
"Apa yang kamu rencanakan?" Sambung Rihan lalu menekan tombol enter sehingga semuanya selesai.
Rihan kini heran dengan orang mencoba masuk sistem mereka karena orang otu menggunakan cara yang sama dalam beberapa menit ini. Seharusnya dia menggunakan cara lain ketika cara pertama tidak berhasil.
Nyatanya memang itu rencana Neo. Dia sengaja menggunakan cara yang sama agar bisa mencari tahu letak kelemahan lawan. Sayangnya, teknik yng digunakan Rihan tidak meninggalkan jejak yang bisa dijadikan kelemahan. Rihan sudah memprediksi hal itu sehingga mudah baginya mengelabui musuh.
...
"Tuan,"
"Ada apa?" Tanya Rihan datar. Rihan saat ini sedang memeriksa beberapa berkas di ruang kerjanya.
Rihan sudah berganti pakaian dengan pakaian kasual pria karena dia sedang berada di ruang kerjanya. Rihan tidak ingin tiba-tiba Phiranita datang mencarinya dan mengetahui penyamarannya.
"Saya lupa menyampaikan bahwa hari ini adalah jadwal terapi Nona Phi, sehingga teman-teman anda juga akan datang." Jawab Alex yang berdiri tenang di depan Rihan yang hanya dibatasi oleh meja kerjanya.
"Jam berapa mereka tiba?"
"Dua jam lagi, Tuan."
"Siapkan semuanya. Makan siang juga. Aku ingin makan bersama,"
"Baik, Tuan. Kalau begitu, saya pamit."
"Hm."
Setelah kepergian Alex, Rihan menatap jam digital di meja kerjanya yang menunjukan pukul 9 pagi. Itu berarti pukul 11 siang teman-temannya akan datang.
***
"Selamat siang... Spadaaaa...!" Teriak Albert berasa rumah sendiri. Pria itu tidak kenal malu dimanapun dia berada.
"Orang bertamu tidak seperti itu. Kemana urat malumu, Al?" Tanya David menggeleng kepalanya tidak habis pikir dengan tingkah sahabatnya yang absurd. Bisa-bisanya dia bertingkah tidak sopan di mansion Rihan.
"Silahkan masuk, Tuan sebentar lagi akan turun." Alen yang baru datang setelah menyiapkan beberapa hal di dapur.
"Terima kasih, Kak." Balas Albert semangat lalu masuk dengan langkah lebar.
"Ada-ada saja tingkah anak itu," Gumam David pelan.
Dian yang mendengarnya hanya tersenyum kecil dan ikut masuk di dalam.
"Silahkan duduk. Saya akan menyiapkan minuman dan cemilan."
"Tidak usah repot, Kak. Kami tidak apa-apa." Tolak Dian dengan tersenyum.
"Ini sudah tugas saya, Nona. Saya permisi." Alen lalu pergi dari sana.
"Setia sekali mereka," Gumam Albert lalu bersandar pada sofa yang dia duduki.
Tidak lama kemudian Alen datang bersama seorang pelayan yang membawa minum dan cemilan. Setelah pelayan meletakkannya di atas meja, Rihan, Alex dan Phiranita juga keluar dari lift yang dapat dilihat langsung dari ruang tamu.
"Halo Rei, Kak Alex, Ira." Sapa Albert dengan melambaikan sedikit tangannya. David dan Dian hanya tersenyum melihat kedatangan ketiga orang itu.
"Silahkan Tuan," Alex mempersilahkan sang majikan duduk di salah satu sofa.
__ADS_1
"Hm."
"Aku ingin duduk dengan Ehan." Phiranita lalu mengambil posisi duduk dan bersandar pada Rihan.
"Dokter Damar sepertinya terlambat, Tuan." Lapor Alex setelah mendapat kabar dari Dokter Damar lewat pesan teks.
"Jam berapa mereka tiba?" Tanya Rihan datar sambil mengusap pelan pucuk kepala Phiranita yang bersandar padanya.
"15 menit lagi, Tuan."
"Lain kali jemput saja dengan helikopter." Balas Rihan datar.
"Baik Tuan,"
"Buset, heli guys..." Bisik Albert pada David di sampingnya. David hanya menggeleng kepalanya.
"Kalau begitu kita hanya perlu menunggu 15 menit. Tidak masalah!" David berbicara dengan tenang tapi tatapan matanya tidak lepas dari gerakan tangan Rihan.
"Aku setuju." Dian mengangguk.
Setelah menunggu hampir 15 menit, Dokter Damar akhirnya tiba bersama dua orang suster.
"Maafkan keterlambatan kami, Presdir." Memelas Dokter Damar.
"Silahkan lakukan tugasmu, Dok." To the point Alex. Dia tahu majikannya ini tidak suka basa-basi jika sudah datang terlambat.
"Mari saya antar ke ruang isolasi." Alen mempersilahkan dengan sopan.
