Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Rindu


__ADS_3

"Ada apa denganmu, Rei?" Tanya Max yang ingin turun ke lantai satu dan mendapati Rihan dan kedua asistennya baru keluar dari lift ingin menuju kamarnya.


"Tuan mengalami kecelakaan kecil saat di jalan pulang." Jawab Alex.


"Kecelakaan?" Ulang Max lalu mengambil ponsel di saku celananya dan mulai mengetik sesuatu.


"Seperti biasa, Tuan Muda Rehhand selalu menjadi tranding topic." Sambung Max tersenyum ketika berhasil membaca sebuah artikel di ponselnya.


Hanya mendengar kecelakaan, Max tahu pasti ada sesuatu yang terjadi dan itu tidak akan luput dari perhatian orang-orang karena seorang Rihan selalu menjadi sorotan di manapun dia berada.


Untuk itu, jika ingin mengetahui alasan jelasnya, Max hanya perlu menscrooll ponselnya mencari penyebab penampilan berantakan Rihan dan ternyata pemikirannya benar.


"Kamu membeli kue untuk Ira dan aku tidak?" Tanya Max ketika membaca artikel Rihan yang membeli kue untuk orang special. Max kini menatap Rihan yang berjalan dengan tenang di depannya diikuti oleh Alex dan Alen.


"Padahal ini hari Valentine." Sewot Max mengikuti Rihan dan yang lainnya dari belakang.


"Kamu bisa membelinya sendiri!" Balas Rihan yang kini berhenti di depan kamarnya karena alat pemindai sedang memindai tubuhnya.


"Rasanya akan berbeda jika dibelikan oleh orang special." Max menjawab sambil menatap sinar laser yang sedang memindai tubuh Rihan.


Rihan yang mendengarnya menoleh ke arah Max dan menatapnya tajam.


"Belikan untuknya, Lex!" Ucap Rihan datar, lalu masuk ke dalam kamarnya.


"Tidak perlu, Kak! Huh... Tidak bisakah aku masuk?" Tanya Max karena jujur dia sangat penasaran dengan isi kamar Rihan.


"Silahkan!" Jawab Alex tenang.


Mendengarnya, senyum Max seketika melebar dan segera berjalan masuk. Akan tetapi,


TUK.


"Aw..." Aduh Max karena dahinya terbentur pada kaca di depannya.


"Kenapa begini, Kak?" Tanya Max sambil menggosok pelan dahinya.


"Hanya orang yang sudah terdaftar yang diijinkan masuk oleh Gledy ke kamar Tuan. Jika itu orang lain, maka kaca ini akan menghalanginya. Dan kalau mereka memaksa masuk maka akan beresiko."


"Bisa-bisanya. Oh, iya. Ira sudah pernah masuk ke kamar Rei atau belum, Kak?" Tanya Max penasaran.


"Nona Phi belum pernah masuk ke kamar tuan. Hanya ruang kerja tuan saja." Jawab Alex.


"Ruang kerja? Hmm... aku belum pernah masuk ke sana." Batin Max cemburu.


"Baiklah, Kak. Kalau begitu aku mau ke bawah sebentar ambil minum."


"Silahkan, Tuan."


Setelah Max meninggalkan keduanya, Alex dan Alen kemudian masuk ke dalam kamar sang majikan. Mereka kini melihat Rihan sedang duduk di sofa yang ada di kamarnya sambil menunggu kedatangan mereka.


"Saya akan membersihkan luka anda, Tuan." Alen kemudian menuju lemari kaca di sana dan mengambil sebuah kotak khusus.

__ADS_1


"Hm."


"Berikan kue itu pada Tata, Lex. Katakan aku sudah beristirahat."


"Baik Tuan, Saya pamit!"


"Hm."


***


"Saya Alex, Nona! Ada titipan dari Tuan Muda untuk anda. Saya akan meletakkannya di sini. Tuan tidak bisa mengantarnya karena sudah beristirahat. Tuan akan menemui nona besok pagi." Ucap Alex to the point kemudian meletakkan kotak kue itu di atas meja samping pintu kamar Phiranita.


"Iya Kak. Terima kasih. Happy valentine day!" Sahut Phiranita dari dalam kamar.


"Sama-sama, Nona. Kalau begitu saya pamit."


"Iya, Kak."


Sedangkan di kamar Rihan, Alen sedang membantu Rihan mengganti pakaiannya menjadi setelan baju tidur. Biasanya Rihan yang menggantinya sendiri, tetapi Rihan sudah tidak bisa bergerak berlebihan lagi. Sepertinya sakitnya mulai kambuh, sehingga Alen harus membantunya mengganti pakaian.


"Dada anda merah, Nona. Apakah sakit?" Tanya Alen khawatir ketika melihat dada Rihan yang memerah tidak seperti biasanya.


"Tidak apa-apa. Kamu bisa kembali. Sisanya biar aku yang urus."


"Bagaimana dengan luka-luka di lengan dan sikut anda, Nona?"


"Ini bukan apa-apa, Len. Kembalilah!"


Alen pamit dengan suasana hati yang sangat dongkol akibat khawatir dengan sang majikan yang tidak biasanya menyuruhnya cepat keluar dari kamarnya.


