rihan setelah maju beberapa langkah dekat ranjang Max.


"Asistenmu yang mengatakan bahwa kamu sibuk sehingga tidak bisa bertemu denganku." Jawab Max sambil melihat ke arah lain.


"Alex akan mengatur jadwal bertemu denganku. Bukan berarti aku menolakmu." Balas Rihan datar.


"Jadi, maukah kam..."


"Maaf Tuan, ada telepon dari mansion." Alex memotong perkataan Max sambil memberikan ponselnya pada Rihan.


Rihan lalu mengambil ponsel di tangan Alex kemudian mendekatkan pada telinganya.


"Bicaralah!" Rihan menjawab datar sambil terus menatap wajah Max yang sudah berubah murung.


"Nona Phiranita tidak mau terapi jika anda tidak ada, Presdir." Balas orang di seberang telepon yang merupakan Dokter Damar.


"Katakan padanya, aku akan segera ke sana." Rihan lalu memberikan ponsel pada Alex.


"Bisakah kamu menemaniku sebentar lagi?" Pintah Max memelas.


Max sangat berharap Rihan menjadi temannya. Selama 19 tahun hidupnya, dia benar-benar berharap memiliki seorang teman seperti Rihan. Saking besarnya keinginan memiliki teman seperti Rihan, Max melupakan penyakitnya sendiri.


"Tuan Muda, saya mohon..." Dokter Adi ikut meminta Rihan menemani Max.


"Aku tahu kamu membutuhkanku di sini, tapi ada orang lain yang juga membutuhkan aku di sampingnya. Jadi apa yang harus aku lakukan?" Tanya Rihan santai sambil melipat tangannya menatap Max.


"Bisakah kamu memprioritaskan aku lebih dulu?" Ujar Max memaksa.


"Tidak akan adil jika ada yang diprioritaskan." Balas Rihan tenang.


"Satu langkah kamu meninggalkan pintu kamarku, hanya namaku yang akan kalian lihat di batu nisan!" Sambung Max dengan ancaman karena melihat tatapan Rihan yang tidak peduli. Hanya ini satu-satunya cara agar Rihan tidak meninggalkannya.


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.


See You.


__ADS_2