
Rihan saat ini sedang duduk dengan kedua tangan saling terpaut menopang dagunya sambil memasang wajah datar. Tapi jauh di lubuk hatinya, dia begitu khawatir karena sudah satu jam lebih sang mommy dan mamanya hilang setelah para tamu diberi jeda waktu untuk istirahat sebentar, sebelum pelelangan kembali berlanjut.
Berkali-kali Rihan harus menghembuskan nafas kasar karena tidak menyangka dua wanita tersayangnya itu hilang. Setelah jeda waktu istirahat 30 menit yang lalu, Rihan dan Zant kembali ke ruang keluarga untuk makan malam sehingga Rihan tidak sempat memperhatikan keluarganya.
Cctv di kediaman presiden Jerman sepertinya sudah disabotase ke arah lain sehingga mereka tidak bisa menemukan kemana perginya Mommy Rosse dan Mama Shintia.
Menurut Avhin, Mommy Rosse tiba-tiba pusing sehingga Mama Shintia akan mengantarnya ke kamar yang sudah disiapkan untuk para tamu. Ketika Daddy Jhack akan menjenguk sang istri, ternyata kedua wanita itu sudah tidak ada.
Dalam pikiran Rihan, pasti Elle yang melakukan itu pada kedua ibunya. Rihan saat ini tidak ingin memberitahu Alex dan yang lainnya karena dia jelas tahu lawan mereka nanti pasti para manusia buatan itu lagi.
Rihan tidak ingin ada korban jiwa lagi. Dia akan mengatasi ini sendiri. Rihan hanya akan meminta Zant membantunya menemukan tempat kedua ibunya dibawa pergi.
Untuk saat ini Rihan harus bersikap tenang. Rihan tidak ingin memasang wajah khawatir karena mungkin mata-mata Elle akan melihatnya dan melaporkannya, sehingga wanita itu akan senang. Belum lagi, Elle masih ada di sini. Rihan tidak ingin salah mengambil keputusan atau salah menyusun rencana.
"Aku tahu kamu khawatir gadis kecil, tapi minum dulu. Serahkan semuanya padaku! Aku hanya membutuhkan beberapa menit untuk menyelesaikan ini." Zant menenangkan Rihan dengan membawa segelas air untuk gadis itu.
Setelah memberikan gelas berisi air itu pada Rihan, Zant kemudian menuju nakas, membuka lacinya dan mengambil sebuah laptop di sana. Pria itu kemudian menuju sofa dan duduk tepat di hadapan Rihan.
Zant dengan tenang menyalakan laptop, lalu menghubungkan flasdisk dengan laptop dan mulai menggerakkan jarinya di atas keyboard dengan cepat. Rihan hanya menatap pria itu datar.
Rihan tidak ingin mengganggu pria itu. Rihan saat ini sedang berusaha memikirkan apa yang akan Elle lakukan pada kedua ibunya.
"Tidak masalah jika dia menginginkan nyawaku. Asal jangan kedua ibuku," Gumam Rihan dalam hati lalu duduk tegak, kemudian mengambil air yang Zant bawa tadi dan meminumnya hingga habis.
"Kenapa rasanya sedikit berbeda?" Komentar Rihan karena air yang dia minum sangat berbeda dengan air biasanya.
"Kamu orang pertama menyadari rasa air itu. Itu air khusus untuk kesehatan. Kamu cocok meminumnya. Apalagi misimu kali ini pasti membutuhkan banyak tenaga," Balas Zant tanpa mengalihkan fokusnya pada laptop di pangkuannya.
"Hm."
"Sebentar lagi ini selesai. Sebaiknya kamu bersiap!" Ujar Zant setelah menekan enter dan menunggu hasilnya.
Rihan mengangguk dan menuju walk ini closet milik Zant dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang nyaman untuk bergerak nanti.
Setelah kepergian Rihan, Zant menatap layar laptop dengan tangan terkepal.
"Kalian sudah terlalu jauh. Sudah waktunya mendisiplinkan peliharaan liar ini," Ujar Zant dalam hati. Pria itu meletakkan laptop di atas meja kemudian bersandar pada sofa.
Hanya beberapa menit, Rihan sudah keluar dengan pakaian siap tempur. Rihan menghampiri Zant dan duduk di sebelah pria itu kemudian mengambil laptop dan menonton apa yang sudah Zant temukan.
Ketika pertengahan video, pintu kamar Zant diketuk.
"Aku akan membukanya. Lanjutkan saja." Zant kemudian berdiri dan menuju pintu.
"Ada yang menitip pesan untukmu. Di sini," Zant memberikan secarik kertas pada Rihan.
...'Jika ingin dua wanita lemah ini selamat, datanglah ke alamat xxx. Jangan coba-coba membawa orang bersamamu. Jangan lupa untuk menyiapkan dirimu. Aku tunggu kedatanganmu.'...
