
"Ada apa anda datang kemari, Tuan Neo?" Zant membuka suara setelah melihat jam tangannya.
Zant tidak ingin membuang waktu karena hampir jam sebelas siang. Tidak lama lagi makan siang. Itu berarti Queennya akan datang untuk membawa makan siang. Zant tidak ingin ada penganggu diantara keduanya.
"Aku datang dengan tujuan yang sama dengannya. Chi Corporation akan membantu Cognizant Technology. Dengan syarat, tinggalkan Rihan!"
"Rupanya ada orang yang tidak suka dengan hubungan kak Lyan dengan calon istrinya. Ini kesempatan bagus untukku." Batin Hanami dan diam-diam tersenyum licik.
"Bagaimana jika saya menolak?" Zant bertanya dengan tenang.
Ketenangannya membuat Neo kesal. Begitu juga dengan Hanami.
"Anda tidak punya pilihan lagi selain menerimanya. Cognizant Technology akan bangkrut hanya dalam hitungan hari jika anda menolak tawaran ini. Lihatlah! Saham perusahaan anda mulai menurun setiap menitnya," Neo menunjukan iPad di atas meja yang menampilkan grafik penurunan saham Cognizant Technology.
"Apa bagusnya calon istri kak Lyan? Masih ada aku yang pastinya lebih baik dari padanya." Tambah Hamani kesal.
"Kamu dan calon istriku ibarat langit dan bumi. Kamu sangat jauh di bawahnya!" Balas Zant datar.
Tatapan Zant begitu tajam menusuk pada Hanami, membuat gadis itu menelan ludahnya takut.
"Dia berkali-kali lipat lebih baik darimu. Kamu sama sekali tidak bisa dibandingkan dengannya," Sambung Neo ikut menatap tajam Hanami.
"Sial... apa bagus wanita itu? Bahkan dua pria tampan ini menyukainya. Sialan... Aku penasaran bagaimana wajahnya," Batin Hanami kesal. Tangannya terkepal kuat menahan marah.
"Dengan melakukan ini apa anda pikir Rihan akan memilihmu? Sama sekali tidak, Tuan Neo. Seharusnya anda sadar itu." Zant bersandar dengan santai pada sofa.
"Apapun akan aku lakukan untuk membuatnya di berada sisiku. Meski dia tidak menyukaiku, itu bukan masalah. Biarkan aku saja yang mencintainya dan menjaganya seumur hidupku."
"Benar-benar pria yang bodoh. Meski Cognizant Technology bangkrut sekalipun, aku tidak akan pernah melepaskannya."
"Kenapa kak Lyan begitu mempertahankannya? Jika perusahaan kak Lyan bangkrut, dia pasti akan meninggalkan kak Lyan. Semua wanita hanya ingin harta seorang laki-laki. Hanya aku yang mencintaimu tulus, Kak."
"Jika perusahaanmu bangkrut, dengan apa kamu akan membahagiakannya? Gelarmu sebagai dokter tidak akan cukup. Gajimu tidak seberapa. Lepaskan Rihan untukku!"
"Orang-orang ini... baiklah. Mari kita bermain," Gumam Zant dalam hati lalu tersenyum remeh pada Neo.
"Benar-benar naif. Sepertinya anda lupa, Tuan Neo. Anda juga pernah berada di titik dimana hidup tanpa kemewahan. Dan itu tidak kalah bahagianya. Sekarang, semua hal sudah ada di genggaman. Apa anda bahagia?
Kemewahan tidak selamanya membuatmu bahagia. Kebahagiaan itu akan datang jika dua orang saling mencintai dan hidup saling melengkapi. Saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing. Mereka akan bahagia meski hidup sederhana," Zant berbicara sambil menopang kepalanya dengan tangan kanannya yang bertumpu di pegangan sofa.
"Setahuku, Rihan sudah mengatakan padamu bahwa dia dan Rei bukan orang yang sama. Kenapa kamu begitu ngotot ingin membuatnya berada disisimu?" Sambung Zant bertanya.
"Itu dia! Aku tidak mungkin salah. Berhenti mengalihkan topik pembicaraan!" Marah Neo.
"Aku hanya ingin mengatakan pada kalian, aku sama sekali tidak akan menerima kerja sama yang kalian tawarkan."
Tok
Tok
Tok
"Maaf mengganggu, Tuan. Perwakilan dan J2R Lesfingtone ingin bertemu dengan anda." Suara Vian mengalihkan perhatian ketiga orang di dalam sana.
Mendengar apa yang dikatakan Vian, Zant menyeringai.
"Biarkan dia masuk!"
"Baik, Tuan."
Selang beberapa menit kemudian, terdengar suara heels memasuki ruangan kerja Zant. Neo dan Hanami kaget, sedangkan Zant tetap dengan seringainya.
"Dia..." Hanami tidak percaya melihat secara langsung gadis yang banyak sekali diidolakan kaum muda bahkan tua. Hanami sendiri sangat iri dengannya. Selain cantik, gadis di depannya ini sangatlah kaya.
