Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Limited Edition


__ADS_3

"Tidak ada gadis genit di mansion ini, kenapa Nona Samantha ikut kemari?" Tanya Alex yang lebih kepada menyindir keberadaan Ariana.


"Aku tidak bisa jauh dari, Dev." Jawab Ariana lalu memasang senyum 100 wattnya.


"Bajingan ini selalu saja menyudutkanku. Tunggu saja pembalasanku!" Lanjut Ariana dalam hatinya kesal pada Alex.


"Tidak bisa jauh kepalamu," Gumam David dalam hati menatap malas Ariana yang kini bergelayut manja di lengannya.


***


"Silahkan diminum." Alen mempersilahkan dengan datar setelah seorang pelayan meletakkan minuman dan cemilan di atas meja.


"Terima kasih. Siapa nama kakak?" Tanya Phiranita sambil memasang senyum manisnya.


"Nama saya Alen, Nona. Saya asisten pribadi Tuan Muda Rehhand." Alen menjawab dengan datar sambil menundukan sedikit kepalanya.


"Kak Alen, nama yang cantik. Seperti orangnya!" Phiranita memuji setelah mengambil sepotong kue di atas meja dan memasukan ke dalam mulutnya.


"Kamar untuk nona Phi sudah siap, Tuan." Lapor Alex yang baru saja datang, setelah mengecek kamar untuk ditempati Phiranita.


"Istirahatlah." Ujar Rihan datar pada sang sahabat yang duduk di sebelahnya.


"Aku belum mengantuk, Han. Nanti saja. Aku ingin lihat laporan kalian tentangku." Balas Phiranita masih terus mengunyah kue di mulutnya.


"Hm."


"Maaf Tuan, sudah hampir waktunya makan siang." Alen memberitahu setelah mendapat bisikan dari seorang pelayan yang menyiapkan makan siang untuk Rihan.


"Laporannya akan dibuat setelah makan siang." Nada suara Rihan tidak ingin dibantah.


"Ayo, kita makan siang. Setelah itu istirahat." Lanjut Rihan mengajak sahabatnya.


"Ayo." Balas Phiranita kemudian berdiri mengikuti Rihan.


"Silahkan ikuti saya ke meja makan. Tuan tidak suka menunggu." Alex kemudian pergi meninggalkan keempat manusia yang sedang duduk itu.


"Ayo. Kebetulan aku sudah lapar," Albert begitu semangat menarik tangan David agar terlepas dari Ariana. Mereka lalu mempercepat langkah untuk mengikuti Alex.


"Silahkan duduk dimanapun kalian ingin," Ucap Alex setelah sampai di meja makan.


David dan ketiganya lalu menempati kursi kosong yang ada disana. Posisi duduk mereka yaitu, Rihan di bagian kepala, di sebelah kanannya ada Alex, David dan Albert. Sedangkan di sebelah kiri Rihan, ada Alen, Phiranita, Dian dan Ariana.


Entah kenapa Phiranita tidak mengambil posisi duduk didekat Rihan. Padahal Alen sudah mempersilahkannya duduk di sana, tetapi dirinya tidak mau. Phiranita hanya menjawab jika asisten pribadi Rihan yang harus duduk di sana, agar bisa melayani tuan mereka.


Rihan sendiri tidak mempermasalahkan siapa yang duduk didekatnya, asalkan itu bukan seorang pengganggu. Alen juga tidak membantah apapun. Alen dengan tenang duduk di sana, kemudian mengambil piring, mengisinya dengan nasi dan beberapa lauk lalu diberikan pada sang majikan.


"Silahkan diambil sesuka hati. Tidak ada yang melarang kalian untuk makan." Alex membuka suara ketika sang adik sudah memberikan bagiannya, sedangkan yang lain hanya menonton tanpa bergerak mengambil milik mereka.


"Kalau begitu aku tidak akan sungkan lagi," Balas Albert bersemangat kemudian mengambil piring dan mengisinya secukupnya saja tidak seperti waktu di kantin.


"Tidak ingin membuat gunung?" Sindir David lalu ikut mengisi piringnya.


"Lain kali." Albert menunggu yang lainnya mengisi piring mereka.