Begitulah tulisan di kertas itu.
"Mobil ini memang mengarah ke alamat itu." Zant membuka suara setelah melihat alamat di kertas itu, ternyata sama dengan mobil dalam video rekaman di laptop.
__ADS_1
"Hm."
"Aku tahu kamu bukan orang yang mudah diprovokasi. Tenangkan dirimu, dan pikirkan cara mengatasi orang-orang itu." Zant mengusap pelan pucuk kepala Rihan berusaha menenangkan gadis kecilnya.
"Aku akan menyusulmu setelah aku membereskan beberapa hal di sini." Sambung Zant lalu menarik Rihan ke dalam pelukannya.
"Terima kasih," Balas Rihan pelan.
"Tidak perlu ada terima kasih diantara kita. Kamu sudah menjadi bagian dari keluarga Veenick. Ingat untuk berhati-hati. Aku akan menjemputmu, jadi tunggu aku. Aku hanya ingin melihat mayat mereka, bukan kamu. Mengerti?"
"Hmm. Setelah kembali, aku akan memberikan jawabanku padamu." Gumam Rihan dalam pelukan Zant.
"Pastikan jawaban itu membuat semua orang bahagia." Balas Zant dan mengerat pelukannya.
"Hm." Deheman Rihan lalu melepaskan diri dari pelukan Zant.
"Menurut para penjaga, wanita itu sudah tidak ada lagi di tempat pelelangan. Sepertinya dia sudah pergi." Ujar Zant setelah membaca pesan masuk di ponselnya.
"Aku pergi! Aku pinjam mobilmu, Kak. Katakan pada keluargaku untuk menunggu di sini. Aku akan baik-baik saja, jadi jangan khawatir." Rihan kemudian mengambil kunci mobil milik Zant dan menuju balkon kemudian melompat dari lantai dua kamar Zant.
Zant hanya menatap kepergian mobilnya yang dikendarai oleh Rihan hingga keluar gerbang.
"Kumpulkan semua pekerja di kediaman ini, tanpa terkecuali. Jangan lupa untuk membawa biodata mereka semua. Waktumu hanya 10 menit dari sekarang! Aku tidak peduli dengan pelelangan itu. Kumpul semua orang di tempat pertemuan. Sekarang!" Zant dengan nada penuh ancaman memerintah seseorang dibalik telepon.
***
Sekitar pukul 11 malam, Rihan baru sampai di alamat yang tulis di kertas itu. Ternyata itu sebuah rumah yang cukup mewah berlantai dua. Rihan turun dari mobil dan memghembuskan nafasnya sebentar sebelum masuk ke dalam.
Sampai di dalam, Rihan ternyata diantar ke ruang bawah tanah. Setelah itu, kedua penjaga itu kembali. Mereka hanya mengantar sampai di depan pintu yang masih tertutup.
Rihan dengan tenang masuk dan pemandangan yang dia lihat pertama kali adalah kedua ibunya terduduk dengan tangan yang diikat di belakang, mulut keduanya juga disumpal dengan kain. Hati Rihan sakit melihat kondisi dua ibu kesayangannya. Belum lagi terlihat memar di kedua pipi mereka. Jelas sekali itu bekas tamparan.
Tidak ingin membuatnya emosi, Rihan mengalihkan pandangan ke segala arah dan mendapati Elle sedang duduk dengan berpangku kaki sambil menyesap sebuah wine. Wanita itu belum mengganti gaun yang dipakai ke acara pelelangan. Di belakang Elle ada dua pria berpakaian seperti ninja dengan samurai di tangan kanan masing-masing.
"Tidakah kamu punya hati? Bagaimana mungkin kamu memperlakukan keduanya seperti itu?" Rihan membuka suara dengan datar. Tatapan Rihan begitu tajam pada Elle.
"Sebenanrya aku hanya ingin memberi pelajaran pada mantan calon mertuaku, tetapi wanita satu itu membelanya. Karena aku berbaik hati, aku memberi pelajaran yang sama untuk mereka. Bukankah aku sangat baik?" Jawab Elle terdengar sangat santai.
"Karena aku sudah di sini, bebaskan mereka! Bukankah kamu hanya ingin berurusan denganku? Aku sudah di sini. Jadi, lepaskan mereka!" Rihan berusaha bersabar.
"Tidak semudah itu! Aku ingin melihat lagi kehebatanmu melawan para kesayanganku. Waktu itu terlalu sedikit. Jadi, kali ini aku tambahkan. Baik sekali, 'kan aku?" Elle lalu terkekeh laknat.
"Bebaskan mereka, dan aku akan melawan orang-orangmu." Nada suara Rihan semakin dingin.
"Aku Tuan di sini. Berhenti memerintahku! Kamu... beri masing-masing satu cambukan, agar mereka sadar. Terlalu lama mereka tidur." Perintah Elle pada salah satu pria di sana.
