
"Pantau selalu kondisinya, urus administrasinya dan cari tahu penyebab tindak kekerasan yang dilakukan padanya, juga cari identitas lengkapnya." Rihan kemudian beralih menatap keluar jendela.
"Baik Tuan." Alex lalu beranjak pergi dari sana.
...
Saat ini Rihan sedang menikmati pemandangan lalu lintas Jakarta dari lantai lima ruangan presdir di rumah sakit Setia. Kebetulan hari ini Rihan tidak memiliki berkas untuk diperiksa sehingga dia memiliki banyak waktu untuk bersantai.
Maklumlah, Rihan tidak suka membuang waktu sehingga tidak ada berkas yang menumpuk untuk diperiksa.
Pandangan Rihan tertuju pada lalu lintas Jakarta yang dipenuhi banyak kendaraan yang berlalu lalang. Pemandangan itu semakin indah karena hari semakin larut sehingga lampu-lampu jalan maupun kendaraan menambah keindahan malam ini. Akan tetapi pikiran Rihan tertuju di tempat lain.
Rihan saat ini sedang berdiri memikirkan banyak hal di kepalanya sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya. Entah apa yang dia pikirkan. Pikirannya buyar ketika mendengar ketukan pada pintu ruangannya.
*Tok
Tok
Tok*.
"Masuk!"
"Selamat malam, Tuan. Sudah jam 11 malam. Waktunya anda beristirahat," Alex yang merupakan si pengetuk pintu, mengingatkan sang majikan jika sudah larut malam sehingga waktunya beristirahat.
Mereka memang sedari tadi di rumah sakit karena mengantar gadis yang hampir mereka tabrak ketika pulang dari perayaan ulang tahun Antarik Company.
"Hmm."
Setelah mengiyakan perkataan Alex dengan deheman, Rihan lalu melihat jarum jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukan pukul 11 malam sehingga sang asisten mengingatkannya untuk pulang.
Rihan kemudian membalikan badannya dan berjalan menuju pintu keluar diikuti oleh Alex dari belakang. Keduanya berjalan dengan tenang menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Rihan memang tidak menggunakan lift karena dia hanya ingin melihat bagaimana aktivitas penghuni rumah sakit di malam hari. Padahal sudah ada lift khusus presdir untuknya.
"Dimana Alen?" Tanya Rihan pada sang asisten yang berjalan di belakangnya.
__ADS_1
"Alen sudah menunggu di mobil, Tuan." Alex menjawab sambil terus mengikuti langkah kaki sang majikan yang tidak terlalu lebar darinya.
Rihan tidak merespons perkataan Alex. Rihan hanya menganggukan kepalanya karena membalas sapaan beberapa suster yang mereka lewati.
Tidak terlalu banyak orang yang berlalu lalang karena sudah larut malam sehingga banyak pasien dan petugas yang sudah beristirahat. Yang ada hanya petugas medis yang memiliki shif malam.
Ketika Rihan dan Alex menaiki eskalator untuk menuju lantai satu, mereka melihat beberapa dokter juga suster yang berlari ke satu arah, yang Rihan ketahui adalah jalan menuju UGD. Meski masih di atas, tetapi penglihatannya yang tajam itu, bisa melihat dengan jelas kepanikan pada wajah tim medis yang sedang berlari itu.
"Sepertinya ada pasien yang kritis, Tuan." Alex berkomentar ketika melihat beberapa orang dengan jas dokter dan suster yang sedang berlari ke UGD. Alex menebak adanya pasien yang kritis, sehingga dokter maupun suster terlihat sangat panik.
"Sepertinya gadis itu sudah sadar." Rihan menebak dengan datar sambil terus memandang mereka yang berlari yang hampir tidak terlihat lagi.
"Gadis itu?" Tanya balik Alex bingung dengan perkataan sang majikan.
"Kau akan tahu jika melihatnya." Balas Rihan yang kini melangkahkan kakinya karena mereka sudah sampai di lantai satu.
Rihan dan sang asisten lalu berjalan menuju UGD untuk melihat lebih jelas apa yang terjadi. Terlebih Alex yang penasaran dengan tebakan sang majikan. Semakin mendekati UGD, terdengar samar-samar teriakan histeris yang menggema.