"Huh... bagaimana ini? Sepertinya aku tidak akan bisa tidur nyenyak." Gumam Alen setelah di luar kamar Rihan.


"Ada apa denganmu?" Tanya Alex yang setia berdiri di depan kamar Rihan.


"Aku khawatir dengan nona yang terlihat aneh, Kak. Apa nona baik-baik saja setelah kecelakaan itu? Dada nona tadi terlihat memerah. Aku rasa akibat beban berat kedua anak kecil itu. Aku takut sakit nona kambuh, Kak. Bagaimana ini?" Alen menghela nafas pelan. Dia sangat khawatir dengan kesehatan majikannya.


"Yakinlah, nona baik-baik saja. Tidak usah khawatir. Ayo kita istirahat!" Hibur Alex. Jujur pria itu juga merasa aneh dengan tingkah sang majikan.


"Iya, Kak."


***


BRAKK


PRANG...


"Orang special? Huh... penyakitan, iya. Bagaimana cara aku menyingkirkannya?" Gumam Ariana setelah menghempaskan alat-alat kosmetik di atas meja riasnya.


Ariana begitu emosi ketika ayahnya, Samuel Samantha memberitahunya tentang berita yang sedang trending tentang Rihan yang membeli kue untuk orang special yang dimaksud. Dari namanya saja, Ariana tahu jelas siapa itu Tata.


"Haruskah aku meracuninya secara diam-diam di mansion tuan muda? Tidak! Pasti akan ketahuan dengan banyaknya kamera pengawas di sana." Monolog Ariana pada dirinya sendiri. Gadis itu sedang berusaha memikirkan cara menyingkirkan Phiranita tanpa ketahuan.

__ADS_1


"Atau aku ajak berteman, kemudian memanfaatkannya pelan-pelan? Sepertinya harus dicoba. Oke fiks, kita coba nanti!"


...


"Sepertinya harapan untuk menjadi orang penting di sisinya tidak ada lagi. Hufffft... Nita begitu cantik, bagaimana mungkin tuan muda melirikku? Astaga! apa yang sedang aku pikirkan?" Dian menggeleng kepalanya sambil menatap langit-langit kamarnya. Bisa-bisanya dia memikirkan hal yang tidak mungkin terjadi itu.


"Mari belajar melupakannya mulai sekarang. Semangat Dian, kamu pasti bisa!"


...


"Dia pulang cepat hanya untuk membeli kue untuk gadis itu? Ck... benar-benar menjengkelkan! Kalau saja bajingan itu tidak mengganggu, mungkin aku sudah menjadi milik tuan muda. Tidak masalah. Masih ada banyak waktu. Mari kita menyusun rencana untuk gadis penyakitan itu." Gumam Ayu lalu mengambil gelas berisi wine yang disiapkan pelayan untuknya dan meminumnya secara perlahan-lahan.


***


Setelah Alen keluar dari kamarnya, Rihan membuka laci meja di samping tempat tidurnya dan mengambil sesuatu yang tidak lain adalah obat dan jarum suntik.


Dengan tenang Rihan mengisi jarum suntik itu dengan cairan atau serum yang dibuat para ilmuwan untuknya. Setelah dirasa dosis serum itu cukup, Rihan lalu menyuntikkan pada lengan kirinya agar rasa sakit yang dia rasakan segera pulih.


"Sampai kapan semua ini akan berakhir?" Batin Rihan meletakkan kembali jarum dan serum itu ke tempatnya dan mulai berbaring.


Setelah berbaring, Rihan mengambil ponselnya di atas meja sampingnya dan mulai mengetik sesuatu.


...'Bagaimana kabar kalian, Mom, Dad? Rihan rindu...'...


Hanya kalimat sederhana, Rihan ketik kemudian mengirimnya pada sang mommy. Setelah itu ponsel kembali diletakkan pada tempatnya kemudian Rihan memejamkan matanya dan akhirnya tertidur pulas.


***


"Selamat pagi, Nona! Bagaimana keadaan anda?" Tanya Alen tenang. Alen tidak khawatir lagi setelah melihat wajah sang majikan yang seperti biasa, sudah kembali cerah.


"Aku baik, Len. Siapkan air mandiku,"


"Baik Nona."


"Apa saja jadwalku hari ini?"


"Nona ada kuliah siang pukul 11 nanti. Dan juga ada kuliah tamu untuk seluruh mqhasiswa universitas."


"Kuliah tamu? Apakah itu penting?"


"Iya, Nona. Kuliah itu tidak terlalu penting menurut saya, karena hanya ada penjelasan singkat dan berbagi pengalaman tentang bisnis. Akan tetapi orang yang memberi kuliah sepertinya bukan orang biasa, Nona. Identitasnya tidak bisa kami lacak!" Alex menjelaskan sambil menatap wajah cantik sang majikan yang sedang memejamkan matanya dan bersandar pada sandaran tempat tidur.


Jika boleh jujur, jantung Alex akan berdetak kencang jika terlalu dekat atau menatap intens Rihan. Entah kenapa dia bisa seperti itu. Semakin memikirkannya, Alex menjadi bingung sendiri.


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku.


Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.


See You.

__ADS_1


__ADS_2