
Menghela nafasnya sebentar, Rihan menatap ke arah seorang anggota geng wolf yang menyandera seorang paru baya dengan meletakkan pisau di area leher orang tua itu.
Jika boleh jujur, Rihan paling benci dengan namanya mengancam seseorang dengan sandera. Masih dalam sikap tenang, Rihan kembali bersandar di depan mobilnya dan menatap ke arah dua manusia yang berdiri awalnya 10 meter, kini menjadi 5 meter di depan Rihan.
"Sepertinya kamu adalah seorang pecundang," Rihan berkomentar dengan datar lalu menatap tajam pria yang menyandera orang tua itu.
"Apa maksudmu?" Tanya pria itu heran sekaligus marah secara bersamaan.
"Bukannya aku sudah mengatakan untuk bermain adil?"
"Dalam peperangan tidak ada yang namanya bermain adil. Yang ada hanyalah bermain trik. Dan kami memegang teguh hal itu." Balas pria itu bangga.
"Kamu benar! dan aku tebak, kamu adalah ketua diantara kelompokmu." Ucap Rihan sambil mengangguk kepalanya.
Rihan juga sejak awal bermain-main dengan mereka jadi dia tidak bisa menyalakan mereka.
"Jadi, apa maumu?" Tanya Rihan yang masih bersidekap dada.
"Hanya ingin kamu ikut bersama kami untuk bertemu dengan klien kami."
"Kenapa harus? Lagipula, kenapa klien kalian tidak langsung datang bertemu denganku, tetapi harus membawaku? Itu namanya pengecut."
Tanpa sadar si penyandera itu mengangguk setuju, membuat Rihan diam-diam mengetuk tiga kali kap mobilnya dari belakang.
"Gara-gara kalian aku mulai banyak bicara sekarang," Rihan sambil memutar matanya malas, membuat para anggota geng wolf itu menatap tak percaya pada Rihan. Dalam hati mereka, apa dia pikir kami ini temannya?
"Tidak usah banyak bicara, serahkan dirimu maka orang tua ini aku lepaskan." Ketua kelompok itu tidak ingin dibodohi.
"Memang aku tidak suka banyak bicara." Balas Rihan sarkas.
"Begini saja, dalam hitungan tiga, kamu lepas orang tua itu, dan aku juga akan menyerahkan diriku pada kalian. Bagaimana?" Lanjut Rihan memberi penawaran.
Memikirkan ucapan Rihan sebentar, ketua kelompok itu mengangguk setuju ketika menatap teman anggota yang juga setuju.
"Baiklah. Hitungan mundur dimulai dari sekarang. Kalian harus menghitung dengan benar." Ucap ketua kelompok geng wolf pada teman-temannya dan diangguki oleh mereka.
Tiga...
Dua...
Sat...
Dor.
"Apapaan ini! bagaimana mungkin? akh..." Ketua kelompok itu mulai meringis sakit karena peluru berhasil menembus bahunya ketika dia akan melepas pria paru baya itu.
Rihan yang baru saja akan melangkah mengenyit heran karena memang bukan dia pelakunya. Niat awal Rihan adalah ketika memberi 3 ketukan pada mobil, tandanya kode untuk Gledy. Otomatis Gledy harus menyerang ketua kelompok itu di saat paru baya dilepaskan.
Tanpa diduga ketua kelompok lebih dulu tertembak sebelum hitungan ke satu. Dan itu pasti bukan Gledy karena serangan itu bukan dari depan tetapi dari belakang.
__ADS_1
Rihan mengalihkan pandangannya ke arah belakang mobil anggota geng wolf dan mendapati seorang pria dengan helm full face hitam yang sedang duduk di atas motor ninjanya sambil meniup ujung pistolnya yang mengeluarkan asap sehabis menembak.
"Kenapa aku tidak menyadarinya?" Batin Rihan heran.
Ketua kelompok itu ingin memaki Rihan karena melanggar kesepakatan awal mereka, tetapi melihat ekspresi dan pandangan Rihan, dia juga ikut melihat ke arah pria yang duduk di atas motor itu. Teman-teman anggotanya juga ikut melihat kesana. Sedangkan si paru baya itu sudah berlari sekuat tenaga kembali ke desanya.
"Siapa lagi bajingan ini!" Tanya ketua kelompok itu marah. Memaksakan dirinya, dia kemudian berdiri sambil memegangi bahunya yang sakit.
Pria di atas motor itu kemudian membuka helmnya dan turun dari motor. Rihan yang melihatnya menaikkan sebelah alisnya karena mengenal pria itu.
"Bukankah Tuan Muda Rehhand sudah bermurah hati dengan mengatakan untuk bermain adil? Ckckkck... benar-benar pecundang!" Komentar pria itu santai sambil berjalan ke arah ketua kelompok itu dengan tangan kanannya sibuk memutar-mutar pistol.
"Kalian yang tidak terluka, serang dia bersama." Perintah ketua kelompok itu pada kedelapan teman-temannya.
Pria itu lalu menyimpan pistol dibalik jaketnya dan mulai membalas serangan. Jadilah pergulatan untuk kedua kalinya antara pria itu dan delapan anggota geng wolf. Rihan yang melihatnya bukannya membantu, dia justru melihat sambil duduk di depan mobilnya.