"Suatu kehormatan bertemu secara langsung dengan anda, Nona." Zant dengan cepat berdiri dan menyambut perwakilan yang tidak lain adalah calon istrinya sendiri.
"Ternyata ini pertunjukan yang dia maksud. Aku benar-benar tidak menduganya." Gumam Zant dalam hati senang.
"Kehormatan juga bagi saya bertemu secara langsung dengan CEO misterius Cognizant Technology. Tidak diduga, anda sangat tampan." Balas Rihan dengan sedikit senyum.
"Anda juga benar-benar cantik, Nona. Silahkan duduk!"
"Terima kasih, Tuan."
Posisi duduk keempat orang di dalam sana, yaitu Zant di sofa singel bagian kepala, Neo di sofa panjang sebelah kanan Zant, Hanami sudah berpindah ke sofa di samping kiri Zant, dan terakhir Rihan di sofa khusus dua orang yang berhadapan dengan Zant.
"Jadi, ada keperluan apa anda datang kemari, Nona?" Zant membuka suara dan tersenyum tipis menatap Rihan di depannya. Neo hanya menatap tajam Zant, Hanami sendiri menatap benci pada Rihan.
__ADS_1
"Sebelumnya saya ingin bertanya, apa kedatangan saya mengganggu? Sepertinya sedang ada pembicaraan serius di dalam sini." Jawab Rihan berpura-pura tidak tahu, dan ikut membalas tatapan Zant.
"Anda sama sekali tidak mengganggu, Nona. Kedua orang ini adalah tamu yang ingin mengajukan kerja sama dengan Cognizant Technology. Anda pasti sudah mendengar jika perusahaan kami akan bangkrut."
"Hm. Kedatangan saya memang memiliki tujuan yang sama. Saya perwakilan J2R Lesfingtone juga ingin mengajukan kerja sama dengan anda, Tuan Veenick."
"Benarkah?"
"Ya. Tapi saya juga ingin mengajukan syarat."
"Syarat apa, Nona?"
"Menikahlah dengan saya, Tuan."
BRAK
"Sialan... beraninya kamu mengajukan syarat itu?" Marah Hanami setelah mengebrak meja di depannya.
"Saya juga menginginkan keuntungan, Nona Hanami. Atau haruskah saya memanggil anda wanita penggoda?" Perkataan Rihan membuat Zant menahan tawanya dengan berpura-pura batuk.
"J****g Sialan... kamu yang wanita penggoda!" Emosi Hanami tidak bisa lagi dikontrol.
Rihan hanya menaikkan sebelah alisnya merespon perkataan Hanami membuat gadis itu ingin sekali menampar wajah Rihan.
"Nona, bolehkah saya melihat proposal yang anda ajukan?" Zant tersenyum tipis sekaligus memberi kode pada Rihan untuk datang ke sisinya.
SRET!
Sekali tarikan, Rihan sudah duduk di pangkuan Zant.
"Melihat perlakuan anda, sepertinya anda menerima tawaran kerja sama ini, Tuan Veenick." Rihan berbicara sambil membelai lembut rahang Zant.
"Kamu J****g Sialan... turun dari pangkuan kak Lyan!" Teriak Hanami marah sambil menunjuk Rihan.
Neo sendiri tetap diam di tempatnya sambil mengepalkan tangannya menahan emosi.
"Kenapa harus? Lagipula, lihatlah! Tangan Tuan Veenick sama sekali tidak ingin melepaskanku," Tentu saja Rihan suka sekali memprovokasi Hanami.
"Kamu wanita penggoda! Kak Lyan sudah memiliki calon istri. Turun sekarang!"
"KAU..."
"Bagaimana, Tuan Veenick. Anda menerima tawaran kami?" Tanya Rihan lembut.
"Maaf sekali, Nona. Saya menolak tawaran anda. Saya masih bisa mengatasi masalah perusahaan saya sendiri."
Perkataan Zant membuat Hanami tersenyum senang. Neo sendiri mengerutkan kening bingung.
"Tapi... saya ingin menerima syarat yang anda ajukan. Apakah bisa?"
"Tidak masalah! Syarat itu lebih penting bagiku."
"Kak Lyan, bagaimana dengan calon istri kakak?"
"Benar juga, bukankah anda sudah punya calon istri? Seperti apa dia?" Rihan bertanya dengan senyum menggoda.
"Dia sangat-sangat cantik. Tidak ada seorangpun yang bisa dibandingkan dengannya. Bagiku dia sangat sempurna. Dia seluruh nafasku!"
"Wah... Sepertinya anda sangat mencintainya, Tuan Veenick." Tanya Rihan lalu mengalungkan kedua tangannya di leher Zant.
"Lihat! Meski kamu cantik, kak Lyan tidak akan memilihmu. Kak Lyan lebih memilih calon istrinya. Hahaha... kamu hanya bisa menggoda pria dengan wajah j****gmu itu." Hanami tersenyum remeh pada Rihan.
"Apa Tuan Veenick tidak akan memilihku?" Tanya Rihan dengan suara memelas.
