
Kakak beradik itu lalu meninggalkan Rihan untuk menyebrangi jalan, karena tempat tinggal mereka hanya beberapa blok di depan sana seperti yang dikatakan Vivin tadi.
Ketika mereka menyeberang dan sudah sampai di tengah jalan, tiba-tiba terlihat sebuah mobil ugal-ugalan tidak jauh dari mereka.
"AWAS!"
"TUAN..."
BRAK
BRUK
"Akhhhhh..."
Sebelum mobil berhasil mengenai kedua anak itu, Rihan sudah lebih dulu berlari kencang dan menangkap keduanya. Masing-masing di sisi kanan dan kirinya. Rihan lalu melompat ke pinggir jalan. Tubuh Rihan lebih dulu mengenai sedikit badan mobil karena terlambat menghindar.
Akhirnya Rihan berguling di atas jalanan dengan melindungi kakak beradik itu dalam pelukannya, agar tidak mengenai alat vital keduanya. Sedangkan mobil pengacau itu berhenti setelah menabrak pembatas jalan.
Rihan menghela nafasnya yang masih memburuh. Rihan juga meringis sakit akibat kulit mulusnya harus tergores dengan kasarnya jalan tol. Rihan kini terbaring dengan tubuh terlentang menghadap langit. Jangan lupakan kedua anak kecil itu masih dalam pelukannya. Dapat Rihan rasakan tubuh bergetar keduanya karena syok dengan aksi Rihan barusan.
"Tuan, anda baik-baik saja?" Tanya Alex yang menghampiri sang majikan dengan wajah khawatir.
Alex hampir saja kehilangan jantungnya melihat aksi nekat sang majikan. Entah apa yang akan dia lakukan pada dirinya sendiri jika majikannya terluka.
"Seperti yang kamu lihat. Tolong lihat keadaan mereka!" Ujar Rihan yang masih berbaring.
Rihan tidak bisa bangun karena merasa agak lemas. Apalagi beban berat kedua anak itu cukup membuatnya kesusahan. Dia butuh bantuan Alex sekarang.
"Baik, Tuan."
"Sepertinya mereka pingsan karena syok. Saya akan memanggil ambulance, Tuan." Sambung Alex ketika berhasil memindahkan keduanya untuk berbaring di sebelah Rihan yang baru saja duduk.
"Hmm. Jaga mereka!" Rihan kemudian berdiri dan menuju mobil yang menabrak pembatas jalan tadi.
"Dahi anda Tuan..." Teriak Alex pada sang majikan yang meninggalkannya dengan kondisi dahi yang mengalirkan darah.
Rihan yang mendengarnya menyentuh dahinya dan benar saja, tangan yang menyentuh dahinya ternyata berdarah. Rihan hanya mengabaikannya dan terus berjalan menuju mobil di depannya.
BRAK
Rihan dengan kuat membuka pintu mobil itu dan mendapati seorang pria dalam keadaan mabuk berat sedang bersandar pada setir mobil. Dengan aura yang mencekam, Rihan menarik paksa pria muda itu hingga keluar. Rihan kemudian menarik kuat kerah baju sang pria, lalu menyudutkannya di mobilnya sendiri.
BUGH
__ADS_1
Satu pukulan telak Rihan daratkan pada pipi pria itu membuat pria yang tadinya mabuk, kesadarannya pulih seketika. Bagaimana tidak sadar jika pukulan Rihan begitu kuat. Untung saja bukan semua kekuatan Rihan keluarkan, karena bisa dipastikan gigi pria itu akan rontok karena pukulan seorang ketua organisasi Iblis Kejam seperti Rihan.
Dan ini pertama kalinya Rihan memukul orang karena tidak bisa menahan diri. Diaa yang biasanya tenang, kini emosi juga. Bagaimana tidak emosi jika orang yang ditabrak adalah anak-anak manis yang tidak berdosa. Sangat disayangkan jika masa depan mereka hanya sebatas usia mereka yang 5 tahun dan 3 tahun.
"Jika kau tidak bisa menyetir, mintalah pada orang lain. Jangan mengorbankan orang yang tidak berdosa karena ulahmu!" Ucap Rihan datar lalu menatap pria di depannya dengan tajam.
BUGH
"Itu biaya berobatmu!" Rihan kembali memberi pukulan kedua di pipi lainnya kemudian melempar salah satu black card pada pria itu yang saat ini masih syok dan menatap kepergian Rihan dalam diam.
"Tuan Muda..." Panggil pria itu lalu mengejar Rihan di depannya.
Rihan menghentikan langkahnya dan menatap datar pria itu yang berdiri menghalangi jalannya. Dari penampilannya menurut Rihan cukup mewah. Dan Rihan pastikan pria muda itu adalah anak orang kaya yang suka menghamburkan uang dengan minuman keras.
"Saya mengaku salah, Tuan Muda. Saya minta maaf! Dan ini saya kembalikan kartu anda. Luka ini biar saya saja yang mengobatinya. Dan juga, kedua anak itu akan saya rawat sebagai tebusan rasa bersalah saya pada mereka." Pria itu dengan menyesal membungkukkan badannya pada Rihan.
Pria itu kini heran dengan dirinya sendiri karena untuk pertama kalinya dia meminta maaf pada orang lain selain orang tuanya. Dengan hanya tatapan intimidasi seorang Rihan, pria itu seketika luluh.
Dia berpikir dalam hati, mungkin karena dia adalah salah satu pengagum Tuan Muda Rehhand sehingga dia tiba-tiba menjadi anak penurut.
