
Alen yang biasanya tidak suka banyak bicara, kini harus bercerita panjang lebar. Semua orang mendengarnya bercerita dengan bermacam ekspresi.
Rihan bersama suami posesifnya tetap tenang di sofa. Zant memeluk erat pinggang istrinya. Apalagi melihat tatapan David pada istrinya, Zant sangat tidak menyukainya.
"Jadi..." Max tidak tahu harus berkata apa.
Keempat teman Rihan itu diam di tempat masing-masing. Mereka sedang memikirkan tingkah mereka dulu pada Rihan yang ternyata sebenarnya seorang perempuan.
Max dan Albert malu pada diri sendiri, karena begitu lemah dari seorang perempuan. Belum lagi, tingkah absurd mereka pada Rihan dulu. Mereka tidak menyangka seorang gadis seperti Rihan, begitu kuat.
Fisiknya bahkan lebih kuat dari seorang laki-laki. Selain malu, mereka juga senang, karena ternyata mereka tidak salah menyukai orang. Mereka berpikir mereka akan berbelok, ternyata tidak.
Dian sendiri, lebih malu lagi. Gadis itu malu, karena sudah menyukai sesama jenis. Sedangkan David, perasaannya bercampur aduk. Kecewa, marah, sedih, sakit hati dan lainnya. Pria itu menyalakan dirinya sendiri. Dia selalu berpikir, jika semua yang Rihan alami, semua yang Ariana lakukan pada Rihan, itu karena salahnya.
Keempat anak muda itu masih termenung di tempat mereka. Rihan juga tidak berniat mengganggu mereka. Rihan hanya bersandar pada bahu suaminya sambil menatap ekspresi keempat temannya yang selalu berubah-ubah. Rihan tersenyum tipis melihat mereka.
"Ekhem... Rei... maksudku, Rihan. Sebelumnya, maafkan tingkahku dulu. Maaf, karena sudah merepotkanmu, dan terima kasih untuk semuanya." Max membuka suara setelah pria itu tersadar dari lamunannya.
Rihan hanya mengangguk mengiyakan.
"Aku juga." Albert ikut bersuara. Dian juga mengangguk. Ketiganya lalu menatap David yang masih saja termenung. Sepertinya banyak yang pria itu pikirkan.
"Dev! Aku tahu, apa yang kamu pikirkan. Mau bagaimana lagi, kalian tidak berjodoh." Bisik Albert di sampingnya David, menyadarkan pria itu. Albert tahu, sangat berat bagi David mendengar berita ini.
David tersadar dari lamunanya. Pria itu menatap Albert sebentar, kemudian beralih menatap intens Rihan.
"Minta izin pada suamiku." Rihan membuka suara, sebelum David berbicara. Rihan bisa menebak apa yang David inginkan.
"Aku tidak mengizinkannya." Zant menyahut dengan datar. Suami posesif Rihan itu menggeleng tidak setuju. Pelukannya pada pinggang Rihan semakin erat. Rihan hanya tersenyum tipis karena tingkah lucu suaminya.
David tercengang di tempatnya, karena tidak menyangka pasangan suami istri di depannya ini seakan tahu isi hatinya. David hanya bisa menghembuskan nafas pelan, menenangkan dirinya sendiri.
Setelah itu, Albert membuka suara lagi sekedar mengalihkan topik pembicaraan. Yang lain ikut menyahut, sehingga suasana ruang tamu itu tidak canggung lagi. Suasana sudah berubah seperti dua tahun lalu.
Rihan lalu meminta Max untuk menggantikannya menjadi The Devil. Awalnya Albert bingung, karena tidak mengerti maksud pembicaraan Rihan dan Max. Tapi setelah mendengar lebih jauh, pria itu kaget karena setelah sekian lama, dia akhirnya tahu, wajah asli player The Devil.
"Jika aku menggantikanmu, itu berarti aku akan menjadi The Devil. Sedangkan cara bermainku, tidak sahebat kamu. Apa kata orang-orang nanti? Bagaimana jika aku kalah saat bermain? Aku..."
"Kenapa memikirkan hal yang belum tentu terjadi?" Alen berkomentar dengan datar.
"Tapi..."
"Tidak masalah. Temui kak Brand! Bertemanlah dengannya. Dia sangat ingin bertemu denganmu," Rihan menjawab dengan lembut.
Sebelum Max menjawab, dia menatap ketiga temannya. Karena mereka mengangguk setuju, Max juga akhirnya setuju.
