Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Si Ular Bertindak


__ADS_3

Pukul 9 pagi, Rihan sudah bersiap di atas motornya, karena dia akan ke kampus.


"Jaga kak Neo selama aku tidak ada. Jika dia butuh sesuatu, siapkan untuknya." Ucap Rihan sebelum memakai helm.


"Anda sepertinya sangat khawatir padanya," Gumam Alex yang dapat didengar Rihan.


"Karena dia sedang sakit. Aku pergi!" Balas Rihan, dan menyalakan motornya dan pergi dari sana.


"Saya tahu, Nona. Tapi..." Alex menatap kepergian Rihan yang sudah tidak terlihat lagi di halaman mansion.


"Kita hanya perlu mendukung nona, Kak." Alen dan menepuk pelan bahu Alex dan tersenyum tipis.


"Itu memang tugas kita. Tapi... sudahlah, Ayo masuk!" Balas Alex dan keduanya masuk ke dalam.


***


Rihan yang mengendarai motornya dengan kecepatan rata-rata, tiba-tiba berhenti di pinggir jalan karena melihat sesuatu yang muncul di videotron di pinggir jalan.


Videotron merupakan media yang menayangkan video dengan pencahayaan semikonduktor yang mengubah listrik menjadi cahaya, berukuran besar, biasanya untuk menayangkan iklan atau presentasi.


Videotron ini merupakan layar besar untuk menayangkan iklan. Ada juga yang mengartikan videotron ini sebagai baliho dalam bentuk digital. Kalau di luar negeri orang biasanya mengenal dengan istilah LED Display.


Biasanya hanya iklan atau presentasi yang muncul di sana, tetapi kali ini berita singkat tentang kelumpuhan anak kesayangan seorang Samuel Samantha. Ariana Angel Samantha.


Rihan yang melihatnya mengerutkan kening. Setahunya sudah beberapa hari lewat setelah kejadian itu, dan Samuel atau ayah Ariana menutup rapat kondisi anaknya dari media. Samuel hanya tidak ingin media mencari tahu penyebab anak kesayangannya yang mengalami kelumpuhan.


Tanpa mencari tahu kenapa berita itu bisa muncul, Rihan jelas tahu siapa pelakunya. Siapa lagi kalau bukan Ayu, karena videotron itu hanya dimiliki oleh perusahaan keluarga Antarik. Ayu jelas akan melakukan itu agar saingannya dalam merebut Tuan Muda Rehhand berkurang.


"Gadis itu sepertinya memanfaatkan situasi dengan baik." Gumam Rihan dalam hati dan melajukan kembali motornya.


...


Sampai di kampus, Rihan dapat mendengar desas-desus para mahasiswa yang membicarakan Ariana. Rihan tidak peduli dan menuju tempat parkir fakultas kedokteran.


"Kamu sudah menonton beritanya, Rei?" Tanya Albert menghampiri Rihan yang sedang berjalan menuju kelas. Ada David dan Dian di sebelah Albert.


"Hmm."


"Kira-kira apa penyebabnya? Aku jadi penasaran. Para wartawan masih sibuk mengepung tempat tinggal Ariana, dan juga rumah sakit tempat gadis itu dirawat. Mereka penasaran apa yang sudah dilakukan gadis itu. Belum lagi, kasus Ariana dulu yang membully seorang gadis di SMAnya mulai diperbincangkan." Albert berbicara dengan serius.


"Membully seorang gadis? Kamu tahu siapa gadis itu?" Tanya Dian penasaran. Dia juga mendengar desas-desus ini.


"Ya. Kamu juga mengenalnya," Jawab Albert mantap.


"Siapa?"


"Rihan."


"Benarkah? Kenapa aku baru tahu?" Syok Dian. Gadis itu sama sekali tidak tahu apapun.


"Seperti yang aku katakan tadi, itu kasus dulu yang ditutupi oleh keluarga Ariana. Tapi cerita jelasnya aku tahu." Suara Albert terdengar bangga.


"Ceritakan padaku!" Dian sangat bersemangat.


"Jangan ember, Al." Kesal David tidak senang dengan Albert.


"Tapi Dian sahabat kita. Sudah waktunya dia tahu. Dian juga tidak mungkin menceritakannya pada orang lain." Albert membela diri.


