Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Mencurigai Rine 2


__ADS_3

Mendengar suara Logan, Rihan mengerutkan kening kemudian membuka matanya. Merasakan pelukan di pinggangnya Rihan begitu kaget. Bisa-bisanya dia tidak sadar jika sedang tidur dengan orang lain. Mengangkat tangan yang memeluknya, Rihan menoleh ke arah orang yang tidur di sampingnya.


"Kak Neo?"


"Kenapa dia bisa tidur di sini?" Tanya Rihan pada Alex setelah membenarkan posisi duduknya dengan bersandar pada kepala tempat tidur.


"Anda tidak tahu, Tuan? Kami juga baru sampai," Jawab Alex bingung.


"Kak..." Panggil Rihan membangunkan Neo.


"Jangan mengganggu tidurku, Gan." Gumam Neo serak. Pria itu masih melanjutkan tidurnya.


"Anak ini..." Batin Logan lalu menghampiri Neo.


"Bos, bangun! Rei baru saja dibawa ke rumah sakit. Sakitnya semakin parah." Bisik Logan berharap Rihan tidak mendengarnya. Sayangnya telinga Rihan sangat tajam. Apalagi jarak mereka tidak terlalu jauh.


"Hah... bagaimana keadaannya?" Tanya Neo panik setelah tersadar dan segera duduk kemudian menatap Logan.


"Rei tadi sudah membaik, hanya demam saja. Kenapa dibawa ke rumah sakit? Apa sakitnya sangat parah?" Tanya Neo belum menyadari keberadaan Rihan di sampingnya.


"Sangat parah sampai kamu memeluknya begitu erat." Sindir Logan.


"Maksudmu apa?" Neo bingung. Dia juga menyadari keberadaan Alex di depannya.


"Jika majikanmu masuk rumah sakit, lalu kenapa kamu masih di sini?" Tanya Neo lagi pada Alex yang menatapnya datar.


Neo kemudian mengalihkan pandangannya mengikuti arah tatapan Alex.


"Kamu... tunggu pembalasanku!" Ucap Neo ketika baru sadar ada Rihan di sampingnya. Neo lalu melirik sekilas pada Logan yang tersenyum lebar.


"Bagaimana keadaanmu? Syukurlah demammu sudah turun," Tanya Neo lalu meletakkan telapak tangannya pada dahi Rihan.


"Apa aku mengatakan sesuatu saat demam?" Tanya Rihan setelah Neo menurunkan tangannya. Rihan tidak ingin orang lain mengetahui masa lalunya.


"Sesuatu?" Ulang Neo.


"Hentikan... ini sakit..."


"Tidak ada." Jawab Neo berbohong. Dia akan mencari tahu jawabannya sendiri.


"Baguslah. Lalu kenapa kamu memelukku? Kamu bukan gay, 'kan?" Tanya Rihan datar pada Neo.


"Jangan asal bicara! aku masih normal. Tadi kamu demam dan menggigil jadi aku membantu menghangatkan tubuhmu." Jawab Neo lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Jantungnya kembali berdebar ketika mengingat kejadian tadi.


"Ada pemanas di ruangan ini jika kamu lupa, Bos." Logan mengingatkan Neo.


"Itu namanya mencari kesempatan," Sambung Logan dalam hati.


"Huh... kenapa aku bisa lupa?" Gumam Neo pela menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia malu sekarang.


"Saking khawatirnya hingga aku lupa jika ada penghangat ruangan di sini. Bodohnya aku," Rutuk Neo dalam hati.


"Sepertinya kamu benar-benar seorang gay," Cibir Rihan segera turun dari tempat tidur.


"Jangan gila! Tapi kamu mau ke mana? Kamu sudah sembuh?" Tanya Neo masih khawatir.


"Pulang!"


"Anda sudah baik-baik saja, Tuan?" Tanya Alex khawatir.


"Ya. Ayo pulang! Laporan hasil penyelidikannya nanti saja." Jawab Rihan dan berjalan menuju pintu keluar.


"Terima kasih sudah merawatku." Nada suara Rihan tulus sebelum membuka pintu dan pergi dari sana.


"Hei..." Panggil Neo tetapi Rihan sudah keluar dari kamarnya.


"Sudahlah. Setidaknya dia sudah sembuh." Ujar Neo dalam hati merasa legah.