"Maaf Presdir," Ucap Dokter Damar sebelum beranjak pergi dari sana.
"Hm."
"Terapi berikutnya." Jawab Rihan singkat.
Baru beberapa hari yang lalu sahabatnya ini pulih dari dropnya, sehingga Rihan tidak ingin terapi ekstrim itu dilakukan. Biarkan terapi berikutnya saja.
"Baik, Presdir."
"Kamu ikut ya, Han. Kali ini saja." Rengek Phiranita.
Memang biasanya Phiranita, Alen, Dokter Damar dan dua Suster pendamping yang hanya ada dalam ruangan isolasi untuk terapi Phiranita.
"Ya."
Mereka kemudian naik ke lantai atas menggunakan lift bergantian, karena kapasitas lift mansion tidak akan cukup menampung mereka semua. Apalagi trauma Phiranita akan kambuh jika mereka berdesakan dalam lift yang mengundang sentuhan.
...
"Kondisi Nona Phi sudah lebih baik dari beberapa hari kemarin dia drop. Saya sarankan kondisi Nona Phi dijaga dengan baik, agar tetap stabil untuk terapi yang sudah direncanakan nanti. Saya sangat berharap untuk terapi itu, Presdir." Jelas Dokter Damar ketika selesai melakukan terapi selama hampir 1 jam dan memeriksa hasilnya.
"Hmm."
"Ini hasilnya, Presdir." Sambung Dokter Damar mengulurkan hasil data pemeriksaan Phiranita.
"Berikan untuk saya saja, Dok."Sahut Albert mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Ini."
"Terima kasih, Dok."
Setelah itu, mereka kemudian kembali turun untuk menyelesaikan laporan.
"Sudah waktunya makan siang, Tuan." Alen mengingatkan jam makan siang setelah beberapa menit mereka duduk di ruang tamu.
"Kebetulan aku sudah lapar." Sambut Albert bersemangat. Inilah alasan pertama dia datang ke mansion Rihan.
"Ya Tuhan, teman macam apa ini." Gumam David pelan.
BUG
Dengan tidak berperasaan David memukul bahu Albert kuat. Teman satunya ini sangat membuatnya malu. Tidak bisakah dia bertingkah biasa saja tanpa harus menunjukan niatnya dalam hal makan? David hanya bisa meredahkan kekesalannya dengan memukul bahu Albert agar sadar dengan tingkahnya.
"Sakit Dev, astaga! berasa balok yang dipakai untuk memukul bahuku." Ringis Albert mengusap bahunya yang sakit.
"Hehehe... temanmu lucu Han, aku suka. Sering-seringlah kemari, Kak Al. Tata kesepian kalau Ehan tidak di mansion." Phiranita tertawa kecil melihat tingkah Albert.
"Tenang saja, aku akan sering kemari asalkan kami.."
"Al..." Panggil David menghentikan Albert.
"Kenapa?" Tanya Albert polos.
"Diamlah!"
"Kita lanjut setelah makan siang." Rihan berdiri menuju dapur diikuti oleh yang lainnya.
Dan seperti biasa, selalu ada tingkah absurd Albert yang menghiasi meja makan. Mereka kembali ke ruang tamu setelah selesai makan. Dokter Damar bersama dua Suster yang datang bersamanya juga pamit kembali ke rumah sakit karena masih dalam jam kerja.
"Aku penasaran sesuatu, Rei." Ucap Albert. Tanpa menjawab, Rihan hanya menaikan sebelah alisnya seakan bertanya ada apa.
"Apa maksud perkataan Dokter Damar dengan terapi berikutnya? Aku yakin pasti ada sesuatu."
"Antarkan Tata ke kamarnya, Len. Sudah waktunya minum obat dan istirahat." Rihan tidak ingin Phiranita mendengar pembicaraan mereka tentang terapi ekstrim yang akan mereka lakukan.
"Tapi aku masih ingin di sini, Han." Tolak Phiranita menggeleng.
"Kamu ingin cepat sembuhkan, maka istirahatlah yang cukup."
"Tapi Han..."
"Ayo, Kak." Phiranita dengan wajah cemberut menghentakkan kakinya meninggalkan yang lainnya dan menuju kamarnya ditemani oleh Alen.
"Dokter Damar menyarankan untuk melakukan terapi ekstrim untuk kesembuhan Nona Phi." Alex membuka suara ketika lift yang membawa Phiranita dan Alen sudah bergerak naik.
"Terapi ekstrim? Boleh juga. Meski menyakitkan, tetapi peluang sembuhnya sangat besar asalkan pasien bisa bertahan dengan terapi yang dijalani." Komentar Albert sambil menganggukkan kepalanya.
"Jadi minggu depan jadwalnya? Jika begitu, laporan kita pasti akan cepat selesai. Yah..." Keluh Albert diakhir kalimatnya karena tidak akan menikmati makanan enak lagi.
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.
See You.