
Selamat Membaca!
.
.
.
"Bagaimana perkembangannya?" Tanya Rihan pada Dokter Damar yang saat ini berdiri di depan meja kerja Rihan, tepatnya ruang presdir rumah sakit Setia.
"Untuk traumanya, belum ada perkembangan apapun, Presdir. Sedangkan memar di tubuhnya sudah mulai membaik, begitu juga dengan alat vitalnya." Dokter Damar menjawab dengan tenang.
"Baguslah. Anda boleh kembali, Dok." Rihan kembali bersandar pada kursi yang dia duduki.
"Baik, Presdir. Saya pamit," Dokter Damar lalu pergi dari ruangan Rihan.
"Apa jadwalku hari ini, Lex?" Tanya Rihan pada Alex yang selalu setia berdiri di dekatny setelah Dokter Damar pergi meninggalkan ruangan.
"Anda memiliki kelas siang jam 2 nanti, Tuan." Jawab Alex sambil memandang Rihan.
"Hmm." Deheman Rihan lalu menatap jam di pergelangan tangannya yang menunjukan pukul 11.30 siang.
"Sudah hampir jam makan siang, Tuan. Anda ingin makan di sini atau makan di mansion?" Tanya Alex ketika menyadari jika waktu makan siang sang majikan sudah dekat.
"Makan saja di sini," Jawab Rihan menatap layar ponselnya yang sedang menampilkan aktivitas yang dilakukan Ariana di kampus.
"Baik Tuan. Saya akan menelpon Alen." Balas Alex kemudian berjalan menuju pintu keluar. Alex akan menelpon sang adik untuk membawakan makan siang mereka.
"Ada pergerakan dari orang suruhan Julian?" Tanya Rihan pada Alex yang baru saja masuk dan kembali berdiri di posisi sebelumnya.
"Orang suruhan Tuan Julian ada di lantai satu, Tuan. Anda ingin saya menyingkirkannya sekarang atau nanti?" Jawab Alex setelah menatap iPad di tangannya yang juga memperlihatkan rekaman CCTV seluruh area rumah sakit Setia.
"Biarkan saja! Bagaimana dengan anaknya?" Tanya Rihan lagi masih terus menatap layar ponselnya.
"Nona Ayu sudah mendaftar di Antarik Universitas pagi tadi, Tuan."
"Hmm. Bagaimana dengan Phiranita?" Rihan kini meletakkan ponsel pintarnya di atas meja.
"Maafkan kami, Tuan. Sampai saat ini belum ada titik terangnya. Maafkan kami! Kami akan terus berusaha," Alex menjawab dengan nada bersalahnya, dan membungkukkan badannya meminta maaf. Lagi-lagi dia tidak mampu menyelesaikan tugas dari sang majikan.
"Tandanya kamu harus bekerja lebih keras lagi," Rihan lalu mengambil laptop miliknya dan menyalakannya.
__ADS_1
"Baik, Tuan. Kami akan terus berusaha." Alex menjawab dengan tegas, lalu melihat apa dilakukan Rihan.
Rihan hanya menganggukkan kepala tanpa melihat Alex. Dia masih setia menatap layar laptopnya yang menampilkan deretan angka-angka dan huruf-huruf yang sedang bergerak kesana kemari seiring dengan ketikan jari Rihan pada keybord laptopnya.
"Bawa orang itu padaku dalam keadaan hidup. Ingat! jangan ceroboh," Ucap Rihan setelah membalikkan layar laptopnya pada Alex, agar Alex bisa melihat dengan jelas wajah pria yang dimaksud Rihan.
"Siapa dia, Tuan?" Tanya Alex bingung, karena sang majikan tiba-tiba menunjukan wajah pria yang tidak Alex kenali.
"Sniper itu!" Rihan menautkan kedua jarinya di atas meja dan menatap wajah Alex yang sedang membaca identitas pria yang diketahui adalah sniper yang sudah menembak kedua penculik Phiranita.
"Ini... Maafkan kami Tuan, kami akan berusaha lagi. Dan saya janji akan berhati-hati kali ini. Sekali lagi maafkan kami, Tuan." Alex kini merasa gagal karena majikannya dengan mudahnya menemukan identitas sang sniper yang sampai sekarang belum Alex dan anak buahnya dapatkan.
"Majukan semua jadwalku besok menjadi hari ini, karena besok kita akan ada dalam pelatihan khusus yang akan aku pimpin sendiri. Sepertinya sudah terlalu lama kalian bersantai." Suara Rihan datar dan sangat mengintimidasi. Tatapanny begitu tajam pada Alex yang kini meneguk ludahnya susah paya begitu mengingat bagaimana pelatihan khusus yang dimaksud sang majikan.
"Baik, Tuan. Akan segera saya lakukan." Jawab Alex berusaha tenang.
"Selamat siang, Tuan. Maaf atas keterlambatan kami." Alen yang baru saja datang bersama para pelayan sambil menenteng kotak-kotak beris8 makanan.
"Hmm."
Alen lalu menyusun semua makan yang mereka bawa di atas meja khusus tamu yang ada di ruangan Rihan dibantu oleh para pelayan.