"Terserah." Balas David malas. Rihan sendiri hanya menjadi pendengar setia.


"Terima kasih sudah menganggapku sebagai sahabat kalian." Ucap Dian dan tersenyum tulus.


"Sama-sama. Masih mau mendengar ceritaku?" Tanya Albert sambil menaik-turunkan alisnya menatap Dian.


"Ya."

__ADS_1


"Karena masih ada waktu sebelum kelas dimulai, mari cari tempat yang sepi, karena ini tidak boleh didengar oleh orang lain." Albert kemudian menarik tangan Dian dan pergi dari sana.


"Bagaimana dengan Rei dan Dev? Mereka tidak mau mendengar cerita?" Tanya Dian yang berhenti sebentar dan menatap Rihan dan David.


"David sangat tahu cerita ini. Kalau Rei... dia pasti tidak suka mendengarnya. Ayo pergi!" Jawab Albert dan menarik Dian pergi dari sana.


Setelah kepergian Albert dan Dian, David menoleh menatap Rihan.


"Kamu pasti tahu apa yang terjadi pada Ariana. Aku yakin itu." Ucap David yang melihat sifat tenang Rihan sedari tadi.


"Jika aku tahu, lalu apa?" Balas Rihan datar.


"Pasti itu berhubungan denganmu atau, tunggu... Jangan bilang ini berhubungan dengan Rihan, karena aku tidak melihatnya beberapa hari ini." Ekspresi David tiba-tiba berubah menjadi khawatir.


"Seperti yang kamu pikirkan,"


"Jadi benar? Apa yang sudah dilakukan Ariana pada Rihan? Dan dimana Rihan? Tolong katakan padaku!" Desak David khawatir.


"Ingin bertemu Rihan?" Tanya Rihan.


"Jelas sangat ingin, dan kamu tahu itu."


"Hmm? Rihan tidak bisa bertemu orang lain sampai dia sembuh."


"Dia sakit? Tolong katakan dengan jelas apa yang sudah dilakukan Ariana. Jangan membuatku panik, Rei."


Rihan hanya menatap David sekilas, kemudian mengambil ponselnya, membuka sesuatu dan memberikannya pada David.


"Ini... ya, Tuhan! Rihan baik-baik saja?" David begitu Khawatir setelah melihat video dimana Rihan memangku kepala Beatrix yang terluka setelah ditembak Ariana. Rihan memang sudah menyiapkan sepenggal video itu untuk ditunjukan pada David.


"Ya." Jawab Rihan dan mengambil ponselnya dari tangan David.


"Kenapa aku tidak bisa bertemu dengannya?" Tanya David masih dengan wajah khawatir.


"Dia bersama kekasihnya. Kamu ingin melihat kemesraan mereka? Lagipula, Mentra tidak akan mengizinkanmu bertemu Rihan." Jawab Rihan dan masuk ke dalam kelas.


"Dia akan kembali ke kampus beberapa hari lagi setelah benar-benar pulih." Ucap Rihan duduk di tempatnya.


"Baik. Aku akan menunggu,"


***


Pukul 11.30, Rihan memasuki mansion. Ada Alex yang sudah menunggunya. Alen sendiri sedang menyiapkan makan siang.


"Anda kembali, Tuan." Sambut Alex setelah sedikit menunduk pada Rihan.


"Bagaimana keadaan kak Neo?" Tanya Rihan dan terus berjalan menuju lift.


"Demamnya sedikit menurun. Tuan Neo sudah bangun satu jam lalu dan terus menanyakan kepulangan anda." Jawab Alex dan menekan tombol lift ke atas.


"Hmm. Kamu sudah melihat berita hari ini?" Tanya Rihan sambil membenarkan jam tangannya.


"Sudah, Tuan. Ular itu sepertinya ingin menyingkirkan rubah itu secepatnya." Jawab Alex tenang.


"Ular?"


"Maksud saya nona Ayu. Dia memang seperti ular."


"Julukanmu cukup bagus," Balas Rihan dan menggeleng.


"Beberapa wartawan sudah menemukan kasus pembullyan anda dulu, Tuan." Ucap Alex.


"Biarkan saja. Itu bagus untuk Ariana. Kamu hanya perlu memantaunya," Balas Rihan dan keluar dari lift.


