
Di Schloss Bellevue, kediaman presiden Jerman, tepatnya perpustakaan mini miliknya Zant. Perpustakaan yang biasanya bersih dan rapi, kini terlihat sangat berantakan dengan banyaknya buku-buku yang berceceran di lantai memenuhi ruangan itu.
Sudah hampir dua jam Zant membongkar kembali setiap rak buku untuk mencari buku kedokteran, ataupun penelitian para dokter hebat terdahulu tentang kondisi pasien yang mungkin sama dengan Rihan. Sayangnya, belum ada yang berhasil menangani kasus seperti Rihan maupun memiliki kondisi yang mirip.
Meski Zant sudah membaca semua buku di dalam perpustakaan miliknya, tetapi pria itu kembali mencari buku yang sesuai dan membacanya ulang, berharap mungkin ada yang terlewatkan atau sudah dilupakan. Akan tetapi tidak ada hasil apapun.
Zant saat ini terduduk bersandar pada meja kerjanya dengan satu kaki ditekuk dan tangan kanan di atas lututnya, sedangkan tangan kiri memijit pelipisnya yang berdenyut sakit.
"Alasanku menjadi dokter karena kamu, gadis kecil. Menjadi Dokter hebat agar bisa menyelamatkan orang yang aku sayangi. Tapi, semua itu percuma. Aku tidak bisa menyelamatkanmu. Bukankah aku sangat tidak berguna? Aku... aku benar-benar tidak berguna." Gumam Zant dan menghembuskan nafas pelan.
Ting
Notifikasi ponsel Zant di atas meja menyadarkan pria itu. Zant mengambilnya dan ternyata pesan suara dari Alex. Zant membukanya. Ternyata itu pesan suara dari Rihan untuknya.
Deg
Jantung Zant berdebar kencang ketika mendengar pesan Rihan untuknya.
"Gadis kecil... kamu sudah mengingatku ternyata. Aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku... aku akan menyelamatkanmu." Ujar Zant pelan dan tersenyum tipis sambil mengusap air matanya dengan punggung tangannya. Suara Rihan seakan memberi semangat untuknya.
Setelah mendengar pesan suara Rihan, Zant masih dengan senyum tipis, berdiri dan beranjak pergi dari sana.
"Bersihkan!" Perintah Zant datar pada seorang pelayan yang berdiri di depan pintu keluar perpustakaan mini miliknya.
"Baik, Tuan Muda."
Ketika akan masuk ke kamarnya, seorang pelayan lain datang membuat Zant mengurungkan niatnya untuk membuka pintu, padahal tangannya sudah berada di atas pegangan pintu.
"Maaf, Tuan Muda. Ada seorang pria ingin bertemu dengan anda. Katanya dokter pribadi Tuan Muda Rehhand. Beliau sudah menunggu di ruang tamu."
"Aku akan ke sana!" Zant berbalik dan menuju ruang tamu.
Pria itu tidak memperhatikan penampilannya yang acak-acakan. Mengetahui yang mencarinya adalah dokter pribadi gadis kecilnya, Zant ingin secepatnya sampai di sana. Dia yakin pasti ada hal penting yang ingin dibicarakan.
...
"Maaf sudah mengganggu waktu anda, Tuan. Saya Dokter Galant. Dokter pribadi Tuan Muda Rehhand. Ada hal penting yang harus saya bicarakan dengan anda."
"Hm. Silahkan duduk!" Zant mempersilahkan Dokter Galant duduk di sofa depannya.
"Terima kasih, Tuan."
"Jadi?"
"Kedatangan saya ke sini, berkaitan dengan Tuan majikan. Maksud saya Tuan Muda Rei. Saya tahu kita tidak punya banyak waktu lagi mengingat kondisi Tuan majikan hanya tersisa beberapa jam ke depan." Nada suara Dokter Galant pelan. Zant hanya membalas dengan anggukan.
"Saya tahu itu!"
"Saya tahu, tidak ada cara lain yang bisa kita gunakan untuk menolong Tuan majikan. Tapi, saya sebagai bawaan, yang sudah menganggap Tuan majikan seperti adik sendiri, tidak ingin menyerah begitu saja.