"Dia seorang pria, jadi delapan orang bukan apa-apa baginya." Gumam Rihan dalam hati sambil terus menatap pria itu yang tiba-tiba mendapat pukulan kuat dari tongkat bisbol yang mengenai punggungnya.
Rihan hanya menggeleng kepala karena melihat pria itu terlalu santai dengan lawannya, dan malah terlihat meremehkan sehingga mendapat pukulan itu.
"Akibat meremehkan lawan."
Perkelahian terus berlanjut hingga menyisahkan 3 orang dari 8 orang. Rihan sendiri terus menatap gerakan pria itu yang menurutnya cukup mahir dan hampir setara dengannya.
Tanpa pria itu duga, seorang anggota geng wolf mengambil pisau yang tergeletak begitu saja dan berniat menusuk pria itu dari belakang. Sayangnya mata tajam seorang Rihan tidak luput dari hal itu.
"Kau terbaik, Gledy." Gumam Rihan pelan kemudian mengambil jarum itu.
Slap
Duk.
Pertarungan tiba-tiba terhenti hanya karena suara orang jatuh di belakang yang mengalihkan perhatian semua orang dari pria itu dan 3 orang anggota geng wolf. Mereka secara serempak menatap ke arah Rihan sang pelaku lemparan. Rihan hanya menanggapi dengan mengangkat bahunya acuh.
BUGH
KRAK
BUGH
Pria itu dengan gerakan cepat menendang ketiga lawannya yang masih fokus dengan teman mereka yang jatuh, sehingga mereka jatuh secara bersamaan tanpa persiapan. Melihat semua lawannya telah tumbang, pria itu lalu menghampiri Rihan.
"Kamu harus membayar untuk hari ini, bocah!" Pria itu kini sudah berada di depan Rihan.
"Mengajak paman untuk makan bersama cukup, 'kan?"
"Paman?"
"Apa aku setua itu?" Lanjut pria itu dalam hati dan tanpa sadar merabah wajahnya.
__ADS_1
"Kita tidak sedang dalam urusan bisnis sehingga anda harus dipanggil Tuan Neo. Lagipula anda sendiri yang memanggilku bocah." Balas Rihan menaikkan sebelah alisnya.
"Baiklah terserah padamu." Balas Neo malas.
"Boleh aku tahu sedang apa kamu di sini?" Tanya Neo penasaran, untuk apa seorang Tuan Muda Rehhand berada di daerah terpencil seperti ini.
"Hanya mencari udara segar. Paman sendiri?" Tanya balik Rihan lalu menatap Neo di sampingnya yang berdiri dan bersandar pada mobilnya.
"Paman lagi,"
"Sama sepertimu."
"Paman sepertinya dari arah sana. Daerah mana itu?" Tanya Rihan meski dia sudah tahu kedatangan Neo dari arah sungai tempat tujuannya tadi. Akan tetapi Rihan ingin tahu alasan Neo pergi ke sana.
"Ada sebuah sungai di ujung sana. Ingin melihatnya?" Ajak Neo. Ini merupakan kesempatan bagus menjadi lebih dekat dengan Rihan. Entah apa tujuannya, tetapi dia tanpa sadar ingin dekat dengan Rihan.
Rihan sendiri sebenarnya tidak ingin terlalu dekat dengan Neo karena takut penyamarannya akan terbongkar mengingat perusahaan mereka juga memproduksi teknologi canggih. Akan tetapi akan tidak efisien jika menolak tawaran Neo yang sudah membantunya.
"Baiklah."
"Aku akan menuntun jalannya." Neo berbalik ingin menuju motornya.
Baru dua langkah Neo berbalik, dia melihat ketua kelompok geng wolf mengarahkan pistol ke arahnya. Akan tetapi, dia mengernyit karena sebenarnya pistol tidak mengarah padanya tetapi pada Rihan yang ingin masuk ke mobil.
Melihat tangan ketua itu yang akan menekan pelatuk, Neo dengan cepat berbalik dan menarik Rihan ke dalam pelukannya sehingga peluru tidak mengenai Rihan.
Sebenarnya tanpa Neo bertindak, Gledy sendiri yang akan melindungi tuannya.
Rihan yang diperlakukan seperti itu kaget dan tidak bisa bergerak karena berada dalam pelukan Neo. Baru saja merasa legah, Rihan dengan instingnya, membalas pelukan Neo dan berputar karena mendengar bunyi tembakan.
Karena tubuh bongsor Neo, Rihan yang tidak kuat menahannya, membuat keduanya jatuh dengan Rihan di posisi atas.
Deg
Deg
Deg
Jantung seorang Neo berdebar kencang melebihi batas normal. Apalagi posisi Rihan yang menindihnya sekaligus bisa mendengar degup jantungnya. Tanpa sadar pipi Neo memerah. Neo mengarah pandangannya ke arah samping agar Rihan tidak melihat rona merah di pipinya.
Sedangkan si penembak, mati di tempat karena Gledy membalasnya dengan pisau shuriken. Gledy juga sengaja memberi pembatas untuk melindungi dua orang yang masih berbaring dengan nyaman di jalan beraspal itu.
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.
See You.
__ADS_1