***
Usia kandungan Rihan sudah memasuki 3 bulan. Meski masih usia muda, perut Rihan sudah sedikit membuncit. Zant yang melihatnya, gemas sendiri. Pria itu setiap malam akan tidur dengan wajah menempel di perut istrinya.
Zant sangat senang mengelus dan berbicara sendiri dengan baby Zanri. Suami Rihan itu tidak akan melewatkan momen mencium, bercerita mengelus dan momen lainnya dengan perut istrinya. Betapa bahagianya Zant.
Rihan tentu saja sangat bahagia. Apalagi diperlakukan sangat istimewa oleh Zant. Meski harus meminta aneh-aneh, Zant tetap melakukannya. Apapun itu, Zant ingin yang terbaik untuk istri dan anaknya.
Keduanya juga belum kembali ke New York. Rihan masih betah tinggal di Indonesia. Brand juga sesekali akan datang mengunjunginya. Meski Zant tidak suka, tapi mau bagaimana lagi, kemauan ibu hamil harus ia turuti.
Seperti pagi ini, Zant mulai uring-uringan karena permintaan istrinya. Sudah setengah jam yang lalu, Zant menghindari Rihan. Zant belum siap memberikan jawaban atas permintaan istrinya. Zant tidak rela.
Jika istri tercintanya meminta hal lain, Zant siap melakukannya. Tapi kali ini, pria itu tidak rela. Zant tidak rela istrinya bertemu dengan Neo.
Ya. Permintaan Rihan yang belum Zant jawab sudah setengah jam ini adalah karena Rihan sangat ingin bertemu dengan Neo.
Diantara semua pria yang sudah Zant temui, Zant sangat tidak suka istrinya bertemu dengan Neo. Maklum saja, karena istrinya dan Neo pernah dekat. Belum siap memberikan jawaban, bukan. Zant berharap lebih baik tidak menyetujuinya.
"Sampai kapan kak Zant akan menghindar?" Suara Rihan menggema dalam mansion. Tepatnya lewat pengeras suara di pojok setiap ruangan.
Zant menelan ludahnya gugup. Pria itu sedang berada di kamar tamu. Berdiri sambil mondar-mandir seperti melakukan kesalahan saja.
"Kembali sekarang, atau aku pergi jalan-jalan!"
"Tidak bisa. Tunggu aku! Aku ke sana sekarang." Zant segera menyahut dan bergegas ke kamar utama.
Zant tidak ingin istrinya pergi jalan-jalan sendiri. Belum lagi, makna lain dari jalan-jalan yang dimaksud istrinya adalah mencari kesenangan di luar sana. Seperti balapan liar, mencari masalah dengan para preman di pasar, menangkap penjahat, dan kesenangan berbahaya lainnya yang membuat Zant sangat takut dengan kondisi istri dan anaknya.
Semenjak Rihan hamil, dia suka sekali bergerak kesana kemari. Belum lagi, Rihan sangat senang menyiksa suaminya. Bukan hanya itu. Dia senang sekali menggoda, juga membuat Zant kesal. Untungnya, Zant yang tahu hormon ibu hamil, sehingga pria itu sangat sabar menghadapi tingkah istrinya. Zant bersyukur, karena baby Zanri tidak menyusahkan mommynya.
...
Rihan tersenyum senang melihat kemunculan suaminya di kamar. Zant sendiri, sudah memasang wajah cemberut. Dia dengan langkah pelan menghampiri istrinya.
"Ini, hubungi kak Neo." Rihan menyodorkan ponsel miliknya pada Zant dengan senyum lebar.
"My Queen, bisakah..."
"Tidak!"
__ADS_1
Zant dengan lesuh mengambil ponsel itu dan mulai menghubungi Neo.
"Hai, bagaimana kabarmu?" Sambut Neo di seberang sana. Suara pria itu terdengar sangat senang. Tentu saja dia senang, karena jarang sekali wanita yang dia cintai ini menghubunginya lebih dulu.
"Jangan menanyakan kabar istriku!" Zant membalas dengan sinis.
Rihan yang duduk di ranjang, terkekeh lucu.
"Oh, aku pikir kesayanganku yang menelpon."
"Kesayangan kepalamu. Aku tidak suka basa-basi. Istriku ingin bertemu denganmu!"
"Huh! Serius? Apa dia sudah bosan denganmu?"
"Hilangkan pikiran burukmu. Baby Zanri ingin bertemu denganmu."
"Ternyata anakku yang ingin bertemu. Baiklah. Aku secepatnya akan berangkat ke sana. Tanyakan pada anakku, ingin dibawakan oleh-oleh apa?"