__ADS_1


"Bagaimana hasil penyelidikanmu?" Tanya Neo serius pada Logan.


"Menurut bibi yang mengantar makanan ini, semua sesuai dengan pesananmu."


"Lalu?"


"Kamu tidak curiga dia berbohong?" Tanya Logan heran.


"Dia sudah bekerja lama pada kita. Aku percaya padanya. Apa tidak ada kejanggalan lain?"


"Aku sudah menanyakan kapan bibi meninggalkan makanan ini. Kata bibi, beliau meninggalkan sebentar makanan itu untuk ke toilet.


Aku sudah memeriksa cctv tempat yang bibi maksud, tetapi wajah orang yang menukar sup itu tidak kelihatan. Sepertinya dia tahu posisi yang pas agar tidak terlihat oleh cctv. Ciri-cirinya juga tidak terlihat jelas dia perempuan atau laki-laki. Aku curiga, mereka pasti ingin meracuni Rei supaya hubunganmu dan bocah itu renggang." Jelas Logan lalu memberikan rekaman cctv yang dimaksud.


"Tugasmu mencarinya sampai ketemu. Aku mau tidur lagi," Neo tidak melihat rekaman itu. Dia hanya meletakkannya di meja nakas dan kembali tidur.


"Oke."


***


"Anda memiliki jadwal jalan-jalan dengan Tuan Muda Avhin, apa sebaiknya dibatalkan saja? Saya khawatir dengan kondisi anda, Tuan." Tanya Alex ketika mereka sudah ada dalam mobil dan hendak pulang.


"Hmm."


"Lagipula dadaku masih agak sesak." Monolog Rihan memejamkan matanya sambil sesekali meraba dadanya.


"Buat saja alasannya pada kak Avhin." Gumam Rihan pelan tetapi masih bisa didengar oleh Alex.


"Baik, Tuan."


...


Sampai di mansion, Rihan segera menuju kamar dan beristirahat. Alex juga segera memberikan alasan pada Avhin jika Rihan ada pekerjaan mendadak yang tidak bisa di tunda. Avhin juga mengerti dan tidak mempermasalahkannya. Hanya Rine yang kecewa karena tidak bisa jalan-jalan bersama Rihan.


Rihan yang baru saja memejamkan mata, kembali membukanya dan menatap langit-langit kamarnya.


"Kenapa aku tidak terusik dengan kehadiran kak Neo di sampingku? Dia bahkan memelukku selama tidur." Ucap Rihan dalam hatinya ketika mengingat kejadian beberapa waktu lalu.


Menghela nafas sebentar, Rihan kemudian bangun. Mengambil ponselnya, Rihan lalu mengirim pesan pada Alex untuk datang ke kamarnya.


Hanya membutuhkan 2 menit, Alex dengan tergesah-gesah menuju kamarnya.


"Ada merasa sakit lagi, Tuan?" Tanya Alex sambil mengatur nafasnya karena berlari. Dia sangat khawatir menerima pesan untuk datang ke kamar majikannya. Dia pikir terjadi sesuatu.


"Tenangkan dulu dirimu. Aku baik-baik saja."


"Sudah, Tuan. Kenapa anda memanggil saya?"


"Panggil Dokter Galant ke sini. Dadaku masih terasa sesak."


"Baik, Tuan."


Ketika Alex sedang menelpon Dokter Galant, Alen tiba-tiba muncul dengan wajah panik.


"Anda baik-baik saja, Tuan? Saya tadi melihat kak Alex tergesah-gesah kemari. Apa anda masih merasa sakit?" Tanya Alen. Alex sudah memberitahu kondisi Rihan tadi.


"Aku baik-baik saja."


"Syukurlah. Saya takut anda kenapa-napa."


"Dokter Galant sebentar lagi ke sini. Dia baru saja keluar jalan-jalan."


"Selagi menunggunya, aku ingin mendengar apa yang kamu dapat." Rihan bersandar pada kepala tempat tidur menunggu laporan dari Alex.


"Semua orang di mansion sudah saya selidiki. Tetapi tidak ada yang mencurigakan. Setahu saya, hanya keluarga inti yang tahu alergi anda dan juga koki kepercayaan anda."


"Tidak ada yang mencurigakan? Dimana mommy dan yang lainnya?" Tanya Rihan setelah memikirkan sesuatu.

