
Selamat Membaca!
.
.
.
Setelah keluar dari kelas, Rihan dan Alex menuju ke pintu keluar karena tepat di depan bangunan yang bertuliskan Fakultas Kedokteran, terparkir dua mobil yang tadi pagi digunakan oleh Rihan dan Alex.
Mobil yang awalnya ada di parkiran, kini sudah dipindahkan ke depan agar memudahkan majikan mereka.
Setiap langkah yang diambil oleh seorang Rihan, tetap mengundang tatapan kagum dan iri dari para kaum hawa maupun adam. Sayangnya, tatapan seperti itu tidak dipedulikan oleh seorang Rihan. Rihan tetap tenang di setiap langkahnya diikuti oleh asisten pribadinya dari belakang hingga tiba di samping mobil miliknya.
Alex dengan sigap membukakan pintu mobil untuk majikannya, setelah itu dia juga masuk ke mobilnya yang ada di belakang mobil majikannya. Melihat Alex sudah masuk ke mobilnya, Rihan kemudian menghidupkan mesin mobilnya dan pergi dari sana diikuti oleh mobil Alex dari belakang meninggalkan Antarik Universitas, menyisahkan para mahasiswa yang masih setia di tempat mereka masing-masing dan bergosip ria tentang anak kedua Jhon Lesfingtone atau si pria cantik itu.
...
Setelah kepergian Rihan dari kelas, David juga berdiri dan pergi meninggalkan kelas. Sebelum sampai di parkiran jurusan kedokteran, David juga sempat melihat Rihan dan Alex yang masuk ke dalam mobil masing-masing dan pergi meninggalkan area kampus.
Melihat dari outflit dan mobil yang digunakan, David yakin, pemuda yang dipanggil semua orang tuan muda itu bukan orang biasa. Karena rasa penasaran yang semakin tinggi, David lalu bertanya pada salah satu teman sekelasnya yang kebetulan lewat di depannya.
"Permisi... kamu mengenal dua pria yang baru saja pergi tadi?" Tanya David pada seorang pria yang lewat di depannya sambil menunjukan jarinya ke tempat dimana mobil Rihan dan Alex pergi.
"Dua pria? oh... itu Tuan Muda Rehhand Lesfingtone dan asisten pribadinya." Jawab pria itu lalu tersenyum tipis.
"Keluarga Lesfingtone? Sepertinya tidak asing.
Aku akan mencarinya nanti," Pikir David dalam hati.
"Terima kasih. Maaf sudah mengganggu waktumu," David lalu menepuk pelan pundak pria itu.
"Tidak masalah, Kawan. Aku akan segera pergi," Balas pria itu lagi dan beranjak pergi dari sana.
"Tunggu! Kita sekelas, 'kan? Perkenalkan namaku David. Panggil aku sesuai keinginanmu. Dan aku berharap kita bisa jadi teman," David tersenyum kemudian mengulurkan tangannya sebagai tanda perkenalan.
"Namaku Albert. Terserah kamu ingin memanggilku apa. Dan... mari berteman." Albert juga tersenyum dan membalas jabatan tangan David.
"Baiklah. Aku akan memanggilmu Al saja. Untuk merayakan pertemanan kita, bagaimana kalau kamu aku traktir makan?" Tawar David setelah melepas jabatan tangan mereka.
__ADS_1
"Ayo... kebetulan sekali, aku juga ingin bertemu dengan teman-temanku. Biar kuperkenalkan pada mereka," Albert masih dalam mode tersenyum. Tentu saja, mendapat teman baru tidak buruk.
"Itu bagus. Ayo berangkat. Aku akan mengikuti mobilmu dari belakang," David mengangguk setuju pada Albert.
"Ayo!"
Keduanya lalu pergi dari sana untuk bertemu dengan teman-teman Albert.
***
Di sisi Rihan dan Alex.
Keduanya melajukan mobil dengan kecepatan rata-rata membelah jalanan kota Jakarta menuju mansion milik Rihan. Dalam perjalanan, mobil yang dikendarai Rihan berhenti secara tiba-tiba tanpa diinstruksi oleh si pengemudi.
Rihan sendiri heran, kemudian bertanya dengan nada datar pada sistem hologram yang terpasang di mobil itu.
"Ada apa, Gredy?"
...*Maaf, Tuan majikan. Terjadi kecelakaan 1 km di depan anda.*...
"Apa jalan ditutup?" Tanya Rihan masih dengan nada yang sama.
...*Tidak, Tuan.*...
Masih ingatkan dengan sistem hologram yang dipasang Rihan pada setiap mobil miliknya? Sistem yang diberi nama Gredy oleh Rihan, dapat mendeteksi apa yang terjadi di depannya sejauh 1 km. Jadi, jangan heran jika mobilnya akan berhenti secara otomatis tanpa diinstruksi oleh si pengemudi.