Cetar!
Cetar!
Karena cambukan di masing-masing punggung Mommy Rose dan Mama Shintia, kedua kesayangan Rihan itu akhirnya bangun sambil meringis sakit.
__ADS_1
"Jika kamu menginginkan sesuatu dariku, katakan saja. Tapi tolong, bebaskan mereka." Rihan menatap sedih dua wanita kesayangannya itu.
"Yang aku inginkan darimu adalah MATI! MATI di tanganku sendiri! Tapi sebelum itu, aku ingin melihatmu bermain dengan para kesayaanganku," Jawab Elle sambil menggoyangkan gelas berisi wine di tangannya.
"Baik. Tapi tolong bebaskan mereka!" Ucap Rihan pelan.
"Tidak akan! Bukankah bagus jika mereka melihat sendiri bagaimana kematian anak kesayangan mereka? Hahaha... ups... peraturanku kali ini adalah dimana orang-orangku memberi sayatan padamu, maka kedua wanita itu juga harus merasakan hal yang sama. Dengan begitu, mereka bisa merasakan sakit yang sama dengan anak mereka Hahah..." Elle tertawa senang.
"Tidak bisakah kamu membiarkan mereka bebas? Urusanmu hanya denganku, tolong jangan libatkan mereka. Please..." Suara Rihan pelan kali ini berusaha memohon dengan sabar.
"Jangan lupa jika aku Tuan di sini. Aku punya hak memberi perintah. Kalian semua, bersiap untuk bermain. Jangan mengecewakan aku." Elle lalu menatap 10 orang pria di depannya.
Kesepuluh pria dengan pakaian ninja lengkap itu hanya mengangguk dan mulai berdiri sejajar, dan lima orang maju lebih dulu mengelilingi Rihan.
Melihat samurai itu lagi, Rihan tahu mereka adalah manusia buatan dengan kekuatan yang mungkin sama atau lebih besar dengan manusia buatan dengan samurai yang dia lawan waktu itu.
"Karena aku berbaik hati, maka aku menghadiahkanmu samurai yang sama dengan mereka untukmu." Suara Elle mengalihkan perhatian Rihan pada wanita itu.
Hap
Rihan menangkap samurai yang baru saja dilemparkan padanya oleh salah satu manusia buatan.
Sebelum melawan, Rihan menghela nafas dan menghembuskannya, mempersiapkan diri untuk pertarungan ini. Rihan sebenarnya tidak masalah untuk luka yang dia dapatkan nanti. Akan tetapi, Rihan memikirkan kedua ibunya yang pastinya merasakan sakit yang sama dengannya.
"Waktunya mulai!" Instruksi Elle dengan arogan.
Sret!
Bughh
Rihan baru saja menghindari tebasan samurai seorang manusia buatan sambil melompat ke belakang dan secara bersamaan mengeluarkan samurai dari sarungnya kemudian memberikan tendangan di perut seorang manusia buatan.
Rihan sedikit memberi jarak sambil menatap tajam lima manusia buatan di depannya. Mengingat bagaimana manusia buatan itu akan beregenerasi lagi, Rihan semakin waspada.
Pertarungan terus berlanjut dengan Rihan yang terus menghindar sambil mencari kesempatan melumpuhkan mereka di bagian inti tubuh yang terdapat di bagian dada mereka.
Sret!
Satu sayatan di lengan Rihan, membuatnya sedikit meringis.
"Akh..."
Suara Mommy Rosse karena mendapat sayatan yang sama dengan Rihan. Rihan segera menatap sedih sang mommy dan mengucapkan kata maaf tanpa suara.
Rihan menggertakkan gigi dan dengan cepat menyerang dengan memotong terbelah dua seorang manusia buatan, kemudian menusuk tepat di dada satu manusia buatan lagi dimana inti kehidupan mereka berada, hingga keduanya jatuh dan rusak.
Sekitar 20 menit, tiga manusia buatan kembali jatuh. Kini tersisa lima yang berdiri di samping Elle dan satu lagi didekat Mommy Rosse dan Mama Shintia.
"Bertahanlah, aku akan menyelesaikan ini dengan cepat." Gumam Rihan dalam hati lalu menatap tajam lima manusia buatan yang kembali mengelilinginya.
Pertarungan kembali terjadi. Rihan mendapat sayatan yang dia rasa cukup panjang di bagian punggungnya karena tidak sempat menghindar tadi. Alhasil, Mama Shintia mendapat sayatan yang sama dengannya.
__ADS_1
"Menyenangkan sekali mendengar suara kesakitan itu. Semuanya maju sekaligus. Aku sangat tidak sabar mendengar suara dua wanita lemah itu. Hahaha..." Perintah Elle dan diakhiri dengan tawa membahana memenuhi ruang bawah tanah itu.