"Aku juga, Kak." Phiranita menatap Alen sambil memberikan piring kosongnya untuk di isi.


"Apa saja yang ingin nona makan?" Tanya Alen setelah menerima piring yang diberikan Phiranita.


"Sama seperti punya Ehan." Jawab Phiranita lalu tersenyum.


"Baik."


"Selamat makan!" Rihan tiba-tiba bersuara membuat semua yang ada di sana seketika menatapnya. Terutama Alex dan Alen, karena ini pertama kalinya Rihan membuka suaranya memberi selamat lebih dulu.

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya Rihan merasa aneh.


"Tidak Tuan, selamat makan." Balas Alex lebih dulu tersadar dari keterkejutannya kemudian diikuti oleh yang lainnya.


Mereka lalu menikmati makan siang mereka dengan lahap. Terutama Albert. Cara makannya membuat yang lain hanya menggeleng kepalanya merasa lucu, kecuali Ariana tentunya.


Banyak sindiran Ariana lontarkan dalam hatinya. Dia tiba-tiba teringat dengan Ayu, karena jika seperti ini, pasti Ayu yang sudah menyuarakan isi hatinya.


"Kak Albert lapar?" Tanya Phiranita merasa lucu dengan cara makan Albert. Cara makan pria itu sangat lahap, dan orang melihatnya semakin bersemangat untuk makan.


"Hehehe... Iya. Makanannya juga sangat lezat." Jawab Albert setelah menelan makanan di mulutnya.


"Tuan muda tidak suka bersuara saat makan, Nona." Ujar Alen pelan agar hanya didengar oleh Phiranita. Sayangnya Rihan dapat mendengarnya.


"Benarkah?" Balas Phiranita yang kini berbisik.


"Aku minta maaf, Han." Lanjut Phiranita sambil menatap Rihan.


"Hmm."


Yang lain hanya menatap bingung Phiranita yang tiba-tiba meminta maaf tanpa melakukan kesalahan. Mereka hanya bisa diam tanpa bertanya alasannya. Entah kenapa mereka juga tidak ingin bersuara.


"Terima kasih." Balas Phiranita lalu kembali melanjutkan makannya.


***


"Jadi, laporan ini kita bagi perorangan dengan bagiannya masing-masing kemudian tinggal disatukan, atau kita buat bersama?" Tanya Albert pada yang lainnya, yang beberapa saat lalu baru kembali ke ruang tamu setelah makan siang.


"Menurutku, kita buat saja bersama. Yang kita buat hari ini hanya bagian pembukanya saja, sedangkan untuk isi kita akan buat lagi setelah memantau bagaimana perkembangan Ira." Jawab David tenang.


"Ira?" Tanya Albert dengan alis terangkat sebelah.


"Akan lebih mudah memanggilnya begitu." Jawab David seadanya.


"Bagus juga nama itu, aku setuju. Asal jangan Tata." Phiranita mengangguk setuju.


"Tata, khusus Ehan yang memanggilnya." Jawab Phiranita lalu tersenyum menatap Rihan di sampingnya yang hanya menatapnya datar.


"Ya, sudah. Lanjut ke pembahasan. Jadi bagaimana menurut kalian?" David tidak ingin basa-basi.


"Aku juga setuju dengan Dev. Mari kita mulai saja!" Dian kini berpindah duduk dekat Albert karena dia sedang duduk dengan laptop di pangkuannya.


"Tolong ambil laptopku, Lex" Pintah Rihan pada Alex yang berdiri di belakangnya.


"Baik, Tuan."


Tidak lama kemudian, Alex kembali membawa laptop milik Rihan.


"Ini, Tuan."


"Terima kasih. Kamu dan Alen bisa istirahat." Ujar Rihan setelah mengambil laptop di tangan Alex.


"Baik Tuan. Kami permisi!" Pamit Alex dan Alen secara bersamaan kemudian berlalu dari sana.


"Hmm." Deheman Rihan kemudian menaruh laptop di pangkuannya dan membukanya.


"Wow. Limitied Edition." Batin Albert sambil menatap kagum laptop milik Rihan.


"Kenapa?" Tanya David ikut menatap Rihan yang sibuk dengan laptopnya.