Jujur saja, sedari awal duduk di pangkuan Zant, Rihan sudah menahan malunya karena melakukan hal ini. Apalagi menggoda pria ini. Benar-benar sangat maluq
"Kamu satu-satunya yang aku pilih, My Queen."
"Apa maksud, Kak Lyan?" Hanami bertanya dengan bingung.
"Karena aku calon istrinya."
"Apa? Tidak mungkin!" Hanami menggeleng tidak percaya.
"Kenapa tidak?" Rihan lalu mengecup bibir Zant.
Ketika akan melepasnya, Zant menahan tengkuk Rihan dengan satu tangannya agar ciuman Rihan tidak terlepas. Satu tangan lagi memeluk erat pinggang Rihan.
__ADS_1
Zant tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Pria itu lalu m*****t bibir Rihan dengan lembut. Meski keduanya sama-sama baru belajar, tetapi naluri keduanya membuat l*****n itu semakin intens membuat Neo dan Hanami hanya bisa menahan marah.
"Sialan... lepaskan!" Teriak Hanami sudah tidak bisa lagi menahan diri. Wajah wanita itu sudah memerah.
SRET!
HAP!
"Kedua jomblo di ruangan ini sepertinya iri melihat kita, My Queen." Zant melepas ciuman mereka dan menatap tajam Hanami karena mengganggunya dan kesayangannya, dengan melempar vas bunga kaca yang ditargetkan pada kepala Rihan. Untungnya insting Zant kuat sehingga tangannya di tengkuk Rihan dengan cepat menangkap vas bunga itu.
"Sakit? Marah? Sayang sekali, dia bukan milikmu. Tapi milikku! Siapapun yang mencoba merebutnya, akan merasakan berkali-kali lipat kesakitan sebelum ke neraka." Hanami menegang di tempatnya mendengar klaim kepemilikan Rihan.
"Tuan Neo, saya tahu anda tidak ingin melakukan semua ini. Anda hanya ingin saya berada di sisi anda selamanya. Tapi anda harus tahu, yang anda lakukan ini tidak akan membuat saya melihat anda apalagi berada di sisi anda.
Tindakan anda ini hanya akan membuat saya semakin membenci anda. Satu permintaan saya! berhentilah melakukan hal bodoh karena itu sia-sia. Anda seharusnya belajar dari pengalaman,"
Neo hanya menunduk merasa bersalah. Sakit di dadanya kembali menyerang. Tidak ingin terlihat menyedihkan di hadapan ketiga orang di depannya, Neo segera pamit keluar setelah meminta maaf.
"Vianku yang tampan!" Panggil Rihan membuat Zant tiba-tiba kesal.
"Ada apa, Nona Muda?"
"Tolong antar tamu kita keluar. Jangan lupa untuk berterima kasih padanya." Rihan mengusir secara halus Hanami dari sana.
"Baik, Nona Muda."
"Kau... j****g sialan... tunggu pembalasanku! Selama aku masih hidup, aku tidak akan membuat kalian bahagia." Teriak Hanami yang diseret keluar oleh Vian.
"Pertunjukannya sudah selesai. Waktunya makan siang." Rihan berniat turun dari pangkuan Zant.
"Ada apa?" Tanya Rihan karena Zant tidak ingin melepasnya.
CUP
Satu kecupan di bibir Rihan.
"Hei..."
CUP
Rihan kembali mendapat kecupan di bibirnya.
"Aku mencintaimu, My Queen. Sangat-sangat mencintaimu. Jangan pernah tinggalkan aku!" Ucap Zant lirih, lalu memeluk erat Rihan dengan menaruh kepalanya di cekuk leher Rihan.
"Kak Zant kenapa?"
"Aku hanya tidak ingin kamu meninggalkanku,"
"Tidak akan, Kak. Mulai sekarang ayo buat janji bersama."
"Janji apa?"
"Apapun yang terjadi kedepannya, kita harus saling percaya. Meski suatu hari kak Zant melihatku bersama pria lain dalam keadaan yang menimbulkan salah paham, kak Zant harus percaya padaku. Aku juga akan melakukan hal yang sama. Kita tidak boleh bertengkar karena itu, kita harus mendengarkan penjelasan satu sama lain terlebih dahulu."
"Aku setuju! Tapi aku harap itu tidak boleh terjadi. Aku tidak ingin kamu disentuh oleh pria lain."
"Oke."
"Jadi, Bagaimana dengan masalah perusahaan?"
"Kita hanya perlu duduk, diam di tempat, dan menunggu berita besok. Aku senang karena adanya masalah ini, aku bisa melihat dengan jelas siapa saja yang tidak setia di sini."
"Baikah. Aku hanya akan mendukung semua keputusanmu, My King."
"Terima kasih, My Queen. I love you."
"Love you too."
Kruyukkkkk
"Hahaha... kesayanganku sudah lapar ternyata. Ayo makan di luar!"
"Hm. Turunkan aku!"
"Tidak. Aku akan menggendongmu sampai ke mobil."
"Terserah,"
__ADS_1