
Pagi ini, Rihan bangun tepat pukul 5 dan dibantu oleh Alen untuk bersiap. Keduanya akan jogging di sekitaran mansion sang paman.
Setelah bersiap dengan setelan olahraga, Rihan dan Alen segera turun ke lantai satu. Di sana sudah ada para pelayan yang mondar-mandir karena melakukan tugas harian mereka seperti biasa.
Melihat Rihan yang turun bersama Alen, mereka berhenti sejenak untuk sekedar menyapa setelah itu kembali melakukan tugas masing-masing.
"Selamat pagi tuan muda kedua, selamat pagi, Nona. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya kepala pelayan yang menghampiri Rihan dan Alen.
"Tidak ada. Kembalilah bekerja." Jawab Alen datar.
"Baik, Nona." Kepala Pelayan membalas kemudian membungkuk sedikit badannya hingga Rihan dan Alen pergi dari hadapannya. Setelah itu baru dia kembali ke posisi semula dan menuju dapur.
Rihan dan Alen setelah keluar dari gerbang, keduanya kemudian berlari kecil mengikuti jalan sekitar mansion, hingga 30 menit kemudian keduanya kembali berlari pulang ke mansion karena mereka harus bersiap untuk sarapan pukul 7 nanti.
Sekitar sepuluh meter mereka akan tiba di gerbang mansion, sebuah taksi yang berhenti tepat di depan gerbang menarik perhatian keduanya. Rihan yang melihatnya segera berhenti berlari dan menatap siapa kira-kira yang akan bertamu pagi-pagi di mansion.
Alen juga ikut berhenti dan menatap ke depannya. Dapat Rihan dan Alen lihat keluar seorang gadis dan berdiri di samping taksi menunggu sopir taxi mengambil kopernya.
Gadis itu tersenyum manis saat koper beralih ke tangannya. Gadis itu kemudian menunggu taksi pergi, kemudian masuk ke dalam gerbang tanpa menekan bel sebelum masuk. Seakan-akan gadis itu sudah terbiasa datang ke mansion.
"Kamu mengenalnya?" Tanya Rihan pada Alen.
"Tidak, Tuan. Apa dia kekasih kak Avhin?" Jawab Alen kemudian menebak.
"Sepertinya, iya. Ayo masuk!"
"Baik, Tuan."
Keduanya kemudian masuk ke dalam mansion. Rihan lalu mengedarkan pandangannya ke ruang tamu untuk sekedar melihat dimana gadis itu. Sayangnya orang yang dia cari tidak ada di sana.
"Bukan urusanku," Batin Rihan kemudian terus melangkah diikuti oleh Alen menaiki tangga dan menuju kamarnya untuk membersihkan diri karena waktu sudah menunjukan pukul 06.10.
Tepat pukul 7 pagi, Rihan dan Alen baru keluar dari kamar dan menuju ruang makan untuk sarapan.
"Rei, Sejak kapan kamu pulang? Kenapa tidak memberitahu kakak? Papa dan mama juga, kenapa tidak memberitahuku, jika adik kesayanganku ini pulang?" Sahut Avhin, kakak sepupu Rihan yang sudah duduk di meja makan. Avhin kemudian berdiri dan menghampiri Rihan.
Grep
"Kamu tahu, kakak sangat merindukanmu." Ujar Avhin disela pelukan keduanya.
"Hm."
__ADS_1
"Kamu masih sama saja rupanya. Ck..." Cibir Avhin lalu melepas pelukan mereka. Rihan hanya menatap datar Avhin.
"Kamu pasti, Alen." Tebak Avhin pada Alen.
"Saya Alen, Kak."
"Kak? sepertinya aku melewatkan sesuatu," Avhin lalu menatap kedua orang tuanya.
"Kita akan bicara setelah sarapan. Duduklah." Paman Jhon.
"Baik Pa. Ayo, Rei. Duduk di sebelah kakak." Ajak Avhin menarik Rihan duduk di sebelah kirinya. Rihan hanya mengikuti Avhin.
"Benar juga. Perkenalkan, ini kakak iparmu, Rei." Beritahu Avhin. Padahal Rihan sedikitpun tidak melirik gadis yang duduk di samping Avhin yang sedari tadi menatapnya.
"Halo... saya Catherine Leonardo, kekasih Avhin." Sapa gadis yang bernama panggilan Rine itu lalu tersenyum manis pada Rihan.
"Hmm."
"Adikku memang dingin pada orang yang baru dikenal. Jangan dipikirkan, Sayang." Hibur Avhin ketika melihat wajah kekasihnya yang tersenyum kecut.
"Wajahnya seperti tidak asing." Batin Alen mengerutkan kening merasa pernah melihat wajah Catherine di suatu tempat. Memang di depan gerbang wajah gadis itu tidak terlihat jelas.
***
"Jadi begini Vhin, Mamamu mau mengangkat Alen sebagai adikmu. Bagaimana menurutmu?" Tanya papa Jhon ketika semuanya sudah duduk di ruang keluarga.