"Limited Edition, Dev. Sudah lama aku mengincarnya!" Jawab Albert seketika berhenti mengetik pada laptop di pangkuannya. Mereka kini berbicara pelan hampir seperti berbisik karena takut didengar oleh Rihan.


"Memangnya sudah habis terjual? Beberapa hari yang lalu aku juga membeli satu." Jawab David santai.

__ADS_1


"Wah... Benar-benar. Bukan habis terjual Dev, tapi aku yang tidak bisa membelinya. Aku sedang menabung." Balas Albert lesuh.


Albert terlalu banyak meminta ini itu pada orang tuanya, sehingga ketika dia ingin meminta lagi untuk membeli laptop edisi terbatas itu, kedua orang tuanya menolak dengan tegas. Terlalu membuang uang, jawab mereka. Akhirnya, Albert harus menabung dari uang jalannya setiap bulan.


"Iyaya. Semoga masih tersisa untuk tabunganmu." David memberi semangat yang tidak tulus. Tentu saja, David senang mengejek Albert.


"Mari kita lanjut dengan laptop murahku ini." Albert membalas dengan wajah lesuh kemudian kembali melanjutkan pengetikannya.


"Jika ratusan juta dibilang murah, lalu bagaimana dengan punyaku?" Batin Dian menggeleng kepalanya tidak habis pikir dengan orang-orang ber-uang di sampingnya ini.


"Mau buat apa?" Tanya Phiranita penasaran sambil memiringkan kepalanya ikut melihat layar laptop di pangkuan Rihan.


"Tidak ada." Balas Rihan lalu membuka word pada laptopnya, dan mulai mengetik sesuatu.


"Bagaimana dengan pendidikanmu?" Tanya Rihan yang kini penasaran dengan sahabatnya yang jika mencarinya lalu bagaimana dengan pendidikannya?


"Aku kuliah, cuman sedang cuti saja." Jawab Phiranita santai sambil terus menatap layar laptop.


"Esok Alex akan mendaftarkanmu." Ucap Rihan masih terus mengetik.


"Lalu bagaimana dengan cutiku di Jepang?" Tanya Phiranita lalu menatap Rihan intens.


"Lupakan saja!" Jawab Rihan datar lalu menatap sahabatnya sekilas.


"Terserah. Kamu memang menyebalkan," Balas Phiranita. lalu memberi sedikit jarak dengan Rihan sambil melipat tangannya.


"Mereka seperti sepasang kekasih Dev. Lihatlah bagaimana Ira merajuk." Albert yang awalnya fokus dengan layar laptop, kini menatap Rihan dan Phiranita karena dia bisa mendengar sedikit suara Phiranita yang menyebutkan Rihan menyebalkan.


"Bukan urusanmu," Balas David cuek.


"Aku sudah tidak tahan dengan sikap gadis penyakitan ini." Batin Ariana menatap benci Phiranita yang sedang cemberut.


BRAK


"MAMI..." Refleks Albert karena terkejut.


"Ada apa dengan wanita ini?" Batin David menatap heran Ariana yang menggebrak meja di depannya.


"Astaga... Kak Ria kenapa?" Tanya Phiranita setelah berhasil menenangkan jantungnya karena terkejut.


"Aku pamit, Tuan Muda. Aku baru ingat ada acara." Ariana kemudian berlalu pergi dengan perasaan dongkol.


"Hmm."


"Ada apa dengannya?" Tanya Dian sambil menatap David dan Albert.


"Ini harinya mungkin. Jantungku hampir saja terjun bebas. Ayo kita lanjut!" Jawab Albert dan menggeleng.


"Sampai dimana tadi?" Tanya Albert sambil menatap laptop dipangkuannya.


"Terjun bebas." Jawab David asal.


"Aku serius, Dev." Albert menatap malas David.


"Orang tuaku tidak setuju aku menikahi pria, Al." Balas David santai lalu bersandar pada sofa.


"David..."


"Sudahlah, Dev. Berikan padaku. Aku akan menyelesaikannya, Al." Dian melerai keduanya. Dian lalu mengambil alih laptop dan mulai mengetik.


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.


See You.


__ADS_2