Selama satu tahun bersama Tuan majikan dan belajar medis darinya, banyak hal yang sudah dibuat oleh Tuan majikan. Tuan majikan selalu mengurung diri selama hampir satu minggu tidak keluar dari ruangannya, membuat saya penasaran apa yang sedang Tuan majikan lakukan. Saya juga bingung kenapa Tuan majikan begitu memaksakan diri membuat benda itu."
"Benda itu?" Potong Zant dan mengerutkan kening.
"Ya. Tuan majikan ternyata membuat sebuah tabung es yang sudah diprogramkan. Katanya itu akan berguna untuk mengawetkan tubuh seseorang. Jadi... jika kita belum bisa menemukan cara untuk menyembuhkan Tuan majikan, sebaiknya gunakan saja itu untuk mengawetkan tubuhnya." Jelas Dokter Galant pelan.
"Gadis kecil... bagaimana bisa... apa kamu mengingatnya?" Ujar Zant dalam hati.
__ADS_1
"Lalu, untuk apa memberitahuku? Kamu bisa membawa Rei langsung ke sana." Tanya Zant.
"Masalahnya, saya tidak tahu bagaimana cara menggunakannya. Saya hanya dipercayakan untuk menjaga tempat itu. Jadi, saya meminta bantuan anda karena saya tahu anda dokter yang hebat yang mungkin bisa mengerti hal-hal itu."
"Untuk apa mengikutinya, jika kamu tidak tahu apapun? Ckckck..." Zant menyindir dan menggeleng.
"Maafkan saya. Jadi, bisakah anda membantu?" Tanya Dokter Galant.
"Ayo berangkat! Kita tidak punya banyak waktu." Zant berdiri bersiap keluar.
"Anda tidak ingin membersihkan diri lebih dulu?" Tanya Dokter Galant karena penampilan Zant yang acak-acakan.
"Tidak penting!" Balas Zant dan berjalan dengan cepat untuk keluar. Setidaknya ini harapan mereka satu-satunya.
"Saya lupa memberitahu anda. Tempatnya di New York. Jadi, kita harus membawa Tuan majikan ke sana." Perkataan Dokter Galant membuat Zant menghentikan langkahnya dan menatap tajam dokter pribadi Rihan itu.
"Siapkan jet pribadi ke New York. Waktumu hanya lima menit!" Zant memberi perintah pada orang di seberang telepon.
***
Saat ini Zant sedang menatap wajah pucat Rihan yang terbaring di brankar. Pria itu beberapa kali harus menghembuskan nafas frustasi melihat wajah pucat gadis kecilnya. Belum lagi suhu tubuh gadis kecilnya semakin dingin.
Mereka ada dalam jet pribadi menuju New York. Setengah jam lalu Rihan dibawa ke bandara karena lebih dekat dengan rumah sakit. Jet pribadi sudah siap menunggu di sana.
Alex, Alen, Mentra, dan Beatrix juga ikut. Avhin tidak ikut meski dia ingin. Pria itu tidak bisa ikut karena harus membantu menjaga sang mama dan sang bibi jika diperlukan.
"Kita akan ke mana?" Tanya Beatrix pada Dokter Galant yang duduk di depannya.
"Laboratorium pribadi Tuan majikan di New York. Hanya ini jalan satu-satunya yang bisa kita lakukan," Jawab Dokter Galant sambil melihat Alex yang duduk tidak jauh darinya.
"Aku pernah mendengar laboratorium pribadi milik Tuan, tapi belum pernah ke sana. Bagaimana kamu bisa tahu?" Tanya Beatrix lagi.
"Ck... itu karena keahlianmu di bidang medis, sehingga Tuan Muda percaya padamu." Cibir Beatrix Kesal.
"Kamu yakin ini berhasil?" Tanya Mentra serius.
"Begitulah. Hanya ini jalan satu-satunya," Balas Dokter Galant setelah meneguk segelas minuman di depannya. Yang lain hanya membalas dengan anggukan.
Tidak ingin membuang waktu, Zant memerintahkan untuk mempercepat laju jet pribadi. Sepanjang jalan, Zant terus menatap jam tangannya tidak ingin membuang waktu.