"Tidak masalah! aku terserah mama dan papa. Lagi pula menjadikan Alen sebagai adik perempuanku tidak buruk. Justru aku senang ada yang bisa diperhatikan setelah Rei." Balas Avhin lalu tersenyum.
"Kamu hanya memperhatikan kedua adikmu, dan aku tidak?" Bisik Rine yang duduk di sebelah Avhin cemberut.
"Kamu punya tempat tersendiri, Sayang." Avhin juga ikut berbisik kemudian membelai kepala kekasihnya.
"Mama juga mau memberitahumu Rei, kalau Rine akan ikut bersama kita ke Amerika. Rine sudah seperti keluarga kita. Tidak apa-apa, 'kan sayang?"
"Ya."
"Semuanya bersiaplah. Kita akan berangkat dengan jet pribadi jam 10 nanti. Kita hanya satu minggu di sana, jadi jangan terlalu membawa banyak barang. Kalian bisa membeli di sana jika ada yang terlupakan." Jelas paman Jhon dan diangguki oleh para anak muda.
"Baik, Pa. Rine akan membantu menyiapkan pakaianku. Ayo sayang," Avhin lalu menggandeng Rine menuju kamarnya di lantai dua.
Rihan dan Alen juga menuju lantai dua untuk bersiap. Keduanya tidak lagi berkemas karena semua persiapan sudah lengkap dan juga sebagian sudah ada di Amerika.
__ADS_1
"Cari tahu siapa gadis itu. Aku tidak ingin kakakku salah memilih pasangan." Rihan memberi perintah sambil mengetik sesuatu pada laptopnya.
"Baik, Tuan. Tanpa anda suruh pun, saya akan melakukannya, karena kak Avhin sudah menjadi kakakku."
"Sifat posesifmu tidak pernah berubah." Rihan menggeleng kepalanya tanpa melihat Alen.
"Saya juga tidak tahu, Tuan." Balas Alen yang berdiri di depan Rihan dengan menggaruk pelipisnya bingung sendiri.
***
Hanya butuh beberapa jam dengan jet pribadi, akhirnya Rihan dan keluarga sang paman tiba dengan selamat. Karena mansion utama Jhack Lesfingtone dilengkapi dengan lapangan pesawat sehingga jet pribadi milik sang paman mendarat dengan selamat.
Kedatangan Jhon dan keluarga disambut hangat oleh kakaknya dengan saling berpelukan. Jhack sang daddy dan Rosemary sang mommy yang melihat kehadiran anak gadisnya dalam balutan pakaian pria itu begitu senang. Sayangnya mereka tidak menunjukkannya karena takutnya ada banyak pasang mata yang melihat mereka.
"Bagaimana kabar kalian?" Tanya Jhack pada Jhon sang adik.
"Kami baik, Kak."
"Syukurlah! Ayo masuk. Kita bicara di dalam."
Semuanya mengangguk dan masuk ke dalam mansion megah bak istana itu. Dalam hati Rine, dia merasa kagum dengan tempat tinggal pengusaha sukses ini.
Setelah masuk, Daddy Jhack lalu membagi kamar masing-masing orang. Rihan juga kebagian kamar karena dia sekarang menjadi tamu bukan tuan rumah.
Memasuki kamarnya diikuti oleh Alen sang asisten, Rihan hanya menatap datar dekorasi kamar tamu ini. Rihan tanpa duduk, segera menuju dinding kamarnya yang tersemat sebuah figuran abstrak di sana. Dengan pelan Rihan memutarnya searah jarum jam.
Hanya butuh 5 detik, terjadi pergerakan di dinding itu yang terbuka membuat sebuah lubang seperti pintu. Rihan segera masuk diikuti oleh Alen dari belakang. Dinding itu juga hampir mirip dengan pintu masuk ke laboratoriumnya yang tertutup dengan sendirinya.
Perbedaannya, ketika pintu kamar di Indonesia akan melewati lorong sebelum masuk ke dalam laboratorium, maka dinding ini langsung membawahnya ke sebuah ruangan bernuansa black dan gold yang sangat luas, hampir mirip dengan ruangan pribadi pemilik mansion, yaitu Jhack dan Rosemary. Kedua orang tua Rihan.
Jangan heran jika ruangan ini luasnya hampir sama karena ini merupakan kamar tidur yang sudah dilengkapi dengan semua fasilitas di dalamnya, milik anak gadis Jhack dan Rosemary yaitu Rihhane Senora Lesfingtone.
Ya, kamar tamu di sebelah kamar Rihan sudah dimodifikasi agar terhubung dengan kamarnya sehingga Rihan dengan leluasa keluar masuk ke sana. Semua ini sudah diatur oleh Rihan sejak balas dendamnya dimulai.
***
Jangan lupa untuk terus mendukung cerita ini, ya.
Terima kasih.
Sampai ketemu di chapter selanjutnya.
__ADS_1