"Tidak perlu! Aku masih sanggup membelanjakan keluargaku. Aku tidak semiskin itu."
"Aku tahu. Tapi aku serius, ingin membeli sesuatu untuk anakku."
"Aku belum setuju menjadikanmu ayah baptis anakku. Jangan seenaknya!"
"Sudahlah. Jangan berdebat lagi. Bisakah aku mendengar suaranya sebentar saja?"
"Tidak." Zant menjawab dengan cepat dan tegas.
"Hahaha... ya, sudah. Sampaikan salamku padanya. Aku mencintainya."
Tut.
Neo dengan cepat mematikan teleponnya. Zant tidak mengatakan apapun. Wajahnya hanya datar.
"Aku akan keluar sebentar,"
Rihan mengerutkan kening, karena nada suara suaminya tidak enak didengar. Rihan tidak tahu apa yang dibicarakan dua pria itu.
"My King?" Panggil Rihan. Tapi Zant sudah berlalu pergi. Entah pria itu mendengar panggilannya atau tidak.
"Apa aku menyakitinya? Tapi, aku tidak pernah berniat melakukan itu," Gumam Rihan lirih. Rihan yakin, suaminya itu sedang marah.
"Baby... apa daddymu marah? Sepertinya permintaan kita menyakitinya," Rihan mengelus perutnya pelan.
...
Zant saat ini sedang berbaring di bawah pohon, dengan beralaskan tikar. Meski udara cukup terik, tapi karena di pohon yang rindang, dan angin bertiup juga sejuk, sehingga pria itu tetap nyaman memejamkan matanya.
Zant membuka matanya, karena merasakan kehadiran seseorang di sampingnya. Tanpa menatap orang itu, Zant hanya menghembuskan nafas pelan. Wangi khas itu membuatnya tahu jelas siapa orang itu.
"Kenapa, My Queen?"
"Ada yang aneh di sini?" Tanya Rihan setelah meletakkan tangannya di dada suaminya.
"Bagaimana menurutmu?" Tanya balik Zant. Pria itu menatap lembut istrinya.
"Entahlah." Jawab Rihan pelan.
"Kamu tahu, My Queen... meski kamu sudah menjadi milikku, tapi aku selalu merasa takut suatu hari nanti kamu akan meninggalkanku. Entahlah. Aku selalu takut kehilanganmu.
Kamu selalu dikelilingi oleh orang-orang baik. Aku selalu merasa, bahwa tempatku saat ini bisa saja digantian oleh orang lain. Aku marah pada diriku sendiri. Aku..."
"Hei... pikiran macam apa itu? Kak Zant pikir, aku tidak takut kehilangan? Aku juga sama. Aku juga takut kehilangan milikku. Mendengar bahwa ada yang dengan tidak tahu dirinya menyentuhmu, aku tidak suka. Apalagi kehilanganmu? Karena itu, mari saling percaya meski kita dihadapkan pada situasi yang sulit."
"Baik. Mari saling percaya sampai kapanpun."
CUP
"Tingkahmu seperti ini, pasti karena kak Neo, 'kan?" Rihan bertanya setelah mengecup kening Zant yang masih saja berbaring.
"Aku juga tidak tahu." Zant menjawab dengan pelan. Suami Rihan itu lalu memposisikan kepalanya di pangkuan istrinya.
"Ya, sudah. Jangan marah lagi,"
"Siapa yang marah? Aku tidak marah!"
"Benarkah? Kenapa aku tidak percaya?"
"Kita sudah berjanji, untuk saling percaya. Jadi, percaya saja."
"Hahaha... baiklah. Aku percaya."
Keduanya lalu menikmati waktu bersantai mereka.
***
__ADS_1
Di New York, tepatnya di mansion keluarga Lesfingtone.
Telly sedang asik dengan ponselnya. Gadis itu sedang bermain game. Kedatangannya ke sini karena ingin mengajak Alex untuk datang bersamanya ke makan malam keluarganya. Sebenarnya Telly enggan, tapi karena sang papa yang memaksa, akhirnya Telly terpaksa datang ke sini.
Karena Alex masih di kantor, sehingga Telly harus menunggu satu jam lagi. Dari pada bosan, gadis itu membuka ponselnya dan memainkan game.
Ternyata belum satu jam, Alex sudah muncul di sana. Telly segera menghentikan permainannya dan menatap Alex yang dengan santai melewatinya.
"Kak..."
"Ada apa!"