Setiap 20 menit pria itu akan mengecek detak jantung gadis kecilnya yang setiap menitnya semakin melemah. Merasakan suhu tubuh gadis kecilnya yang dingin, helaaan nafas khawatir selalu ia hembuskan. Zant juga selalu berdoa semoga mereka akan berhasil. Zant tidak ingin kehilangan gadis kecilnya lagi.
...
Sampai di tengah hutan kota New York, Amerika Serikat, jet pribadi akhirnya mendarat. Zant mengerutkan kening, karena dari kaca jendela, dia hanya bisa melihat lapangan pesawat yang luas, dan sebuah rumah kecil di ujung lapangan. Di sekeliling lapangan pesawat dan rumah kecil itu, ada pagar beton setinggi 5 meter.
"Aku penasaran apa isi kepalamu, gadis kecil." Ujar Zant dalam hati lalu melirik wajah pucat Rihan.
"Sudah bisa turun, Tuan." Suara seorang pramugari dibalik pintu membuat Zant segera berdiri dan mengangkat tubuh Rihan bersiap keluar.
Sampai di luar pintu, sudah ada Alex dan yang lainnya. Mereka bergegas keluar dengan Dokter Galant yang memimpin jalan.
Dokter Galant kemudian memasukkan sidik jari juga scan tubuhnya agar pintu terbuka. Yang lain hanya menatap datar apa yang Dokter Galant lakukan.
"Ayo." Dokter Galant mempersilahkan yang lainnya setelah pintu terbuka.
Di dalam rumah, mereka bisa melihat perabotan rumah tangga tertata rapi di sana. Yang tidak tahu ini ruangan apa, akan berpikir ini hanya rumah kecil untuk sebuah keluarga kecil.
__ADS_1
Dokter Galant kemudian menginjak pelan lantai didekat meja keluarga yang terbuat dari kayu itu, sehingga beberapa papan sepanjang 2 meter di lantai itu terbuka membuat sebuah lubang cukup besar. Tiba-tiba sesuatu dari bawah bergerak naik dengan cepat ke atas. Ternyata sebuah lift berbahan baja.
"Ayo masuk!" Ucap Dokter Galant setelah lift terbuka secara otomatis.
Zant masuk lebih dulu dengan Rihan digendongannya. Alex dan yang lainnya ikut masuk. Dokter Galant orang terakhir yang masuk kemudian menekan sesuatu di dinding lift berwarna kuning sehingga lift bergerak turun.
Hanya beberapa menit, mereka sampai dilaboratorium pribadi milik Rihan.
Di dalam sana, hanya terdapat sebuah meja kecil dengan sebuah laptop di atas meja. Dokter Galant menuju meja itu kemudian membuka laptop dan menyalakannya. Dokter pribadi Rihan itu kemudian menekan salah satu keyboard, sehingga ruangan yang tadinya hanya berisi satu meja kecil, kini dipenuhi dengan banyaknya peralatan medis juga sebuah brankar dan sebuah tabung besar yang muncul dari bawah. Jangan lupa juga sebuah perangkat komputer yang cukup besar.
"Semua ini... gadis kecil, kamu..." Gumam Zant dalam hati. Pria itu memejamkan matanya menenangkan dirinya sendiri.
"Itu tabung yang saya maksud. Tapi saya tidak tahu bagaimana cara membukanya. Sebelum itu, anda bisa membaringkan Tuan majikan lebih dulu di brankar itu." Ucap Dokter Galant. Zant hanya mengangguk dan membaringkan Rihan di brankar yang dimaksud.
"Apa saja yang kamu pelajari dari nona? Bagaimana bisa kamu tidak tahu? Bodoh!" Sindir Alen tanpa berperasaan.
"Maaf. Saat itu aku terlalu sibuk dengan banyaknya tugas medis yang Tuan majikan berikan untukku." Elak Dokter Galant malu.
"Aku akan melihatnya." Zant menuju sebuah perangkat komputer yang merupakan kontrol utama tabung es.
Zant mengoprasikan laptop itu hingga perintah tertulis menyuruhnya menekan sebuah tombol besar berwarna merah di sana dan muncul layar hologram mengalihkan perhatian semua orang.