"Saya tidak pernah mengambil sesuatu yang sudah diberikan pada orang lain. Jika kamu tidak mau mengambilnya, gunakan untuk berobat dua anak itu, juga biaya hidup mereka. Saya harap kamu bisa merawat mereka dengan baik, karena saya selalu mengawasimu!" Rihan menepuk pelan pundak pria itu kemudian berlalu pergi dari sana dan menghampiri Alex yang sedang sibuk membantu tim medis mengangkut Vivin dan Vian ke dalam mobil Ambulance.
"Baik, Tuan Muda. Saya janji akan merawat mereka dengan baik."
"Karena anda adalah idolaku." Sambung pria itu dalam hatinya lalu tersenyum senang.
Rihan memang sengaja melakukannya agar kedua anak itu ada yang merawat mereka. Dia sebenarnya bisa merawat mereka, tapi mengingat dia mempunyai musuh, maka Rihan tidak berani mengambil resiko. Cukup sahabatnya saha yang ada di sisinya, Rihan tidak ingin lawan semakin memanfaatkan kelemahannya untuk menjatuhkannya.
"Anda tidak ikut ke rumah sakit, Tuan?" Tanya Alex yang masih khawatir dengan keadaan sang majikan.
"Kembali saja ke mansion."
"Bagaimana dengan kedua anak itu?"
"Sudah ada walinya." Jawab Rihan lalu menuju mobil.
Meski Rihan berusaha tenang, tetapi sebenarnya dia sedang menahan sakit pada dadanya akibat berguling tadi. Rihan diam-diam memegang dadanya lalu membuka pintu mobil dan masuk.
Alex yang yang tidak menyadari pergerakan sang majikan hanya menghela nafasnya pelan kemudian menyusul Rihan dan menyalakan mesin mobil lalu pergi dari sana.
Semua yang Rihan lakukan tidak luput dari banyaknya pasang mata yang ada di sana, karena itu terjadi di saat semua mobil berhenti di lampu merah. Pada akhirnya dalam satu hari seorang Tuan Muda Rehhand sudah menjadi trending topic untuk dua pembahasan.
Selain itu, ada sepasang mata yang sangat serius menatap Rihan. Dalam hati dia sangat kagum dengan kecepatan Rihan dalam menyelamatkan kedua anak itu. Jika dia ada di posisi Rihan, dia yakin tidak akan secepat itu.
__ADS_1
Selama memperhatikan Rihan, hingga dis mengerutkan keningnya karena sadar jika Rihan menahan sakitnya dengan memegangi dadanya. Jantungnya tiba-tiba berdebar ketika menyadari wajah Rihan seperti tidak asing baginya.
"Ada apa denganmu, Neo?" Tanya Logan yang berada di sampingnya. Tepatnya memegang kendali mobil.
Ya, mereka adalah Neo dan Logan yang baru tiba dan hendak pulang ke apartement yang sudah disewahkan selama mereka tinggal di Indonesia. Mereka yang berencana pulang harus berhenti seketika di lampu merah dan ikut menyaksikan aksi Rihan.
"Apa kamu mengenal pria tadi?" Tanya Neo setelah sadar dari lamunannya.
"Dia Tuan Muda Rehhand Lesfingtone. Anak kedua pengusaha sukses asal Prancis. Orang Indonesia biasa memanggilnya si pria cantik. Ada apa dengannya?"
"Tidak ada. Ayo jalan!"
"Baik."
"Kenapa wajahnya mengingatkanku pada seseorang? Aku harap itu benar!" Batin Neo yang masih penasaran dengan wajah Rihan.
...
Di dalam mobil, Rihan hanya memejamkan matanya berusaha terlihat tenang seperti biasanya, padahal dadanya begitu sakit. Beberapa kali dia menghela nafas di saat Alex sedang fokus menatap jalan. Rihan tidak mungkin menghela nafas di saat yang tidak tepat karena akan membuat Alex semakin khawatir.
"Sedikit lagi kita sampai, Tuan."
"Hm."
Mobil kini berhenti seperti biasa di depan mansion. Alex dengan cepat turun dan membuka pintu mobil untuk sang majikan. Rihan masih dengan sikap tenang berjalan masuk ke dalam mansion. Di sana sudah ada Alen yang menunggunya dengan beberapa pelayan.
"Tuan!" Teriak Alen kaget dengan penampilan sang majikan yang acak-acakan.
Alen dengan cepat menghampiri sang majikan dan menatap khawatir dahi Rihan yang mengalir darah yang sudah mengering. Kedua lengannya ada banyak luka goresan. Entah di bagian lain ada atau tidak karena tertutup oleh pakaiannya.
"Apa yang terjadi, Kak?" Tanya Alen berdiri di depan Rihan dan menatap intens wajah Rihan.
Alen tidak berani menyentuhnya. Padahal dia sangat ingin menyentuhnya karena khawatir, tetapi apa yang akan dipikirkan oleh para pelayan yang ada di sana jika Alen dengan sembarangan menyentuh wajah majikan mereka.
"Hanya kecelakaan kecil. Bantu aku membersihkannya!" Rihan tidak ingin Alex dimarahi, segera menjawab.
Memang jika Rihan terluka, maka Alen akan mengomel sepanjang hari pada sang kakak karena lalai menjaga Rihan. Dan Alex, dia tidak berani membantah karena itu murni kesalahannya.
Rihan berjalan cepat menaiki lift menuju kamarnya diikuti oleh Alex dan Alen.
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.
See You.