__ADS_1


"Keluarga besar sedang di kolam ikan belakang mansion, Tuan. Anda mengetahui sesuatu?" Tanya Alen.


"Entahlah. Dimana Rine?" Tanya Rihan lagi.


"Gadis itu sedang bersama Tuan Muda Avhin di kamar." Jawab Alex.


"Ayo ke belakang mansion." Ujar Rihan lalu segera turun dari tempat tidur.


"Sepertinya anda mengetahui sesuatu," Tebak Alex sambil melihat Rihan yang sedikit membenarkan kaos yang dipakai.


"Semoga dugaanku benar," Rihan kemudian berjalan menuju pintu keluar diikuti oleh Alex dan Alen.


...


"Hai, Sayang... kalian tidak jadi jalan-jalan?" Tanya Mommy Rose ketika melihat Rihan yang menghampiri mereka. Padahal setahunya Rihan dan yang lainnya akan jalan-jalan hari ini karena besok mereka sudah kembali ke Prancis.


"Hai Mom, Dad, Ma, Pa..." Sapa Rihan.


"Hai juga, Sayang."


"Rei banyak kerjaan, Mom." Jawab Rihan setelah duduk di tengah-tengah Mommy Rose dan Mama Shintia.


"Ya, sudah. Tapi jangan terlalu memaksakan dirimu." Balas Mommy Rose dan mengelus sayang kepala anak semata wayangnya itu.


"Hmm."


"Kamu butuh sesuatu?" Tanya Papa Jhon.


"Hanya ingin menanyakan sesuatu."


"Apa?"


"Mama dan Papa pernah duduk dan bercerita bersama Rine?" Tanya Rihan menatap Mama Shintia dan Papa Jhon.


(Note : Aku mengganti Paman dan Bibi dengan  Papa dan Mama).


"Iya. Sudah beberapa kali selama kamu masih di Indonesia. Kemarin juga dia mengajak bercerita bersama mama, papa dan Avhin." Mama Shintia menjawab dengan lembut.


"Apa yang kalian ceritakan kemarin? Atau, apa dia menanyakan sesuatu tentangku?" Tanya Rihan serius.


"Dia menanyakan makanan kesukaanmu karena katanya ingin lebih dekat dengan calon adik iparnya." Jawab Mama Shintia lalu tersenyum.


"Mama memberitahunya?" Tanya Rihan lagi. Semoga dugaannya benar.


"Ya. Lagipula mama setuju dia menjadi kakak iparmu. Dia terlihat cocok dengan Avhin."


"Bagaimana dengan alergiku?"


"Mama juga memberitahunya. Memangnya kenapa?"


"Apa jangan-jangan..." Sambung Daddy Jhack. Sepertinya daddy Rihan itu tahu kemana arah pembicaraan sang anak.


"Hmm." Deheman Rihan membuat keempat orang tuanya itu menatapnya dengan ekspresi bingung dan khawatir.


"Maksudnya apa ini? mlMommy tidak mengerti,"


"Tuan terkena alergi ketika makan di apartemen Tuan Neo beberapa jam lalu." Alex menjelaskan ketika mendapat lirikan dari Rihan.


"Kamu baik-baik saja, Sayang?" Tanya Mommy Rose panik. Mommy Rose langsung memegang kedua bahu Rihan seraya menelisik seluruh tubuh anak gadisnya itu.


"Bagaimana keadaanmu sekarang?" Tanya Mama Shintia tak kalah khawatir.


"Jadi, kamu curiga pada gadis itu? Kenapa tidak mencurigai orang yang memberimu makan?" Tanya Daddy Jhack tenang.


"Rei pasti ada alasannya," Sahut Papa Jhon.


"Tidak ada untungnya bagi kak Neo untuk meracuniku. Sedangkan untuk kekasih kak Avhin, kalian akan tahu jika sudah waktunya. Dan juga, aku sudah baik-baik saja. Sebentar lagi Dokter Galant akan datang memeriksaku." Jelas Rihan membuat dua kepala keluarga itu mengangguk.

__ADS_1


"Tidak mungkin Rine melakukan itu. Mama yakin dia gadis yang baik. Untuk apa dia melakukannya?" Tanya Mama Shintia masih tidak percaya.


"Akan ada saatnya mama untuk tahu semuanya. Hanya saja belum waktunya," Balas Rihan lalu berdiri dan pergi dari sana.


__ADS_2