"Begini," Telly canggung untuk mengatakan maksudnya.
Jika sebelumnya, gadis itu biasa saja ketika berbicara dengan Alex, maka berbeda dengan sekarang. Telly sedikit malu berbicara langsung pada Alex. Semua itu bermula saat kejadian beberapa hari lalu, dimana Telly tidak sengaja melihat tubuh Alex yang hanya dibalut celana boxer.
Saat itu, Alex sedang berenang di kolam renang belakang mansion. Pria itu entah kenapa ingin berenang di siang bolong. Dan Telly yang tidak sengaja berkeliling hingga ke sana.
Telly jadi malu sendiri setelah melihat perut 6 kotak milik Alex. Meski tomboy, tetapi Telly baru pertama kalinya melihat perut sebagus itu. Milik kedua kakaknya hanya biasa saja.
"Papa mengundang kita untuk makan bersama. Jadi..."
"Aku sibuk!"
"Karena kak Alex sudah membantuku sejak awal, jadi please... bantu aku sampai akhir juga, Kak." Telly memasang wajah memelas pada Alex.
"Aku ingin ini segera berakhir. Atau kamu ingin hubungan ini menjadi serius?" Alex kini menunduk dan menatap lekat wajah Telly.
"Aku juga ingin ini segera berakhir, tapi jangan sekarang dulu, Kak. Begini saja! beri aku waktu satu minggu. Aku akan memikirkan caranya, Kak."
"Tidak perlu satu minggu. Aku akan membatalkannya nanti, di saat makan malam."
"Jangan dulu, Kak."
"Aku tidak ingin dibantah. Sampai ketemu di rumahmu."
...
Makan malam keluarga Johnson.
Tujuan makan malam ini, karena Tuan Johnson, papa Telly berulang tahun. Tidak ada perayaan. Hanya makan malam dengan keluarga dan kerabat. Alex sengaja diundang untuk diperkenalkan pada keluarga dan kerabat.
Alex disambut baik oleh keluarga Telly. Mereka begitu senang melihat kehadiran Alex di sana. Alex sendiri hanya memasang wajah datar, dan berbicara seperlunya saja. Sedangkan Telly, gadis itu sudah gugup sejak tadi. Telly masih memikirkan perkataan Alex yang ingin mengakhiri hubungan palsu mereka ini.
"Ada yang ingin saya katakan, Tuan Johnson." Alex membuka suara ketika semua orang sudah bersantai di ruang tamu. Telly sudah berkeringat dingin.
"Silahkan, Nak Alex."
"Saya ingin..."
Drrrt... drttt... drtttt...
Ponsel Alex di saku jasnya bergetar.
"Saya akan menjawab panggilan sebentar. Permisi,"
Alex menjawab panggilan di depan rumah keluarga Johnson. Itu panggilan dari bawahannya yang ada di Indonesia. Alex meminta mereka untuk melaporkan setiap aktivitas Rihan padanya. Dan jadwalnya memang malam ini.
Di saat mendengar bawahannya melapor, telinga Alex tidak sengaja mendengar beberapa suara di sekitarnya juga.
"Aku tidak percaya, Telly bisa mendapat calon suami sehebat itu."
"Aku juga tidak percaya. Apa jangan-jangan dia menjual dirinya?"
"Bisa jadi. Mungkin saja pria itu hanya memanfaatkan tubuhnya untuk sementara waktu, dan ketika bosan, Telly pasti dibuang."
"Benar! Telly adalah gadis urakan. Tidak mungkin pria setampan dan hebat itu menyukainya. Alangkah bagusnya jika anakku yang cantik dan berpendidikan tingggi bersanding dengan pria itu."
"Itu benar. Anak mbak Lala lebih cantik dari pada Telly. Sepertinya mbak Lala harus mengenalkan Luna pada pria itu."
Alex yang mendengar gosip sepupu dan kerabat keluarga Johnson hanya bisa geleng kepala. Pria itu lalu mengakhiri telepon setelah sang bawahan selesai melapor.
...
"Maaf, membuat semua orang menunggu."
"Tidak apa-apa, Nak Alex."
Alex kembali duduk di tempatnya.
"Jadi, apa yang ingin, Nak Alex katakan?"
Sebelum Alex menjawab, pria itu menatap Telly dan memasang senyum tipis. Tapi bagi Telly, senyum itu mematikan untuknya.
"Saya ingin bertunangan terlebih dahulu dengan Telly sebelum kami menikah. Saya hanya tidak ingin orang-orang berpikiran buruk padanya."
__ADS_1