
Tepat jam 4 pagi, Neo sudah terjaga dari tidurnya. Padahal semalam dia lembur bersama Logan hingga jam 2 pagi karena keduanya harus memeriksa berkas-berkas dan email kontrak kerja sama dengan perusahaan lain maupun laporan mingguan perusahaan selama dia meninggalkan Chi Corporation.
Neo bangun lebih cepat karena dia sudah tidak sabar bertemu lagi dengan adiknya yang sudah terpisah selama belasan tahun. Sedikit mengulas senyum tipis, Neo segera beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Hanya 10 menit, Neo sudah keluar dari kamar mandi dan menuju walk in closet mini yang disediakan pihak apartemen untuk mereka. Mengganti pakaian dengan pakaian olahraga, karena Neo akan sedikit merenggangkan otot-ototnya dengan berlari. Apalagi waktu masih terlalu pagi untuk menghubungi Rihan ataupun mengirim paket berisi sampel darah ayahnya.
Setelah siap, Neo segera keluar apartemen dan berlari hingga 1 km jauhnya dengan apartemennya. Neo tiba di taman kecil dan melihat sudah ada orang yang juga berlari sepertinya. Dirasa cukup larinya, Neo mencari tempat yang nyaman untuk duduk.
Karena bangku yang disediakan di sana sudah terisi oleh orang lain, sehingga Neo mencari tempat lain. Pria itu akhirnya menemukan salah satu pohon yang cukup lebat dan di bawahnya nyaman untuk diduduki. Sedikit berlari kecil, Neo mendaratkan bokongnya di rerumputan dan bersandar di batang pohon.
Mengatur nafasnya yang cukup terkuras karena berlari, Neo segera meneguk sebotol air mineral yang dibawanya tadi. Merasa sedikit lebih baik, Neo beralih menatap ke depan sana entah apa yang dia pikirkan.
"Pantas saja aku merasa tidak asing ketika pertama kali melihatnya. Wajahnya terlihat mirip dengan teman masa kecil Ira," Gumam Neo pada dirinya sendiri.
"Tapi teman masa kecil Ira seorang perempuan, sedangkan dia seorang pria." Neo masih saja bergumam sendiri.
"Dia juga terlihat sangat misterius karena identitasnya yang tidak bisa dilacak lebih jauh."
Setelah bergumam sendiri dan menghela nafasnya sebentar, Neo melihat jam tangannya yang menunjukan sudah jam 5 pagi lewat 15 menit.
Tanpa penundaan, Neo segera mengambil botol bekas air minumnya tadi, kemudian berdiri dan pergi dari sana. Neo juga berlari pulang ke apartemennya.
"Kenapa tidak mengajakku?" Tanya Logan yang baru saja keluar kamar bertepatan dengan Neo yang ingin masuk ke kamarnya.
"Kamu terlihat lelah." Balas Neo menatap Logan yang masih dengan muka bantal belum dicuci.
"Wow! sejak kapan manusia tiran ini perhatian? Biasanya juga aku lembur dan kamu tidak peduli sama sekali ck..." Cibir Logan menuju dapur dan mengambil air mineral di dalam kulkas.
"Terserah." Neo menjawab dengan malas lalu masuk ke dalam kamarnya.
"Sampel darah paman mau dikirim jam berapa?" Teriak Logan dari arah dapur pada Neo.
"Jam 7."
"Oke. Berarti waktuku masih ada untuk bersantai. Sebaiknya kita buat jus dan menonton acara gosip di pagi hari," Gumam Logan lalu mengambil bahan-bahan dalam kulkas untuk membuat jus.
"Tidak apa wajahku belum dicuci, yang penting mari bersantai." Logan dengan senang membawa dua gelas jus alpukat dan menuju ruang TV.
***
"Kamu tidak mandi?" Tanya Neo yang baru datang dengan wajah segar sehabis mandi dan mengambil posisi duduk di sebelah Logan yang sedang asik menonton TV.
"Aku penasaran dengan gosipnya orang Indonesia. Jadi, biarkan aku sedikit bersantai, Bos." Jawab Logan tanpa mengalihkan pandangan dari TV di depannya.
"Terserah."
"Hmm." Deheman Logan karena dia sibuk menonton.
__ADS_1
Neo hanya menatap datar Logan dan sekilas melihat TV yang menayangkan berita artis-artis Indonesia. Neo hanya bisa menggeleng kepala dengan selera Logan. Dia lalu mengambil gelas jus yang masih penuh dan meminumnya.