"Baik Tuan. Anda tidak ingin bertanya dari mana mereka mendapatkan kasus itu?" Tanya Alex dan mengikuti Rihan.

__ADS_1


"Pasti dari Ayu."


"Benar, Tuan. Ular itu ternyata memiliki beberapa ahli dalam mencari masa lalu seseorang."


"Terus awasi gadis itu," Ucap Rihan dan membuka pintu kamarnya.


"Baik, Tuan."


"Aku menunggumu sudah satu jam," Keluh Neo setelah melihat kemunculan Rihan.


"Aku tidak memintamu menungguku, Kak." Balas Rihan dan menuju walk in closet untuk mengganti pakaiannya.


"Tapi aku yang ingin menunggumu. Jadi kamu harus mengerti." Gumam Neo padahal Rihan tidak mendengarnya.


"Bisakah anda tidak merepotkan majikan saya? Jadwal tuan muda sudah cukup banyak. Jangan menambah beban pikirannya," Nada suara Alex terdengar kesal pada Neo.


"Aku minta maaf untuk itu. Tapi aku tidak ingin Rei jauh dariku. Kamu harus mengerti itu."


"Ck... anda pikir anda siapa, yang bertindak seenaknya? Anda harusnya sadar, jika tuan muda didekat anda, dia pasti akan terluka. Sudah hampir beberapa kali nyawanya hampir melayang karena anda. Bisakah anda mengerti? Anda bahkan tidak mengerti bagaimana perasaan tuan Muda. Saya selalu menahan diri untuk tidak mengatakan ini. Tapi..."


"Sudah cukup, Lex!" Rihan tiba-tiba memotong perkataan Alex.


"Maaf, Tuan."


"Hmm. Turunlah lebih dulu. Aku akan menyusul nanti," Ujar Rihan setelah meletakkan ponselnya di atas nakas dan duduk di samping tempat tidur.


"Baik Tuan. Sekali lagi saya minta maaf."


"Hmm."


"Aku juga minta maaf," Neo membuka suara setelah Alex sudah beranjak dari sana.


"Untuk?"


"Selalu merepotkanmu."


"Akhirnya kak Neo sadar."


"Ya. Aku baru menyadarinya. Aku minta maaf dan berterima kasih karena kamu sudah berada di sisiku selama ini. Sudah membantuku dan keluargaku. Terima kasih untuk semuanya. Tapi aku tidak akan berjanji untuk tidak merepotkanmu."


"Huh?"


"Jika aku berjanji untuk tidak merepotkanmu, itu sama saja dengan membuatmu menjauh dariku. Aku tidak ingin itu terjadi. Kamu harus selalu berada di sampingku. Titik!"


"Ck... tidak salah aku menjulukimu." Cibir Rihan kesal.


"Hehehe... menjulukiku yang seenaknya." Balas Neo masih terkekeh.


"Kak Neo sudah makan siang?" Tanya Rihan lalu meletakkan telapak tangannya di dahi Neo.


"Belum. Aku lapar..." Jawab Neo dengan wajah memelas menatap tangan Rihan di dahinya.


"Hentikan wajah menjijikan itu." Kesal Rihan dan menurunkan tangannya.


"Baik! Tapi aku lapar,"


"Ayo makan di bawah. Atau mau diantar ke sini?" Tanya Rihan mengambil ponselnya.


"Ke sini saja. Aku masih lemas. Suapi aku lagi, ya."


"Hmm." Rihan kemudian mengirim pesan pada Alen untuk membawa makanan Neo ke kamar.


...


Besoknya, Neo sudah beraktifitas seperti biasa. Demamnya sudah turun tadi malam. Padahal pria itu berharap demamnya bertahan lama agar Rihan selalu di sampingnya. Sayangnya, tanpa dokter, obat Rihan sudah membuat demam pria itu sembuh.

__ADS_1


Neo juga sempat berpura-pura masih demam, tapi Rihan tahu itu dan menggeplak kepalanya dan mengancamnya sehingga Neo dengan cemberut menghentikan rencananya.


Karena sudah sembuh, Rihan kembali menghindari Neo. Rihan selalu saja keluar mansion atau berlama-lama di ruang kerja agar tidak bertemu Neo. Rihan juga mempercepat proyek pembangunan resort sehingga Neo benar-benar sibuk.


__ADS_2