"Jangan sentuh aku... lepaskan aku! Aku mohon...tolong... lepaskan aku!" Teriakan dan tangisan histeris seorang gadis terdengar. Gadis itu histeris sambil memegang pisau bedah yang diambilnya entah dari mana, dan hendak menggoreskan pada lengannya.
Tidak ada yang berani mendekati gadis itu, karena ada pisau bedah yang ada digenggamannya. Mereka hanya bisa membujuk gadis itu agar tidak berbuat nekat.
Gadis itu awalnya tidur dengan tenang, tetapi ketika sadar, dia mengamuk sekaligus menangis histeris dan berusaha menyakiti dirinya sendiri.
"Hey bocah. Sedang apa kamu di sini?" Tanya seorang dokter muda yang kebetulan berdiri tidak jauh dari Rihan dan Alex. Dokter muda itu adalah Dokter Lio. Masih ingat 'kan dengan Dokter Lio, yang Rihan bantu untuk mengobati seorang ibu yang kecelakaan di jalan waktu itu.
"Jalan-jalan.l," Jawab Alex datar, seakan tidak peduli.
Alex sibuk melihat gadis yang hampir mereka tabrak itu yang sedang berusaha melukai dirinya sendiri.
"Kamu pikir ini Mall, jalan-jalan? Ck..." Balas Dokter Lio dengan malas.
"Siapa yang mengobati gadis itu?" Tanya Rihan entah pada siapa, tanpa mempedulikan kedua orang yang terlihat seperti kucing dan tikus di sampingnya.
__ADS_1
"Dokter Damar, Tuan. Akan saya panggilkan." Jawab Alex lalu berjalan menuju pria paru baya yang sedang berusaha membujuk gadis itu untuk tenang.
"Anda memanggil saya, Presdir?" Tanya Dokter Damar setelah membungkukkan badannya menghormati Rihan. Dokter Damar saat ini berdiri beberapa langkah di depan Rihan.
"Kamu yang memeriksanya tadi?" Tanya Rihan datar pada Dokter Damar.
"Iya, Presdir. Seperti yang sudah saya diagnosis, gadis itu mengalami trauma berkepanjangan akibat kekerasan fisik dan pelecehan seksual yang dia alami. Tidak tahu sampai kapan traumanya akan sembuh." Jelas Dokter Damar secara langsung sebelum diberi pertanyaan oleh Rihan.
"Sejak kapan dia seperti itu?" Tanya Rihan lagi.
"Sejak dia sadar, Presdir. Awalnya gadis itu tenang, akan tetapi ketika saya akan memeriksanya, dia seketika menangis dan ingin melukai dirinya sendiri. Sepertinya gadis itu trauma dengan sentuhan pria di tubuhnya." Dokter Damar menjawab sesuai yang terjadi di lapangan.
Mereka berinteraksi dan tidak mempedulikan kondisi di sekitar mereka yang penuh dengan orang-orang yang menonton, sedangkan gadis itu sedang menangis sambil terus mengamuk menyakiti dirinya sendiri. Semuanya sibuk menonton aksi gadis itu, tanpa mengetahui adanya presdir mereka di sana.
Sedangkan Dokter Lio, dia dilanda kebingungan karena mahasiswa kedokteran yang menolongnya waktu itu, sangat dihormati sekaligus dipanggil presdir oleh dokter senior di rumah sakit tempatnya bekerja. Ini kejutan untuknya.
"Sebentar, Profesor. Saya menyelah pembicaraan anda. Saya ingin bertanya, anda mengenal bocah ini?" Tanya Dokter Lio yang tidak bisa menahan diri untuk bertanya saking penasarannya.
"Ya. Saya mengenal beliau. Beliau adalah..." Jawaban Dokter Damar atau Profesor Damar terpotong oleh sebuah suara.
"Rihan?"
Hening.
Semua pandangan tertuju pada Rihan yang saat ini menatap datar orang yang memanggilnya, dan perlahan-lahan berjalan mendekatinya.
Semua yang ada di sana tidak mengatakan sepatah katapun, karena menunggu reaksi presdir baru mereka yang dipanggil dengan nama yang mereka ketahui bukan nama sang presdir. Sedangkan orang yang memanggil terus melangkahkan kakinya menuju ke arah Rihan.
"Dia mengenal nona hanya sekali pandang?" Gumam Alex dalam hatinya, sekaligus takjub akan mata orang itu.
***
Terima Kasih sudah membaca ceritaku.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.
See You.