Huek...
"Kenapa?" Tanya Logan heran melihat Neo yang memuntahkan jus yang diminum.
"Setelah mengirim paket, sepertinya kamu harus periksa ke dokter." Neo menjawab setelah membersihkan mulutnya dengan tisu.
"Aku sehat, kenapa harus periksa ke dokter? Bukannya kamu karena seperti orang mengidam di pagi hari?" Logan kembali menonton tv.
"Aku hanya malas mengurus orang yang sakit diabetes. Jus ini sangat manis. Terbuat dari apa lidahmu itu?" Neo mendengus menatap malas Logan.
"Manis? Perasaan ini biasa saja. Padahal aku sudah menahan diri untuk tidak menambah lagi pemanis di dalam jus ini." Logan terkekeh pelan.
"Sekali-kali mengerjainya tidak masalah, 'kan?" Batin Logan karena dia memang sengaja melakukannya. Hitung-hitung membalas kerja lembur yang dia dapatkan selama ini.
"Sebaiknya kamu mandi." Neo mengambil remote dan mematikan TV.
"Ini yang membuatku ingin sekali mencekiknya." Gumam Logan pelan lalu menatap Neo dengan ekspresi kesal.
"Kamu mengatakan sesuatu?"
"Aku ingin mencekikmu." Logan membatin lalu berdiri dan menuju kamarnya.
"Tidak ada."
***
"Sangat tidak sabar." Gumam Rihan datar, dan melihat jam masih menunjukan pukul 9 pagi.
"Selamat pagi." Sapa Neo setelah Rihan menjawab teleponnya.
"Hmm."
"Bagaimana hasilnya?"
"Baik."
"Maksudku..." Belum sempat Neo melanjutkan, Rihan sudah memotong perkataannya.
"Kamu berhak membawahnya."
"Aku akan segera ke sana."
"Hmm."
Setelah itu, Rihan kemudian memutuskan panggilan lebih dulu membuat Neo di seberang sana hanya bisa mengelus dadanya untuk bersabar. Dia hanya bisa bergumam dalam hati, apakah ini karma karena sering memutuskan panggilan lebih dulu pada orang lain?
__ADS_1
...
Di lain tempat, di hotel berbintang milik keluarga Alexander, Brand seperti biasa sedang bersantai dengan kedua kaki diletakkan di atas meja sambil menghisap rokok dengan tenang.
Tok
Tok
Tok.
"Masuk!"
"Selamat pagi, Bos." Sapa Dom setelah masuk dan berdiri di depan Brand yang hanya dibatasi oleh sebuah meja.
"Ada apa?"
"Orang kita melaporkan bahwa Tuan Neo kemarin sempat berkunjung ke mansion Tuan Muda Rehhand."
"Dimana masalahnya?"
"Saya hanya khawatir Tuan Neo berhasil menemukan pion anda, Bos."
"Itu tidak mungkin! Terakhir kita berkunjung, gadis itu tidak ada di sana. Neo ke sana pasti karena keduanya mulai dekat mengingat Neo pernah membantu tuan muda itu." Brand yakin dengan asumsinya. Dia lalu mengisap sebentar rokoknya kemudian mengeluarkan asap yang mengepul ke udara.
"Semoga begitu, Bos. Saya juga memiliki laporan lain."
"Katakan!"
"Ada pendatang baru dengan username The Devil yang mulai menduduki posisi kedua dalam daftar juara setelah anda dalam game yang kita luncurkan, Bos."
"Sejak kapan dia bergabung?" Tanya Brand lalu mematikan rokoknya dan menatap serius Dom.
"Sejak minggu lalu, dan belum satu jam dia sudah memasuki level menengah. Sedangkan kemarin untuk kedua kalinya dia bermain dan sudah menduduki posisi kedua setelah mengalahkan peringkat 10 besar selama beberapa tahun ini."
"Sungguh menarik. Ada lagi?"
"Karena permainannya, The Devil sudah memiliki banyak penggemar. Ada beberapa orang yang mengusulkan untuk berduel dengan anda nanti, Bos. Bagaimana menurut anda?"
"Persiapkan saja! Sudah lama aku juga tidak bermain."
"Siap, Bos."
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
Jangan lupa untuk meninggalkan jejakmu, ya.
__ADS_1
Sampai ketemu di chapter selanjutnya.