...*Selamat datang di laboratorium milik Tuan majikan. Saya Gledy, program komputer yang diciptakan oleh Tuan majikan untuk membantunya mengoperasikan apa saja yang ada dalam Lab ini. Silahkan bertanya apa saja yang berkaitan dengan semua peralatan medis di sini.*...
"Gadis kecilku terluka. Maksudku Tuan majikanmu terluka dan belum ada cara untuk menyembuhkannya. Oleh karena itu, kami ingin menggunakan tabung es itu untuk mengawetkan tubuhnya. Masalahnya, kami tidak tahu bagaimana cara membuka dan menggunakan tabung es itu." Zant berbicara sambil berdiri dengan satu tangan dimasukan ke dalam saku celananya.
...*Tabung es ini dibuat bukan hanya untuk mengawetkan tubuh seseorang, tetapi juga bisa menetralisir semua jenis racun yang sudah terprogramkan di dalamku. Bukan hanya itu saja. Ada juga beberapa penyakit atau luka yang tergolong berbahaya, bisa disembuhkan dengan hanya memasukkan objek ke dalam tabung es itu....
...Setiap objek yang masuk ke dalam tabung itu akan sembuh dengan sendirinya tergantung seberapa parah penyakitnya, atau luka yang diterima. Dan juga, tugas saya di sini, mengontrol dan memberikan petunjuk bagaimana cara menyembuhkan objek di dalam tabung itu. Saya yang akan memberitahukan semua detail kondisi objek, dan sampai kapan objek akan sembuh.*...
"Itu bagus. Kalau begitu, bantu aku melihat bagaimana kondisi dan bagaimana cara menyembuhkan gadis kecilku." Zant senang karena kegunaan tabung es ini sangat baik. Kekhawatiran semua orang akhirnya sedikit berkurang. Tabung ini harapan mereka satu-satunya.
...*Baik. Saya akan membuka pintunya. Silahkan masukan Tuan majikan di dalam.*...
Pintu tabung es berbahan kaca yang terletak dengan posisi horizontal itu terbuka. Zant dengan tenang membaringkan Rihan di dalam sana. Setelah itu, pintu tabung es itu kembali tertutup.
"Jadi... bagaimana kondisinya?" Tanya Zant menatap serius ke layar hologram dimana Gledy berada.
...*Ini adalah kondisi tubuh Tuan majikan.*...
Gledy kemudian menampilkan sebuah gambar penuh di layar hologram.
Semua orang menatap layar hologram yang menampilkan rangka manusia dengan beberapa titik berwarna hijau di bagian tertentu rangka manusia itu, juga ada satu titik merah. Ada juga anak panah yang terhubung dari titik hijau dan merah itu dan keterangan penjelasannya. Di bagian bawah rangka manusia itu, ada beberapa penjelasan lagi. Semua itu dalam penjelasan medis.
...*Seorang dokter pasti mengerti gambar ini. Tapi, saya akan menjelaskannya sedikit. Titik hijau itu merupakan organ vitalnya. Jika berwarna hijau, itu berarti organ itu baik-baik saja. Jika berwarna merah, berarti organ itu benar-benar rusak parah. Bisa dipastikan kondisinya sudah tidak bisa ditolong lagi....
...Akan tetapi, tabung es ini bisa membantu memperbaiki sel-sel yang rusak dan menggantinya dengan yang baru sehingga kondisi Tuan majikan bisa diselamatkan. Sayangnya, perawatan ini juga memakan waktu yang cukup lama.*...
"Tidak peduli seberapa lama itu, asalkan bisa menyembuhkannya, tidak masalah." Ujar Zant tenang.
"Dia sangat peduli pada nona. Padahal mereka hanya teman masa kecil." Gumam Alex dalam hati dan melirik Zant sebentar.
...*Paling cepat dua tahun. Paling lama tiga tahun. Jika melewati 3 tahun, dan Tuan majikan masih belum bangun, maka Tuan majikan sudah tidak bisa ditolong lagi.*...
Perkataan Gledy membuat semua orang merasa khawatir. Mereka hanya bisa berdoa dalam hati agar sang majikan segera sadar.
"Baiklah. Kalau begitu, bantu kami merawatnya." Ujar Zant setelah menghembuskan nafas pelan.
__ADS_1
...*Sudah menjadi tugas saya.*...