"Silahkan, Tuan!" Alen mempersilahkan sang majikan untuk duduk di kursi yang ada di sana.
Melihat itu, Alex dan Alen juga ikut duduk bersama sang majikan. Sedangkan para pelayan hanya menatap majikan mereka bersama kedua asisten pribadinya yang akan makan siang.
Awalnya Rihan menyuruh agar semua pelayan yang ikut bersama Alen untuk makan bersamanya ketika akan mengantar makanan, tetapi dengan halus mereka menolak karena menurut mereka, itu sangat tidak sopan, mengingat mereka hanyalah pelayan.
Berbeda dengan Alex dan Alen yang merupakan asisten pribadi. Rihan hanya menganggukkan kepalanya mengerti maksud mereka dan tidak memaksa lagi.
Ketiganya lalu makan bersama dengan lahap sampai selesai, kemudian para pelayan pulang terlebih dahulu meninggalkan Alen, karena Alen akan membantu sang majikan menggantikan pakaiannya untuk ke kampus.
***
"Siapkan motorku, Lex. Dan jangan mengikutiku hari ini. Aku ingin sendiri." Pintah Rihan pada Alex ketika para pelayan sudah keluar meninggalkan mereka bertiga di sana.
"Kenapa anda ingin membawa motor, Tuan? Saya akan tetap mengantar anda ke kampus." Alex khawatir sang majikan akan pergi sendiri ke kampus.
"Tugasmu sangat banyak hari ini, Lex. Ingat, untuk mempersiapkan dirimu besok." Rihan mengingatkan sang asisten akan tugasnya yang menumpuk.
"Tapi Tuan..."
__ADS_1
"Ikuti saja perintahku, Lex. Aku akan baik-baik saja!" Rihan menenangkan Alex.
"Baik, Tuan. Tapi, biarkan pengawal bayangan selalu bersama anda, agar saya juga tidak khawatir." Alex begitu gigih melindungi Rihan. Tentu saja, keselamatan Rihan menjadi prioritas mereka.
"Terserah," Jawab Rihan malas.
"Motor anda sebentar lagi akan sampai, Tuan." Alex melapor ketika melihat Rihan berdiri dari kursi kebesarannya.
"Hmm."
Rihan kemudian menuju kamar mandi yang sudah disediakan di ruangannya untuk membersihkan diri sekaligus menggantikan pakaiannya di bantu oleh Alen.
Selang beberapa menit, Rihan keluar dari kamar mandi diikuti oleh Alen dari belakang dengan kaus putih dilapisi dengan kemeja kotak-kotak coklat tanpa dikancing yang digulung sebatas siku, juga celana jeans hitam. Jangan lupa dengan sneakers putih yang menghiasi kakinya, menambah pesona seorang Rihan.
"Motor anda sudah siap, Tuan." Ucap Alex ketika sang majikan keluar dari kamar mandi dan mengambil tasnya di atas sofa rungannya.
"Hmm." Deheman Rihan lalu mengambil tas ransel hitamnya dan berjalan keluar dari ruangannya diikuti oleh kedua asisten pribadinya dari belakang.
Ketiganya kemudian memasuki lift khusus presdir yang akan mengantarkan mereka menuju lantai satu.
...
Di lantai satu, banyak sapaan hormat yang diberikan pada Rihan oleh para dokter, perawat, juga pasien maupun keluarga pasien. Rihan hanya membalas dengan anggukkan kepalanya dan terus berjalan menuju pintu keluar.
Setelah Julian Antarik memberikan sambutan yang mengatakan bahwa Rihan merupakan pemilik baru rumah sakit Setia yang disiarkan langsung saat perayaan ulang tahun Antarik Company, rumah sakit Setia menjadi lebih ramai melebihi sebelumnya yang belum mengalami penurunan saham.
Entah mereka datang untuk berobat atau sekedar mencuri pandang untuk melihat wajah si pria cantik ini. Rihan sendiri tidak peduli.
Rihan bersama Alex dan Alen kini sudah berada di depan pintu utama rumah sakit Setia. Di sana, tidak jauh dari depan pintu, sudah terparkir sempurna motor ninja keluaran terbaru milik Rihan yang berwarna hitam.
Rihan mengambil kunci motor yang diberikan Alex padanya dan menaiki motor kemudian memasang helm full face yang juga berwarna hitam. Alex dan Alen hanya menatap kagum sang majikan yang terlihat berkali-kali lipat mempesona dengan penampilan seperti ini.
"Ingat untuk mempersiapkan diri kalian besok," Rihan kemudian melajukan motornya meninggalkan si kembar Alex dan Alen yang kini mengalirkan keringat di belakang punggung mereka ketika mendengar mempersiapkan diri untuk besok.
Artinya mereka akan mengalami yang namanya latihan neraka seperti awal pertama mereka masuk dan berlatih sangat keras dibawa perintah Rihan.
"Hati-hati di jalan, Tuan Muda." Ucap Alex dan Alen secara bersamaan sambil membungkukkan badannya setelah sang majikan pergi dengan motornya.
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.
See You.