Sistem hologram ini selain bekerja mendengarkan instruksi, dia juga dapat bekerja tanpa diperintahkan demi dan untuk kenyamanan dan keselamatan pengemudi mobil.
Alex yang mengikuti mobil Rihan dari belakang ikut berhenti ketika mobil di depannya berhenti. Ketika akan turun, mobil majikannya sudah kembali jalan sehingga Alex juga ikut menjalankan mobilnya. Karena penasaran, Alex lalu bertanya pada Rihan.
"Maaf, Tuan. Apa ada masalah?" Tanya Alex sopan pada Rihan melalui chip yang terpasang rapi di belakang telinganya.
Mendengar pertanyaan itu, Rihan segera menjawab, "Tidak."
"Baik, Tuan."
Alex kembali mengemudikan mobilnya untuk lebih dekat dengan Rihan.
Tepat setelah beberapa mater di depan mobil Rihan, terlihat kecelakaan antara sebuah taxi dan motor yang sudah terkapar jauh dari jalan tol. Banyak kerumunan di sisi lain jalan.
__ADS_1
Rihan tidak memusingkan hal itu dan terus mengemudikan mobilnya dengan pelan. Akan tetapi, dia terpaksa menghentikan mobilnya ketika mendengar suara yang berasal dari dalam kerumunan itu.
"Ibu... jangan tinggalkan, Axen. Tolong ibu saya Paman, Bibi."
Sambil memijit pelipisnya, Rihan lalu menghembuskan nafasnya kasar dan turun dari mobil. Rihan adalah tipikal orang yang paling tidak suka mendengar teriakan menyedihkan seperti itu. Sedangkan Alex juga ikut turun ketika melihat majikannya turun dari mobilnya.
Rihan kemudian berjalan menuju kerumunan orang-orang yang sedang melihat seorang anak laki-laki yang menangisi ibunya yang terkapar dengan darah di kepalanya.
Di sana juga terlihat seorang pria muda sedang menekan berulang kali dada ibu korban kecelakaan itu yang terkapar tak berdaya guna mengembalikan detak jantung ibu itu.
"Permisi... bisa tolong minggir sebentar?" Alex membuka suara cukup kuat pada orang-orang yang ada di sana.
Mereka kemudian berbalik ke sumber suara dan mendapati si pria cantik yang saat ini menjadi perbincangan di media sosial tengah berada di depan mereka. Semua yang ada di sana terdiam tanpa mengucapkan kalimat apapun. Seakan-akan mulut mereka terkunci rapat karena terpesona dengan keindahan ciptaan Tuhan yang satu ini. Mereka dengan patuh membuka jalan untuk Rihan
"Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit?" Tanya Alex heran. Banyak orang sedang menonton. Bukannya membantu, mereka justru mengambil gambar juga video dan memposting kejadian hari ini.
"Ibu ini tidak bisa banyak bergerak karena tulang lehernya yang patah. Jantungnya juga tiba-tiba berhenti sehingga harus segera diberi nafas buatan." Jawab seorang pria dengan nafas tersengal-sengal karena sedang memompa dada ibu itu.
"Anda seorang dokter?" Tanya Alex pada pria muda itu.
"Ya."
Rihan hanya memperhatikan dalam diam korban kecelakaan itu, juga si pria yang sedang memberi nafas buatan melalui bibir ibu itu berulang kali juga terus menekan dadanya naik turun.
"Bisakah anda permisi sebentar, Tuan? Biarkan Tuan Muda yang melihat kondisinya." Ujar Alex, karena dia sangat yakin jika majikannya turun dari mobilnya sudah pasti dia ingin membantu.
"Memangnya majikanmu seorang dokter?" Tanya pria itu dengan mata memicing tajam ke arah Alex lalu beralih pada Rihan.
"Bukan. Tapi mahasiswa kedokteran." Jawab alex tenang dan membalas tatapan pria itu tidak kalah tajam.
"Hanya mahasiswa? Aku seorang dokter saja kesulitan. Apalagi dia yang hanya mahasiswa? Kamu ingin membunuh ibu ini?" Pria muda itu berbicara dengan tegas sambil terus memompah dada korban kecelakaan itu.
"Ka..." Perkataan Alex terpotong ketika melihat majikannya mengangkat satu tangannya tanda berhenti bicara.
"Tolong ibu saya, Kak. Saya akan membalas kebaikan kakak dengan menyerahkan hidup saya pada kakak. Tolong ibu saya, Kak." Bocah laki-laki itu memohon dengan air mata yang terus mengalir dan memegangi salah satu tangan Rihan.
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejakmu ya...
See You.